Evanzza

Evanzza
Pacaran atau lamaran



Mata Azzalea sedikit berkaca-kaca mendengar semua penuturan Evan, memang benar ia selalu dihinggapi keraguan tapi entah kenapa ia selalu bisa bertahan menunggu hingga sekarang ini. Kerongkongannya terasa kering seolah tak dapat mengeluarkan kata apapun dari sana. Azzalea menatap manik mata Evan, ia hanya memastikan sesuatu. Hatinya, ya hatinya benarkah memiliki rasa kepada Evan atau hanya sekedar rasa yang hinggap sementara saja.


"Gimana?" tanya Evan menyadarkan Azzalea.


Evan seolah tak sabar menunggu jawaban dari Azzalea begitu juga dengan Vion dan Rafa yang sudah berdiri disudut masing-masing bersiap menebarkan beberapa kelopak bunga.


Gavin pun sedikit was-was ia takut jika semua tak sesuai harapan Evan. Lalu ia tak kehilangan ide, Gavin menyuruh beberapa siswa untuk berteriak agar membuat suasana semakin meriah.


"Terimaa terimaa!"


"Ayoo terima pak ketos kita!"


"Terima aja dari pada gue yang nerima dia!"


"Uwwuuu pak ketos udah ada pawang!"


Dan masih banyak lagi tapi tak membuat dua manusia itu mengalihkan pandangan mereka.


Lalu perlahan tangan Azzalea meraih buket bunga yang ada ditangan Evan, hal itu membuat beberapa siswi memekik heboh.


"Itu bukan pertanyaan tapi pernyataan kan?" tanya Azzalea.


"Lo gak ngasih gue pilihan iya atau tidak, tapi langsung nyuruh gue menerima?" lanjut Azzalea sedangkan Evan pun tersenyum karena memang benar apa yang dikatakan Azzalea, cowok itu tak memberikan pertanyaan melainkan sebuah pernyataan tulus dari lubuh hatinya.


"Jadi?" tanya Evan memastikan.


Azzalea pun mengangguk sambil tersenyum manis kepada Evan, tak ada lagi keraguan yang menyelimuti hatinya. Azzalea percaya jika Evan bisa membuatnya bahagia, entalah siapa duluan nanti yang bucin Azzalea tak tau. Yang jelas ia tak akan mengizinkan siapapun memiliki atau pun merebut miliknya begitu juga dengan Evan yang akan berusaha keras untuk menjaga dan membahagiakan Azzalea.


Rasa bahagia bercampur haru kini menyelimuti keduanya, bahkan Evan sudah melepaskan beberapa balon yang ia bawa lalu memeluk Azzalea begitu saja. Sedangkan Rafa dan Vion sudah melakukan tugasnya yaitu hujan kelopak bunga dari langit, entahlah bagaimana mereka berdua melakukan itu yang jelas suasana saat ini begitu romantis.


Banyak dari mereka yang dengan sengaja mengambil foto atau pun vidio, begitu juga dengan sahabat Azzalea dan Evan.


"Selamat ya, semoga lo bahagia!" batin Cakra lalu pergi dari kerumunan itu.


"Cak! Kemana?" tanya Dafa.


"Cari es!" saut Cakra sekenanya.


"Es? Gak sekalian aja nyemplung kolam biar dingin hati sekaligus badan-badannya!" Dafa menatap punggung Cakra yang sudah menjauh.


Elena pun sama langsung pergi begitu saja dengan wajah menahan amarah dan hati dongkolnya. Menerima kenyataan yang begitu sulit saat melihat orang yang dicintai bersanding dengan orang lain. Ingin sekali Elena menjambak rambut panjang Azzalea, ia masih belum bisa menerima semua ini. Apalagi Evan yang sudah menjabat sebagai ketua osis membuat Elena semakin menginginkan menjadi pacarnya.


"Sh it! Awas aja lo, kalau gue gak bisa dapetin Evan lo juga gak boleh!" gerutu Elena sambil berlalu.


Sedangkan ditengah lapangan terdapat perdebatan kecil diantara pasangan baru beberapa menit itu.


"Lepasin!" protes Azzalea sambil mendorong badan Evan.


"Maaf reflek!"


"Gak boleh peluk-peluk, banyak orang!"


"Berarti kalau gak ada orang boleh dong?" goda Evan sambil menaik turunkan alisnya.


"Apaan sih!" gerutu Azzalea dengan wajah sedikit menahan malu.


"Lucu!" batin Evan sambi terus menatap wajah ayu Azzalea.


"Pacaran atau lamaran sih?" gumam Azzalea, karena semua ini terlalu berlebihan menurutnya.


"Mau nya sih langsung ku lamar, tapi lupa belum minta izin papa!" saut Evan yang mendengar gumamam Azzalea.


"Apaan sih, sekolah dulu yang bener ... lo kira ini novel apa yang ketua osis nya dipaksa menikah dengan musuhnya," ucap Azzalea sambil terkekeh.


"Kan kita bukan musuh, Zah! Kita itu seseorang yang sudah ditakdirkan untuk bersama," kata Evan serius.


"Gombal mulu sih, emang buaya pro ya!"


"Buaya insaf!" Azzalea dan Evan pun tertawa bersama.


"Van, jadi pacar gue berat loh!"


"Berat gimana?"


"Gue orang nya cemburuan, gue juga egosi dan keras kepala loh!" jelas Azzalea.


"Lalu?"


"Gue gak mau lo aneh-aneh dibelakang gue, Van! Mendingan kalau ada apa-apa langsung bilang dan gue gak suka kalau lo deket-deket sama cewek lain. Lo harus tau batasan lo sendiri!"


"Iya gue tau kok!" Evan mengacak-acak rambut Azzalea dengan gemas, gadis itu sekarang sudah tak irit bicara lagi bahkan sudah bisa mengungkapkan isi hatinya dengan jelas.


Evan pun tak masalah jika harus menjaga jarak dengan lawan jenisnya toh yang ia mau cuma Azzalea saja, menjaga perasaan Azzalea itulah yang terpenting untuknya. Evan juga tak masalah jika dilarang-larang oleh Azzalea asal kan tidak berlebihan saja.


"Gue mau punya pacar kaya bokap gue, Van! Dia selalu kasih kabar dan dahuluin mama gue dari pada yang lain, bahkan sampai saat ini masih aja bucin!" lanjut Azzalea.


"Tapi gue bukan bokap lo, gue gak bisa seperti dia!"


Mendengar hal itu membuat Azzalea sedikit kesal, ia bahkan sudah mengerucutkan bibirnya membuat Evan semakin gemas saja.


"Terserah!" sewot Azzalea.


"Biar kan gue mencintai lo dengan cara gue sendiri, gue pastiin lo gak kalah bahagia dengan mama lo itu!"


"Gue janji!" wajah Evan terlihat seriua dan bersungguh-sungguh membuat wajah mendung tadi kini kembali tersenyum cerah.


Hah, wanita mana yang tak bahagia diperlakukan seperti ini? Bohong jika tak jatuh hati pada laki-laki seperti Evan, walaupun ia terkesan main-main tapi apa yang ia lakukan sudah membuktikan bahwa ia serius. Serius mencintai seseorang yang bernama Azzalea, hal itulah yang membuat banyak orang iri dengannya dan ingin merebut Evan. Jadi pertahankan sebaik mungkin apa yang kamu miliki saat ini, karena percayalah memeprtahankan nya lebih sulit dari saat kamu meraihnya.


"Lo cantik kalau senyum gitu, Zaa! Aku harap kamu bisa terus tersenyum kek gitu!" Evan mematap dalam wajah Azzalea, yang ditatap pun menjadi salah tingkah.


Azzalea pun hanya mengangguk saja, lalu wajah Evan pun semakin dekat dengan Azzalea. Hingga menyisahkan beberapa senti saja jarak dianta mereka.


"INGET MASIH DISEKOLAH!" teriak Vion yang berhasil membuat Evan dan Azzalea canggung.


Setelah itu terdengan tawa terbahak-bahak dari sahabaynya itu. Mereka terlalu jahil dan merusak moment indah saja.


"Cih, ganggu aja!" batin Evan dengan wajah masamnya.


...----------------...


Genggamlah selagi bisa digenggam namun jangan terlalu kuat! Takutnya akan hancur dan tak bersisa, begitu juga dengan dia... Genggamlah dia sebisa mungkin namun jangan terlalu kuat agar tak melarikan diri. EH!