Evanzza

Evanzza
Bocah Bau Kencur



Terlihat wajah kesal seperti sedang menahan amarah, wajahnya terlihat memerah. Tangannya sibuk melonggarkan dasinya yang terasa begitu mencekik leher padahal tidak sama sekali. Dua kancing kemeja paling atas ia buka dengan kasar, pertanyaan sang istri bahkan tak ia hiraukan.


"Kenapa, By? Ada masalah dikantor?" tanyanya mengikuti sang suami yang berjalan menuju dapur.


"....."


Ia hanya diam saja tak ada niatan untuk menjawab, ia tak mau jika kata-kata nya akan menyakiti sang istri. Diraihnya gelas lalu diisi dengan air putih, tanpa menunggu lama ia langsung meminum air putih itu hingga tandas.


"Ada apa, by?" tanya sang istri lagi. Kini sang istri sudah berdiri disampingnya sambil mengusap pelan punggung tegap suaminya itu.


"Pokoknya aku gak akan pernah setuju Ale sama laki-laki buaya seperti dia!" tegasnya.


"Sabar, ada masalah kita biacarakan dulu baik-baik ... jangan marah-marah!" bujuk sang istri.


"Gimana gak marah coba, Nyun! Kalau aku lihat dengan mata kepalaku sendiri kalau dia lagi berduaan dengan perempuan lain, apalagi mereka terlihat sangat dekat! Gak mungkin kan kalau gak ada hubungan apapun?" tanyanya sambil menatap manik mata sang istri.


"Perempuan siapa? Kamu selingkuh!" tanya Azkia dengan mata yang hampir keluar dari tempatnya, padahal Azka sedang membahas anak mereka tapi Azkia tak sadar akan hal itu. Karena yang ada didalam pikirannya adalah perempuan


"Bukan, Nyun! Astaga, buang pikiran jelek mu itu!"


"Mana pernah aku selingkuh dari mu!" Azka menangkup kedua pipi Azkia.


"Lalu perempuan mana yang kamu maksud, By?" tanya Azkia sambil membuang wajahnya ke arah lain.


"Perempuan yang bersama bocah bau kencur itu!" tegas Azka sambil menatap kedua manik mata Azkia.


"Bacah bau kencur siapa, By?" tanya Azkia yang tidak paham arah pembicaraan Azka.


Azka mencoba mereda amarahnya agar tak membuat sang istri salah paham, lalu ia mendudukan Azkia dikursi.


"Yang aku maksud itu Evan, waktu aku selesai meeting disalah satu Cafe. Aku lihat bucah bau kencur itu lagi berduaan sama perempuan lain! Itu orang yang selalu kamu bangga-bangga kan?"


"Masa sih? Evan gak mungkin seperti itu, By! Aku yakin dia orang baik sama seperti papa nya," kata Azkia.


Azka mengeluarkan ponsel nya dari saku celana berbahan kain yang ia kenakan, dengan gerakan cepat ia lalu menunjukkan sebuah foto dimana Evan sedang tertawa bahagia bersama seorang perempuan.


Azkia yang melihat itu sedikit kaget, ia tak menyangka jika Evan tipe orang seperti itu. Namun, lagi-lagi Azkia berfikir rasional bisa saja gadis itu hanya temannya saja. Ia tidak boleh mengambil kesimpulan sebelum tahu kebenarannya agar tak menimbulkan fitnah.


"Mungkin temannya, By!" jelas Azkia walaupun Sebenarnya ia sangat penasaran siapa gadis itu. Nanti jika bertemu Evan, Azkia akan bertanya langsung. Ia tak ingin putri kesayangannya sakit hati atau terjerumus dengan hal-hal negatif mengingat anak muda sekarang pergaluan dan interaksinya berbeda dengan dulu.


Apalagi teknologi semakin berkembang dan sudah seperti menjadi kebutuhkan sehari-hari. Bahkan hanpir setiap orang memiliki ponsel pintar, mereka bisa mengakses apapun yang mereka inginkan. Sehingga para orang tua harus ektra memantau setiap tingkah sang anak.


"Mau sampai kapan kamu belain dia, Nyun! Jangan diperbodoh dengan cinta, masih banyak laki-laki lain diluar sana yang seribu kali lebih baik dari bocah bau kencur ini!" jelas Azka.


"Mau sampai kapan pun aku gak akan restuin hubungan mereka!" ucap Azka sebelum meninggalkan Azkia sendirian didapur.


Azkia menghembuskan nafasnya dengan kasar, ia tak tahu harus berpihak kepada suami atau anaknya. Perkataan Azka ada benarnya, Azzalea bisa mendapatkan yang jauh lebih baik dari Evan. Tapi, ia tak bisa memaksa Azzalea untuk menuruti ego sang papa.


"Kamu selalu saja tak bisa dibantah kalau punya ke mauan, dan sekarang lihat lah By ... Ale pun sangat mirip dengan sikap mu itu!" gumam Azkia.


Dilain sisih Azka sedang mondar-mandir didalam kamar, ia harus segera membuat Ale dan Evan berpisah sebelum terlambat.


"Aku harus minta bantuan siapa?" monolog Azka sambil berkacak pinggang.


"Arrgghh!" Azka mengacak-acak rambutnya karena frustrasi tak mendapatkan ide.


Azka lalu merebahkan dirinya diatas kasur, pikirannya masih saja sibuk mencari cara agar mereka berpisah. Tak terasa matanya begitu berat, perlahan menutu dan akhirnya ia tertidur pulas masih menggunakan pakaian kerjanya. Bahkan sepatunya masih menyatu dengan kaki.


Wajahnya terlihat begitu lelah, bahakan terlihat kerutan dijidatnya. Azkia yang kebetulan masuk kedalam kamar dan mendapati sang suami sudab tertidur hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Perlahan Azkia melepaskan sepasang sepatu yang masih Azka kenakan, lalu menyimpannya ditempat biasa. Tak lupa ia menyelimut tubuh sang suami.


Azkia diam sambil menikmati wajah tampan yang sudah tak muda lagi dihadapnnya ini. Bahkan terlihat beberapa helai rambut Azka yang sudah memutih. Azkia mengusap pelan pucuk kepala sang suami, ada rasa haru dan bahagia bercampur menjadi satu saat melihat wajah Azka yang tertidur pulas. Ia sangat bersyukur memiliki suami seperti Azka yang sangat menyayangi keluarganya.


"I love you more, By! Terimakasih buat semuanyanya!" lirih Azkia sambil mencium jidat Azka begitu lama.


Saat akan beranjak tiba-tiba saja tangannya dicekal sehingga membuat Azkia tertari dan terjatuh didada bidang Azka. Mata Azka masih terpejam saat Azkia jatuh.


"By!" rengek Azkia, ia tahu jika Azka hanya pura-pura tidur saja.


"Bangun deh, gak usah pura-pura tidur! Mau cari kesempatan ya?" galak Azkia.


"Cari kesempatan sama istri sendiri emangnya salah?" tanya Azka sambil membuka kedua kelopak matanya secara perlahan.


Hal yang pertama kali ia lihat adalah wajah cantik aang istri, sebenarnya Azka sudah terbangun saat Azkia menyelimutinya. Karena Azka tipe orang yang mudah bangun ketika terusik.


"Tauk lah!"


"Kenapa gak suka? Yaudah aku cari orang lain aja!" goda Azka sambil menjauhkan Azkia dari atas tubuhnya.


Bukannya menyingkir Azkia semakin menempel pada Azka bahkan ia sudah memeluk Azka dengan erat.


"Gak! Gak boleh, kamu itu miliki aku, By! Jadi jangan pernah berfikiran buat macam-macam!" kata Azkia sungguh-sungguh.


"Kan kamu gak mau macam-macam sama aku, udah ah minggir!"


"Macam-macamnya nanti malam saja, sekarang kamu mandi dulu kita makan malam bersama!"


"Yang bener? Kalau bohong mending aku sama yang lain saja!" goda Azka lagi, ia sangat senang menggoda sang istri meski umurnya tak muda lagi.


"Byy!!! Awas aja kalau kamu berani macem-macem aku potong itu!" teriak Azkia yang membuat telinga Azka sakit.


"Gak sayang, gak berani aku!" seru Azka sambil memeluk erat Azkia dan mencium pipinya berkali-kali.


...----------------...