
Jam istirahat sudah berbunyi yang berarti mereka sudah melewatkan beberapa jam pelajaran. Ghea mengajak Azzalea pergi ke kantin untuk mengisi perut dan menghilangkan kesedihannya.
Saat mereka sampai diambang pintu terlihat Cakra, Dafa dan juga Nessa tengah berjalan mendekat.
Cakra terlihat panik apalagi melihat Azzalea yang tak bertenaga dan sembab. Mau bagaiamana pun rasa itu tak akan pernah hilang begitu saja, Cakra masih sama seperti dulu hanya saja kini ia membatasi dirinya karena tahu perasaan Azzalea bukan untuknya.
"Kenapa?" tanya Cakra, Azzalea hanya menggeleng sambil memeluk Cakra saat laki-laki itu sampai didepan Azzalea.
"Tumben lo nangis, Al? Ada masalah apa?" tanya Dafa.
"Suuttt!" Ghea memberi kode untuk tetap diam, nanti dia akan menceritakan semuanya saat Azzalea sudah tenang.
"Jangan nangis, ingusnya kemana-mana, tuh!" seru Cakra mencoba melepaskan pelukan Azzalea tapi sayangnya gadis itu semakin mengeratkan pelukannya pada Cakra.
Bersamaan itu terlihat Evan yang menghentikan langkah kakinya saat menuju UKS, hatinya sedikit sakit. Bukan sakit lagi namun perih bercampur dengan amarah yang membara. Siapa yang rela jika seseorang yang ia sayangi berada dalam pelukan orang lain, walaupun itu sahabat tetap saja rasa cemburu itu pasti ada.
"Gue aja belum pernah lo peluk kaya gitu!" batin Evan.
"Kenapa berhenti? Tadi aja buru-buru nyamperin Az—" mulut Vion terbungkam saat melihat pemandangan didepanya.
"Yang sabar ya, bos!" Vion menepuk bahu Evan beberapa kali, agar Evan tak kehilangan kendali.
Dengan langkah cepat Evan berjalan ke arah mereka diikuti oleh Vion pastinya.
"Eheem!" deheman itu membuat Azzalea melepaskan pelukannya pada Cakra, gadis itu merasa bersalah pada Evan. Sedangkan Cakra menatap benci ke arah Evan.
"Evan!" seru Azzalea, membuar mereka semua menoleh kebelakang.
Cakra yang sudah kesal langsung memukul wajah Evan saat itu juga.
Bugh!
Pukulan tiba-tiba dari Cakra itu mengenai sudut bibirnya, Evan sampai terhuyung dan jatuh kelantai. Tak sampai disitu saja Cakra langsung mencengkram kerah Evan dan menghajarnya lagi.
Bugh!
Tak tinggal diam Evan juga membalas pukulan itu, secara bergantian mereka saling memukul. Seolah tak ada yang mau mengalah diantara mereka berdua.
Bugh!
"Ini semua pasti gara-gara lo, kan? Lo yang buat Ale nangis, padahal sebelumnya dia gak pernah nangis kaya gini!" sentak Cakra disela-sela pukulannya.
Bugh!
Evan meninju perut Cakra setelah itu ia mengelap ujung bibirnya yang mengeluarkan darah segar.
"Lo kalau gak tau apa-apa mendingan diem!" sentak Evan tidak mau kalah, amarah yang sejak tadi ia tahan akhirnya keluar juga.
Mendengar perkataan itu membuat Cakra naik darah, dia tidak tau apapun? Padahal Cakra adalah orang yang paling dekat dengan Azzalea pasti semua hal dia tahu, namun Cakra melupakan sesuatu saat dirinya tidak ada kemarin.
BUGH!
pukulan keras itu membuat Evan terjatuh dilantai karena tidak siap, lalu Cakra mengceram kerah baju Evan. Ia melayangkan beberapa pukulan lagi ke wajah Evan yang masih tergeletak dilantai.
"EVAN!"
"CAKRA!"
"BERHENTI!"
Mereka semua dibuat kaget dengan aksi saling memukul itu, Dafa mencoba menarik tubuh Cakra agar tidak melanjutkan aksinya, sedangkan Vion membantu Evan untuk berdiru.
"KALIAN APA-APAAN SIH! BUKAN KAYA GINI CARANYA SELESAIN MASALAH, YANG ADA SEMAKI RUWET!" teriak Ghea yang menatap Evan dan Cakra secara bergantian.
Gadis itu tidak habis pikir apa yang membuat mereka saling menyakiti seperti ini, padahal semuanya bisa dibicarakan baik-baik. Azzalea sudah lelah menangis, bahkan hatinya juga lelah. Pikirannya sangat kacau saat ini, apalagi melihat dua orang yang cukup penting dalam hidupnya sedang bertengkar.
"Gak boleh gitu, Ale! Kita gak boleh saling nyakitin," ucap Nessa polos.
"Lo Cak, harusnya jangan main hakim sendiri dengan semua opini lo! Belum tentu Evan yang buat Azzalea kaya gini!" Ghea memearahi sahabatnya itu dideapn semua orang.
"Dan lo, Van! Lo itu ketua osis, harusnya bisa redam emosi lo jangan sampai kepancing .... Lo mau reputasi lo jelek gara-gara salah paham ini?" lanjut Ghea sudah seperti mak-mak yang memarahi anaknya sendiri.
Tapi perkataan Ghea semuanya benar, apalagi mereka masih dilingkungan sekolah. Banyak siswa yang melihat tak hanya satu dua melainkan hampir seluruh siswa sekolah akan tau kejadian ini, tak sampai disitu perkelahian ini akan sampai ditelinga para guru.
Mereka semua hanya diam mendengar ceramah dari Ghea, tak sampai disitu karena mereka harus mendengar omelan dari Bu Marta salah satu guru BK.
"Kalian ini mau jadi apa kalau sekolah kerjaannya cuma berantem!"
"Dan kamu Evan, kamu itu ketua osis harusnya jadi contoh yang baik buat siswa lainnya tapi apa? Saya kecewa sama kamu, Evan!" lanjut Bu Marta menatap mereka secara bergantian.
"Maaf, bu!" Evan menunduk, memang seharusnya ia tak terpancing oleh Cakra.
"Kalian berdua saya hukum, pungutin semua sampah yang ada disekolah ini sampai bersih! Tak terkecuali sampah kulit permen sekali pun!"
"Ta-tapi bu, saya ada rapat nanti," ucap Evan sambil mendongak menatap Bu Marta.
"Itu resiko yang harus kamu tanggung, udah sekarang kerjakan hukumannya! Karena saya akan mengawasi kalian berdua, untuk yang lainnya segera bubar!" bentak Bu Marta.
"Van!" lirik Azzalea namun hanya diacuhkan saja oleh Evan, ia masih kecewa dengan Azzalea.
Evan dan Cakra mengikuti langkah kaki Bu Marta, namun sebelum itu Evan memberitahu pada Vion agar mengabari anggota osis yang lain jika rapat diundur sampai pulang sekolah nanti.
Azzalea dan yang lainnya tak jadi pergi ke kantin, mereka memilih kembali ke kelas saja.
"Ini semua salah lo," gumam Cakra sambil melirik Evan yang berjalan disebelahnya.
"Salah gue? Gak nyadar yang mulai siapa?" sentak Evan sinis.
"Kalau lo gak buat Ale nangis gue gak bakal hajar lo!"
"Lo pikir gue mau buat dia nangis? Lo sendiri kemana saat dia rapuh? Katanya sahabat tapi gak tau apapun soal sahabatnya!" cibir Evan.
"Lo—"
"Masih saja berantem!" saut Bu Marta dengan tatapan mematikan.
"Cepat ambil tempat sampah dan pungutin semua sampah yang ada dilingkungan sekolah ini, jangan berhenti sebelum selesi!"
Evan hanya menghembuskan nafasnya pasra, baru kali ini ia dihukum. Apalagi dia adalah ketua osis yang menjadi panutan banyak orang.
"Sampah emang harud dibuat pada tempatnya!" melirik Evan saat mengatakan itu, seolah sedang menyindirnya.
"Untung lo sahabat cewek gue, kalau gak habis lo ditangan gue!" geram Evan sambil mencengkram baju Cakra lalu ia hempaskan tubuh itu.
Evan tak lagi mendengarkan semua celotehan Cakra, ia hanya ingin menyelesaikan hukuman ini dengan cepat. Karena banyak hal yang harus ia urusin termasuk Azzalea.
...••••••••...
Mencintaimu bagaikan berjalan diatas derasnya hujan, menyakitkan namun aku menyukai nya! ~Cakra
...........................................................................
Menurut kalian ada ciri khas gak sih dari semua karya author ini?
...
Jangan lupa Favoritin dan like coment!