
Evan berjalan gontai menuju parkiran, pikirannya sedang kacau balau bahkan selama rapat osis tadi Evan hanya diam dan melamun. Tak seperti Evan yang biasanya cerewet dan hangat pada siapa saja. Berulang kali ia menghela nafasnya seakan ada beban berat yang sedang ia pikul. Mungkin saran Vion boleh dipertimbangkan tapi itu bukan prioritas karena Evan tak ingin membuat Azzalea merasa terbebani dengan tantangan yang ia sepakati dengan sang papa.
"Kenapa itu anak?" tanya Gavin yang berjalan tak jauh dibelakang Evan.
"Sakit!" saut Vion asal.
"Sakit? Pantes aja gak bersemangat gitu, mana tadi pas rapat kaya orang kesambet!" Gavin terkekeh sendiri mengingat kejadian tadi.
"Sakit apa emang, tumben?" tanya Rafa penasaran, karena ia jarang melihat Evan sakit selama sekolah.
"Sakit, sakitnya tuh disini didalam hati Evan ... Sakitnya tuh disini melihatnya belum ada kepastian!" Vion bernyanyi seperti itu sambil berlari menghampiri Evan sedangkan Gavin dan Rafa saling pandang lalu menertawakan Vion.
"Sehat bro?" tanya Vion langsung merangkul bahu Evan.
"Menurut lo!" kesal Evan, pasalnua saat ini Vion tahi betul bagaimana keadaan dirinya.
"Awas masse! Jangan galak-galak nanti jauh jodohnya," celetuk Vion sambil terkekeh agar Evan sedikit terhibur. Tapi sayangnya hal itu semakin membuat Evam kesal.
"Jodohku mau nya dirimu," sambung Gavin dari belakang.
"Cih, gak jelas banget kalian berdua apa-apa dinyanyiin mulu!" Rafa hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan dua orang beda usia itu.
"Menghibur diri Raf! Lo anak LDR mana tau," kata Gavin terkekeh.
"Justru anak LDR kaya gue yang harus banyak menghibur diri biar gak over dosis sama rindu!" Rafa menepuk dadanya beberapa kali.
"Sakit banget ya, Raf? Kangen tapi gak bisa ketemu, padahal pengen gandengan tangan, makan bareng, nonton, jalan-jalan!" ledek Gavin.
"Ya gitulah, Vin! Tapi mau gimana lagi, mungkin dengan ini bisa mendewasakan kita," jawab Rafa bijak.
"Lo beda kota apa provinsi, Raf?" tanya Evan.
"Beda Provinsi, Van! Jauh tapi dekat dihati," celetuk Rafa sambil membayangkan wajah pacarnya.
"Mulai dah tuh, kangen sama doi nya!" ejek Gavin.
"Masih mending lo, Raf! Yang cuma beda provinsi, kasian tuh si Evan," kata Vion sambil menunjuk Evan dengan dagunya.
"Lah emang Evan kenapa? Dia kan deket sama doi nya? Gak beda kota juga," jawab Rafa bingung, sedangkan Gavin masih diam sambil menyimak pembicaraan mereka.
"Gue kenapa emang?" tanya Evan yang jadi topik pembicaraan.
"Lo kan beda keyakinan!" Vion berkata dengan serius.
"Gak tuh," saut Evan cepat, pasalnya keyakinan mereka sama tak berbeda.
"Beda keyakinan gimana?" tanya Gavin.
"Beda keyakinan, dia yakin doi nya gak yakin," jawab Vion sambil terkekeh.
"Wah, anak ayam sini lo! Gue sama dia tuh yakin, cuma belum saatnya gue ungkapin perasaan gue!" gertak Evan sambil mengejar Vion, tangan kanannya sudah memegang sepatu yang siap dilemparkan ke wajah Vion.
"Mau sampai kapan lo kaya gini, Van? Sampai dia direbut orang lain? Perempuan itu butuh kepastian, Van!" teriak Vion, untung saja sekolah sudah sepi sehingga tak akan ada yang penasaran dengan teriakan Vion.
"Hah, tunggu bentar lagi," jawan Evan lemah, ia sudah tak bersemangat untuk memukul Vion.
"Lo sebenernya kenapa, Van?" tanya Rafa.
"Bener tuh, perempuan cuma butuh kepastian gak suka digantungin kek jemuran!" Gavin pun ikut memanas-manasi Evan.
"Terus gue harus gimana?" tanya Evan sambil menatap mereka bertiga.
"Ungkapin!" satu kata itu keluar dari mulut mereka bertiga secara bersamaan.
Huft!
Lagi-lagi Evan menghela nafasnya, bahkan ia sudah mundur beberapa langkah kebelakang. Lalu badannya terperosok begitu saja ke lantai, ia sandarkan tubuhnya pada motor milik Gavin yang masih terparkir rapi ditempatnya. Sedangkan ketiga temannya hanya menatap Evan bingung.
"Ini sebenarnya ada masalah apa sih?" tanya Rafa.
"Dan satu hal lagi kenapa sampai sekarang lo belum nyatain perasaan lo?" lanjut Rafa lagi.
Evan hanya diam saja saat Vion menjelaskan semuanya pada Rafa dan Gavin. Gavin yang sebagai ketua osis pun akhirnya tahu kenapa Evan begitu gigih dan tak pernah absen untuk membantu kegiatan osisnya.
"Jadi lo dari dulu sampai sekaramg belum ungkapin perasaan lo gara-gara belum jadi ketu osis?" tanya Gavin, Evan pun mengangguk lemah.
"Lo kan bisa pacaran sembunyi-sembunyi," saran Rafa yang diangguki oleh Gavin dan Vion.
Sedangkan Evan hanya menggeleng saja, "Kalau gue ketahuan papa bisa diungsiin gue dan itu bisa buat gue gak ketemu Azzalea dalam waktu yang tak bisa ditentukan!"
"Ribet banget sih, masalah pacar doang! Kek papa lo gak pernah muda aja!" kesal Gavin, entahlah dia menjadi empsi sendiri mendengar cerita Evan.
"Gue pernah denger cerita kalau papa gue gak bisa dapetin cinta pertamanya, mungkin karena itu dia gak mau gue terluka juga!" jelas Evan.
"Tapi kan kalian beda, belum tentu juga cinta pertama papa mu ada disini?" ucap Rafa asal.
"Entahlah gue gak tau," lirik Evan putus asa.
Melihat Evan yang seperti itu membuat mereka bertiga merasa kasihan dan tidak tega. Mereka diam dengan pikiran mereka masing-masing, hingga suara Gavin membuat suasana hening itu berubah seketika.
"Hah! Gue bantu lo biar jadi ketua osis!"
Mereka bertiga menatap Gavin seolah tak percaya dengan apa yang mereka dengar saat ini.
"Serius, lo mau bantuin gue?" tanya Evan antusias, dengan kedua tangan yang memegang lengan Gavin, sesekali menggoyangkan nya.
Gavin pun mengangguk membenarkan pertanyaan Evan, dan..
Greb!
Evan langsung memeluk Gavin dengan erat, seolah Gavin adalah boneka kesayangannya membuat Gavin sedik sesak nafas.
"Le-lepasin, Van! Se-sak nafas gue!" beberapa kali Gavin memukul lengan Evam bahkan memcubitnya agar terlepas.
"Van!" Rafa dan Vion membantu melepaskan Evan dari pekukan itu.
Terlihat wajah Evan yang sedikit berkaca-kaca karena ia terharu memiliki teman seperti Gavin. Yang awalnya mereka saling bersaing untuk mendapatkan hati Azzalea hingga akhirnya Gavin menyerah karena sadar perasaannya untuk Azzalea hanya rasa penasaran saja tak lebih. Dan sejak saat itu Gavin dan Evan menjadi sahabat walaupun mereka beda satu tahun tapi tal jadi masalah. Mereka bisa saling mengimbangi satu dengan yang lain, termasuk Rafa dan Vion.
"Heh, lo nangis?" tanya Rafa.
Gavin yang mendengar itu pun langsung menangkup wajah Evan, terlihat sudut matanya mengeluarkan genangan air yang membuat Gavin tertawa terbahak-bahak.
"Apa ini calon ketua osis nangis, cemen banget sih!" ledek Gavin.
"Raf, fotoin buat dipost pas Evan ultah," kata Vion sambil memegangi tangan kanan Evan sedangkan Gavin tangan kiri.
Klik!
"Tunggu gue ikut," ucap Rafa sambil mengambil foto selfi mereka berempat.
Klik!
Klik!
Klik!
Mereka merasa puas bisa memiliki aib Evan, terlebih lagi Evan tak bisa berbuat apapun karena kedua tanggannya dipegangi dengan erat.
"Puas kalian punya aib gue?" tanya Evan sambil mematap mereka tajam.
"Puas banget!" saut mereka bertiga kompak.
...----------------...