Evanzza

Evanzza
Kalian pacaran



Azzalea segera bergegas menuju kantin setelah bel berbunyi, ia sangat merasa haus dan lapar terlebih Azzalea tidak sempat sarapan karena harus membujuk Papa Azka agar mengizinkannya membawa motor sendiri kesekolah. Dengan segala ceramah dan nasehat yang diberikan Papa Azka membuat Azzalea terlambat, ditambah dengan aksi panjat memanjat dinding sekolah yang baru pertama kali ia alami. Tak sampai disitu ternyata didalam kelas sudah ada Bu Arum sehingga mau tidak mau Azzalea mendapatkan hukuman berdiri di luar kelas sambil mejewer kedua telinganya. Mungkin jika tidak diawasi Bu Arum, Azzalea sudah kabur ke kantin.


Pagi ini Azzalea sudah merasa cukup siap dengan semua yang ia alami, terlebih lagi saat mengingat bagaiamana dirinya harus terpojok disudut sekilah bersama Evan. Toh dia masuk kelas pun juga dihukum.


Azzalea yang tengah berjalan santai diikuti para sahabatnya itu tiba-tiba terhenti saat tubuhnya terhuyung kesamping.


BRUK!


Ada sebuah tangan kekar yang menarik pergelangan tangannya agar tidak terjatuh.


"Hampir saja," gumam orang itu.


"Lo gak apa-apa, Le?" tanya Cakra yang sudah khawatir dengan Azzalea.


Azzalea memposisikan dirinya agar tidak jatuh setelah itu orang yang menabrak Azzalea melepaskan genggaman tangannya.


"Sorry, sengaja!" tanpa dosa orang itu tersenyum manis pada Azzalea.


Azzalea tak bergeming, ia menatap datar orang itu. Dalam benaknya ia merasa tidak asing dengan orang yang ada dihadapannya ini. Tapi siapa, Azzalea tak ingat sama sekali.


"Maka nya, kalau jalan tuh liat-liat... jangan asal nabarak orang!" sewot Cakra, bahkan ia sudah menatap tajam orang itu.


"Gak lecek ini," sautnya sambil menatap Cakra tidak suka.


"Udah-udah, kenapa jadi ribut sih mendung kita ke kantin aja!" relai Ghea.


"Bener tuh, Nessa udah laper banget," ucap Nessa sambil mengusap perutnya.


"Dasar bocil," ledek Dava sambil mengacak-acak pucuk kepala Nessa sehingga membuat poninya berantakan.


"Apa si, Dav! Berantakan kan poni Nessa." terlihat Nessa mencebikkan bibirnya membuatnya terlihat semakin menggemaskan.


"Tunggu!" cegah orang itu sambil mencekal pergelangan tangan Azzalea lagi saat dia dan temannya akan melangkah.


Azzalea menaikkan sebelah alisnya seoalah ia sedang bertanya kenapa? Orang itu yang paham maksud Azzalea pun tersenyum sambil berkata, "Lo lupa sama gue?"


Kening Azzalea pun semakin berkerut mendengar pertanyaan yang terlontar dari laki-laki itu.


"Lo yang bantuin Ale waktu dia ke kurung di uks kan?" tanya Cakra.


"Yap, betul sekali... lo gak ada niatan buat berterimakasih gitu?" tanyanya.


"Makasih!" dingin Azzalea yang ingat betul dia Marchel orang yang menangkapnya saat akan jatuh dari jendela ruang uks.


"Gue gak minta dalam bentuk ucapan, tapi perbuatan!" teriak Marchel.


Mereka semua langsung berbalik dan menatap aneh Marchel, tak ingin ucapan terimakasih lalu kenapa dia menanyakan hal itu. Mereka semua terdiam dengan pikirannya masing-masing, hingga Marchel menggandengan lengan Azzalea dan memaksanya untuk ikut.


Azzalea menepis cekalan itu, tapi ternyata ia kalah kuat. Semakin Azzalea berontak semakin kuat pula cengkraman itu, seolah tidak akan melepaskan Azzalea.


"Lepasin!" protes Azzalea.


"Heh, lepasin!" bentak Cakra yang memgikuti langkah kaki Marchel.


Entahlah Marchel seolah menjadi tuli dengan suara mereka karena ia terus menggandeng tangan Azzalea hingga sampai di kantin sekolah.


Kemudian Marchel memilih tempat yang kosong dan mempersilahan Azzalea duduk terlebih dahulu. Keempat sahabatnya pun tak ketinggalan mereka mengikuti Azzalea


"Lo jangan macem-macem sama Azzalea!" Cakra memberikan peringatan sambil mencengkram kerah Marchel.


"Santai bro, gue cuma mau makan bareng aja sama dia... sebagai ucapan terimakasih, salah?" tanya Marchel tanpa dosa.


"Salah! Cara lo salah langsung bawa dia gitu aja!" bentak Cakra yang membuat mereka menjadi pusat perhatian.


"Sabar Cak!" Dava mencoba melerai perdebatan sengit itu.


"Cak!" panggil Azzalea sambil menggeleng, ia tak mau sahabatnya itu dapat masalah hanya karena dirinya.


Melihat itu Cakra langsung melepaskan cengkramannya dan duduk disebelah Marchel, bukan tanpa alasan Cakra duduk disitu. Ia hanya tak ingin Marchel berduaan saja dengan Azzalea, seseorang yang selalu ia lindungi.


Sedangkan Dava pun ikut duduk disebelah Cakra, begitu juga dengan Ghea dan Nessa yang duduk disamping Azzalea. Tak lama pesanan mereka datang karena sebelum duduk Maechel sudah memesan dua mie ayam untuknya dan Azzalea. Disusul dengan Dava yang juga ikut memesan makanan untuk mereka.


"Makan, gue cuma minta lo temenin gue makan sebagai ucapan terimakasih lo... gak taunya bodyguard lo ngikutin semua," kata Marchel sambil melirik ke arah Cakran dan yang lainnya. Mendengar itu membuat Cakra semakin kesal.


"Cak, udah makan dulu aja jangan ribut!" Ghea yang duduk didepan Cakra pun memberikan instruksinya.


"Setalah ini gue gak ada hutang lagi sama lo!" dingin Azzalea sambil menyendokan mie ayam itu kedalam mulutnya.


"Untuk saat ini," kata Marchel sambil mengerikan sebalah matanya, hal itu membuat Ghea bergedik ngeri sedangkan Azzalea bersikap biasa saja.


Disisih lain Evan yang baru tiba bersama Vion pun membelalak tak percaya melihat pemandangan didepannya ini. Walaupun mereka makan bersama tapo tak dipungkiri ada tatapan lain dari sorot mata Marchel dan Evan tau apa arti tatapan itu. Bahkan ia juga melihat Cakra yang sedang terang-terangan menatap Azzalea.


Evan sempat terngiang perkataan Elena beberapa waktu lalu hingga membuatnya kesal. Benerapa kali Elena mengatakan pada Evan jika Azzalea itu perempuan murahan yang mau dengan siapa saja, apalagi dengan apa yang dilihatnya saat ini.


"Apa dia memang seperti itu?" gumam Evan, terlebih kejadian tadi pagi masih terekam jelas dibenak Evan.


Bahkan Evan sampai tidak fokus dalam pelajaran hanya karena ciuman yang tidak sengaja ia berikan pada kening Azzalea dan sekarang ia sudah melihat gadis itu bersama orang lain. Hati Evan terasa berdenyut dan juga terasa panas dengan kobaran api, ia tak suka melihat ini. Tentang perkataan Elena ia selalu menyangkalnya dan tidak percaya.


"Apa?" tanya Vion.


Tanpa membalas pertanyaan Vion, Evan langsung bergegas melangkah kan kakinga menuju meja dimana Azzalea berada. Tanpa malu dan canggung ia langsung duduk begitu saja disebelah Azzalea, setelah menarik satu bangku kosong dari meja sebelahnya.


"Kok gak nungguin aku sih, beb!" Evan dengan santainya mengatakan itu didepan mereka semua.


Uhukk uhuuk


Tak hanya Azzalea yang tersedak melainkan hampir mereka semua kecuali Marchel.


"Pelan-pelan makannya," kata Evan sambil menyodorkan gelas milik Azzalea.


Begitupun yang lainnya melakukan hal yang sama agar tersedaknya berkurang. Tapi tetap saja tidak menghilangkan rasa sakit di tenggorokan, bahkan Ghea merasakan sakit sampai hidungnya karena bakso itu cukup pedas.


"Apa! Gue gak salah denger kan, Le?" tanya Ghea sambil menutup hidungnya dengan tissu.


"Ale kok dipanggil beb, bukannya ben itu panggilan buat orang pacaran ya?" tanya Nessa polos.


"Kalian pacaran?" tanya Dava.


...----------------...


***Jangan lupa tinggalkan jejak nya, dengan cara klik gambar jempol lalu hati .. jika berkenan berikan hadiah bunga atau kopi pada author. boleh juga klik vote!


ttd : Author E H, terimakasih***