Evanzza

Evanzza
Bayangan Sesat



Setelah kejadian di kantin tadi Elena dibawa ke ruang bk oleh Pak Slamet, sedangkan Evan diantar Azzalea ke UKS. Tumben Azzalea mau? Itu hanya karena Evan terkena sayatan garpu gara-gara dirinya dan juga Elena. Andai saja jika Evan tidak tiba-tiba datang mungkin masalahnya tidak akan sampai seperti ini. Padahal ini semua juga karena dirinya, mungkin jika Azzalea tidak mengenal Evan hidupnya akan tenang dan damai tanpa ada orang yang berani mengusiknya hanya permasalahan yang tidak penting seperti ini.


"Awh! Sakit Ale," geurutu Evan sambil sedikit menjauh dari tangan Azzalea.


"Diem aja udah," kata Azzalea.


"Sakit, sayang!" mendengar itu Azzalea memelototkan bola matanya.


"Mau diobatin gak sih!"


"Mau, tapi pake perasaan dikit dong," kata Evan.


"Kalau pakai perasaan gak akan sembuh lah, mau sembuh itu pakai obat," saut Azzalea sambil mengoleskan obat merah pada pipi Evan.


"Iya-iya," pasarah Evan.


Kemudian hening kembali, karena Azzalea terlalu fokus mengobati luka Evan. Sedangkan Evan ia terpaku pada wajah ayu gadis didepannya ini.


Bulu mata lentik nan panjang, hidung mancung seperti prosotan anak tk. Lalu jangan lupakan bibir ranum itu yang membuat iman Evan sedikit goyah. Entahlah bibir itu terlihat menggoda dan Evan pun ingin merasakannya.


"Kenapa gue cantik ya?" tanya Azzalea sambil tersenyum menatap Evan.


"Iya cantik, cantik banget!" saut Evan.


Azzalea pun tersenyum manis hal itu membuat detak jantung Evan tidak karuan, baru kali ini Evan melihat senyum tulus dari Azzalea.


Mereka saling menatap hingga wajah mereka pun mendekat, perlahan namun pasti. hingga hanya 2cm jarak diantara wajah mereka. Bahkan hembusan nafas Azzalea terasa begitu harum saat terasa dipipi Evan.


Perlahan Evan memejamkan matanya dan mendekati Azzalea. Bibirnya sedikit ia majukan dan bersiap untuk mendarat.


PLAK!


Pipi Evan terkena tamparan dari Azzalea, membuatnya tersadar dari semua bayangan sesatnya tadi.


"Astaga pikiran gue bisa traveling gitu, padahal cuma hadap-hadapan gini!" batin Evan.


"Lo jadi bodoh, ya? Atau kesambet?" tanya Azzalea.


Pasalnya sejak tadi Evan hanya diam saja, padahal Azzalea sudah beberapa kali mengajaknya berbicara hingga ia tak bisa menahan lagi lalu menampar pipi Evan agar sadar.


"Lo mesum, ya!" tebak Azzalea.


"Hah apa? Mesum mana ada tampang mesum diwajah gue!" elak Evan, bisa malu jika Azzalea tahu apa yang sedang ia bayangkan tadi.


Azzalea menatap Evan penuh selidik, sedangkan Evan yang ditatap seperti itu menjadi salah tingkah. Lihatlah hanya ditatap begitu saja jantung Evan sudah berontak bahkan telinganya sudah memanas mungkin sudah telrihat merah.


"Ada!"


"A-ada apa?" tanya Evan gugup.


"Orang mesum tuh kalau lama liatin orang lain tanpa berkedip, pasti lagi bayangin yang gak gak! Iya kan?" tebak Azzalea.


Glek!


Tebakan Azzalea seratus persen benar, hal itu membuat Evan tak bisa berkata-kata lagi, bahkan terlnggorokannya terasa snagat kering.


"Ehem!"


Beberapa kali Evan berdehem bukan tanpa alasan, ia melakukan itu untuk menghilangkan rasa paniknya. Ia tak ingin Azzalea tau apa yang ia pikirkan, mau ditaruh dimana wajahnya jika Azzalea mengetahuinya.


"Batuk? Minum baygon gih!"


"Gak, gue gak mau lo jadi janda!" goda Evan.


"Apaan sih gak jelas banget," gerutu Azzalea yang sedang merapikan kotak p3k itu.


"Gak usah malu gitu lah, tapi lo imut kalau lagi marah-marah gini!" goda Evan.


Azzalea hanya diam tak menanggapi Evan, jujur saja perasaanya sekarang sedang tak karuan dan sebisa mungkin Azzalea menyembunyikan nya dari Evan.


"Hey, es ale-ale! Lo tau gak kenapa rumah sakit menerima pasien?" tanya Evan untung menghilangkan kecanggungan itu.


"Kan udah tugas mereka," jawab Azzalea cuek.


"Hmmm!" Azzalea yang mendengar itu paham jika Evan tak menerima jawaban itu.


"Iya, karena kalau menerima kamu apa ada nya itu tugas aku... sebagai calon suamimu!" kata Evan dengan penuh keseriusan.


Untuk beberapa detik Azzalea terpaku akan hal itu, bahkan ia sampai terpesona namun dengan cepat Azzalea menyangkalnya.


"Dasar buaya batu!" kesal Azzalea.


"Mau kemana?" tanya Evan.


"Balik kelas," jawab Azzalea sekena nya.


"Tunggu gue anterin takut lo nyasar ke hati gue, eh nyasar ke kelas lain!"


"Sorry ya, lo mau gombalin gue kaya apa pun gak bakalan ngaruh gitu! Jadi stop!" pinta Azzalea.


"Yakin nanti rindu loh," celetuk Evan sambil menyamakan langkahnya dengan Azzalea.


Tanpa Azzalea sadari kini ja sudah tak secuek dan sedingin waktu awal bertemu dengan Evan. Tapi Evan lin sadar akan hal itu sehingga ia selalu menggoda Azzalea dengan candaan-candaan yang unfaedah. Tapi itu bisa membuat Azzalea tersenyum meski tak terlihat oleh Evan.


Sedangkan Elena ia sudah mendapatkan hukuman untuk memeberikan beberapa toilet, bahakn ia sampai diskor selama dua hari.


"Bau banget, belum juga mulai udah muntah duluan gue!" gerutu Elena saat sampai dipintu masuk toilet.


"Ihh, masa gue suruh bersihin toilet kaya gini.. iuuhh!"


"Andini juga dimana sih, kenapa tuh anak ilang gitu aja... harusnya dia pisahin gue jadi gak bakal gue dihukum kaya gini!"


"Arrrggghhhh!"


Elena menendang sebuah ember yang akan dia gunakan untuk menersihkan toilet, hingga air yang ada di ember itu mengenai sepatu bahkan rok yang Elena pakai.


"Astaga! Gue gak mau bersihin ini," monolog Elena sambil marah-marah tidak jelas.


"Cih, maka nya dengerin apa kata gue! Lo gak akan jadi kaya gini," kata seseorang yang sudah bersandar pada dinding dekat dengan toilet.


Ia melipatkan kedua tangannya didepan dada sambil menatap Elena dengan remeh.


"Gue gak sabar, Chel! Mau sampai kapan gue nunggu?"


"Sampai mereka benar-benar jatuh cinta gitu, dan gue cuma jadi penonton nya? Iya gitu!" kesal Elena.


"Lo tuh cukup diem dan patuhin intruksi gue, lo gak akan kaya gini!" kata orang yang tadi panggil Elena, Marchel.


"Hah! Oke-oke, cukup bahas itu sekarang lo bantuin gue ya?" pinta Elena, ia memohon pada Marchel agar membantunya.


"Ogah banget!" Marchel langsung pergi begitu saja, ia tak menghiraukan Elena yang terus berteriak memanggil namanya.


"Hasst!" kesal Elena.


Tapi mau bagaimana lagi ia harus melaksanakan hukuman itu karena nanti pak Slamet akan mengecek nya.


...----------------...


Tenang saja, aku akan membuat hari-hari semakin menyenangkan dan tak monoton dengan semua tingkah konyolku ini.


Jadi tolong, jangan paksa aku untuk pergi!


Biarkan aku sendiri yang memtuskannya.


Kamu cukup Diam dan menikmati semuanya.


-Evan-


...----------------...


Jangan lupa ya like coment tinggalkan jejak, Cakra tak semenyedihkan yang kalian kira kok :p


Dia kuat dan dia akan bahagia nanti eaa..


Sayang kalian banyak", tetap jaga kesetan ya! Jangan kek author ini wkwk


...****************...