
Azka sejak tadi terlihat sedang memikirkan sesuatu, sejak pulang dari rumah sakit ia terus berdiam diri dikamar. Bahkan mengabaikan panggilan sang istri. Azka seolah sudah mengenal Evan lama tapi itu tak mungkin karena mereka baru pertama kali bertemu. Tapi hati kecil Azka terus memberontak jika ia menyangkal pernah bertemu Evan.
"By!"
"Hubby!"
"AZKAA!" teriak sang istri karena kesal panggilannya diacuhkan.
"Eh! Ada apa, Nyun?"
"Lagi mikirin apa sih, serius banget?"
"Ada yang lagi menganggu pikiranku, Nyun!"
"Apa?"
"Kamu tau laki-laki yang ada dirumah sakit bersama Azzam, tadi?" tanya Azka.
"Evan maksud, mu?"
Azka pun mengangguk lalu menatap sang istri serius, Azkia yang ditatap pun menjadi salah tingkah.
"Aku rasa pernah ketemu dengan nya, tapi dimana aku lupa... dan wajahnya seperti mirip seseorang!"
"Awalnya aku juga berfikir seperti itu, tapi aku gak mau terlalu mikirin... biarin aja toh dia anaknya baik!" jelas Azkia.
"Awalnya? Maksudnya kamu pernah ketemu selain hari ini?" tanya Azka memastikan, Azkia pun mengangguk.
"Kapan? Dimana? Ngapain? Kok bisa ketemu?" cecar Azka dengan semua pertanyaan posesifnya.
Huft!
Azkia sedikit mendengus mendengar pertanyaan sang suami, walaupun sudah memiliki dua orang anak yang sudah besar namun sikap posesifnya masih saja sama seperti dulu.
"Jawab!"
"Iya-iya, gak usah marah-marah juga!" kesal Azkia.
"Beberapa hari lalu dia nganterin Ale pulang, dia temen sekolah Ale," jelas Azkia.
"Ohh, mungkin pernah ketemu dijalan," kata Azka.
"Mungkin, By! Yaudah ayo kembali rumah sakit, kasian mereka kalau kelamaan nunggu," ajak Azkia.
"Baiklah! Tapi ini dulu!" Azka menunjuk pipinya beberapa kali dengan jari telunjuknya.
"Pipi, kenapa pipinya?" tanya Azkia bingung.
"Cih, udah selama ini masih gak peka juga!" gerutu Azka sambil melipatkan tangannya didepan dada.
Azka sudah terlanjur kesal ia memalingkan wajahnya kesamping wajahnya sudah ditekuk, ia sedang merajuk seperti anak kecil.
Cup!
Satu kecupan mendarat mulus dipipi Azka, itulah yang ia mau sejak tadi tapi sayang nya sang istri sedang pura-pura tidak peka.
"Nah, udah kan!"
"Satunya belum, nanti iri loh," celetuk Azka dengan wajah berharap. Sehingga mau tidak mau Azkia harus menurutinya.
Cup!
Terlihat senyum menyembang dari bibir Azka, lalu ia membalas ciuman sang istri tapi tidak dipipi melainkan di bibir.
Cup!
Azkia yang mendapat serangan tiba-tiba itu membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna. Tapi tak menolak atau memberontak, Azkia mengikuti permainan sang suami hingga mereka berdua kehabisan nafas baru menyudahinya.
"Udah ayo, kasian Azzam nunggu lama," kata Azkia melepas pelukan Azka.
"Hmm,"
"Hamm hmm mulu, cek sound mau nyanyi kah?" canda Azkia sambil menggelengkan kepalanya.
"Oh iya, Nyun akhir pekan nanti ada acara reuni... kamu ikut kan?" Azka merangkul pinggang Azkia sambil melangkah menuju garasi.
"Reuni apa?"
"Reuni mantan," celetuk Azka dengan wajah dinginnya.
"Emang situ punya mantan?"
Pertanyaan Azkia ini membuat Azka menghentikan langkahnya lalu menatap sang istri.
"Ada!"
"Hah, serius siapa? Perasaan kamu gak punya mantan deh, by!"
"Ada satu!"
Azka tersenyum tipis ia tahu jika istrinya itu sedang kesal lebih tepatnya sedang cemburu.
"Iya ada satu mantan pacar," kata Azka.
"Karena dia sekarang sudah jadi istri!" bisik Azka ditelinga sang istri.
"Kamu ya!" Azkia memukul lengan Azka, ia sudah serius menanggapi tapi ternyata hanya digoda oleh sang suami.
"Ampun-ampun! Cuma bercanda, sayang... habisnya wajah kamu serius gitu," kata Azka sambil menangkap kedua tangan Azkia.
"Hmmm!" sungut Azkia.
Kemudian mereka segera bergegas menuju rumah sakit dimana Azzam dirawat, mereka tak ingin sang anak memunggu tetlalu lama meski ada Evan dan Azzalea tapi tetap saja mereka khawatir.
Tak selang beberapa lama mobil itu sudah sampai di parkiran rumah sakit, tapi Azka tak langsung turun karena ia melihat sebuah mobil yang terparkir dieepannya. Bukan penasaran dengan mobilnya tapi siapa pemilik mobil itu, karena saat perempuan itu masuk kedapam mobil Azka seperti mengenalinya dan wajah itu terlihat tidak asing. Tapi sayangnya semakin Azka mencoba mengingat semakin Azka lupa siapa perempuan itu.
"Ehem! Istrimu masih disini loh... disampingmu tapi mata udah kemana-mana, gak sekalian aja turun terus disamperin tuh perenpuannya mumpung belum pergi!" hardik Azkia.
"Apa sih, Nyun! Siapa juga yang lihatin perempuan lain, kan dimataku cuma ada kamu," kata Azka lembut.
"Gombal aja terus!"
BRAK!
Azkia turun terlebih dahulu sambil membawa baju ganti milik Azzam, ia tak memperdulikan panggilan sang suami.
"Kenapa marah-marah mulu sih, apa jatahnya kurang?" monolog Azka, kemudian ia segera menyusul sang istri dan selama perjalanan dari tempat parkir hingga ruang rawat Azzam, Azka terus membujuk sang istri agar tidak marah lagi.
Akhrinya dengan segala bujuk dan rayuan Azka, Azkia pun tidak marah lagi apalagi saat ini mereka sudah berada didepan ruangan Azam.
Kriet!
Azkia yang memegang hendel pintu pun langsung membukanya, terlihat dua orang yang saling bercerita bahkan sesekali terlihat tawa diantara mereka berdua sedangkan yang satunya hanya diam tak terusik sedikit pun.
"Ale udah lama disini?" tanya mama Azkia membuat mereka menoleh.
"Lumayan, mah!" saut Azzalea.
Mama Azkia langsung meletakan paper bag yang ia bawa dinakas depan Azzalea, lalu menghampiri bangkar Azzam.
"Gimana sayang, masih sakit?"
"Udah mendingan kok, mah! Apalagi ada kak Evan nih dari tadi hibur Azzam mulu jadi lupa sakitnya," kata Azzam jujur, Evan hanya tersenyum mendengar itu tapi lain halnya dengan Azzalea.
"Yang kakaknya siapa, sih!" ketus Azzalea.
Mereka pun hanya tersenyum mendengar Azzalea yang sepertinya cemburu karena Azzam lebih banyak menghabiskan wakti bersama Evan.
"Le, kamu pulang dulu aja udah sore... ganti baju terus kesini lagi," saran sang papa.
"Nanti aja, pah!"
"Bener kata papa, Alea pulang aja dulu bersih-bersih... nanti balik lagi kesini," imbuh mama Azkia.
"Jadi ngusir nih?"
"Gak gitu sayang, emang kamu gak risih apa pakai seragam terus dari pagi?" tanya mama Azkia.
"Iya deh Ale pulang dulu nanti ke sini lagi," ucap Azzalea tangannya sudah bersiap mengambil tasnya.
"Anterin Evan sekalian," pinta sang mama.
"Tapi mah!"
"Gak usah tan, Evan naik taxi aja soalnya motor Evan juga masih dititipin didepan SMP," kata Evan jujur.
"Jadi motor kamu masih disana?" tanya papa Azka.
"Iya om!"
"Yaudah bareng sama Ale aja, suruh anterin sampai ditempat kamu nitipin motor!"
"Tapi pah!" protes Azzalea.
"Gak ada tapi-tapian sayang, inget dia udah bantuin adek kamu loh!" bujuk Azka lembut.
"Iya deh iya! Ayok buruan gue tinggal kalau lama-lama!" ajak Azzalea sambil menyalami kedua orang tuanya. Tanpa sadar Evan pun juga ikut bersalaman dengan kedua orang tua Azzalea.
"Kakak pulang dulu, ya! Kamu cepet sembuh nanti kakak ajak main, oke jagoan!" Evan mengacak pelan rambut Azzam, sedangkan Azzam mengangguk penuh semangat.
"Oke kak!"
"Cih, modus!" dengus Azzalea sambil berjalan keluar diikuti Evan.
...----------------...