Evanzza

Evanzza
Cowok Batu



Azzalea merasa sejak tadi ada yang mengikutinya tapi saat ia berbalik tidak menemukan satu orang pun, bahkan nyamuk pun tidak terlihat. Ia sengaja berbelok dipersimpangan koridor dan langsung bersembunyi, ia hanya ingin memastikan apa kah benar ada yang mengikutinya atau hanya perasaannya saja.


Saat Azzalea sedang bergelut dengan pikirannya tiba-tiba saja terdengar suara umpatan dari seseorang.


"Si al lan! Pergi kemana sih itu cewek, cepet banget ilangnya," gumam seseorang yang mengenakan seragam yang sama dengan Azzalea hanya saja seragamnya terlihat kurang bahan. Yang membuat lekuk tubuhnya terlihat jelas.


"Atau mungkin dia tau kita ikutin, Len?" tanya temannya.


"Mana mungkin!" kesal orang yang dipanggil Len aliasa Elena


"Bisa aja kan dia lebih waspada gara-gara kita kunciin dia di UKS kemaren?" tanya teman Elena, Andini.


"Sutt! Lo kalau ngomong liat dulu situasinya, kalau ada yang denger gimana?" bentak Elena, tangannya sudah membekap mulut Andini yang gampang banget keceplosan.


Elena menoleh kesamping kanan dan kiri, dilihatnya aman sehingga Elena melepaskan bekapnnya.


"Maaf, reflek!" cicit Andini.


"Awae aja kalau sampai kita ketahuan, lo end!" ancam Elena setelah itu pergi meninggalakn Andini yang masih sibuk mengatur nafasnya.


Tak selang lama Andini pun berlari mengejar Elena, mereka berdua kembali ke ruang kelansya karena sudah lama sekali mereka izin ke toilet.


Ya Elena dan Andini memang meminta izin ke toilet sesaat setelah mereka melihat Azzalea melewati kelasnya dan siapa yang menyangka jika mereka berdua akan kehilangan jejak Azzalea.


Setelah kedua orang itu tak terlihat Azzalea keluar dari persembunyiannya, tatapannya terlihat seperti seekor macan yang akan menerkam mangsanya.


"Oh, jadi kemaren itu ulah kalian?" monolog Azzalea sambil melipatkan tangannya didepan dada.


"Cih, sayang gue gak punya bukti kuat buat jatuhin kalian," gumam Azzalea.


"Tapi tenang saja, tunggu tanggal mainnya!" tersirat senyum yang menyeramkan dari sudut bibir Azzalea.


Azzalea memang bukan tipe orang yang akan mengusik orang lain jika dirinya tak diusik terlebih dahulu, apalagi sudah lebih dari satu kali ia diperlakukan seperti itu. Azzalea memang terlihat tidak perduli dan cuek saja saat ada yang mencoba mengusiknya tapi jangan salah jika Azzalea sudah bergerak maju untuk membalas tidak akan ada lagi kata kasihan.


Sebenarnya mudah saja bagi seorang Azzalea untuk balas dendam, ia bisa bilang kepada Azka maka semuanya akan beres. Tapi itu bukan Azzalea, karena gadis itu lebih memilih menyelesaikan semuanya sendiri jika ia benar-benar tidak bisa mengatasi baru diserahkan kepada sang papa.


Azzalea melanjutkan langkahnya yang terhenti tapi sialnya ia hampir saja terpeleset oleh genangan yang ada dilantai itu. Azzalea tidak menyadari jika lantai itu basah sehingga saat melangkah ia langsung terpeleset dan masuk dalam pelukan seseorang.


"Awh!" keluh Azzalea bukan karena jatuh dilantai melainkan jidatnya terbentur sesuatu yang cukup keras menurut Azzalea.


"Mana yang sakit?" suara lembut dan hangat itu menyapa telinga Azzalea.


Tangannya yang sibuk mengusap jidatnya oun terhenti, ia membuka matanya perlahan dan dilihatnya wajah khawatir seseorang.


Untuk beberapa saat Azzalea terpaku dalam diam, sebelum suara orang itu menyadarkannya.


"Hey, lo baik-baik aja kan? Jangan bilang lo kebentur sampai amnesia?" tanyanya penuh kekawatiran.


"Gak jelas!" Azzalea menepis tangan orang itu yang ingin menyentuh jidatnya.


"Gak jelas apanya? Gue kan cuma mau mastiin kalau lo baik-baik aja, biar gue gak dimarahin sama papa mertua," katanya dengan santai tanpa beban.


"Mertua?" ulang Azzalea.


"Iya, papa lo kan calon mertua gue," ucapnya sambil terkekeh sendiri.


"Siapa lo!" ketus Azzalea.


"Gue? Calaon suami lo kan?" jawabnya dengan sangat percaya diri.


"Bukan," ketus Azzalea.


"Bukan apa?" tanyanya.


"Bukan calon suami gue!" kesal Azzalea.


"Yaudah gue daftar aja dulu jadi calon suami lo, siapa tau nanti lo butuh suami gak perluh seleksi lagi... lo tinggal acc aja, ya gak!" ucapnya sambil mengerlingkan sebelah matanya.


"Gak butuh!" singkat Azzalea.


"Gak butuh apa?" tanyanya memastikan.


"Gue gak butuh calon suami modelan kaya lo!" ketus Azzalea.


"Nah gitu dong kalau ngomong jangan irit biar gue gak salah paham sama ucapan lo!"


Azzalea tak mau menanggapi lagi, ia memilih segera pergi dari hadapan orang itu. Tapi apa ia terus saja mengikuti Azzalea kemana pun Azzalea pergi. Hal itu membuat Azzalea kesal dan ingin menghajar salah satu makhluk yang tak ingin ia lihat.


"Pergi!" perintah Azzalea.


"Pergi kemana?" tanyanya polos.


"Lo pergi jangan ikutin gue lagi, gue gak suka. Jadi gue minta lo pergi dan jangan ganggu gue lagi!" Azzalea semakin tersulut emosinya hingga tanpa sadar ia berbicara begitu panjang untuk pertama kalinya pada orang yang baru ia kenal.


Orang itu tidak marah atau pun kesal dengan Azzalea, ia malah memamerkan tawa renyahnya yang membuat Azzalea terbengong.


"Batu!" maki Azzalea.


"Lo tau gak kenapa gue bisa sebahagia ini?" tanyanya.


Tanpa menunggu jawaban Azzalea orang itu langsung menjawabnya sendiri.


"Karena lo mau ngomong sama gue, ya walaupun kata-kata lo irit banget sih... tapi gak apa-apa, gue pastiin nanti lo bakalan jadi crewet banget kalau sama gue!" jelasnya.


Wajah Azzalea sudah memerah bukan karena blushing melainkan ia sedang menahan amarahnya yang sudah sampai ubun-ubun. Belum kelar masalahnya dengan dua gadis itu, kini ditambah dengan satu orang yang terus mengusiknya sejak pertemuan pertama waktu itu.


"Jangan ikutin gue!" penuh penekanan dan ancaman dalam setiap kata yang diucapkan oleh Azzalea.


"Cowok batu!" gumam Azzalea yang masih bisa didengar oleh laki-laki itu.


"Azzalea Lestyana, lo manis banget kalau lagi marah!" teriaknya.


DEG!


Mendengar hal itu membuat Azzalea merasakan hal yang aneh didalam hatinya, tapi ia tak mau ambil pusing dan segera pergi melanjutkan niat awalnya untuk pergi ke rooftop sekolah.


"Van, lo ngonong sama siapa?" tanya Vion yang muncul dibelakang Evan. Ya orang yang sejak tadi mengganggu Azzalea adalah Evan.


Evan berbalik badan dilihatnya ada Vion yang berdiri dibelakangnya sambil menatap aneh.


"Sejak kapan lo disitu?" tanya Evan.


"Cih! Lo itu ditanya malah balik nanya, gue baru aja disini," jelas Vion.


"Lo denger apa aja?" tanya Evan penasan.


"Denger apa? tanya balik Vion.


Belum sempat Evan menjawab, Vion sudab berkata, "Kalau lagi marah! Gue dengar itu doang sih, makanya gue nanya lo ngomong sama siapa?"


Evan yang mendengar itu pun langsung tersenyum manis, ia bersyukur Vion tidak mendengar semua teriakannya. Jika tidak ia akan habis diledeki oleh Vion.


"Lo ngapain sih, dilorong sepi kaya gini... horor tau gak!" Vion sedikit merinding karena lorong ini hanya ada beberapa ruang yang salah satunya adalah ruang musik dan beberapa lab yang akan ramai jika praktik saja.


Evan tak menjawab ia memilih pergi begitu saja sambil terus tersenyum mengingat wajah Azzalea yang terlihat manis dan imut.


"Dasar edan!" kata Vion, tapi tetap saja ia mengikuti langkah kaki Evan karena ia tidak mau disalahkan jika tidak bisa membawa Evan kembali ke kelas.


...----------------...


Lucu ya, Hanya melihatmu saja aku bisa Sebahagia ini ~Evan, EH~