Evanzza

Evanzza
Gelisah



Terdengar suara langkah kaki menuruni anak tangga dengan malas, gadis itu terlihat sedang membetulkan dasi yang sangat sulit dibentuk.


"Gimana sih, susah banget!" dengus Azzalea.


"Udeh gede pakai dasi gitu aja gak bisa," cibir Azzam yang berada dibelakang Azzalea.


"Banyak omong bocil!"


"Biarin bocil, dari pada udah gede tapi masih kaya bocil!" Azzam menjulurkan lidahnya mengejek sang kakak.


"AZZAB! SINI GAK!" teriak Azzalea yang membuat papa Azka terkejut dan hampir tersedak karena sedang menyesap kopinya.


"Azzam bukan Azzab!" kesal Azzam sambil menatap tajam sang kakak.


"Bodo amat!" kesal Azzalea.


"Kenapa sih kalian pagi-pagi udah berantrm aja?" tanya mama Azkia.


"Itu mah kakak yang mulai duluan!"


"Azzam mah yang mulai!"


Mereka berdua saling mengadu dan tak ada yang mau mengalah, suasana pagi ini cukup menguras kesabaran. Papa Azka memijit kepalanya, ia hanya ingin pagi yang damai tanpa keributan tapi semua itu hanya dalam mimpinya saja.


"Azzalea, Azzam!" panggil Papa Azka.


"Ya pah!" saut mereka berdua kompak.


"Makan sarapan kalian lalu berangkat sekolah, masih pagi jangan ribut!"


"Jadi kalau udah siang boleh ribut, pah?" tanya Azzam.


"Bukan begitu maksud papa!" papa Azka menghela nafasnya dengan kasar.


"Terus maksud papa gimana?" tanya Azzam.


"Maksudnya tuh lo gak boleh ngajak gue ribut," jelas Azzalea.


"Kan kakak dulu yang mulai!" Azzam tak terima dituduh yang memulai perdebatan pagi ini.


"Dasar bocil susah dikasih tau," kata Azzalea sambil menatap tajam Azzam, Azzam yang ditatap seperti itu juga tak mau kalah bakan ia sudah menendang kaki Azzalea yang berada dikolong meja makan.


"Cepat makan sarapan kalian!" terdengar suara Azka yang tidak ramah seperti biasanya dan bisa dipastikan ia sedang marah sehingga kedua anak itu langsung terdiam dan memakan sarapannya tanpa bersuara lagi.


Setelah acara sarapan selesai mereka pergi menuju tempat yang berbeda, kali ini Azzam diatar oleh papa Azka karena sang mama masih sibuk. Sedangkan Azzalea tentu saja berangkat sendiri dengan motornya.


Azka yang merupakan salah satu Ceo yang terkenal di kota itu sehingga tak jarang jika banyak memiliki saingan bisnis dimana-mana. Sehingga kedua anaknya sudah digembleng untuk belajar bela diri karena Azka tau ia tak bisa melindungi kedua anaknya setiap waktu. Bahkan kedua anaknya sengaja menyembunyikan nama belakang mereka karena takut jika saat disekolah ada anal dari lawan bisnis Azka. Awalnya Azka tak menyetujuinya tapi mendnegar penjelasan mereka akhirnya Azka setuju.


Sekolah Azzam memang satu arah dengan Azzalea tapi sayangnya gadis itu sedang bermusuhan dengan sang adik sehingga tak ingin berangkat bersama. Sehingga Azka yang turun tangan untuk mengantar Azzam.


Setelah berpamitan pada papa Azka, Azzam keluar dari mobil dan melambakan tangannya pada sang papa. Setelah itu mobil sang papa melaju tanpa menunggu Azzam masuk kedalam sekolah terlebih dahulu karena ada rapat pagi ini.


BRUK!


Mobil Azka sudah menjauh dan tak selang berapa lama terdengar suara tabrakan yang cukup keras, dengan cepat orang-orang itu mengerubunginya. Evan yang tak sengaja melintas dan penasaran pun menepikan motornya untuk melihat apa yang sedang terjadi.


"Ada apa?" tanya Evan pada salah satu orang yang berseragam putih biru.


"Ada yang ditabrak kak!" ucapnya.


Setelah mendengar itu Evan langsung memaksa menerobos kerumunan orang-orang yang sedang membantu korban, seorang laki-laki berseragam putih biru tergeletak dengan darah segar yang keluar dari tangan dan kakinya.


Tanpa basa basi Evan langsung membantu korban itu saat ada seseorang yang sudah menghentikan mobil.


"Ini gak ada yang mau ikut ke rumah sakit?" tanya seorang bapak-bapak yang ikut membantu.


Tak ada satu pun yang mau karena mereka memiliki urusannya masing-masing mengingat waktu masih pagi dan masuk jam kerja.


"Sshhhh!" rintihnya.


"Sabarnya kita otw ke rumah sakit," jelas Evan, laki-laki itu mengangguk sambil memegangi tangan kanannya yang terasa sakit.


"Nama mu siapa?" tanya Evan.


"Azzam!"


"Hmm, nama yang bagus," kata Evan, ia sengaja mengajak bicara agar Azzam teralihkan dengan rasa sakitnya itu.


Sayangnya, pelaku penabrakan berhasil kanir karena tak sempat ada yang mengejarnya mereka sibuk menolong laki-laki berseragam putih biru itu.


Sedangkan Azka sejak tadi perasaannya tidak tenang dan gelisah, entah apa yang jelas Azka berharap tidak terjadi apapun. Apalagi pagi ini ia harus menghadiri rapat penting, sehingga Azka menepis perasaan tidak tenangnya itu.


Tak butuh waktu lama Evan sudah sampai dirumah sakit, ia segera berteriak meminta bantuan agar para suster segera datang dan membantunya.


"Dok tolong! Cepat tolong, korban kecelakaan!" teriak Evan.


Dengan sigap para suster datang, mereka membantu Azzam dan segera membawanya ke ruang ugd. Evan terlihat mondar-mandir disana karena ia lupa untuk menanyakan nomor ponsel yang bisa dihubungi.


"Van? Kamu sakit?" suara itu mengagetkan Evan.


Evan pun berbalik dan melihat seorang dokter cantik berdiri dibelakangnya.


"Mama! Eh dokter," ralat Evan sedikit terkeheh.


"Kamu belum jawab pertanyaan mama, ngapain kamu disini... kamu sakit?" tanya Rayya mamanya Evan.


"Gak mah, Ev—"


"Lalu kenapa disini, kamu bolos?"


"Astaga! Dengerin Evan selesai bicara dulu mah, jangan dipotong dulu," protes Evan.


"Baiklah, jelaskan!" perintah sang mama.


Kemudian Evan menjelaskan kejadiannya dari awal sampai ia bisa berada dirumah sakit ini sekarang. Mama Rayya terlihat bangga dengan sikap Evan ini yang perduli terhadap sesama.


"Terus kamu bolos?" tanya sang mama.


"Eh iya, Evan kasih tau Vion dulu biar dimintaiin izin," kata Evan lalu memgambil ponselnya dari dalam saku celananya.


"Oke, mama lihat pasien mama dulu... kalau ada apa-apa jangan lupa kasih tau mama, terus jangan lupa hubungi keluarga pasien!"


"Siap mah!" Evan segera menghubungi Vion untuk memintakan izin karena tidak masuk sekolah, jika harus kesekolah mungkin sudah sangat terlmabat sehingga ia memilih izin sekalian.


Tak lama setelah menghubungi Vion, pintu ugd sudah terbuka terlihat seorang dokter keluar bersama suster.


"Bagiamana dok keadaannya?" tanya Evan.


"Anda siapanya?" tanya dokter.


"Ah, saya... saya kakaknya!"


"Oh, adik anda baik-baik saja tidak ada masalah serius... hanya saja tangan kanannya retak sehingga harus di gips," kata sang dokter.


"Baiklah terimakasih dok," kata Evan, dokter itu mengangguk lalu izin undur diri.


"Mari saya bantu mengurus administrasi, mas!" Suster itu mengajak Evan menuju kasir untuk membayar biaya administrasi agar Azzam segera dipindahkan keruang rawat. Ia harus dirawat sekitar dua hari untuk memunggu hasil lab jika terjadi sesuatu didalam agar segera terlijat.


Evan pun mengangguk dan mengikuti sang suster, untung saja Evan membawa kartu atm yang diberikan sang papa jika tidak ia pasti akan meminta mama Rayya untuk membayar semua biaya rumah sakit.


...----------------...