
Ku kira tak ada lagi yang mampu merobohkan hatiku selain hangatnya jingga yang terlukis indah diiujung barat
Namun ternyata aku salah..
Karena hanya melihat tawa renyahmu mampu mengalihkan semua perhatianku,
Aku terpaku dan membisu pada kecantikan yang tiada tara, hingga anganku berkenalan entah kemana..
Tolong izinkan aku menjadi salah satu seseorang yang mengukir tawa itu...
Aku tau, hatimu tak sekuat yang terlihat tapi aku yakin kau bisa melewati semua hujan badai yang datang silih berganti..
Satu pintaku.. teruslah tersenyum sehangat langit senja..
From : Pengagummu (E H)
......................
Setelah membaca pesan itu Azzalea menngamati setiap orang yang ada di Cafe, hingga netra mereka berdua bertemu. Evan tersenyum manis sambil melambaikan tangannya pada Azzalea.
Deg!
"Kenapa rasanya seperti ketahuan selingkuh," batin Azzalea sambil menggeleng.
Azzalea membalas senyum Evan lalu mengangguk sedikit.
"Kenapa, Al?" tanya Cakra.
"Ah gak kok, lanjut lagi makannya mumpung masih anget," kata Azzalea sambil memasang senyum paksa.
Lalu ekor matanya bergerak melirik Evan sekilas dan ternyata Evan masih menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Rasa senang bercampur sedih, itulah yang bisa Azzalea tangkap dari sorot mata Evan.
Evan terus menatap Azzalea dengan tatapan sendu, harusnya dia yang ada didepan gadis itu saat ini. Menikmati setiap tawa dan canda yang ia lontarkan tapi sayangnya Evan hanya bisa menatap gadis itu dari kejauhan.
HAH!
Evan menghelas nafasnya berat, entahlah kenapa terasa begitu berat padahal hanya seperti ini. Ia harus berjuang terlebih dahulu dengan tantangan sang papa, kalau keluarga Azzalea terlihat wellcome kepadanya.
"Samperin dari pada galau," kata Gavin.
"Ikutin kata hati lo, jangan egois dengan pemikiran lo!" celetuk Rafa.
"Nanti nyesel, lo!" imbuh Vion sambil mematap meja Azzalea dan juga Cakra.
"Gak! Biarin aja untuk saat ini dia masih bisa ketawa sama cowok lain, tapi gue jamin waktu dia jadi pacar gue ... Gak akan gue bolehin dia deket dengan cowok mana pun!" tegas Evan.
"Heleh!" mereka hanya malas dengan Evan yang seperti ini, tak memiliki keberanian padahal sudah didepan mata.
Kemudian mereka terdiam dengan kegiatan mereka masing-masing, Evan sudah berusaha keras untuk fokus tapi sayangnya objek didepannya saat ini sungguh menggangguknya. Apalagi ketika Cakra mengusap lembut pipi Azzalea karena ada sisa kuat mie yang menempel.
Kretek!
"Ada yang patah tapi bulan ranting!" sendir Rafa.
"Ada yang panas tapi bukan api," kata Vion.
"Ada yang cemburu tapi bukan Evan!" canda Gavin sambil terkekeh, Evan menatap tajam Gavin.
"Kalian tuh seneng banget liat temen susah!" protes Evan.
"Lucu aja, sih! Kalau cemburu tinggal bilang aja terus samperin ajak pulang," saut Gavin.
Evan menatap mereka bertiga secara bergantian, lalu mereka menganguk bersama. Seolah mereka mengerti dengan apa yang dipikirkan Evan.
"Semangat ngab! Cinta butuh perjuangan, bukan penjualan!" Gavin dan Rafa pun terkekeh mendengar ucapan Vion, bisa-bisanya dia bercanda disaat seperti ini.
"Apaan sih, Vi! Gak jelas banget, obat lo habis ya?" tanya Rafa sambil terkekeh.
"Gue samperin nih?" tanya Evan.
"Silahkan, jangan kelamaan mikir ... keburu pindah hati si Azzalea nya!"
Dengan ragu akhirnya Evan melangkah mendekati meja yang di tempati Azzalea bersama Cakra.
"Eheemm!" deheman itu membuat aktifitas kedua orang yang ada didepan Evan terhenti.
Cakra menatap Evan tak suka, terlihat jelas pada raut wajahnya jika Evan mengganggu kebersamaannya dengan Azzalea.
"Eh! Van?" ucap Azzalea.
"Kencan dong!" saut Cakra sinis.
Duk!
Azzalea sedikit menendang kaki Cakra dari bawah meja, membuat siempunya kaki meringis kesakitan.
"Ohh lagi kencan, gue ganggu dong? Tapi emang sengaja mau ganggu sih!" tanpa dipersilahan Evan langsung duduk disebelah Azzalea membuat Cakra geram.
"G-gak kok, gak ganggu," kata Azzalea sambil tersenyum paksa.
"Bener-bener berasa lagi selingkuh terus ketahuan sama suami," batin Azzalea.
"Maaf ya, dari kemarin gue sibuk sampai gak bisa ngabarin lo!" Evan menatap sendu Azzalea ada rasa sedih menyelimutinya.
"Iya, pasti sibuk ya jadi anggota osis?" tanya Azzalea.
"Ya gitu, banyak yang harus diurusi apalagi bentar lagi ada pergantian pengurus," jawab Evan.
Azzalea pun mengangguk paham, pandangannya terus saja tertuju pada Evan. Hingga ia melupakan siapa yang mengajak nya kesini.
"Kacang mahal!" seru Cakra.
"Mahalan minyak kali, Cak!"
"Cih, serah!" ketus Cakra.
"Udah sore nih, gue anterin pulang!" Evan merapikan rambut Azzalea yang berantakan tetiup angin.
"Ale pulang sama gue!" Cakra tak terima karena dia yang mengajak Azzalea jadi sudah seharusnya dia juga yang mengantar Azzalea pulang.
"Gue gak perluh persetujuan lo!" Evan menatap permusuhan pada Cakra.
"Lo siapanya, Ale?" pertanyaan dari Cakra ini mampu membuat Evan bungkam begitu juga dengan Azzalea tapi ia juga penasaran dengan jawaban Evan.
"Saudara bukan, sahabat juga bukan ... Apalagi pacar! Lo gak ada hak buat paksa Ale pulang bareng lo!" lanjut Cakra.
Evan hanya mengangguk saja sambil membuang nafasnya kasar, pertanyaan ini yang lagi-lagi Evan dengan. Apa belum jelas semua dengan prilaku nya kepada Azzalea yang begitu berbeda dengan yang lainnya?
"Gue calon suaminya!" tiga kata ini mampu membuat Cakra tersedak salvinanya sendiri. Sedangkan Azzalea diam mematung mendengar ucapan Evan.
Evan langsung menggenggam jemari Azzalea dan menariknya keluar dari Cafe tapi sebelum itu ia mampir ke mejanya untuk mengambil barang-barangnya yang sudah dirapikan oleh Vion.
"Thanks, gue duluan!" tanpa melepaskan genggaman tangannya pada Azzalea.
Azzalea yang bingung pun hanya menurut saja, pikirannya seolah berhenti saat Evan mengaku sebagi calon suaminya.
Sedangkan Cakra mendengus kesal.
"Cih, udah sore masih aja mimpi!" kesal Cakra sambil memukul meja yang gak salah apapun.
Azzalea bisa merasakan dengan jelas jika tangan Evan berkeringat, ia sedang gugup. Tapi perhatian Azzalea lebih terfokus pada tangannya yang sedang di gandengan Evan. Nyaman!
Evan menyerahkan helm nya pada Azzalea, sedangkan dia memakai helm Vion karena mereka tadi berangkat bersama. Lalu membuka jaketnya dan mengingkatnya pada pinggang Azzalea, gadis yang tengah sibuk memakai helm itu sedikit mundur. Jantungnya benar-benar tidak bisa dikondisikan lagi, apalagi jarak mereka berdua sangat lah dekat.
"Gue gak suka lo pakai baju kaya gini, kalau gak sama gue!" tegas Evan yang semakin membuat wajah Azzalea kepanasan.
"Ngerti?" tanya Evan, Azzalea pun mengangguk sedangkan Evan langsung menutup kaca helm full face itu.
"Kenapa disaat gue ingin menyerah lo selalu datang dan menghapus keraguan gue kaya gini, Van! Sebenarnya lo anggap gue apa sih?" batin Azzalea, entah mengapa ia tak berani menanyakan itu langsung pada Evan. Lidahnya seakan tak bisa bergerak jika berkata seperti itu, atau mungkin ia hanya takut jika harapan tak sesuai kenyataannya.
"Jangan buat gue terlalu berharap jika lo gak bisa wujudin harapan gue, Van!" gumam Azzalea.
"Azza! Zaa! Es ale-ale! Buruan naik kok malah bengong," kata Evan sambil menatap Azzalea yang hanya diam disebelah motornya.
"Oh, iya!" dengan segera Azzalea langsung naik motor Evan, motor itu segera pergi dari Cafe.
"Senja memang indah tapi sayang, ia akan tenggelam disaat gelap datang.. meski begitu gue suka, apalagi bareng sama lo kaya gini." batin Evan.
"Berasa lagi minum es tapi anget!" celetuk Evan.
"Hah apa?" tanya Azzalea.
"Langitnya indah kaya lo!" teriak Evan, sedangkan Azzalea hanya diam dengan wajah bersemu merah layaknya senja sore ini.
...----------------...
"Jangan buat gue berharap terlalu jauh jika kamu tak mampu membuatnya menjadi nyata" ~ Azzalea •Eh