Evanzza

Evanzza
Cari Angin



Evan segera bergegas membersihkan dirinya didalam kamar mandi, hanya butuh waktu singkat ia sudah segar dan wangi. Rambutnya yang masih sedikit basah hanya disisir dengan sela-sela jarinya saja.


Tak tak tak!


Suara langkah kaki Evan membuat perhatian Rayya teralihkan, ia yang sedang masak mendapati anaknya sudah segar dengan pakai santainya.


"Mau kemana anak mama, udah wangi aja?" tanya Rayya.


"Evan mau cari angin dulu, mah!" Evan mencium punggung tangan Rayya untuk berpamitan.


"Angin kok dicari, cari itu cewek biar ada gandengannya," celetuk Rayya sambil terkekeh.


"Doain aja, mah! Siapa tau Evan nemu cewek dipinggir jalan." Evan terkekeh sendiri dengan perkataannya itu.


Plak!


"Kamu ini, mana ada cewek dipinggir jalan? Yang ada cewek jadi-jadian, Van!" gerutu sang mama.


"Tuh mama tau, Evan cuma cari angin beneran mah biar fresh gitu pikiran Evan!" jelas Evan yang sedang memandang sang mama.


"Iya-iya, mama kira kamu cari mau yang begituan," kata Rayya sambil terkekeh.


"Ist mama mah gitu sama anaknya!" wajah Evan terlihat kesal dengan candaan sang mama.


"Gitu aja cemberut sih anak mama yang paling ganteng, gimana kalau mama cariin secara online? Tinggal klik, langsung dapat yang dimau dan tinggal tunggu dirumah," ucap Rayya sambil terkeheh, lagi-lagi ia menggoda anak semata wayangnya itu.


"Ist mama ini, kaya belanja online aja.. ini kan soal hati mah, hati... mana bisa dibuat mainan!" kata Evan berubah serius, tak lupa ia menunjuk hatinya sendiri.


"Hati kamu kenapa?" tanya Rayya.


"Hati aku sakit mah, liat dia dipelukan orang lain!" Evan mengingat saat Azzalea dipeluk oleh Cakra beberapa hari lalu.


"Uluh-uluh anak mama, belum juga pacaran masa udah sakit aja?" Rayya mencubit pipi Evan.


"Ya gitulah mah, udah ah Evan pergi dulu," ucap Evan sambil mencium punggung tangan Rayya lagi.


"Hati-hati!" teriak Rayya saat melihat sang anak sudah melesat pergi.


Evan sudah menaiki motor sportnya menembus jalanan yang semakin ramai. Tak jarang Evan harus mengerem secara mendadak karena ada ibu-ibu yang sudah sen kanan tapi belok kiri, tak hanya itu saja ada yang bahkan tiba-tiba berhenti membuatnya harus ekstra hati-hati.


Evan sudah sampai ditemlat tujuannya, ia memarkirkan motornya disebelah motor yang sangat ia kenali. Ya motor milik Vion, itu berarti si pemilik motor sudah datang terlebih dahulu padahal Evan lah yang mengajak Vion.


Terlihat Vion sedang sibuk bermain dengan ponselnya, bahkan ia tak menyadari jika Evan sudah berdiri disampingnya dan menatapnya dengan alis yang berkerut.


"On!" panggil Evan.


"Vion!" ulangnya lagi.


"Hey On!" teriak Evan ditelinga Vion membuatnya kaget.


"Haist! Jangan teriak-teriak kenapa sih, sakit telinga gue!" protes Vion sambil memegangi telinganya yang berdengung.


Evan tidak perduli dengan gerutuan Vion, ia memilih duduk didepan Vion sambil membaca buku menu.


"Cih, dasar! Oh ya?" perktaan Vion ini membuat Evan mendongak dan menatap Vion, alisnya terangkat sebelah seoalah sedang bertanya 'apa'.


"Jangan panggil gue On On terus, nama gue Vion bukan On!" kesal Vion.


"Kan bener, Vi-On!" ledek Evan sambil terkeheh.


"Ya lo bisa panggil Vi gitu kek jangan on on terus nanti dikira On Off gue!" kesal Vion.


"Hmmm," saut Evan.


"Cih, lo kenapa tumben muka kek gitu?" tanya Vion.


"Ya lo perjuangin lah, ikutin kata hati lo dari pada nanti lo nyesel waktu liat dia bersanding dengan orang lain."


"Caranya gimana? Saingan gue banyak banget." jelas Evan.


"Lo tau, tadi aja yang mau nganterin dia pulang sekolah udah kaya orang antri bengsin!" kesal Evan.


"Apa hubungannya antri bengsin sama Azzalea?" tanya Vion, sedangkan Evan sedang menerima minuman yang ia pesan.


"Dudul! Itu ibarat kata, bukan arti sebenarnya," kata Evan.


"Tauk lah, ribet ngomobg sama orang pinter... berbelit-belit!" gerutu Vion.


Tiba-tiba saja ada suara cempreng yang sudah tak asing lagi untuk mereka berdua, bahkan dari jarak sepuluh meter pun mereka dapat mengenali suara gadis itu.


"Evaaan!" ucapnya sedikit berteriak.


"Lo aja diak?" tanya Evan kepada sahabatnya itu.


Vion hanya mengangkat kedua bahunya, karena ia memang tidak tahu kenapa gadis itu bisa datang ke Cafe ini.


"Fans berat, lo!" bisik Vion sambil terkekeh.


Gadis dengan baju yang kekurangan bahan itu sedang berjalan mendekati meja Evan dan Vion. Tanpa basa-basi ia langsung duduk disebelah Evan, membuat Evan sedikit risih apalagi bau parfum yang dipakai gadis itu sangat menyengat.


"Lo ya, Len... baru datang dah nemplok aja!" Vion merasa tak suka dengan kehadiran gadis itu yang tak lain adalah Elena.


"Baju lo belum selesai dijahit kenapa dipakai!" ketus Evan sambil bergeser tapi sayangnya Elena tetap saja menempel pada Evan.


"Kok lo gitu sih, Van... kalau belum selesai dijahit mana mungkin gue pakai," kata Elena.


Ya begini lag Elena jika diluar lingkungan sekolah, ia selalu memakai pakaiannya yang kekurangan bahan membuar kaum adam kadang khilaf.


"Seterah!"


"Terserah Evan, bukan seterah!" ralat Elena.


Evan tak menanggapi perkataan Elena ia memilih diam dan menatap jalanan yang begitu ramai dengan beragam orang dengan kesibukan mereka.


Niat hati Evan ingin menenangkan hati dan pikiran tapi apa yang ia dapat sekarang, ia bertemu dengan seseorang yang tidak ingin ia temui.


Sebenarnya Evan tahu betul perasaan Elena tapi sebisa mungkin ia tidak menanggapi atau pun meresponnya. Karena ia tidak menyukai Elena tang terlalu terang-terangan menunjukkan rasa sukanya.


Padahal Evan pernah memiliki rasa pada Elena hanya sebentar tak lama, perasaan itu hanya datang karena wajah Elena tang cantij tapi tak membuatnya ingin menjadikan Elena sebagai orang spesial ataupun kekasihnya.


"Jauh-jauh, gue eneg sama parfum lo!" kesal Evan.


"Ini parfum mahal loh, Van... mana ada bikin eneg!" kata Elena tak terima.


Lagi-lagi Evan memilih diam, pikirannya hanya memikirkan Azzalea. Bagaimana ia harus mendekatinya dan juga mengambil hatinya agar suka dengan Evan bukan yanv lainnya. Terlebih Evan memiliki banyak saingan yang harus ia hadapi, tak hanya itu perjanjiannya dengan sang papa membuatnya semakin prustasi.


"Arrgghhh!" geram Evan.


Elena yang berada disebelahnya pun ingin mendekati Evan tapi sayangnya tangan itu langsung ditepis dengan sangat kasar.


"Evan kenapa?" tanya Elena pada Vion yang sedang asik main game.


Vion melirik sekilas pada dua orang dideannya itu, kemudian ia menggelengkan kepalanya karena tak ingin membahasa apapun sekarang. Vion tahu jika Evan sedang tidak baik-baik saja untuk saat ini. Terlebih lagi ia mendengar gosip jika didepan gerbang terjadi perselisihan yang disebabkan oleh seorang perempuan. Dan orang yang terlibat itu adalah sahabatnya sendiri bersama beberapa orang lainnya.


Ia tak tahu apa yang membuat mereka semua bisa begitu tertarik dengan gadis yang hanya memiliki satu wajah saja, datar.


"Van, lo tau gak ada gosip soal lo!" celetuk Elana.


...----------------...