Evanzza

Evanzza
Sikap tak secantik namanya



"Oh ternyata lo disini?" suara itu membuat Azzalea berbalik, senyum tipis tersungging disudut bibirnya.


"Lo, lo gak denger peringatan gue waktu itu, hah?" tanyanya sambil berjalan mendekati Azzalea, sedangkan Azzalea tetap santai tanpa ada rasa rakut. Buat Azzalea tak perluh takut selagi dia tak berbuat salah.


"Gue udah bilang sama lo, jangan deketin Evan ... tapi sepertinya peringatan gue kemaren cuma angin lalu aja buat lo, ya?" tanya nya sambil mendorong bahu Azzalea.


Azzalea masih diam, ia masih bisa manahan emosinya agar tidak meluap. Tatapannya sangat tajam hingga membuat lawannya sedikit takut, perlahan mata tajamnya turun kebawah membaca sebuah nick name yang berada di dada kanan lawannya itu.


"Elena Saraswati!"


"Apa, mulut lo gak pantes nyebut nama cantik gue!" kesal gadis itu yang tak lain adalah Elena.


"Cantik sih, tapi gak cocok!" dengan santainya Azzalea mengambil buah mangga yang tadi sempat jatuh karena bahunya didorong Elena.


"Maksud lo apa ngomong kaya gitu!" bentak Elena hingga membuat telinga Azzalea sedikit berdengung.


"Namanya sih cantik, tapi sikapnya gak secantik namanya," ucap Azzalea sambil berjalan melewati Elena.


Mendengar itu membuat darah Elena seakan mendidih, tangannya sudah terkepal kuat hingga buku tangannya terlihat memutih. Telinganya terasa gatal mendengar perkataan Azzalea.


Sreet!


Elena menarik lengan baju Azzalea lalu dengan sekuat tenanga ia menghembaskan tubuh Azzalea ke pohon mangga yang dipanjat tadi.


"Sikap gue emang gak secantik nama gue, terus kenapa!" bentak Elena.


Azzalea masih diam sambil membuang wajahnya kesamping, bukan karena takut hanya saja ia malas berurusan dengan orang seperti Elena ini. Yang sudah dibutakan oleh perasaan yang diatas namakan dengan kata cinta, padahal ia belum tahu yang sebenarnya makna cinta.


Memaksa seseorang yang ia suka untuk terus bersama padahal sudah jelas cinta itu jika keduanya memiliki rasa jika tida itu hanya cinta sepihak. Masa-masa SMA ini memang selalu memunculian cinta monyet atau pun cinta sejati.


Dari masa anak-anak berubah menjadi remaja, yang perlahan menganal arti kata suka dan cinta. Seperti saat ini yang dilakukan Elena, entah cinta atau hanya rasa ingin memiliki yang berlebihan sehingga bisa membuatnya nekad bertikah seperti seorang preman.


"Lo budek, ya! Gue ngomomg sama lo!"


Elena menekan bahu Azzalea hingga sedikit terasa perih karena kukunya yang panjang mengenai lengannya.


"Mau lo apa sih!" bentak Azzalea kini ia sudah tak bisa sabar lagi dengan orang satu ini. Dan jika terjadi sesuatu ia akan menyuruh Cakra atau Dava untuk mengurusnya.


"Masih nanya mau gue, apa?" tanya Elena tak percaya sedangkan Azzale hanya memutar kedua bola matanya dengan malas.


"Mau gue lo jahuin Evan, karena dia milik gue!"


Bukannya takut Azzalea malah tersenyum mendengar hal itu, ia sediki memiringkan kepalanya sambil mematap tangan Elena yang terus mengcengkramnya.


"Barang?" tanya Azzalea sambil tersenyum meremehkan.


"Barang apa?" tanya Elena tidak paham maksud perkataan Azzalea.


"Dia barang buat lo?" tanya Azzalea sambil menepis tangan Elena yang sejak tadi mencengkramnya.


"Bukan! Dia orang yang gue suka!" dalih Elena yang paham siapa yang di maksud 'dia'.


"Lalu kenapa lo memeperlakukannya seperti barang?" tanya Azzalea sambil melangkah kedepan membuat Elena yang ada dihadapannya reflek melangkah mundur.


"Gue gak kaya gitu! Gue nyuruh lo buat jauhin dia karena dia punya gue!" ketus Elena tak mau diremehkan oleh Azzalea.


"Punya lo? Emang lo orang tuanya?" tanya Azzalea sambil tersenyum tapi senyumnya terlihat menakutkan.


Entahlah memang sangat sulit berdebat dengan Azzalea yang mirip sekali dengan sang papa, tidak mudah mengalah dan keras kepala.


"Cih! Gue calon pacarnya jadi lo jauh-jauh dari nya, paham!" Elena menunjuk-nujuk dada Azzalea.


"Gue lebih berterimakasih, kalau lo bisa buat manusia batu itu menjauh dari gue!" ucap Azzalea penuh penekanan.


"Cih, dia yang godain gue ... mungkin gue lebih menarik dari pada lo," ucap Azzalea mengejek Elena.


Mendengar hal itu membuat Elena semakin meradang, tangannya terasa snagat rungan hingga melayang diudara dengan kekutan penuh. Tangan itu mengarah pada pipi mulus Azzalea, hingga detik-detik tangan itu hampir saja mendarat dipipi Azzalea. Namun dengan gerakan cepat Azzalea dapat menahannya, tangan itu masih menggantung diudara jaraknya dengan pipi Azzalwa hanya 3cm.


Azzalea menyunggingkan disudut bibirnya, tatapan matanya tak bisa dibaca oleh Elena. Entah mengapa melihat tatapan itu seolah kekuatannya hilang hanya tersisa rasa takut saja, bahkan kakinya sudah terasa lemas tapi sekuat tenanga ia bertahan agar tidak malu didepan Azzalea.


Azzalea menaikkan sebelah alisnya lalu perlahan ia mencondongkan wajahnya hingga berada disebelah telinga Elena. Azzalea membisikkan sesuatu yang membuat tubuh Elene menegang karena takut.


"Jadi tangan ini juga yang lo gunain buat ngunci gue di uks?"


Elena tak menjawab, mulutnya seakan terkuci sangat rapat.


"Kenapa diem? Bukannya tadi lo berisik banget seperti ayam mau bertelur?" ledek Azzalea. Ya ini sifat asli gadis itu yang banyak bicara, tapi sayangnya sekali ia bicara panjang pasti menyakiti hati lawan bicaranya. Terlebih pada orang-orang yang tidak menykainya seperti Elena.


"Masih gak mau ngomong?" tanya Azzalea, Elena yang berusaha menarik tangannya masih diam membisu.


Greb!


Azzalea memutarkan tubuh Elena dengan tangan yang terkunci dibelakang pinggangnya. Sedangkan tangan kanan Azzalea sudah mengunci tubuh depan Elena.


"Lepasin lo mau apa?" teriak Elena.


"Menurut lo?" bisik Azzalea terdengar menakutkan.


"Lepasin gue, atau gue teriak dan orang-orang datang kesini!" ancam Elena.


"Coba aja kalau lo berani!" Azzalea menekan pergelangan tangan Elena yang terkunci dipingang.


"Aakk sakit!" protes Elena.


"Sakit ya?" tanya Azzalea pelan, Elena mengangguk dengan kuat ia berharap Azzalea sedang melepaskannya. Elena tak tau jika Azzalea yang terlihat dingin dan lemah bisa sekuat ini, bayangkan saja Elena juga seorang perempuan tapi ia tak bisa melepaskan diri dari Azzalea.


Sekuat itu? Pasti, hanya menghadapi seorang Elena saja sangat mudah untuk Azalea. Apalagi sejak kecil ia sudah diajari Papa Azka ilmu bela diri, sehingga disaat-saat tertentu Azzalea bisa menjaga dirinya sendiri.


"Lo cewek apa cowok sih kuat banget!" gerutu Elena, ia berusaha menginjak kaki Azzalea tapi sayangnya Azzalea tahu dengan trik seperti itu sehingga ia bisa menghindar.


BRUK!


Azzalea mendorong tubuh Elena sehingga Elena jatuh tersungkur ke tanah.


"Awwh awhh pinggang gue! Lo sengaja ya?" tanya Elena masih dengan nada galaknya.


Azzalea mengambil buah mangga tadi, lalu menatap Elena sebentar dalam hati Azzalea ingin sekali memukul wajah gadis itu tapi untung saja ia masih sadar jika mereka masih dilingkungan sekolah.


"Kalau ia kenapa?" tanya Azzalea sambil tersenyum miring.


"AAAAAAAHHHHHH TANGAN GUE!" teriakan Elena sambil memegang tangan kanannya yang berada dibawah kaki Azzalea.


"Eh sorry gue sengaja lagi," ucap Azzalea sambil tersenyum manis, setelah mengatakan itu Azzalea segera pergi ia tak suka berlama-lama dengan orang yang gak jelas seperti itu.


Sedangkan Elena masih dengan posisinya semula, sesekali terlihat ia sedang menipu-niup jemari yang terasa perih akibat diinjak oleh Azzalea.


"Awas ya lo! Gue akan balas semua perbuatan yang udah lo lakuin ke gue! Lo liat aja nanti!" geram Elena.


...----------------...


Ada yang pernah bilang jangan pernah mengusik singa tidur, jika tidak ingin dimakan!" -Azzalea.


...----------------...