Evanzza

Evanzza
Aku Kecewa sama kamu



Azkia masuk ke dalam kamar, dilihatnya sang suami tengah memejamkan matanya disandaran sofa. Sesekali tangannya bergerak secara alami memijit pangkal hidungnya, ia terlihat sangat kacau. Bahkan lipatan didahinya terlihat jelas. Azkia tau jika suaminya sedang tidak baik-baik saja, apalagi dengan sang anak yang menjadi korban dari kebencian dimasa lalu.


"By!" panggil Azkia yang langsung duduk disebelah sang suami.


"Hmmm!"


"Minum dulu," ucap Azkia, tangannya mengusap pelan punggung tangan Azka.


Perlahan Azka membuka matanya, langsung disuguhkan dengan wajah cantik sang istri yang trrlihat teduh dan khawatir. Tapi Azka melihat dengan jelas ada rasa sedih dan kecewa dibalik wajah cantiknya itu.


Jujur saja Azka menyesal setelah membentak Azzalea tadi, apalagi saat melihat gadis cantik itu menangis sambil menyebut dirinya jahat membuat hati Azka semakin berdenyut saat mengingatnya.


Azkia langsung menyodorkan segelas teh hangat untuk Azka. Azka pun menerima teh itu dan langsung menyeruputnya tanpa ragu, setidaknya harum teh itu mampu mebuat otot-otot dikepalanya mengendur.


"Mandi dulu sana!" perintah Azkia sambil menerima kembali gelas teh yang tinggal setengah itu.


"Hmmm!" Azka nurut saja tanpa membantah dengan perintah sang istri, buktinya ia langsung berjalan menuju kamar mandi.


Azkia terus saja menatap sendu punggung Azka hingga tak terlihat lagi dibalik pintu kamar mandi, lalu ia bergegas menyiapkan pakaian santai untuk sang suami. Mungkin nanti setelah Azka segar ia akan mencoba membicarakan masalah Azzalea.


Tak perluh waktu lama akhirnya Azka sudah menyelesaikan rutinitasnya didalam kamar mandi, ia keluar hanya menggunakan selembar handuk yang dililitkan dipinggangnya. Lalu bergegas mengambil pakaian yang sudah disiapkan sang istri.


Azka selesai memakai baju bertepatan dengan pintu kamar yang terbuka.


"By!" panggil Azkia lembut.


"Hmmm?"


"Kita perluh bicara!"


Azka paham arah pembicaraan yang dimaksud sang istri.


"Besok saja, aku lelah!" tolak Azka.


"Tidak bisa! Aku gak mau masalah ini berlanjut lagi dan aku tidak mau kalian saling menyakiti," lirik Azkia dengan wajah sedihnya.


Azka hanya diam saja sambil duduk dipinggiran ranjang, ia tak ingin berdebat dengan sang istri tapi sepertinya tak bisa dihindari lagi.


"Kenapa kamu seperti ini, By? Kamu gak kasian sama anakmu?" tanya Azkia menatap sendu sang suami.


"Kamu tau sendiri kan apa alasanku!"


"Itu udah lama, By! Kamu gak seharusnya bawa-bawa masa lalu, lagian ini semua tidak ada sangkut pautnya sama Ale atau pun Evan .... Mereka berdua gak salah, By!"


"Terserah, yang jelas aku gak mau anak ku berhubungan dengan seseorang yang menjadi musuh ku!"


"Musuh?"


"Iya dia rivalku sejak SMA sampai kuliah!"


"Tapi kan aku milih kamu, By! Dan aku sama Kak Rayhan cuma temenan, gak seharusnya kamu sampai seperti ini!" jelas Azkia.


"Tuh! Selalu saja kamu belain dia, dari dulu terus dia dia dan dia yang kamu bela! Aku ini suami mu kalau kamu lupa!" kesal Azka.


"Aku gak belain siapapun, karena faktanya memang seperti itu! Aku dan Kak Rayhan hanya berteman," kata Azkia.


"Diantara laki-laki dan perempuan tak ada yang namanya teman, pasti salah satu diantara mereka ada yang memiliki rasa!"


"Tapi kan aku milih kamu dan sudah sah menjadi istri mu, aku juga gak pernah menerima perasaannya!"


"Iya kamu emang gak nerima perasaan dia, tapi dengan sikap kamu seolah memberi harapan sama dia!"


"Aku gak ngerti lagi sama jalan pikiran mu, Ka! Berapa kali harus aku bilang, aku gak ada hubungan apapun sama dia! Dan harusnya kamu gak sangkut pautin ini semua sama Ale, kasian dia! Dia yang gak tau apa-apa harus merasakan ini semua!" Azkia menatap nanar sang suami.


"Aku tetap gak bolehin Ale ada hubungan apapun sama Evan, apapun alasannya aku gak izinin Ale pacaran sama Evan!"


"Tapi aku gak bisa tinggal diam melihat anakku terluka!" tegas Azkia sambil menatap tajam sang suami.


"Buang egomu itu dan berdamailah dengan masa lalu! Jika kau tak bisa melakukan itu sampai mati pun kau tidak akan berubah!" kesal Azkia langsung pergi dari kamar yang terasa sangat sesak, bahkan air matanya sudah lolos begitu saja dari pelupuk matanya.


"Aku kecewa sama kamu, Ka!"


"Nyun! Sayang! Azkiaaa!" teriak Azka yang tak dihiraukan lagi oleh sang istri.


Azka mengacak-acak rambutnya frustasi, ia tak menyangka jika semua akan kacau seperi ini. Padahal dia hanya ingin anak gadisnya bahagia tapi tidak bersama dengan Evan yang ternyata adalah anak dari Rayhan.


Dia memang egois yang hanya mementingkan dirinya sendiri dan perasaannya tanpa mau mengerti orang lain. Dia juga terlalu over protektif karena takut sang istri meninggalkannya, apalagi banyak laki-laki yang menaruh hati pada Azkia sejak masih dibangku sekolah dulu.


Azka merebahkan dirinya diatas ranjang, ia merasa lelah tak hanya tubuh melainkan pikiran dan juga perasaannya. Hari ini benar-benar sangat menguras emosi dan tenaganya.


Azka sangat ngantuk tapi sayangnya matanya tak bisa terpejam apalagi sang istri tak ada disampingnya. Karena kepikiran Azka bergegas turun dari atas ranjang untuk mencari sang istri.


Rumah yang biasanya ramai dan penuh canda tawa kini menjadi sunyi padahal belum terlalu malam untuk tidur. Dilihatnya kamar sang anak gadis yang terkunci rapat padahal ia ingin melihat kondisi Azzalea saat ini. Gadis yang selalu patuh dan nurut padanya kini sedang merajuk. Perkataan Azzalea yang menyebut dirinya jahat terus terngiang di telinganya, apalagi kekecewaan sang istri yang semakin membuat Azka risau.


"Maafin papa!" lirik Azka yang masih berdiri didepan pintu kamar Azzalea, tangannya mengusap pelan pintu itu.


Setelah puas berlala-lama didepan kamar Azzalea, kini kakinya melangkah menuju dapur karena haus. Untuk makan pun ia juga tak berselera.


Dilihatnya sang istri tengah berdiri membelakanginya sambil termenung, bahkan ia tak menyadari jika gelasnya sudah terisi penuh oleh air putih.


"Nyun!" lirik Azka sambil memeluk sang istri dari belakang, ia mengeratkan pekukan itu bahkan sudah meletakkan kepalanya yang terasa berat dibahu sang istri.


Azkia sempat kaget tapi ia hanya diam tak membalas Azka, hatinya masih dongkol dan kecewa. Apalagi Azzalea mengurung dirinya dikamar tanpa mau makan sesuatu terlebih dulu.


Sedangkan Azzam tak ada dirumah, sehingga ia tak melihat semua ini.


"Maaf, Nyun!" lirik Azka.


"Minta maaf sama Ale, dia yang paling sakit disini!"


"Tapi aku juga sakit," rengek Azka membuat Azkia membalikkan tubuhnya menatap sang suami.


"Hatiku sakit kalau kalian marah seperti ini, beri aku waktu untuk memikirkan semua ini, ya?" pinta Azka lembut dengan nada memohon.


"Hmm, tolong kecilkan egomu itu dan berdamailah dengan masa lalu mu itu, By!" Azkia mulai luluh lagi karena ia tak memanggil nama Azka langsung.


"Biarkan anak kita bahagia, bairkan dia bebas memilih siapa yang akan menjadi kekasihnya ... Jangan kau libatkan dengan dendam mu yang tak akan pernah ada habisnya itu!" lanjut Azkia menerima pelukan Azka.


"By?"


"Hmm?"


"Satu yang perluh kamu ingat baik-baik," kata Azkia.


"Apa?"


"Aku selalu mencintaimu, dari dulu sekarang hingga nanti hanya kamu yang ada dihatiku ini! Hati ku sudah mati rasa jadi tak akan ada lagi yang bisa mengisinya selain kamu!" tegas Azkia sambil menatap kedua netra Azka.


"Jadi tolong, jangan egois dan berdamailah dengan masa lalu itu jika kamu ingin anakmu bahagia," lanjut Azkia.


"Akan aku coba, Nyun! Tapi gak sekarang," jawab Azka membelai lembut pipi sang istri.


Azkia mengangguk perlahan cairan bening itu lolos begitu saja dari sudut matanya, Azka paling tidak bisa saat melihat sang istri menangis.


Dengan cepat ia meraih tengkuk Azkia agar mendekat ke arahnya, tangan kanannya sudah melingkar erat dipinggang sang istri. Perlahan sesuatu yang kenyal dan hangat menempel pada bibir Azkia, ia mencoba memberontak tapi sia-sia sehingga ia hanya membiarkan sang suami berbuat semaunya. Untung saja tak ada orang, karena bibi yang biasa membantu Azkia sudah berada di kamarnya.


...----------------...