
Kelas yang ditempati Azzalea semakin heboh ketika kedatangan Dava Setya Pratama salah satu anak dari sahabat Azka yang paling kutu buku, bahkan dulu saat masih dibangku sekolah sang papa pernah dikira tidak suka perempuan karena lebih banyak menghabiskan waktu dengan buku-bukunya. Tapi siapa yang menyangka jika sang ketua kelas itu bisa jatuh hati pada ketua kelas sebelah, yaitu Clarisa Amalia.
Ya semua tak ada yang pernah tahu perkara soal jodoh, percuma saja berharap orang jauh jika orang terdekat kita bisa menjadi jodoh kita dimasa depan. Semuanya masih menjadi misteri yang tidak ada satu orang pun yang tahu dan jangan takut jika belum mendapatkan pasangan.
Karena jodohmu pasti akan datang karena sudah tertulis di lauhul mahfudz, teruslah memperbaiki diri agar saat jodoh itu datang kamu sudah siap.
Dava sangat jauh berbeda dengan sang papa yaitu Ciko Pratama, ia tidak suka melihat tumpukan buku-buku yang bahkan tidak ada gambarnya sama sekali. Banyak yang mengira jika Dava bukanlah anak Ciko mengingat sifatnya yang jauh berbeda, Dava lebih cerewet dan terkesan badboy sedangkan Ciko dulu adalah laki-laki yang sangat patuh dengan aturan. Bahkan ia sampai menjabat sebagai ketua kelas selama tiga tahun bertutur-turut.
"HALO SEMUA GUE DAVA SETYA PRATAMA!" cowok itu memperkenalkan dirinya didepan kelas membuat semua penghuni kelas menatap heran dan kagum kepada Dava.
Soal paras tidak dipungkiri lagi karena mereka semua terlahir dari bibit yang bagus, sehingga tidak akan mengecewakan mata.
"Siapa?" tanya salah satu siswa yang menjabata sebagai ketua kelas, Jilan.
"Lo masa gak denger kan gue udah memperkenalkan diri," kata Dava.
"Maksud gue bukan nanya nama lo, tapi siapa lo kenapa buat ulah dikelas ini?" tanya Jilan.
"Gue siswa sini juga," kata Dava.
"Kalau lo anak kelas sini kenapa baru masuk setelah beberapa hari kita udah mulai efektif belajar?" selidik Jilan.
"Karena gue baru pulang liburan dan satu hal lagi, gue udah dapat izin dari kepsek jadi gak masalah dong!" perkataan itu membuat Jilan diam.
Setelah itu Dava mencari tenpat duduk yang kosong, tepat dibelakang Cakra masih ada satu bangku kosong.
"Jangan bikin masalah," kata Ghea sambil duduk dibangkunya.
"Siapa?" tanya Nessa.
"Tuh anaknya om Ciko, yang lebih mirip jadi anaknya Om Bobo," kata Ghea sambil terkekeh.
"Jangan bawa-bawa bokap gue," kata Cakra.
"Uluh-uluh yang gak terima karena ada singan," ledek Ghea sambil terkekeh.
"Saingan apa?" tanya Azzalea.
"Itu loh, Le... dia kan lebih pantes jadi anak Om Bobo yang gokil dari pada ini," Ghea menunjuk Dava dan Cakra bergantian.
"Ohhh!"
"Eh kalian pacaran, ya?" pertanyain itu muncul dari mulut Nessa yang sejak tadi sudah ingin menanyakan hal itu pada kedua sahabatnya ini.
"Siapa yang pacaran?" tanya Dava, ia duduk berdempetan dengan Cakra.
"Minggir, sempit!" usir Cakra.
"Bentar doang yaelah pelit amat," protes Dava yang tak mau mengalah dengan Cakra.
"Jadi beneran?" tanya Nessa lagi.
"Siapa yang pacaran, Nes?" tanya Ghea.
Sedangkan Nessa hanya menjawab dengan dagunya yang mengarah pada Cakra dan Azzalea.
"Gak!" saut Azzalea.
"Terus?" tanya Nessa yang masih penasaran.
"Gak ada terusannya, Nessa gemoy!" Azzalea mencubit hidung Nessa yang sudah seperti prosotan anak TK.
"Kok bisa berangkat bareng?" tanya Ghea menyelidik.
"Kalian berdua kaya gak tau Om Azka aja," saut Cakra yang sejak tadi diam saja.
"Cih, makanya liburan jangan lama-lama ketinggalan kereta kan lo!" ketus Cakra.
"Emangnya ada kereta disini, Cak?" tanyq Nessa.
"Tauk ah!" Cakra sedang malas menjelaskan kepada Nessa yang masih polos itu.
"Jadi apa hubungannya kalian berangkat bareng sama Om Azka?" tanya Ghea sudah seperti wartawan saja.
Azzalea mendengus mendengar perdebatan mereka, akhirnya mau tidak mau ia menjelaskan semuanya agar tidak terjadi kesalah pahaman.
"Biasa papa sita motor gue!" jelas Azzalea.
"Kenapa?" tiga orang itu kompak bertanya hal yang sama kecuali Cakra karena ia sudah tau.
"Dia gak di izinin bawa motor sendiri gara-gara luka kemaren itu," jelas Cakra, sedangkan Azzalea mengangguk menyetujui ucapan Cakra.
"Masih mending lah, untung gak kaya waktu itu yang heboh mau dibawa ke rumah sakit padahal cuma jatuh diteras doang," saut Ghea.
"Kemaren juga gitu!" mereka bertiga dibuat ternganga dengan jawaban Azzalea.
Mereka tahu jika Azka sangat posesif dengan keluarganya, maka tak heran jika luka sedikit saja sudah panik dan ingin membawa kerumah sakit untuk dicek keadaannya. Tapi tidak dipungkiri Azka tetap memberikan kebebasan pada kedua anaknya utuk melakukan keinginan mereka yang terpenting tidak membahayakan dan menyeleweng dari aturannya.
"Gi la! Om Azka mah beda banget, luka dikit langsung bawa ke rumah sakit... lah gue luka kaya gitu paling didiemin aja nanti juga sembuh sendiri," kata Ghea sambil terkekeh.
"Iya, paling mama kasih obat merah sama hansaplas doang udah," saut Nessa.
"Tapi lo beruntung banget loh punya papa kaya Om Azka, coba kalau papa lo kaya Om Bobo yang ada luka lo pindah disini." Dava menujuk dadanya sendiri.
"Kenapa dadanya?" tanya Nessa polos.
"Mana bisa lukanya pindah disitu?" tanya Ghea.
"Bisa lah kalau sama Om Bobo, lo gak bakalan diobatin tapi diketawain sampai keluar air mata. Malah dia lebih khawatir sama apa yang kita tabrak, ya gak Cak?" Dava terkekeh jika mengingat kejadian waktu itu.
"Lupain jangan diingat!" ketus Cakra.
"Kenapa kenapa?" tanya Ghea dan Nessa sedangkan Azzalea hanya menyimak saja.
"Waktu itu kita lagi sepedaan bareng kan sama papa, Om Bobo, gue dan Cakra. Eh gak tau gimana ceritanya si Cakra mah bisa nyungsep gitu diselokan, kita panik langsung nyamperin Cakra... eh tau gak apa yang terjadi setelah itu?" tanya Dava sambil terkekeh begitu juga dengan mereka yang membayangkan saat Cakra nyungsep diselokan.
Mereka semua menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu, sedangkan Cakra hanya diam saja sambil mentap tajam Dava. Seolag Cakra tidak mengizinkan Dava menceritakan hal memalukan itu.
"Kok bisa nyungsep?" tanya Azzalea.
"Entah tanya aja tuh tersangkanya," jawab Dava.
"Lalu apa yang terjadi?" tanya Nessa penasaran.
"Lalu—"
"Selamat pagi anak-anak!" suara dari pintu masuk membuat mereka menghentikan cerita itu padahal sangat penasaran apa yang terjadi setelahnya.
"Nanti sambung lagi!" Dava langsung duduk kembali dibangkunya, sedangkan Ghea dan Nessa memutar badannya agar kembali menghadap depan dimana snag guru berada.
"Lo nangis habis itu?" bisik Azzalea karena tidak dipungkiri ia juga penasaran dengan kelanjutan cerita Dava.
"Gak lah, mana ada gue nangis... kalau lo gue percaya pasti nangis," ledek Cakra.
"Cih, gue gak secengeng itu ya!" kesal Azzalea.
...----------------...
Tinggalkan jejak dong biar authornya semangat gitu buat UP eps :)