Evanzza

Evanzza
Terbayang wajahmu



Azzalea segera masuk kedalam rumah, ia melihat sang mama masih duduk manis seperti tadi. Namun ada yang berbeda, karena sang mama seperti sedang memikirkan sesutu hingga tak menyadari jika Azzalea sudah duduk disebelahnya.


"Mah!"


"Mamah!"


Azzalea menggoyangkan telapak tangannya didepan wajah sang mama tapi tetap saja tak membuat sang mama kembali pada dunia aslinya.


"MAH!" teriak Azzalea, membuat sang mama yang tengah asyik bergelut dengan pikirannya terpelonjat kaget.


"Astaga, sayang kenapa teriak-teriak dideket kuping mama!"


"Jangan bilang mama lagi mikirin, Evan!" tebak Azzalea.


"Memang," saut sang mama.


"Maah!" kesal Azzalea.


"Kenapa kamu cemburu, katanya cuma temen hmm?" goda sang mama sambil mencubit hidung Azzalea.


"Gak ya! Ale mah gak cwmburu dia emang cuma temen doang, malah nih ya kalau bisa Alea gak mau lihat muka dia lagi ... nyebelin banget tau gak sih, mah!" jelas Azzalea sambil menggebu-gebu.


"Yakin nyebelin? Nanti bilangnya nyebelin eh bucin," ledek sang mama.


"Ih mana ada ya, Alea gak akan bucin-bucin kaya gitu!"


"Tapi Evan ganteng loh, mirip seseorang gitu."


"Waahh! Bahaya, mama mau selingkuh dari papa?" celetuk Azzalea yang langsung mendapatkan sentilan dijidatnya.


Pletak!


"Sakit maah!" Azzalea mengusap keningnya dengan kasar.


"Maka nya kalau ngomong itu dijaga, kalau sampai papa mu denger dikira beneran lagi... terus kamu mau lihat mama dikurung dikamar gak boleh keluar?" mama Azkia mencubit pipi anak perempuannya itu.


"Habisnya mama bengong gitu setelah Evan pulang!"


"Kan mama udah bilang, senyum Evan itu mirip seseorang tapi siapa nya mama lupa," jelas mama Azkia.


"Hayo loh jangan-jangan selingkuhannya mama waktu mudah?"


Mama Azkia memelototkan tak percaya mendengar penuturan sang putri.


"Mana bisa mama selingkuh, baru punya temen cowok aja papa kamu langsung cemburu," kata mama Azkia sambil mencubit kedua pipi Azzalea.


"Ihh mama, sakit tau! Ale kan cuma—"


"Cuma apa?" terdengar suara berat nan dingin itu dari balik pintu.


Glek!


Dua perempuan berbeda usia itu seperti tertangkap basah sedang berselingkuh, mereka terlihat begitu gugup saat melihat Azka masuk kedalam rumah.


"Kok diem?" tanya Azka sambil mengulurkan tangannya kepada mereka berdua.


"Cuma apa?" ulang Azka, sedangkan ibu dan anak itu saling pandang dalam diam.


"Itu temennya Ale gan—"


"Itu cuma mau makan seblak," celetuk Azzalea memotong pembicaraan sang mama.


Azka pun menyerkitkan keningnya ia menjadi heran mendengar dua perkataan yang berbeda itu.


"Jadi yang bener yang mana, hm?"


"Itu temennya Ale mau makan seblak gitu, cuma belum sempet beli ... ya kan, Le?" mama Azkia mencubit pelan tangan Azzalea.


"Awh! I-iya gitu pah!" Azzalea ikut menimpali sambil menahan sakit akibat cubitan sang mama.


"Teman kamu yang mana? Perasaan kamu kemana-mana selalu sama empat orang itu?" tanya papa Azka, pasalnya ia tahu betul siapa temen Azzalea.


"Temen baru, pah!"


"Cewek apa cowok?"


"Co-cowok!"


"Pacar kamu?"


"Bu-bukan, pah!" dengan cepat Azzalea menyangkalnya.


"Calon," celetuk mama Azkia sambil terkekeh.


"Ih mama apaan sih, gak ya! Ale gak mau sama dia," gerutu Azzalea.


"Emangnya kenapa?" tanya sang mama.


"Ale gak boleh pacaran dulu, masih kecil!" saut papa Azka dengan ketus, entahlah ia merasa tidak rela jika anak gadisnya itu memiliki pacar.


"Tuh, bener kata papa ... Ale masih kecil," ucapnya sambil terkekeh.


"Emangnya Ale singa apa harus ada pawang!" kesal gadis itu sambil melemparkan bantal sofa pada sang mama.


"Bukan singa tapi macan, haauuu!" mama Azkia menirukan suara macan membuat sang suami terlihat gemas.


"Kalian ini ribut mulu, kaya anak kecil!" Azka menarik pinggang sang istri agar lebih dekat dengannya.


"Mama, tuh gak pernah mau ngalah sama Ale!"


"Ale itu yang mulai duluan, By!"


Sedangkan Azka hanya diam sambil memijat pelipisnya yang mulai terasa pusing, niatnya pulang cepat karena ingin bersantai ditemani sang istri dan kedua anaknya. Ini malah perdebatan yang ia dapatkan, membuatnya semakin pusing.


"Mah, ke kamar yuk ... siapin air mau mandi!" akhirnya Azka menarik lengan sang istri menuju kamar mereka, sedangkan Azzalea masih duduk disofa sesekali menggerutu mengingat kejadian hari ini.


"Haaaaaahhh!" Azzalea membuang bafasnya kasar, ia menghempaskan tubuhnya diatas sofa. Matanya menatap langit-langit rumah yang terdapat lampu kritas yang cukup besar.


Tiba-tiba saja lampu itu berubah menjadi wajah Evan yang tengah tersenyum manis padanya. Azzalea merasa kaget, bahkan ia mengerjabkan matanya beberapa kali tapi tetap saja wajah Evan masih terlihat jelas disana.


"Heh, lo ngapain masih disini? Bukannya lo dah pulang?" tanya Azzalea.


Bukannya menjawab wajah Evan itu hanya senyum sambil mengedipkan sebelah matanya pada Azzalea, membuat Azzalea bergidik ngeri.


"Lo kesambet apa sih senyum-senyum, gitu?"


"Heh, gue lagi ngomong ya sama lo!" Azzalea menunjuk-nujuk lampu itu sambil beberapa kali menggerutu.


Sedangkan Azzam yang baru saja menuruni anak tangga mendengar suara dari ruang tamu, ia yang penasaran memilih untuk melihat. Dan ternyata ada kakaknya yang tengah marah pada seseorang, tapi Azzam bingung siapa yang dimarahi Azzalea karena tidak ada siapa pun disitu.


Azzam mulai mendekati sang kakak, tapi ia langsung berhenti saat mendengar teriakan sang kakak.


"Berhenti! Jangan deketin gue!" teriak Azzalea.


"Siapa juga yang mau deketin lo!" ketus Azzam.


"Pergi sana! Lo kenapa bisa masuk rumah gue lagi sih!" geurtu Azzalea.


Azzam yang penasaran pun mengabaikan ucapan sang kakak, kini ia sudah berdiri disebelah Azzalea sambil menatap Azzalea yang tengah melihatnya juga tapi sebenarnya Azzalea sedang menatap langit-langit.


"Kak!"


"Kakak!"


"Obat lo habis ya?"


Azzam yang kesal pun langsung menutup wajah Azzalea dengan bantal sofa membuat gadis cantik itu sulit bernafas.


"Apa sih! Lo mau percobaan bunuh orang ya!" kesal Azzalea.


"Kakak, tuh yang apaan! Dari tadi ngomong sendiri kaya orang gak waras aja," kata Azzam pedas sambil duduk disebelag Azzalea karena kini ia sudah dudul dari rebahannya.


"Siapa yang ngomong sendiri, gue dari tadi tuh ngomong sama di—" Azzalea bingung kenamna Evan bukannya tadi ada disitu.


"Dinana orang itu! Tadi kan dia disini?" tanya Azzalea.


"Dari tadi gak ada orang kak, kakak sendirian disini!" jelas Azzam.


"Astaga kenapa bisa terbayang wajahnya sih!" batin Azzalea.


"Mungkin obat kakak udah habis, ya? Maka nya jadi nglantur gitu," lanjut Azzam.


"Berani ya ngatain kakak nya kaya gitu!" dengan cepat Azzalea langsung menggelitiki badan Azzam sampai anak laki-laki itu tertawa dan minta ampun.


"Ampun, kak! Ampun, lepasin geli!" pinta Azzam.


"Gak, tadi siapa yang ngatain kakak obatnya habis hum?" Azzalea terus melanjutkan menggelitiki Azzam, sampai mata Azzam mengeluarkan cairan benung karena lelah tertawa.


"Gak, gak ada ... Azzam cuma bercanda aja! Lepasin kak!"


Akhirnya setelah puas Azzalea melepaskan Azzam juga, mereka berdua lelah tertawa lalu merebahkan diri disofa.


"Tapi tau gak, kakak tadi beneran ngonong sendiri!" Azzam mencoba mengingatlan lagi.


"Cukup, jangan dibahas!"


"Atau kakak sedang jatuh cinta?" tanya Azzam, Azzalea yang mendengar itu terkekeh geli.


"Anak baru kemarin sore tau apa soal cinta?" cibir Azzalea.


"Cih, gini-gini Azzam kalau disekolah banyak penggemarnya ya! Banyak cewek-cewek yang cari perhatiannya Azzam, bahkan nih ya kak ... Azzam selalu dikasih hadiah, kalau gak percaya lihat aja dikamar Azzam banyak coklat kaka boelh ambil deh!"


Azzalea mengacak gemas rambut adiknya itu, ya begitulah mereka berdua terkadang sangat akur seperti saat ini bisa saling bertukar cerita. Terkadang pula mereka seperti tikus dan kucing yang selalu bertengkar.


"Adik ciapa cih ini gumus banget!" Azzalea mencubiti pipi Azzam.


"Kakak! Azzam udah gede jangan pegang-pegang, nanti jatuh cinta loh!" celetuk Azzam membuat Azzale terbahak-bahak.


...----------------...


Jangan jadi seprti hantu yang terus menghantui pikiranku ~ Azzalea EH