
Azzalea sudah sampai disekolahnya, namun terasa ada sesuatu yang hilang entah apa itu Azzalea tidak tahu. Sejak tadi ia selalu menoleh kebelakang seolah sedang berharap kehadiran seseorang tapi ia tak tahu siapa, karena perasaan ini baru muncul. Ia menyusuri koridor kelas yang sudah terlihat ramai, banyak dari mereka yang menghabiskan waktu untuk duduk didepan kelas sebelum jam peljaran dimulai.
Entah sudah berapa kali Azzalea menoleh kebelakang, hingga tepukan bahu yang tiba-tiba itu membuatnya terpelonjat kaget.
PUK!
"Astaga, Ghea... ngagetin aja sih!"
Bukannya menjawab Ghea justru menoleh kebelakang karena ia juga penasaran siapa yang sedang Azzalea tunggu.
"Lo nungguin siapa?" tanya Ghea.
"Hah, nungguin siapa?"
"Lah balik nanya, kan gue yang nanya dulu... lo nungguin siapa? Si tepung?" tanya Ghea penasaran.
"Gak nunggu siapa-siapa, tuh!"
"Ah mosok! Terus dari tadi liatin belakang tuh ngapain kalau gak nungguin seseorang?" tanya Ghea.
"Gak tau!" dengan polosnya Azzalea berkata seperti itu, sedangkan Ghea sedang menatapnya penuh arti.
"Eh, si gemoy mana?" tanya Azzalea.
"Udah duluan sama Dafa, makin lengket banget tuh mereka berdua," jawab Ghea.
"Yang penting Dafa gak aneh-aneh, awas aja kalau sampai buat Nessa nangis!" Ghea pun menagngguk menyetujui ucapan Azzalwa.
Lagi-lagi Azzalea menoleh kebelakang namun tidak ada ada orang yang ia harapkan.
"Gue kenapa sih, kenapa nyariin si kipas! Atau karena udah biasa digangguin jadi kalau gak digangguin ada yang kurang gitu, ya pasti gitu!" Azzalea sedang bergelut dengan batinnya sendiri.
Ghea yang sadar pun merasa aneh pada Azzalea, baru kali ini ia terlihat seperti ini.
"Jangan bilang lo lagi nyariin anak kelas sebelah itu?" tebak Ghea.
"Hah, siapa juga yang nyariin Evan!"
Netra Ghea membulat sempurna lalu ia tertawa penuh arti sambil menoel dagu Azzalea.
"Hayo loh, ketahuan kan!"
"Apa sih?" Azzalea menepis lembut tangan Ghea.
"Lo lagi nyariin Evan kan, ngaku gak!"
"Gak, gue gak nyariin dia!" jelas Azzalea.
"Yakin nih, kalau gak nyariin kenapa sebut nama dia coba? Padahal gue kan cuma bilang kelas sebelah, bukan bilang Evan," kata Ghea panjang lebar.
"Gak tau, gak tau gak denger!" Azzalea menutupi telinganya, bisa-bisanya ia keceplosan dengan menyebut nama Evan.
Ghea yang melihat itu pun semakin gencar menggoda sahabatnya itu, Azzalea terlihat sangat lucu saat ini.
Tiba-tiba saja mereka dikagetkan dengan suara Vion yang cukup keras, dilihatnya Vion sedang berbicara dengan seseorang ditelepon.
"HAH, LO DIRUMAH SAKIT?" teriak Vion kaget.
Disebrang sana Evan menjauhkan ponselnya karena kaget mendengar teriakan Vion.
"Jangan teriak-teriak, sakit kuping gue!" gerutu Evan dari seberang sana.
"Hehe maaf, habisnya tumben banget lo di rumah sakit... emang sakit apa?" tanya Vion.
"Kecelakaan!" singkat Evan.
"Kok bisa? Gimana ceritanya? Tapi lo gak kenapa-kenapa, kan?" tanya Vion sambil berjalan melewati Azzalea dan Ghea yang sedang menatapnya bingung.
"Gue nolongin orang, yang jelas gue gak apa-apa! Tapi tolong izinin gue, ya!" pinta Evan.
"Baiklah, kalau ada apa-apa cepat kabarin gue, gue mintain lo izin du—"
Tut!
"Wah kebaisaan ini anak main matiin aja, belum juga selesai ngomong!" kesal Vion dan segera menuju kantor guru untuk memintakan izin Evan.
Sedangkan Azzalea dan Ghea yang sejak tadi dibelakang Vion pun saling bertatapan dalam diam, seolah mereka memikirkan hal yang sama.
"Lo dengerkan, Al?" tanya Ghea, Azzalea pun mengangguk.
"Evan dirumah sakit, tuh anak kenapa ya?" lanjut Ghea.
"Mana gue tau!" Azzalea hanya mengendihkan bahunya lalu melanglah menuju kelasnya yang tertunda.
"Lo gak penasaran? Atau gak mau nanya sama Vion?"
"Gak, gue gak penasaran!" sanggah Azzalea.
"Yakin nih nanti lo nyesel," goda Ghea sambil menyenggol bahu Azzalea.
"Kenapa harus nyesel? Kan gue gak ada apa-apa sama dia," kata Azzalea.
"Kita kan deket kenapa pakai kirim chat segala?" Azzalea tak paham dengan temannya yang satu ini.
"Udah sih, liat aja! Gue jamin lo bakal suka, hehe!" Azzalea menatap Ghea penuh curiga.
Saat akan membuka pesan dari Ghea tiba-tiba ponsel itu mati karena kehabisan batrai, membuat Ghea mengerucutkan bibirnya. Pasalnya ia ingin tahu bagaimana reaksi Azzalea saat membuka pesan dirinya.
"Nanti gue lihat setelah dicharger, tenang aja!"
Ghea sudah tak menjawab perkataan Azzalea ia lebih memilik masuk ke dalam kelasnya lalu meletakkan tas dibangkunya.
"Kalian dari mana aja sih, kok baru dateng... Nessa kan nungguin kalian," ucap Nessa menatap kedua sahabatnya itu.
"Dari hatinya tapi sayang udah milik orang lain.. eaa tapi bohong!" Ghea pun terkekeh sendiri mengucapkan itu.
"Apaan sih, Ghea mah gak jelas!" saut Dafa.
"Enak aja lo itu yang gak jelas!"
Mereka bertiga asyik berdebat melulan dua orang yang duduk dibangku belakang, mereka berdua sedang terdiam dengan pikirannya masing-masing. Cakra masih tidak suka jika Azzalea dekat-dekat dengan Evan, ia tak rela gadis yang ia sukai bersama laki-laki lain. Tapi sayangnya ia tidak bisa melarang Azzalea secara terang-terangan, ia hanya sahabat untuk Azzalea.
Sedangkan Azzalea entah kenapa ia memikirkan Evan, apalagi tadi ia mendengar jika Evan sedang berada dirumah sakit. Membuat Azzalea sedikit gelisah, ia ingin bertanya tapi sayangnya ia tak memiliki nomer ponsel Evan, bodoh kenapa ia tak meminta nomer Evan. Tapi bagaimana bisa ia meminta nomor Evan sedangkan tiap bertemu selalu ribut.
Huft!
Azzalea menghela nafasnya kasar dan semua itu tak lepas dari penggelihatan Cakra.
"Kenapa?"
"Hmm, gak kok!" Azzalea menggelengkan kepalanya.
"Kalau ada apa-apa cerita aja, siapa tau gue bisa bantu," kata Cakra.
Azzalea hanya mengangguk saja sebagai jawab. Kemudian ia menatap ponselnya yang sudah mulai terisi daya dari power bank yang ia pinjam dari Ghea.
Azzalea pun menekan tombol power pada samping ponselnya sehingga menampilan layar hitam yang menyala dengan nama merk ponsel tertera disana. Tak perluh waktu lama ponsel itu sudah menampilkan menu yang memiliki beground fotonya sendiri bersama Azzam.
Karena rasa penasaran Azzalea lalu membuka pesan chat yang dikirim Ghea tadi, ia mencari kontak nama Ghea. Bukan sebuah pesan chat melainkan sebuah gambar yang Ghea kirimkan. Azzalea menekan gambar itu lalu setelah beberapa saat gamabr itu selesai didownload.
Netra Azzalea membulat sempurna melihat gambar yang dikirimkan Ghea, pikirannya seorang sedang mengingat kejadian kemarin yang jelas membuatnya kesal tapi juga ada sedikit rasa rindu.
"GHEA, maksudnya apa?" tanya Azzalea sambil menatap tajam Ghea yang duduk didepan bangkunya.
"Apa?"
"Gambar yang lo kirim, maksudnya apa?"
"Gambar? Oh, lo udah liat gambarnya? Gimana cute kan, gue sengaja lo kasih gamabr itu ke lo," kata Ghea sambil menaik turunkan alisnya.
Lalu Ghea menarik lengan Azzalea agar mendekat kepadanya.
"Siapa tau bisa jadi obat kangen lo," bisik Ghea sambil terkekeh.
"Ghea ih!" Azzalea memcubit lengan Ghea, pipinya terasa panas saat Ghea menggodanya.
"Gambar apa?" tanya Cakra.
"Iya gambar apa? Nessa mau lihat juga?" ucap Nessa berharap.
"Lucuan mana gue sama gambar itu?" tanya Dafa.
"Oh tidak bisa! Gambar ini cukup Ale aja yang liat kalian gak boleh, soalnya ini gambar lucu khusus buat Azzalea!" jelas Ghea.
"Cih, pelit amat cuma gambar doang, sini liat!" Dafa menjulurkan tangannya meminta ponsel Azzalea.
Dengan cepat Azzalea memasukan ponselnya apda saku seragam, sehingga Dafa tak perani mengambilnya.
"Pelit banget sih!" gerutu Dafa.
Sedangkan Cakra menatap curiga kepada Azzalea, karena baru kali ini ia menyembunyikan sesuatu darinya.
"Ini, ini gambar gak jelas gak usah liat oke!" pinta Azzalea.
Ghea sudah tak bisa menahan tawanya yang sejak tadi ia tahan, melihat sahabatnya tertawa membuat Azzalea semakin kesal saja.
"*Kalau mereka tau gambar yang dikirim Ghea itu foto Evan bisa makin panjang urusannya," batin Azzalea.
"Ini lagi, bisa-bisanya dapat foto Evan pas jahilin gue kemarin... tunggu jadi dia kemaren tau si Evan godain gue pakai bilang saranghae segala!" batin Azzalea sambil menatap tajam Ghea*.
Belum sempat Cakra mejawab seorang guru sudah masuk kelas dan menyapa mereka semua, yang artinya pelajaran pagi ini segera dimulai.
Lagi-lagi Ghea berbalik menatap Azzalea sambil berbisik, "Obat kangennya ampuh, kan?" Ghea terkekeh lagi setelah mengatakan itu.
DUK!
Azzalea yang kesal pun menendang kursi Ghea beberapa kali, yang membuat Ghea terganggu saat menulis.
"Syukurin!" Azzalea menjulurkan lidahnya mengejek Ghea.
...----------------...