
"Azzalea, tunggu!" teriakan seseorang yang tak lain adalah Evan. Dia terus saja memanggil nama Azzalea saat gadis itu tak mau berhenti dan terus saja berjalan. Bahkan sampai Evan harus berlari mengejarnya.
"Ale, lo kenapa?" tanya Evan saat berhasil menarik tangan Azzalea.
Dengan kesal Azzalea menghempaskan cekalan Evan, entahlah dia kesal sekali hari ini. Rasanya ingin marah namun dia sadar diri kalau dia bukan siapa-siapa untuk Evan.
"Sampai kapan? Sampai kapan gue harus nunggu lo yang tanpa kepastian ini, Van? Sampai kapan?" bentak Azzalea yang membuat Evan sedikit tersentak.
Evan melangkah mendekati Azzalea tapi sayangnya gadis itu melangkah mundur menjauhinya.
"Ale, dengerin gue!" Evan memegang kedua bahu Azzalea memaksa gadis itu untuk menatapnya, padahal saat ini sebisa mungkin Azzalea sedang menahan tangisnya agar tidak pecah.
"Tunggu gue bentar lagi, oke? Gue beneran serius sayang sama lo, Al! Gue gak ingin perjuangan gue sia-sia aja kalau lo nyerah sekarang!"
"Sampai kapan?" ada secerca air yang menggenang disudut matanya.
"Jangan nangis please!" Evan memohon pada Azzalwa padahal cowok itu tidak pernah melakukannya pada orang lain.
"Sampai kapan lo gantungin perasaan gue, Van?" tanya Azzalea sambil memukul dada bidang Evan.
"Zaa! Lihat gue!" perintah Evan sambil menanglup kedua pipi Azzalea agar mau menatapnya karena sejak tadi Azzalea tak berani menatap netra hazel milik Evan.
"Gue gak pernah bohong soal perasaan gue sama lo, dari awal gue bilang suka sama lo dan itu terus berlaku sampai saat ini," kata Evan menatap kedua manik mata Azzalea.
"Lo percaya kan sama gue, Zaa?" pangilan Evan berubah.
Azzalea pun menggelengkan kepalanya, ia tak tahu harus percaya atau tidak pada Evan. Ia ingin percaya tapi kadang juga ia ragu.
"Tapi sampai kapan kita kaya gini, Van! Kalau lo gak ada niatan dalam hubungan kita jangan kasih gue harapan, gue capek EVAN!"
mata Azzalea mulai meneteskan air mata, jujur saja gadis mana yang betah berlama-lama dalam zona frendzoon seperti ini. Apalagi melihat orang yang disuka begitu akrab dengan gadis lain, ingin melarang tapi hanya teman. Tapi perasaan mereka lebih dari seorang teman.
"Azzalea, gue mau jujur sesuatu sama lo!" Evan terlihat serius membuat Azzalea sedikit takut, takut pada kenyataan jika tak sesuai harapannya.
"Apa?"
"Lo tau kenapa gue sampai saat ini belum kasih lo kepastian?"
Azzalea menggeleng, ia memang tak tahu alasannya. Bahkan Azzalea sempat berfikir negatis tentang Evan yang hanya mempermainkannya saja.
"Gue punya kesepakatan sama papa, kalau gue mau pacaran gue harus jadi ketua osis dulu," kata Evan lirih.
"Apa hubungannya?"
"Kalau gue gak nurutin permintaan papa, dan maksa buat pacaran gue bakal dipindahin ke luar negeri ... Dan gue gak mau itu terjadi, gue gak mau juah dari lo, Za!"
"Gue gak bisa jauh dari lo, maka nya gue berusaha banget biar nanti saat pemilihan ketua osis gurbyang terpilih!" lanjut Evan sambil menatap kedua manik Azzalea, tak ada kebohongan yang Azzalea lihat.
"Dan saat itu tiba gue akan ungakipn semuanya, tolong bertahan sedikir lagi, ya! Bisa kan, hmm?" tanya lembuat Evan.
"Kenapa lo gak pernah bilang sama gue?"
"Gue gak mau lo kepikiran, Al. Terus lo nyalahin diri lo sendiri, gue gak mau lo seperti itu!"
"Tapi, Van—"
"Suutt! Udah gak usah dibahas lagi oke? Gue cuma butuh suport lo, Al ... Dan gue harap lo bisa jaga hati lo buat gue," kata Evan serius.
"Gue pasti jaga hati gue buat lo," kata Azzalea.
Mendengar hal itu membuat Evan tersenyum manis, ia lega akhirnya bisa jujur dengan Azzalea. Harusnya dari awal ia cerita semuanya tapi sayangnya Evan tak ingin membuat beban untuk gadisnya itu.
"Tapi lo juga, lo gak boleh tebar pesona sama cewek lain!" perintah Azzalea.
"Cemburu?" goda Evan.
"Gak! Siapa juga yang cemburu!" elak Azzalea.
"Gak ya! Gue gak cemburu, lo kali yang cemburu? Buktinya sampai marah gitu tadi," kata Azzalea.
"Emang gue cemburu kalau cewek yang gue suka teriak-teriak manggil nama cowok lain!" bisik Evan.
"Kalau bisa gue program, udah gue program biar cuma bisa manggil nama gue doang!" Evan terkekeh.
"Cih, belum juga pacaran dah posesif aja!" gerutu Azzalea.
"Kenapa? Gak suka?" tanya Evan.
"Suka kok!"
Evan pun tersenyum manis sambil menunjukkan deretan gigi putihnya, lalu mengacak-acak pucuk kepala Azzalea.
"Yaudah lo mau kemana? Gue anterin sebelum balik ke lapangan?" tanya Evan.
"Masih sibuk?" tanya Azzalea.
"Masih, kalau gue gak bales chat lu jangan marah oke?"
"Hmmm!"
"Jangan gitu dong ale-ale, jawab yang bagus!"
"Iya-iya, dasar pemaksa!"
"Gue janji kalau gue gak sibuk pasti akan balas chat lo, kapan pun!" Evan menaikan kedua tangannya membentuk huruf V membuat Azzalea tersenyum.
"Lo tau gak, lo itu emang mirip sama es ale-ale!"
"Cih, murah dong cuma seribuan!"
"Seribuan aja udah nyegerin hati gue," goda Evan sambil mengerlingkan sebelah matanya.
"Modus!"
"VAN!" teriak Vion yang sudah berjalan mendekati mereka.
"Cih, ganggu aja!" gumam Evan yang masih bisa didengar oleh Azzalea, ia hanya tersenyum saja.
"Balik ke lapangan, pacannya dipending dulu!" Vion pin menggandeng lengan Evan dan memaksanga kembalinke lapangan karena babak kedua akan segera dimulai.
"Iya-iya gak usah ditarik juga kali," ketus Evan.
"Biar lo gak kabur, kalau mojok tuh jangan disini dibelakang kelas sono sepi!"
Plak!
Evan memukul kepala Vion bisa-bisanya dia berbicara seperti itu dihadapan Azzalea.
"Sakit ogeb! Kan gue cuma kasih saran aja, kenapa dipukul?"
"Da cewek gue!"
"Terus kanapa? Ya gak, Azzalea mending dibelakang kelas gak ada yang ganggu mau cimmpp emmb!" mulut Vion sudah dibekap dan ditarik oleh Evan agar tak menodai pikiran Azzalea.
"Jangan dengerin apa kata Vion! Gue balik ke lapangan dulu, nanti kabarin!" teriak Evan sambil melambaikan tangannya yang tidak menutup mulut Vion.
Azzalea pun mengangguk sambil terkekeh dengan kelakuan dua orang absurd itu. Tapi tunggu apa tadi belakang kelas? Apakah mereka sudah sering melihat orang pacaran dibelakang sekolah sampai-sampai dengan mudahnya mengatakan hal itu.
Tiba-tiba saja pipi Azzalea memerah saat ia mengingat kejadian beberapa bulan lalu saat ia harus memanjat pagar sekolah karena terlambat bersama Evan dan tanpa sengaja Evan menciumnya.
"Gila gue mikirin apa sih! Otak gue kenapa tercemar. Cih ini semua gara-gara Vion, iya gara-gara dia!" Azzalea beberapa kali memukul jidatnya sendiri lalu melangkah menuju kantin untuk membeli camilan dan juga air untuk temannya dan juga Evan.
...----------------...