Evanzza

Evanzza
Ternyata Disini



Disisih lain ada seorang perempuan tengah menahan rasa cemburunya apalagi ia melihat Evan memeluk gadis lain. Siapa lagi kalau bukan Elena, niat hati ingin pergi ke kantin untuk mengisi perutnya yang kosong. Tapi apa yang ia lihat? Pemandangan yang membuat pikirannya tiba-tiba kosong seketika.


"Jadi pengen makan orang!" kesalnya sambil meremas tangan Andini yang memang sedang ia gandeng.


"Sakit, Len!" Andini menarik paksa tangannya.


Entah sudah berapaka kali Elena melihat secara terang-terangan perlakuan manis Evan kepada Azzalea. Sayangat disayangkan perlakuan manis itu tidak ia dapatkan dari seorang Evan. Evan hanya menganggap dirinya sebatas teman saja tak lebih, walaupun sudah berulang kali ia menyatakan cintanya tetap saja tidak membuat Evan luluh.


"Lo kenapa sih, Len? Marah-marah mulu akhir-akhir ini?"


"Pakai nanya lagi kenapa? Ya sejak Evan lebih perduli sama cewek kelas sebelah itu dari pada gue!" ketus Elan sambil melipatkan kedua tangannya didepan dada.


"Lo harus mundur deh, mending lo cari orang yang suka sama lo ... dari pada lo terus berjuang tapi gak ada hasil nya!" Andini berpikir lebih terbuka dari pada Elena.


"Gak, gue gak mau cari yang lain ... cinta gue udah buat Evan semua," kekeh Elena.


"Terserah lo, yang penting gue sebagai temen udah ngingetin lo!" Andini melenggang begitu saja menuju kantin, ia tak menghiraukan Elena yang sedang kesal.


"Lo gak tau, Din ... gimana rasanya sayang sama orang padahal lo udah berkali-kali dipatahin yang harusnya lo mundur, tapi lo tetap milih bertahan karena rasa itu gak ilang malah semakin bertambah. Gue bodoh emang," gumam Elena sambil menatap punggung Andini yang sudah menjauh.


Tapi seketika raut wajah Elena yang nampak murung kini berubah dengan cepat saat melihat Azzalea yang mendorong tubuh Evan agar menjauh.


"Pokoknya kalau gue gak bisa dapetin Evan gak ada yang boleh dapetin dia!"


Elena berlari ke arah Evan yang hendak menyusul Azzalea. Dengan cepat Elena merangkul lengan Evan sehingga ia tak bisa kabur lagi.


"Apa-apaan sih, lo!"


"Apa?" tanya Elena polos tanpa dosa.


"Lepasin, gue mau ngejar pacar gue!" Evan menepis tangan Elena yang bergelayut erat dilengannya.


"Pacar lo? Siapa? Sejak kapan lo punya pacar?" Elena menodong Evan dengan banyak pertanyaan.


"Calon pacar," ralat Evan.


"Kan calon pacar lo, gue!"


"Hah! Sejak kapan lo jadi calon pacar gue, inget ya, Len ... kita cuma temen gak lebih dari itu sampai kapan pun!" tegas Evan segera menghempaskan tangan Elena.


"Tapi, Van!" Elena beruaaha mengejar Evan tapi sayangnya ia kalah cepat karena Evan sudah berlari menyusul Azzalea.


"EVAN!" teriak Elena membuat semua orang menatap heran ke arahnya.


"Awas aja lo cewek datar! Peringatan gue kemarin gak lo dengerin sama sekali, karena itu gue gak akan segan lagi sama lo!" kesal Elena.


"Apa kalian lihat-lihat, gak pernah lihat orang cantik?" bentak Elena melihat beberapa siswa yang menatapnya.


"Sehat mbak?" tanya salah seorang siswa.


"Sehat lah, kalau sakit gue gak akan disini!"


"Ohh, gue kira obat lo habis ... kasian kan kalo cantik-cantik tapi otak nya agak," siswa itu mengarahkan jari telunjuknya didepan jidat.


"Lo ngatain gue gila?" kesal Elena, matanya seolah sudah mengeluarkan api yang siap untuk memangsa siapa saja yang berani dengannya.


"Gue gak bilang ya, kan lo sendiri yang bilang gitu!" ucapnya sambil berlari menjauhi Elena.


"Wah si al an! Awas lo kalau ketemu gue bejek-bejek jadi perkedel!" kesal Elena.


Disisih lain Evan sedang mencari keberadaan Elena yang hilang begitu saja bagaikan ditelan harapan. Bahkan Evan sudah mencari ke kelas Azzalea tapi tetap saja tidak menemukan gadis itu, toilet pun sudah ia cari tapi tidak sampai masuk kedalam toilet untuk mencarinya. Kolong-kolong meja juga sudah ia lihat masih saja belum menemukan Azzalea.


"Cih, cepet banget sih kaburnya!" gerutu Evan sambil menendang angin.


"Atau jangan-jangan dia di uks?" monolog Evan.


"Bisa jadi sih, gue belum cek uks," gumam Evan sambil berjalan menuju ruang uks.


Tak butuh waktu lama Evan sudah sampai didepan pintu ruang uks, karena tidak sabar Evan tidak mengetuk pintu itu tapi langsung mendorongnya dengan kedua tangan.


BRAK!


"Astagfirullah!"


"Eh kodok lo kodok!"


"EVAAN!" teriak Bu Arum yang sedang beristirahat diruang uks karena sedang tidak enak badan.


"Kamu mau buat ibu tambah sakit supaya kelas kamu jam kosong terus, gitu?" tanya Bu Arum yang masih mengelus dadanya karena kaget.


"Hehe maaf bu, gak sengaja ... Evan kira gak ada orang," kata Evan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Mau ada orang atau gak asa orang harusnya jangan seperti itu kalau buka pintu... kamu mau semua pintu disekolah ini rusak gara-gara ulah mu?" tanya Bu Arum.


"Maaf bu gak sengaja, urgen soalnya!" elak Evan.


"Urgen? Siapa yang sakit emangnya?" tanya Bu Arum dengan wajah serius.


"Bukan siapa-siapa sih, bu!"


"Terus kenapa bilang urgen kalau gak ada yang sakit?" tanya Bu Arum.


"Soalnya yang sakit tuh disini bu .... disini!" Evan menunjuk dadanya sendiri, Bu Arum yang melihat itu semakin geram dengan tingkah Evan. Beliau mengira jika memang benar-benar ada gang urgen sehingga Evan sampai membanting pintu.


"Evan kamu ini bener-bener bikin ibu tambah sakit aja, udah sana pergi-pergi!" galak Bu Arum.


Evan pun segera pergi setelah memastikan tidak ada Azzalea disana, ia tidak perduli dengan adanya kakak kelas yang menertawakannya saat ini.


"Anak sekarang sakitnya bukan karena mikir pelajaran tapi mikirin cinta-cinta apalah itu," celetuk Bu Arum sambil memijit pelipisnya yang terasa pusing lagi, padahal sebeluk Evan datang beliau sudah merasa baikan.


Sedangkan gadis yang tengah dicari itu sedang bersantai dibawah rimbunnya pepohonan belakang sekolah. Sebuah pohon mangga yang terlihat berbuah cukup lebat, beberapa mangga sudah terlihat matang dan siap untuk dimakan.


"Enak nih siang-siang makan buah mangga," gumam Azzalea sambil mendongak ke atas.


Tanpa banyak bicara ia langsung menanjat pohon itu karena tidak terlalu tinggi, terlebih lagi ia masih mengenakan seragam olahraga sehingga tidak ada kesulitan untuk memanjat pohon lain hal nya saat ia memakai rok.


Hup!


Azzalea sudah mendapatkan satu buah mangga yang cukup besar dan juga sudah cukup matang jika menunggu beberapa hari lagi. Tapi tidak dengan Azzalea yang menginginkan buah mangga itu sekarang, karena lebih enak jika mangga dimakan saat seperti ini apalagi dengan sambal pedas manis.


"Enak nih kalau dirujak, nanti minta mama buatin." seru Azzalea dengan senyuman.


Perlahan Azzalea berhasil turun dari atas pohon itu, ia sangat hati-hati karena tak ingin ada luka sedikit pun atau motornya kembali disita oleh papa Azka.


"Kalau sampai papa tau aku manjat pohon kaya gini auto gak boleh keluar rumah," batin Azzalea sambil tersenyum tipis.


Tiba-tiba saja ada suara yang mengangetkannya.


"Oh ternyata lo disini?" tanya orang itu.


...----------------...


Hayo loh, like coment hadiahnya mana ini kok sepi-sepi aja! Jadi gak semangatkan si Evannya :)