Evanzza

Evanzza
Cepat dikit, perih tau!



Beberapa kali terdengar helaan nafas lelah, ya siapa yang tidak lelah jika disuruh memunguti setiap sampah plastik yang ada dilingkungan sekolah. Apalagi sekolah itu merupakan salah satu sekolah favorit dengan predikat sekolah terluas kedua seprovinsi.


Orang itu adalah Evan, dia sudah menyelesaikan hukuman yang diberikan kepadanya dan juga Cakra. Tak sampai disitu Evan juga mendapat teguran dari wakil kesiswaan selaku pembina organisasi osis nya, belum lagi masalah tentang hubungannya dengan Azzalea yang tak mendapat restu dari calon mertua nya itu.


Evan merebahkan tubuhnya direrumputan menatap langit biru yang begitu cerah, ia tidak perduli seragamnya kotor karena yang dibutuhkan saat ini adalah merilekskan pikirannya terlebih dahulu. Ia tak ingin gegabah untuk menangani setiap masalah yang ada, pikirannya harus dingin terlebih dahulu sebelum memutuskan sesuatu.


Evan memejamkan matanya sebentar menikmati setiap hembusan angin yang menyapu wajahnya. Bel pulang sekolah sudah berbunyi beberapa menit yang lalu, itu artinya banyak siswa yang berlalu lalang dikoridor sekolah. Lagi-lagi Evan tak memeprdulikan nya, tubuhnya lelah begitu juga hatinya. Bahkan memar yang ia dapatkan dari Cakra belum juga diobati.


Sayup-sayup terdengar suara yang sangat ia kenali tengah memanggil namanya berulang kali, langkah kaki yang semakin lama mendekatinya. Namun Evan tak bergeming sedikit pun dari posisi nya saat ini.


"Van?" panggilnya sambil berdiri menghalangi cahaya matahari yang beberapa kali menyilaukan mata Evan. Walaupun ia tiduran dibawah pohon tapi tetap saja silau jika dahan tertiup angin.


"Evan!" panggilnya lagi, dengan menempelkan benda dingin dipipi Evan. Mau tidak mau Evan membuka matanya, terlihat wajah cantik yang beberapa hari ini mengisi pikirannya.


Gadis itu sudah duduk disebelah Evan, mengamati setiap lekuk wajah sang kekasih yang terlihat menawan.


"Zaa?" lirih Evan lalu duduk dengan tegak, tangannya bergerak menerima botol minuman dingin yang menempel pada pipinya.


"Hmmm?" Azzalea menaikkan sebelah alisnya menatap Evan. Tangan nya tak tinggal diam saja, ia mengeluarkan kapas dan beberapa cairan salah satunya berwarna merah.


Azzalea sibuk membersihkan luka pada sudut bibir Evan yang sudah mengering, Evan hanya diam saja membiarkan Azzalea berbuat sesuka nya.


"Ssshhh!" keluh Evan merasakan perih saat kapas itu menempel pada sudut bibirnya.


"Sakit?"


"Cuma perih aja, pelan dikit!" pinta Evan


"Iya ini udah pelan kok tahan sebentar, jangan manja!"


"Manja sama pacar sendiri gak salah kan?" tanya Evan sambil mengedipkan sebelah matanya menggoda Azzalea.


Azzalea yang salah tingkah pun tanpa sengaja menekan luka Evan terlalu keras.


"Awwhh! Sakit, pelan-pelan dong Zaa!" teriak Evan yang membuat beberapa orang salah paham apalagi mereka berdua tidak terlihat jelas karena terhalang oleh pohon yang berada didekat koridor. Sedangkan mereka berdua dibalik pohon itu.


"Ini udah pelan, Van! Tahan bentar lagi selesai!"


"Cepet dikit, perih tau!"


Mereka berdua tak sadar jika ucapan mereka berdua membuat pikira beberapa orang itu traveling kemana-mana. Termasuk Vion, Gavin, Rafa dan juga Ghea yang sedang mencari keberadaan Azzalea dan juga Evan.


"Kalian denger kan? Itu suara Evan sama Azzalea?" tanya Vion menatap temannya itu.


"Mereka berdua lagi ngapain dibalik pohon?" tanya Rafa sambil menunjuk kaki Evan.


"Lagi anu kali, suaranya kaya gitu!" celetuk Gavin.


PLAK!


Satu pukulan melayang dipunggung Gavin, membuat laki-laki itu meringis karena bekasnya terasa panas.


"Heh, kalau ngomong itu yang jelas .... Jangan anu-anu gitu bikin orang travelling aja!" gerutu Ghea yang memukul Gavin.


"Pikiran lo menjurus ke sana, Ghe! Jadi ya travelling," saut Vion sambil terkekeh.


"Sakit, Ghe! Lo denger sendiri kan suara mereka kaya orang lagi an- emmpp!" mulut Gavin sudah dibungkam oleh Ghea.


"Gak usah ngomong aneh-aneh deh, Vin! Lo juga On, pikiran kalian kenapa kotor banget sih!" gerutu Ghea, tangannya berara di mulut Gavin satunya berada dilengan Gavin. Terlihat romantis walaupun kenyataannya mereka sedang berdebat, apalagi netra Gavin tak bisa lepas dari wajah Ghea.


"Kalian kalau mau mesra-mesraan jangan didepan orang LDR kaya gue dong, bikin nganan aja!" ketus Rafa.


"Ngiri ngab bukan nganan!" ralat Vion terkekeh.


"Suka-suka gue lah, mblo!" kesal Rafa.


"Mblo? Sadar diri ngab! Situ statusnya aja pacaran tapi rasa jomblo, mending gue kan emang single," kata Vion sambil terkekeh.


"Apa lo bilang?" Rafa sudah memiting kepala Vion membuatnya susah bernafas.


"Ampun woy! Lepasin, lo mau bunuh gue!" keluh Vion sambil memukul dada Rafa.


Mendengar keributan itu, membuat Evan dan Azzalea penasaran dan berdiri dari posisinya. Mereka berdua sudah menatap keempat sahabatnya yang tidak ada akhlak nya itu.


"Normal, Raf?" tanya Evan sambil menatap Rafa dan Vion lalu beralih pada Ghea dan Gavin.


"Eh, dah ada pawangnya aja lo, Vin?" tanya Evan lagi padahal pertanyaan tadi belum sempat dijawab Rafa.


Mereka berempat terdiam lalu menoleh ke sumber suara, berganti menoleh pada posisi mereka masing-masing.


Rafa melepaskan Vion, begitu juga dengan Ghea yang melepaskan bekapannya pada Gavin.


"Gue bakal jinak kalau pawangnya dia!" Gavin menunjuk Ghea menggunkan dagunya.


"Kode tuh, Ghe! Sikat aja!" saran Evan sambil terkekeh.


"Gue dukung, Ghe!" seru Azzalea.


"Kalian berdua apaan sih, siapa juga yang mau sama orang mesum kaya dia!" sinis Ghea sambil menatap tajam Gavin.


"Bilang aja pengen dimesumin!" saut Vion sambil terkekeh, namun tawa itu tak lama setelah Ghea melayangkan pukulan pada lengan Vion.


"Dari pada lo, On .... sama Rafa habis ngapain kok peluk-peluk an gitu? Jangan bilang gara-gara kelamaan jomblo lo jadi...." Evan sengaja menggantungkan ucapannya membuat mereka semua penasaran.


Azzalea dan Ghea yang paham akan maksud dari Evan pun langsung berkata, "Belok!" kompak mereka berdua lalu tertawa.


"Waahh, lo jangan hancurin reputasi gue, Van! Gue cuma kasian aja sama pejuang LDR ini, dia gak ada yang meluk jadi gue berbaik hati relain badan gue dipeluk Rafa!" cerocos Vion sambil mengedipkan sebelah matantabpada Rafa.


"Jijik gue, On!" seru Rafa bergidik ngeri dan disambut tawa dari mereka semua.


"Eh tunggu-tunggu, kenapa kita jadi yang dicurgai? Harus nya kita itu introgasi kalian berdua!" kini giliran Gavin yang akan suara.


"Kita kenapa?" tanya Evan polos.


"Nah bener, harusnya Evan sama Azzalea yang kita sidang!"


"Hanyoo ngaku kalian berdua habis anu kan?" tanya Vion.


"Lo diapan sama Evan, Al?" tanya Ghea.


Empat orang itu menatap Evan dan Azzalea bak seorang tersangka yang harus diadali.


"Parah kalian gituan di sekolah, mana dibawah pohon lagi!" sambung Gavin.


"Lah emang hasunya dimana?" tanya Evan yang beda pikiran dengan Gavin.


"Ya dikamar lah!" celetuknya langsung mendapatkan tabokan dari Ghea lagi.


"Mulutnya, kalau ngomong filter dikit gitu!" gerutu Ghea, sedangkan Azzalea dan Evan terlihat bingung dengan apa yang mereka bahas.


"Ini ajarannya Evan tuh, mulutnya lemes banget tanpa filter-filteran!" bela Gavin pada dirinya sendiri.


"Sebenarnya ada apa sih? Kalian ngomong apa, gue gak paham?" tanya Evan sambil berkacak pinggang.


"Apa sih, Ghe?" tanya Azzalea.


"Tadi kalian habis itu kan? Solanya kita denger suara Evan bilang 'pelan dikit, perih' gitu?" jelas Rafa pada akhirnya.


"HAH!" bingung Azzalea dan Evan, dua detik kemudian mereka tertawa terbahak-bahak sambil menggelengkan kepalanya.


"Gue gak nyangka sumpah, pikiran kalian bisa sekotor itu! Gue saranin jangan banyak-banyak nonton film luar deh!" seru Evan sambil terkekeh geli.


Ya Evan tau jika teman-temannya itu sering menonton film luar yang terkadang begitu.


"Maksudnya?" tanya mereka bingung.


"Jelasin, yang!" pinta Evan pada Azzalea.


"Jelasin apa?" polos Azzalea.


"Jelasin kita ngapain dibalik pohon tadi!" pinta Evan gemas pada pacarnya itu.


"Kan cuma ngobatin luka itu, emang apa lagi?" tunjuk Azzalea pada wajah Evan, mereka semua diam tak bersuara kecuali Evan yang masih tertawa sambil mengacak-acak pucuk kepala Azzalea.