Evanzza

Evanzza
Semangat Evan



Azzalea tak ikut pulang bersama kedua orang tua nya, ia diajak Cakra untuk membeli hadiah untuk sepupu nya yang sedang ulang tahun. Padahal itu hanya rekayasa saja, karena Cakra hanya ingin mengajak Azzalea jalan-jalan agar pikirannya tidak kusut lagi.


"Mau kemana?" tanya Cakra sedikit berteriak karena ia mengemudikan motot bukan mobil.


"Kemana?" tanya balik Azzalea karena bingung dengan pertanyaan Cakra, kan dia yang ngajak kenapa yang tanya.


"Jadi anak indomie kuy!" ajak Cakra sambil terkekeh.


"Bukannya nyari kado buat sepupu?" tanya Azzalea.


"Kalau gak bilang gitu mana mau lo jalan bareng gue?" tanya balik Cakra yang membuat Azzalea terdiam canggung. Bukan tanpa alasan Azzalea menjaga jarak dengan Cakra, apalagi jika bukan untuk menjaga hati Evan.


Motor itu terus melaju ditengah ramainua pengendara lainnya, dengan gesit Cakra menyalip setiap kendaraan yang ada didepannya. Azzalea hanya diam sambil menatap langit yang sudah mulai berganti warna menjadi jingga dan orange. Tangannya perpegangan pada ujung jaket Cakra, ia tak berani memeluknya.


Sesekali Cakra menatap wajah datar Azzalea dari kaca spionnya mau diapakan Cakra paham betul bagaimana sifat sahabatnya itu.


Set!


Dengan cepat Cakra menarik rem dengan sekuat tenaga, ia hampir saja menabrak seorang pengendara yang tak lain adalah seorang ibu-ibu yang sen kanan tapi belok ke kiri.


"Jangan PHP buu!" teriak Cakra.


Ibu-ibu itu membuka kaca helmnya sambil menatap Cakra garang, ia tahu jika pemuda itu hampir saja menabraknya.


"Siapa yang PHP? Kamu paling tukang PHP, tuh cewek dibelakang kamu pasti kamu PHP in kan!" saut nya jauh lebih galak dari Cakra.


"Lah saya ini malah korban PHP, bu!" Cakra tak terima.


"Lah malah curhat," kata sang pengendara lainnya yang menyaksikan perdebatan antara Cakra dengan seorang ibu-ibu.


"Apa sih Cak! Malu, buruan pergi," pinta Azzalea yang sambil menepuk bahu Cakra.


"Tuh tukang PHP in orang, masa sen kanan belok ke kiri kan bahaya ... Kalau tadi gak sempet ngrem gimana?" cerocos Cakra seperti ibu-ibu yang masih didepannya.


"Maka nya kalau dijalan itu fokus kedepan jangan ke belakang!" seru ibu-ibu yang tak mau mengalah dengan Cakra begitu pun Cakra.


"Maaf nih ya, coba ibu lihat sen nya ibu itu nyalanya kemana lalu ibu beloknya kemana? Jadi siapa yang suka PHP in anak orang?" tanya Cakra.


Benar saja saat ia melihat lampu sen nya berbeda dengan tujuan ia berbelok.


"Cak! Udah ih, malu masa debat sama emak-emak? Mana dipinggir jalan dilihatin orang, malu!" lagi-lagi Azzalea menepuk bahu Cakra beberapa kali agar menghentikan aksinya itu.


"Tuh lihat pacar saya aja sampai malu, lain kali hati-hati bu! Jangan suka PHP in orang yang ada dibelakang ibu, bahaya!" setelah mengatakn itu Cakra langsung menjalan Motornya kembali.


"Maaf ya, bu!" teriak Azzalea yang merasa tidak enak dan malu tentunya walaupun dia tidak salah.


"Kok gue baru sadar ya, Cak! Kalau mulut lo itu cerewet banget, ibu-ibu tadi aja sampai kalah sama lo!" teriak Azzalea sambil terkekeh.


Melihat senyum Azzalea yang sudah muncul lagi membuat hati Cakra lega karena gadis kesayangannya sudah tak bersedih lagi.


"Gue cuma gak mau itu jadi kebiasaan ibu-ibu tadi, kan bahaya, Al!" seru Cakra.


Azzalea hanya mengangguk saja masih dengan tawa hangat sehangat senja sore ini.


"Gie harap lo bosa terus tertawa seperti ini, Al!" batin Cakra yang melihat wajah Azzalea dari kaca spion.


"Gue harap perasaan gue terbalaskan," batin Azzalea sambil menatap kagum langit jingga itu.


Cakra mengehntikan motornya disebuah Cafe yang cukup ramai karena pemandangannya yang mampu menarik kaum melenial untuk datang walau hanya sebentar.


Setelah Cakra melepaskan helm full face nya ia menoleh kebelakang dimana Azzalea masih duduk manis dan tak ada niatan turun sama sekali.


"Turun!" perintah Cakra.


"Udah turun aja dulu, gue mau refresingin otak gue sebelum bertempur dengan soal-soal ujian," kata Cakra jujur.


Kemudian mereka masuk kedalam Cafe yang ternyata memang sangat ramai, apalagi hari libur sepeti itu tak hanya anak muda bahkan semua kalangan ada. Untung saja masih ada bangku kosong sehingga mereka berdua langsung menempatinya.


Azzalea terlihat menikmati walaupun ia bukan anak indomie tapi tetap saja kuah hangat dipadukan dengan beberapa campuran antara telur, sayur bahkan sosis pun membuatnya semakin lezat. Ditambah dengan pemandangan langit jingga yang penuh dengan kehangatan itu.


"Enak? tanya Cakra, Azzalea pun mengangguk sambil menampilkan deretan gigi putihnya.


Diantara meja itu terlihat seseorang tengah mengacak rambutnya frustrasi, sudah sejak pagi tadi ia diberi motivasi, visi misi bahkan sampai pidato yang bisa menyakinkan orang-orang untuk memilihnya nanti. Orang itu adalah Evan, bersama Gavin, Rafa dan Vion tentunya.


"Ayolah semangat mau dapetin dia gak?" tanya Gavin, Evan pun menganngguk lemah sebagai jawaban.


"Yok Evan semangat!" Vion menyemangati Evan layaknya seorang gadis yang tengah menggoda gebetannya.


"Saingan lo berat soal nya, Van! Kalau gak ada persiapan bisa gagal," kata Gavin, karena sudah pernah merasakan sebelumnya.


"Yaudah belajar dulu aja buat ulangan besok, yang ini lo pelajarin pelan-pelan setelah ulangan semester. Kalau asa yang gak bisa boleh tanya sama gue," kata Gavin sambil membalik bukunya.


Tak hanya menemani Evan mereka juga belajar untuk ulangan semester besok senin. Bahkan Vion pun tak malu menanyakan bagaimana menyelesaikan soal matematika pada Rafa. Jika yang lain sibuk melepas penat sebelum ulangan, mereka beremlat terlihat begitu rajin walaupun kepintaran sudah tak diragukan lagi.


"Van!!" teriak Vion sambil memukul punggung Evan beberapa kali.


"Apa sih! Gak usah mukul juga kali, sakit!" gerutu Evan.


"Liat noh! Azzalea bukan sih?" tanya Vion sambil menunjuk sebuah bangku yang tak jauh dari mereka.


Evan, Gavin dan Rafa pun menoleh dan jelas saja itu Azzalea sedang bersama Cakra.


"Cih! Dasar tepung!" kesal Evan.


"Samperim gih!" suruh Gavin.


"Gak!"


"Kenapa?" tanya mereka bertiga bak paduan suara.


"Kalian liat, Azzalea terlihat bahagia banget gue gak mau ganggu itu. Bentar lagi kok gue yang ada diposisi si tepung!" Evan memandang sendu kedua orang yang tengah tertawa itu.


Jujur saja ada rasa hangat lebih dari senja sore ini, ada rasa yang begitu menyiksa relung hatinya. Tapi disisih lain ia tak ingin senyum itu hilang begitu saja. Biarkan untuk saat ini dia menjadi penikmat tawa itu sebelum menjadi pemilik.


Tangan Evan bergerak menuliskan sebuah kata-kata dalam kertas kosong dihadpannya itu.


Lalu Evan memangil seorang pelayan, ia menyuruh pelayan itu untuk memberilan coretan tadi pada Azzalea.


...----------------...


Kau seperti kupu-kupu yang hadir dihidupku, terkejar tapi tak bisa tergapai!" ~ Cakra A. W


...--------------------------------...


Mana nih dukungannya buat Evan? Bentar lagi perjuangan sebenarnya baru terjadi xixi.


Like, coment, vote dan fav karya author ini ya!


Oh, iya athor ada karya tentang CEO Hanzen yang dingin seperti Azka! Penasaran mampir aja Big Boss Bucin 😅


...****************...


...SAYANG KALIAN SEMUA PEMBACA SETIA AUTHOR E H, SARANGHAE! :v...