
Hampir setengah jam mereka saling diam, tak ada satu kata pun yang terucap. Hanya ada beberapa suara bising sorakan demi sorakan beberapa siswa yang sedang menonton pertandingan basket itu pun samar-samar. Azzalea bangkit dari duduknya, ia melangkah menuju tepian rooftop. Pergerakan itu membuat seseorang yang sejak tadi fokus pada game perlahan menoleh ke arah Azzalea.
Ia menyipitkan sebelah matanya, memperhatikan setiap gerak gerik gadis itu. Ia takut jika Azzalea berbuat nekat seperti cerita komik yang selalu ia baca, dimana tokoh wanita yang patah hati lebih memilih nengakhiri hidupnya dari pada merasakan sakit hati.
"Haaahh!" Azzalea membuang nafasnya kasar, masih jelas di ingatannya sebuah foto dimana keduanya terlihat bahagia.
"Selesain masalahnya bukan hubungannya!" suara itu membuat Azzalea menoleh.
Kini Azzalea dapat melihat dengan jelas wajah orang yang menemaninya sejak tadi. Terkesan nakal namun siapa sangka dia mampu memahami Azzalea, bahkan tak menanyakan kenapa gadis itu menangis sendirian diatas rooftop.
"Terlalu sakit!"
Laki-laki itu bersandar bada dinding pembatas rooftop mengamati wajah cantik Azzalea.
"Lebih baik tau sekarang dari pada nanti!"
Azzalea mengangguk, ia tersenyum samar karena ada benarnya apa yang dikatakan laki-laki itu.
"Tapi gue belum siap, belum siap menerima kenyataannya!" saut Azzalea sendu.
"Ck! Lemah!" cibirnya.
"Lo! Lo gak paham apa yang gue rasain saat ini, sakit tau lihat orang yang lo suka deket sama orang lain!" kata Azzalea tanpa sadar.
"Jadi jangan bilang lemah kalau lo sendiri belum pernah rasain!" ketus Azzalea.
"Kan cuma deket belum tentu jadian!"
"Jadi lo belain Evan gitu? Lo dibayar berapa sama dia sampai lo belain dia! Hah?" tanya Azzalea sambil menatap tajam.
"Kenal Evan aja enggak gimana bisa dibayar?" tanyanya sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Terus kenapa lo belain dia? Apa semua cowok itu sama!"
"Jangan beranggapan semua cowok itu sama kalau lo belum tau yang sebenarnya!"
"Ah, satu hal lagi! Kalau ada masalah selesain sama yang bersangkutan! Cengeng!" cibirnya lalu melangkah meninggalkan Azzalea.
"Dasar! Gue gak cengeng ya! Gue cuma sedih aja sampai keluar air mata!" teriak Azzalea dengan tangan mengepal seperti akan menonjok orang itu.
Teriakan Azzalea membuat laki-laki itu terkekeh geli, ia berbalik dan mematap Azzalea.
"Alen! Jangan lupa nama itu!" ucapnya lalu berbalik sambil melambaikan tangan pada Azzalea.
"Alen? Aliien, ya lo itu Alieeeeeenn!" teriak Azzalea dengan penuh emosi. Sedangkan Alen hanya terkekeh tidak jelas, wajahnya bahkan kembali dingin seperti semula. Seolah tak terjadi apapun.
Azzalea pun memutuskan untuk kembali ke kelasnya, sudah cukup ia bersembunyi. Hari ini juga ia harus menyelesaikan masalah ini dengan tuntas.
Saat sampai diruang kelasnya, Azzalea tak menemukan siapapun disana. Bisa dipastikan semua temannya sibuk menonton pertandingan basket. Dengan terpaksa Azzalea mengeluarkan ponselnya yang memang sengaja ia matikan. Saat layar ponsel itu menyala hanya dalam beberapa detik saja sudah banyak pesan masuk bahkan beberapa panggilan tak terjawab dari sahabatnya.
Azzalea mengabaikan semua pesan itu, ia mencari sebuah nama yang sangat ia harapan untuk menghubunginya. Tapi siapa sangka, tak ada pesan atau panggilan masuk dari kontak yang sudah ia sematkan.
"Kok nyeri sih!" gumamnya sambil berusaha menahan air matanya agar tak menetes lagi.
"Kok gue cengeng banget sih!" monolognya lagi, karena air mata itu jatuh begitu saja disudut pipinya.
"Baru sadar, Cengeng!" ledek seseorang yang berada disebelah Azzalea, suara yang tiba-tiba itu membuat Azzalea terpelonjat kaget.
"Ngapain lo disini? Lo bukan hantu kan? Kenapa jalan lo gak ada suaranya?" tanya Azzalea sambil mengusap sudut matanya.
Tepat disaat itu, ada seorang gadis yang tanpa sengaja melihat interaksi Azzalea dengan seorang cowok yang baru pertama kali ia lihat.
Senyum devil muncul, gadis itu langsung saja memanfaatkan kesempatan ini.
"Gue jamin, hubungan lo sama Evan akan hancur!" monolognya sambil memotred Azzalea.
"Apaan sih!" Azzalea menepis tangan Alen agar menyingkir dari kepalanya, ia tak suka ada yang menyentuhnya.
"Ikut!" ajak Alen lebih tepatnya sebagai perintah.
"Siapa lo nyuruh-nyuruh gue?"
"Terserah kalau lo mau disini sendirian!" Alen tak memperdulikan gerutuan Azzalea, ia terus melangkah menjauh dari Azzalea.
Azzalea pun menoleh kesana-kemari, memang tidak ada seorang pun. Dengan terpaksa Azzalea mengikuti langkah kaki Alen, Alen pun tersenyum samar mengetahui Azzalea mengikutinya.
"Eh, lo bukan siswa sini ya? Koo gue gak pernah lihat muka lo?" tanya Azzalea, ia mulai sedikit penasaran dengan laki-laki disampingnya ini. Wajah datar dengan rahang tegas membuatnya terlihat cool, bahkan bisa dibilang lebih ganteng dari Evan.
"Kepo!" ledeknya.
"Jarang-jarang loh gue mau tanya duluan, malah dibilang kepo?" gerutu Azzalea.
"Crewet!"
"Gue gak—" perkataan Azzalea terpotong saat ia mendengar teriakan yang begitu kencang.
"Aleeeen! Aleeenn!" sorak beberapa siswi yang melihat kedatangan Alen.
Ya, Azzalea tidak sadar jika mereka sudah sampai disamping lapangan basket karena sejak tadi Azzalea hanya fokus mengomel sambil menatap ponselnya.
"Aleeen! Semangat! Kamu pasti menang!"
"ALEEEEN SHARANGHAE!"
Azzalea pun menatap aneh pada beberapa gadis yang berteriak memanggil nama Alen, tapi yang dipanggil hanya diam saja seolah telinganya tuli dan mulutnya bisu untuk menjawab sapaan mereka.
Azzalea juga baru menyadari jika Alen tak mengenakan seragam putih abu-abunya lagi, sekarang ia memakai seragam basket dengan nomor punggung 1 dan ada nama Alen diatasnya.
"Kenapa, gue ganteng ya!" bisik Alen saat menyadari gadis itu terus menatapnya tanpa berkedip.
"Ganteng itu yang diatas atap noh!"
"Genteng, dudul!" Alen lagi-lagi mengacak-acak rambut Azzalea, laki-laki dingin itu terlihat nyaman saat bersama Azzalea.
"Apaan sih!" sungut Azzalea, punggungnya terasa dingin sejak tadi seolah ada sepasang mata yang menatapnya tajam. Bahkan tatapan itu mampu menusuk hati Azzalea.
Azzalea menoleh, netranya langsung bersitatapan dengan seseorang yang terlihat sedang menahan amarahnya. Wajah yang biasanya terlihat hangat dan selalu tersenyum kini berubah semasam buah mangga muda yang ada dijalan depan sekolah.
Glek!
"Mati gue!" gumam Azzalea, apalagi Alen sedang berada disebelahnya dan terus mengganggu dirinya. Banyak siswi yang berteriak karena cemburu dengan Azzalea yang bisa dekat dengan Alen.
"Dia yang bakar, gue yang tambahin minyak!" monolog Azzalea lagi sambil mengusap tengkuknya yang tidak gatal.
...----------------...