Evanzza

Evanzza
Salah Tingkah



Evan masih sibuk dengan rapat yang ia ikuti, rapat calon osis. Tahap seleksi pertama dan kedua Evan dinyatakan lolos sehingga ia lanjut ke tahap selanjutnya. Yaitu latihan kepemimpinan yang akan diadakan nanti pada hari minggu. Evan memang sengaja mengajak sahabatnya untuk ikut dalam anggota osis dengan alasan agar ia tak kesepian. Sedangkan Vion yang tidak mau menjadi anggota osisi pun akhirnya luluh juga setelah penuh dengan rayuan dan iming-iming yang Evan berikan.


"Belum jadi anggota osis aja udah capek, apalagi nanti!" gumam Vion yang berjalan bersebelahan dengan Evan.


"Mau nyerah?" tanya Evan.


Vion mengangguk cepat saat mendengar pertanyaan Evan, ia memang ingin menyerah saat ini juga tapi sayangnya sahabatnya itu akan kesepian padahal masih banyak teman yang lainnya.


"Lo berani nyerah, gue jamin lo gak bakal bisa tenang sekolah disini!" ancam Evan sambil tersenyum devil.


"Loh kok gitu sih, kita kan sahabatan... lagian belum tentu juga lo bisa usik kehidupan SMA gue," kata Vion meremehkan Evan.


Evan yang diremehkan seperti itu merasa tertantang dan semakin berambisi untuk menjadi ketua osis. Bayangnya sudah melayang jauh, bahkan Evan sudah berencana untuk menjahili Azzalea saat ia menjabat sebagai ketua osis.


"Lo kenapa senyum-senyum sendiri?" tamya Vion yang menatap aneh Evan.


"Hah apa?" tanya Evan.


"Hah heh hah heh mulu lo kalau diajak ngomong!" kesal Vion.


Tiba-tiba langkah kaki Evan terhenti saat melihat kearah kantin yang sudah penuh, tapi tetap saja mata tajamnya mampu melihat sosok yang ia sukai, Azzalea.


Azzalea bersama keempat sahabatnya sedang makan disalah satu meja kantin, meja mereka yang terletak paling ujung pojok sehingga dapat dilihat langsung dari koridor hanya saja hari ini kantin terlihat sangat penuh. Bahkan Vion pun tak paham apa yang sedang temannya lihat itu.


"Saingan gue banyak banget," gumam Evan sambil terus menatap kearah Azzalea.


"Makanya gue bilang apa nyerah aja udah, gak jadi anggota osis juga masih bisa dapet pacar!" Vion mengira jika Evan masih membahasa perkara Osis padahal sudab berganti topik.


"Dia siapa, anak baru? Kok bisa langsung akrab gitu sih!" kesal Evan.


"Siapa yang akrab?" tanya Vion yang kebingungan.


Evan tidak menjawab ia memilih mencari tempat duduk yang tidak jauh dari Azzalea.


"Van, sini!" seorang gadis tengah melabaikan tangannya pada Evan.


"Elena sama Andini tuh, gabung aja kuy!" Vion langsung saja merangkul bahu Evan mengajaknya menuju meja Elena yang ternyata bersebelahan dengan meja Azzalea.


Tanpa sengaja mata Azzalea dan Evan salung bertemu, Evan tersenyum sambil sedikit mengangguk sebagai tanda menyapa tanpa bersuara. Sedangkan Azzalea hanya menatap Evan sekilas, bahkan Evan tak bisa mengartikan arti tatapan Azzalea itu.


"Gimana, lancar gak seleksinya?" tanya Elena.


"Lancar dong ya gak, Van?" Vion menyenggol lengan Evan karena ia tidak fokus sejak tadi.


"Hmmm," saut Evan.


"Lo lagi liatin apa sih, Van.. serius banget? tanya Andini.


Sejak tadi mata Evan hanya fokus menatap meja didepannya itu, ia merasa sangat kesal saat ada satu laki-laki yang dekat dengan Azzalea selain Cakra. Bahkan orang itu bisa membuat Azzalea tersenyum hanya dengan mendengar ceritanya saja.


"Gak!" saut Evan, tapi tetap saja matanya sesekali menatap Azzalea.


Elena yang penasaran pun menoleh kebelakang dilihatnya ada Azzalea bersama teman-temannya, lalu Elena melirik Evan yang masih sama menatap Azzalea. Tangan Elena yang berada dibawah meja pun terkepal kuat, ia juga mengeratkan giginya.


"Murahan!" gumam Elena.


"Apanya yang murahan, Len?" tanya Andini.


"Tadi pagi deketnya sama siapa, sekarang udah beda lagi!" sindir Elena sambil melirik Azzalea, Azzalea yang sensitif pun menatap balik Elena.


"Gak jelas," gumam Azzalea.


"Gak jelas giamana sih, Le.. kan gue udah bilang mau nerusin ceritanya!" protes Dava.


"Lanjut lah ceritanya tadi!" pinta Ghea.


"Bener gue penasaran sama Om Bobo," imbuh Nessa.


Sedangkan Cakra yang menjadi bahan pembicaraan seolah tak mendengar hal memalukan itu.


"Oke gue lanjutin ya ceritanya... tadi sampai mana?" tanya Dava.


"Sampai kapan kau gantung cerita cintaku memberi harapan humbb—" mulut Ghea langsung dibekap oleh Nessa, karena ia sangat penasaran dengan cerita Dava sehingga tak membiarkan Ghea merusaknya.


"Uhukk!" tak ada angin tak ada hujan Cakra tersedak sendiri saat menyantap baksonya, entah mengapa ia merasa tersindir dengan nyanyian Ghea.


"Ih Ghea mah kebiasaan apa-apa dinyanyiin!" protes Nessa sambil mengerucutkan bibirnya.


"Nessa gemoy lepasin dulu Ghea susah nafas itu," bujuk Dava, dan akhirnya Nessa mau melepaskan bekapannya sambil menatap tajam Ghea. Sedangkan Ghea hanya terkekeh saja melihat wajah Nessa yang kesal.


Azzalea hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua sahabatnya yang taj pernah berubah ini.


"Sampai Cakra nyungsep!" Azzalea mengingatkan Dava, Cakra melirik sekilas gadis yang duduk disebelahnya ini membuat pipinya sedikut merona saat tatapan mereka bertemu. Sedangkan Azzalea pun biasanya saja.


"Oke jadi waktu itu Cakra kan nyungsep diselokan sama sepedanya juga, nah Om Bobo tuh lari muka dia udah panik banget kan... sampai sepeda yang ia naiki aja dilembar begitu aja buat nolongin Cakra." mereka bertiga sangat serius mendengarkan cerita Dava.


"Lalu?" tanya Nessa dan Ghea.


"Lalu Om Bobo ikutan nyemplung ke selokan yang airnya tuh sampai lutut dia... gue kira kan dia panik liat anaknya udah cemong mana ada luka goresan gitu ditubuh Cakra." Dava menenggak minumannya terlebih dahulu sebelum melanjutkan ceritanya.


"Eh gak taunya dia panik gara-gara mau nolongin sepeda yang Cakra pakai itu, katanya baru dua hari dibeli udah buat atraksi aja. Mana sepedanya itu diangkat duluan dipinggi jalan, sambil disayang-sayang gitu... ditanyain ada yang sakit gak, ada yang lecet gak? Sedangkan si Cakra masih terbengong didalam selokan, kalau kalian liat muka Cakra waktu itu gue jamin pasti ngakak sumpah!" Dava pun tertawa mengingat kejadian waktu itu.


Begitu juga ketiga gadis itu mereka tertawa sambil meledek Cakra, sedangkan Cakra hanya bisa menahan malunya sambil membuang muka kesamping.


"Sumpah ya! Om Bobo tuh bikin orang good mood terus," kata Ghea yang masih tertawa, bahkan ia sampai mengusap cairan bening yang ada dipelupuk matanya.


"Bener banget, auto awet muda gara-gara ketawa terus!" sambung Nessa.


"Kok lo bisa beda dari papa lo yang gokil sih, Cak?" tanya Ghea.


"Terus lo nangis dong?" tanya Azzalea.


"Dia gak nangis cuma ngambek udah kaya cewek aja, dibujuk kek gimana pun gak mempan!" bukan Cakra yang menjawab melainkan Dava.


Sedangkan Cakra terus menatap Azzalea yang duduk disebelahnya sambil tersenyum mendengar cerita Dava.


"Gue gak masalah jadi bahan gibahan kalian, asal bisa liat lo tertawa kaya gini, Le!" batin Cakra.


"Woy bengong aja, nanti kesambet penunggu kantin baru tau rasa lo!" Ghea melempar Cakra dengan permen lolipop.


"Yang ada setannya yang takut sama, Cakra!" imbuh Dava, dia sangat bahagia hari ini bisa meledek Cakra habis-habisan.


"Lo setannya!" ketus Cakra, niatnya ingin memukul Dava tak bisa terlaksanakan karena ada Azzalea yang duduk diantara mereka berdua.


Cakra menjadi canggung sendiri saat ditatap oleh Azzalea, ia menjadi diam tak berkutik lagi. Bahkan tangannya yang masih menggantung diudara pun tak ia sadari.


"Eheem!" Evan sengaja berdehem sangat keras agar bisa didengan oleh Cakra dan menjauh dari Azzalea.


Benar saja dengan cepat Cakra menjauhkan wajahnya dari Azzalea bahkan ia sampai salah mengambil gelas milik Azzalea dan meminumnya.


"Ciee salting ciee!" goda Ghea.


...----------------...


"Aku rela terlihat bodoh asalkan bisa melihatmu tertawa, dan aku sebagai alasannya!" ~Cakra, EH~