
Azzalea masuk dengan wajah yang sudah tidak bersahabat lagi, bahakn ia sudah mengerucutkan bibrinya sampai beberapa centi. Tangannya menenteng sebuah kresek berisik makanan ringan yang diberikan cakra tadi.
"Cih!" dengus Azzalea saat mengingat dua orang yang sudah berani menguncinya didalam UKS.
Azzalea memang dingin seperti es dan datar sepeti patung tapi jangan salah ia juga bisa bar-bar seperti sang mama dulu waktu sekolah. Azzalea adalah hasil percampuran antara Azka dan Azkia.
"Awas aja bakalan gue bales!"
Azzalea tak menyadari jika sejak ia masuk kedalam rumah sudah diperhatikan oleh seseorang, tapi ia hanya diam saja melihat wajah anak pertamanya itu.
"Bales apa?" suara yang terdengar dingin itu menusuk indra pendengaran Azzalea.
Azzalea menoleh ke kanan dan kiri mencari sumber suara tapi sayangnya tidak ia temukan, hingga suara itu terdengar lagi.
"Gak ada orang, suara siapa tadi?" gumam Azzalea.
"Ehem, papa dibelakangmu!"
Azzalea sampai terpelonjat kaget hingga kantung kresek yang ia bawa terjatuh dilantai. Azzalea berbalik badan dilihatnya Azka dengan pakaian santai tengah berdiri dibelakang Azzalea sambil memasukkan tangannya ke saku celana.
"Papa! Kenapa ngagetin sih." kesal Azzalea.
"Bukannya kamu yang gak liat papa?" tanya Azka sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Makanya papa kalau jalan itu pakai suara... jangan tiba-tiba datang lalu pergi gitu aja, kan lebih horor dari perasaan ini," kata Azzalea sambil memunguti beberapa makanan ringan yang terjatuh itu
"Kamu curhat, kak?" tanya Azka sambil terkekeh.
"Tauk ah pah!" ketus Azzalea.
"Anak papa yang paling cantik ini, kenapa? Bilang sama papa, ada yang gangguin kamu disekolah?" tanya Azka sambil mengusap lembut pipi Azzalea.
"Ada!" singkat dan dingin jawaban Azzalea.
"Siapa?" tanta Azka penasaran.
"Papa!"
"Kenapa?" tanya Azka bingung.
"Hast, Ale gak manggil papa... maksud Ale itu papa yang udah gangguin Ale!" ketus Azzalea.
"Loh kok papa, papa kan gak salah?"
"Salah, karena udah sita motor kesayangnya Ale!" Azzalea memangsang wajah cemberutnya yang sangat mirip dengan sang mama, imut.
"Ini demi kebaikanmu!" saut Azka dengan tegas.
"Ale gak mau tau, besok pokoknya Ale sekolah pakai motor itu... atau motor kesayangan papa yang Ale pakai!" ancam Azzalea sambil berjalan menuju kamarnya.
"Kamu berani sama papa?" geram Azka.
Azzalea tak menjawab bahkan menoleh saja tidak, hal itu membuat Azka kesal.
"Dasar kalau punya keinginan pasti seperti itu," gumam Azka sambil menatap putrinya itu.
"Sama sepertimu kan, By?" suara lembut Azkia terdengar bersamaan dengannya yang menghampiri sang suami.
"Aku tidak seperti itu!" elak Azka.
"Iya-iya tidak seperti itu," kata Azkia seolah sedang meledek sang suami.
Azka yang gemas langsung menarik Azkia masuk kedalam pelukannya, ia akan menghukum sang istri karena berani meledeknya.
Cup!
"Itu hukuman buat mu," bisik Azka yang berhasil mencium bibir Azkia.
"Udah tua main hukuman segala, By!" protrs Azkia.
"Umur boleh tua, jiwa masih anak muda!" Azka tertawa sendiri setelah mengatakan itu.
"Yakin muda? Nanti baru mulai udah capek," ucap Azkia yang tak mau kalah meledek sang suami.
"Boleh dicoba," ucap Azka sambil tersenyum tengil menatap wajah sang istri yang tengah bersemu merah.
Tubuh Azkia sudah melayang diudara lebih tepatnya sudah digendong Azka, tangan Azkia reflek ia kalungkan di leher sang suami yang sedang membawanya menuju kamar mereka berdua.
"By, turunin... nanti kalau anak-anak lihat gimana?" Azkia berusaha turun dari gendongan Azka tapi sangat sulit.
Belum sempat menjawab terlihat Azzam menuruni anak tangga, ia mematap heran kearah kedua orang tuanya itu.
"Mama kenapa digendong?" tanya Azzam.
Azkia sudah panik melihat Azzam yang berdiri sambil menatap kearahnya, sedangkan Azka dengan santainya tersenyum.
"Mama mau papa hukum, soalnya dia nakal," jawab Azka sekenanya.
"Zaam!" panggil Azkia.
"Suttt, kamu mau anak kita lihat bagaimana caranya aku menghukummu?" tanya Azka.
Mata Azkia memelotot sempurna mendengar perkataan sang suami, ia tak tahu kenapa semakin berulah padahal mereka sudah tua.
Brak!
Pintu kamar bercat putih itu tertutup rapat, dengan Azkia yang sudah dilemparkan ke atas ranjang.
Sedangkan disisih lain, Azzalea sudah cantik dengan balutan jins hitam yang sedikit sobek dibagian lutut dan juga pahanya dipadukan dengan hoody army membuat penampilannya semakin menawan. Terkesan bad namun tetap cocok dipakai oleh Azzalea.
Ia sudah sampai dibawah dan tak terlihat siapapun, dengan mengendap-endak Azzalea masuk ke ruang kerja sang papa untuk mengambil kunci motornya.
"Ditaruh dimana sih!" gerutu Azzalea karena tak menemukan apa yang ia cari.
Hingga matanya melihat sebuah kunci yang sudah tak asing lagi untuknya, Azzalea mengambil kunci itu dengan perasaan senang. Bibirnya terus memperlihatkan senyum bahagia.
Dengan langkah cepat Azzalea sudah sampai digarasi, ia memakai helm fullfacenya lalu menyalakan mesin motornya. Dalam hitungan detik motor itu sudah melaju dijalanan yang cukup padat.
Sebenarnya Azzalea belum sepenuhnya diizinkan menaiki motor sport itu, tapi mau bagaimana lagi ia sangat keras kepala dan keinginannya tidak dapat dibantahkan.
Azzalea menikmati setiap ia dapat mendahuli kendaraan lain dengan mudahnya. Bagaikan pembalap nasional, sesekali Azzalea terkekeh sendiri dengan kelakukannya itu.
Hingga disebuah jalan menuju Cafe yang akan dia datangi bersama Ghea dan Nessa, Azzalea bertemu dengan seseorang yang tak asing baginya. Tapi sayangnya ia tak tahu siapa orang-orang itu.
"Mereka ngapain?" monolog Azzalea.
Kemudian ia menepikan motornya tak jauh dari kerumunan beberapa orang yang sedang menghadang musuhnya itu. Azzalea masih mengamati mereka, dia bukan orang yang akan ikut campur dengan urusan orang lain. Tapi entah kenapa hatinya berkata untuk berhenti dan melihat apa yang akan terjadi, mungkin saja ia bisa membatu.
Terlihat orang-orang itu sedang bersitegang, bahkan mereka tak segan untuk beradu kekuatan. Azzalea masih memantau karena orang itu bisa menangkis pukulan yang mereka berikan, tapi lama kelamaan orang itu juga terkena pukul.
Lawannya tak sebanding, dia yang hanya sendiri harus melawan 6 orang. Sayangnya orang itu sedikit lengah sehingga ia bisa dengan mudahnya dilumpuhkan oleh ke 6 orang itu. Mereka memukul habis tubuh dan juga wajah hingga terlihat darah segar yang keluar dari pelipis dan juga sudut bibirnya.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
"Rasain lo, makanya jangan rusak kesenangan gue!" teriak seseorang yang hanya melihat perkelahian itu, bisa dibilang ia adalah bosnya.
Azzalea yang sejak tadi hanya memantau kini sudah bergerak mendekati mereka, mendengar deru suara mesin motor membuat kegiatan perkelahian itu berhenti sesaat dengan kehadiran Azzalea.
Azzalea turun dan langsung menghajar beberapa orang yang mencoba melwannya. Mereka tak tahu dibalik helm itu adalah seorang gadis.
Bugh!
Bugh!
Azzalea berhasil melumpuhkan dua orang dan kini sisa empat lagi, sedangkan orang yang Azzalea bantu tengah tersungkur diaspal sambil memegang perutnya yang terasa sakit akibat beberapa kali mendapatkan tinjuan. Bahkan wajahnya sudah terlihat memar dimana-mana, entah orang itu tidak pandai berkelahi atau memang sengaja mengalah.
"Heh, lo jangan sok jadi jagoan!" teriak salah satu dari mereka.
Azzalea hanya tersenyum tipis dibalik helmnya, ia kemudian menangkis setiap serangan yang diberikan oleh lawannya.
Bugh!
Azzalea menendang perut orang yang ada dihadapannya hingga ia terhuyung kebelakang, lalu ia memukul lawan yang ada disampingnya dengan tangan kanannya. Ia sempat memutar badannya dan melayangkan tendangan pada wajah musuhnya itu.
"Cih, kalau papa sampai tahu bisa disita beneran motot gue," gumam Azzalea sambil menangkis dua orang lagi.
Orang yang sejak tadi hanya diam saja, sambil mengamati perkelahian itu akhirnya ikut turun tanyan juga.
"Heh, lo itu gak usah jadi pahlawan dan ikut campur urusan gue!" teriaknya sambil memukul Azzalea.
Untung saja Azzalea berhalis menangkis pukulan itu sehingga tidak mengenai wajahnya.
"Ini bukannya salah satu orang yang mau nganterin gue pulang tadi?" batin Azzalea.
Walaupun ia tak kenal tapi ia sangat ingat siapa saja orang yang ingin mengantarnya pulang tadi. Dan benar saja yang sedang bertarung dengannya saat ini adalah salah satu dari mereka.
Azzalea menoleh kesamping dimana orang yang ia bantu masih memegangi perutnya, ia tahu siapa orang itu.
"Orang aneh? Kenapa mereka saling serang?" batin Azzalea.
Azzalea yang sedikit lengah akhirnya terkena pukul juga, membuat Azzalea terhuyung beberapa langkah kebelakang.
Sedangkan orang yang Azzalea bantu akhirnya bangkit dan ikut berkelahi lagi. Sehingga kini dua lawan tujuh orang, namun itu tak jadi masalah karena dua orang itu mampu menyeimbangi kekuatan lawan.
Cukup lama perkelahian itu hingga akhrinya mereka berdua menang dan membuat ketujuh orang itu kabur.
"Awas saja ini belum berakhir!" teriak sang bos.
...----------------...