
Waktu pulang pun tiba dan itu membuat Azzalea bisa bernafas lega karena sejak tadi ia terus saja didesak oleh Ghea dan juga Nessa. Mereka mempertanyakan ada hubungan apa Azzalea dengan sang ketos yang terlihat begitu dekat dengannya. Padahal Azzalea sendiri baru tau jika Gavin itu adalah ketua osis sekolah mereka, dan lagi baru hari ini bertemu Gavin secara langsung.
"Baru ketemu udah dihukum aja gue sama ketos!" gumam Azzalea.
Azzalea memilih menunggu Cakra didekat gerbang, sementara Cakra akan mengambil mobilnya terlebih dahulu setelah itu mereka akan pulang bersama. Siapa yang menyangka jika alasan Azzalea malas keparkiran hanya untuk menghindari orang-orang yang membuatnya kesal sejak pagi. Tapi ia malah bertemu dengan mereka digerbang sekolah.
"Yuk naik gue anterin!" kata Gavin dengan membuka kaca mobilnya, tak lupa senyum mempesona yang membuat perempuan klepek-klepek.
Azzalea hanya diam saja seolah tak mendengar apapun. Tak selang berapa lama terdengar suara motor mendekati mereka.
Azzalea hanya meliriknya menggunakan ekor matanya, sedangkan Gavin sudah menyembulkan kepalanya untuk melihat siapa yang berani menggangunya.
Motor itu berhenti tepat didepan Azzalea, dengan gesit ia mematikan mesin motornya.
"Bareng gue aja!" sambil melepas helm fullfacenya.
Lagi-lagi Azzalea tak meresponnya sama sekali, ia sangat malas menanggapi orang-orang membuat moodnya semakin buruk sejak tadi.
"Cih!" Azzalea mendengus kesal saat ia melihat ada satu lagi motor sport yang mendekati mereka.
"Yuk gue anterin pulang, cantik!" ajak Marchel sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Dia pulang bareng gue," kata Gavin yang akan turun dari mobilnya tapi sayangnya pintu mobilnya dihalangi oleh Marchel.
"Gak usah repot-repot pak ketos, biar dia sama gue aja!" kata Marchel sambil tereenyum miring menatap Gavin.
"Gak! Dia gak akan pulang sama kalian berdua, dia pulang sama gue!" kali ini Evan yang berbicara.
Dengan perdebatah itu membuat Azzalea menjadi pusat perhatian seluruh siswa siswi SMA Jaya, banyak yang kagum dan juga iri melihat Azzalea. Tak jarangan mereka mencibir Azzalea yang bisa merebut perhatian beberapa cowok terganteng disekolah.
"Dia pake pelet apa sih? Kok semua most wanted sekolah kita deketin dia?"
"Itu cewek siapa sih? Kak Gavin kok mau nganterin dia pulang?"
"Sok kecantikan banget sih jadi cewek!"
"Gue juga mau dong direbutin cogan kaya gitu!"
"Kalau dia gak mau, gue aja yang dianterun pulang kak!"
"Para buaya beraksi!"
"Kalau gue jadi dia, pasti langsung buka herem... apalagi semua cogan yang deketin!"
Begitulah cuitan para sisiwa yang suka dan tidak suka melihat Azzalea. Azzalea masih saja diam sambil memasang wajah dinginnya, karena ia tak mengharap itu semua dari ketiga cowok itu.
TIN TIN TIIIIN!
Suara tlason mobil mengusik mereka semua sehingga mau tidak mau Gavin menepikan mobilnya agar memberi jalan untuk sebuah mobil sport warna merah yang ada dibelakangnya. Sedangkan Marchel juga ikut menepi.
Setelah mobil Gavin dan motor Marchel menyingkir, dengan mulusnya mobil merah itu berjalan mendekati Azzalea yang tengah berdiri sambil memasukan kedua tangannya pada saku sweter yang ia pakai.
Tanpa banyak bicara Azzalea langsung masuk kedalam mobil itu, ia mengabaikan suara Gavin, Evan dan juga Marchel yang protes ketika Azzalea masuk kedalam mobil merah itu.
"Tukang ojek lo banyak juga, ya?" katanya sambil terkekeh.
"Gak lucu, Cak!" kesal Azzalea.
"Apaan sih! Yang ada tuh nenek sihir kalah cantik sama gue." protes Azzalea sambil memasang sabuk pengamannya.
"Iya percaya!" Cakra terkeheh sendiri saat melihat Azzalea cemberut sambil marah-marah tidak jelas.
Mobil merah itu langsung melesat membelah jalanan meninggalkan area sekolah, menyisahkan dua orang yang merasa kesal karena diabaikan oleh Azzalea. Dan satunya lagi hanya biasanya saja karena memang tidak ada perasaan sama sekali dengan Azzalea.
"Udah ada pawangnya, ya?" gumam Gavin setelah itu menyalahkan mesin mobilnya dan bergegas pulang kerumah.
"Hasstt! Susah banget sih mau deket doang!" kesal Evan sambil memukul motor sport miliknya.
Elena yang melihat itu langsung naik darah, ia tidak terima jika ada orang yang lebih cantik darinya. Apalagi sampai orang yang ia incar lebih memilih saingannya dibandingkan dirinya.
"Waah parah, sok kecantikan banget sih lo!" kesal Elena.
"Lo lagi, Van! Bodoh atau gimana sih? Kenapa deketin cewek kaya patung itu sedangkan disamping lo udah ada gue?" monolog Elena sambil mencengkram setir mobilnya.
Elena tidak habis pikir dengan jalan pikiran Evan yang bisa tertarik dengan Elena, sedangkan dia yang sudah menyukainya sejak dibangku putih biru masih harus berusaha mendapatkan hati Evan. Sedangkan Azzalea gadis yang baru ditemui Evan baru beberapa minggu ini sudah bisa menarik perhatiannya.
Elena sangat kesal jika memikirkan hal itu, padahal dia juga tidak kalah cantik dari Azzalea. Bahkan banyak cowok yang sudah Elena tolak karena hanya mengharapkan Evan yang mengatakan hal itu padanya.
Tapi apa yang ia lihat, orang yang selama ini ia sukai sedang berusaha mendapatkan perhatian dari perempuan lain. Jelas saja membuat hati Elena sakit dan terluka.
"Apa hebatnya dia sih!" kesal Elena.
"Sampai semua orang berusaha deketin dia, patung gitu!" lanjut Elena.
Setelah puas mengungkapkan isi hatinya Elena segera pulang kerumahnya, mengingat sekolah sudah terlihat sepi hanya beberapa orang saja yang masih ada disekolah.
Sedangkan dimobil Cakra hanya diam sambil menatap Azzalea yang sedang melamun menatap lurus kedepan, ia paham jika mood Azzalea sedang buruk.
Sehingga Cakra memutuskan untuk membelokkan mobilnya kearah supermarket yang ia lewati. Cakra langsung saja keluar dan membeli sesuatu, Azzalea yang tidak bersemangat hanya diam menunggu Cakra.
Sekitar lima belas menit Cakra sudah kembali dengan membawa kantung kresek berwarna putih.
Azzalea yang sibuk main game diponselnya pun tidak menyadari jika Cakra sudah duduk disebelahnya lagi.
Cakra tersenyum tipis sambil melihat tingkah sahabatnya itu, dia pasti akan menyibukan diri dengan game jika moodnya sedang buruk.
"Nah!" Cakra menyodorkan yogurt rasa blueberry favorit Azzalea, apalagi jika yoghurt itu masih dingin.
Azzalea menatap yogurt yang Cakra berikan, kemudian senyum manis terlihat pada wajah gadis itu.
"Bukain!" ucap Azzalea dengan nada seperti anak kecil.
Hal itu membuat Cakra bahagia, dengan senang hati ua membukakan tutup yoghurt itu.
Azzalea menerimanya dengan senang hati, lalu menyantap yoghurt favortinya itu. Tak hanya itu saja, Cakra juga membelikan beberapa makanan ringan yang biasa Azzalea beli. Sehingga Cakra tahu betul apa yang Azzalea suka dan tidak sukai.
"Makasih, Cak!" ucap Azzalea sambil tersenyum manis.
Mood Azzalea sudah kembali baik lagi berkar Cakra, ia sudah lupa dengan orang-orang yang membuatnya kesal seharian.
"Cak, gue mau kasih tau lo sesuatu," kata Azzalea sambil menatap Cakra dengan serius.
...----------------...