Evanzza

Evanzza
Diinterogasi Camer



Senja sudah berbuah menjadi gelapnya malam, menyisahkan dua remaja yang masih bergelut dengan pikirnanya masing-masing. Hingga tak menyadari jika sudah sampai ditempat tujuan.


Sebuah motor memasuki pekarangan rumah yang masih terbuka lebar gerabangnya, terlihat seseorang tengah duduk diteras sambil menyangga sebuah cangkir yang entah apa isi nya.


Deru mesin perlahan menghilang bersamaan dengan seseorang yang membuka helmnya, lalu seseorang lainnya turun dari atas motor.


Ia sedikit menyugar rambutnya setelah berhasil melepaskan helm full face itu, begitu juga dengan seorang gadis yang tadi ia bonceng.


"Malam om!" sapanya sambil sedikit menunduk dan tersenyum pastinya, bahkan ia tak segan menyalami laki-laki yang sejak tadi duduk diteras rumah menunggu anak gadisnya yang belum pulang.


"Malam .... Evan?" tanya nya yang tak lain adalah Azka papa nya Azzalea.


Azka sedikit terlihat bingung saat melihat anak gadis nya pulang bersama Evan padahal tadi sehabis acara Azzalea pergi dengan Cakra.


"Belum ada sehari udah beda lagi cowok nya," batin Azka sambil memijit pelipisnya. Apalagi ia teringat gurauan Devan tadi siang.


"Iya," jawab Evan sambil tersenyum menunjukkan dereatn gigi nya yang putih.


"Kok kamu pulang sama dia?" tanya Azka pada anak gadisnya.


Belum sempat Azzalea menjawab, Evan sudah menyela terlebih dahulu.


"Tadi saya ketemu Ale di Cafe om sama Cakra, terus saya berinisiatif buat anterin Ale pulang soalnya udah sore!" jelas Evan.


"Sore? Udah gelap ini!" ketus Azka.


"Hehe, maklum perjalanan om harus hati-hati!" Evan hanya bisa tertawa paksa.


"Hmm," saut Papa Azka.


"Kamu masuk dulu sana, bersih-bersih! Gak baik anak gadis mandi malam," kata Papa Azka menatap Azzalea.


"Tapi, pah!" tolak Azzalea, ia merasa tidak enak jika harus meninggalkan Evan hanya berdua bersama sang papa.


"Mandi dulu sayang!" perintah sang papa yang tak bisa dibantah.


Dengan wajah cemberut Azzalea masuk ke dalam rumah, bahkan ia masih sempat mengintip dibalik pintu karena penasaran apa yang akan papa nya lakukan pada Evan.


"Azzalea, buruan mandi atau papa hukum!" teriak Papa Azka karena tahu dengan kelakuan sang anak.


"Pelit!" gerutu Azzalea, sedangkan Evan hanya terkekeh saja melihat intraksi ayah dan anak itu.


"Kamu ngetawain saya?" tanya Azka.


"Eh gak kok om," jawab Evan.


"Duduk!" perintah Azka.


"Duduk? Siapa saya om?" tanya Evan.


"Emang ada siapa lagi!"


"Maka nya om kalau ngomong jangan irit-irit, saya kan bukan istri om yang paham maksud om!" Evan duduk di kursi sebelah Azka.


"Kamu berani sama saya?" tanya Azka kesal karena membawa-bawa istrinya, atau lebih tepatnya tak rela jika laki-laki lain membicarakan istrinya.


"Gak om!"


"Kamu apa nya anak saya?" tanya Azka.


"Temen!" jawab Evan jujur.


"Kamu suka sama anak saya?"


"Bukan suka lagi om, tapi sayang sudah jatuh cinta sama anak om! Kalau boleh mah sekarang juga udah saya bawa pulang om!" jawab Evan tanpa dosa, membuat Azka kesal.


"Kamu! Orang tua mu kerja apa?"


"Dokter, om!"


"Hmm," saut Papa Azka sambil mengaguk-anguk.


Lalu Azka melirik Evan sekilas, ia melihat penampilan Evan dari bawah hingga atas.


"Masuk kriteria calon mantu, tampangnya lebih ganteng dari si tepung ... manis juga!" batin Azka.


"Tapi modelan Evan ini mirip badboy, mending si tepung lah!" sejak tadi ia terus bergelut dengan batinnya sendiri.


Evan yang dilihat seperti itu menjadi salah tingkah sendiri.


"Pah? Kamu kira saya bapak kamu!" ketus Azka.


"Ma-maaf om, kan sama camer," ucap Evan spontan.


"Sia lan! Kenapa mulut gue suka los gini sih!" batin Evan sambil beberapa kali memukul bibirnya.


Azka pun membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna, ia tak habis pikir dengan anak muda satu ini. Padahal usinya belum genap 17 tahun tapi apa yang ia dengar tadi, hal itu sudah membuat kepala Azka pusing. Apalagi anak muda didahapannya ini sedang dekat dengan anak gadisnya.


Hah!


Azka menghela nafasnya kasar, bocah satu ini jadi mengingatkan pada dirinya saat muda dulu bersama sang istri.


"Camer? Kamu berharap saya jadi mertua kamu?" tanya Azka menahan kesalnya.


Evan pun mengangguk sebagai jawaban, ia tak berani berkata-kata lagi. Takut kebablasan.


"Tapi saya gak berharap kamu jadi menantu saya!" tegas Azka.


Deg!


Jantung Evan seolah berhenti beberapa saat bahkan atmosfer disekitar mereka berbuah mencekam.


"Masih kecil, sekolah dulu yang bener!" lanjut Azka.


"I-iya om!"


"Cita-cita mu jadi apa?" tanya Azka, ia mengabaikan raut wajah Evan yang sudah berubah.


"Jadi presiden dihatinya Ale, om!"


"Astaga mulut gue!" gumam Evan.


Azka sampai berdiri dari duduk nya saat mendengar perkataan Evan, dia hampir saja mengatakan sesuatu namun dengan cepat Evan menyelanya.


"Maksud saya presiden disebuah perusahan, om!" ralat Evan dengan cepat.


"Kamu in—"


"Ada apa sih ribut-ribut, sampai dalem loh suaranya?" tanya seorang wanita cantik dengan membawa nampan yang berisi jus untuk Evan. Karena tadi saat akan menghampiri sang suami, ia bertemu dengan Azzalea yang mengatakan jika didepan ada Evan bersama sang papa.


Dua laki-laki itu hanya diam saja tak memberi penjelasan apapun. Apalagi Evan, dia merasa sangat malu dengan ucapannya sendiri yang terlalu jujur. Harusnya ia menjawab dengan serius pertanyaan sang calon mertua.


"Ini diminum dulu, Van!" gelas yang birisi jus alpukat itu sudah berada dimeja dekat dengan Evan.


"Wah jadi ngrepotin, tan!" ucap Evan tak enak.


"Ngrepotin banget, cepat pulang sana!" usir Azka langsung mendapatkan tatapan tajam dari sang istri.


"Gak usah di dengerin apa kata Om Azka, Van ... Dia emang suka gitu, marah-marah terus. Apalagi kalau menyangkut anak gadisnya tuh," kata mama Azkia sambil melirik sang suami yang tengah melipatkan kedua tangannya didepan dada.


Evan pun mengangguk sebagai jawaban, lalu tertawa kecil melihat perdebatan suami istri itu yang berada tak jauh darinya.


"Lo belum pulang?" suara seorang gadis yang baru saja keluar dari dalam rumah membuat semua orang menatapnya.


Azzalea yang sudah terlihat segar dan wangi pun akhirnya keluar juga ketika ia mendengar keributan yang terjadi didepan rumah. Karena Azzalea mengira Evan langsung pulang tapi nyatanya ia masih duduk diteras rumahnya dengan wajah sedikit tegang.


"Suruh pulang tuh temen kamu, Al! Udah malem juga," ketus Papa Azka.


"Baru juga jam 7 pah! Papa ini kaya gak pernah muda aja? Malah lebih parah kan dulu!" bela mama Azkia sambil menatap tajam suaminya.


"Udah lanjutin aja ngobrolnya, tante sama om kedalam dulu," kata Mama Azkia sambil mendorong suaminya masuk kedalam rumah.


Barulah Evan bisa bernafas lega, entah mengapa sejak ia ditanya-tanya tadi seolah oksigen yang ada disekitarnya habis.


"Kenapa?" tanya Azzalea yang sudah duduk dikursi kosong sebelah Evan.


"Habis di interogasi camer!" celetuk Evan dengan wajah lega.


"Apa?" ulang Azzalea.


"Gak kok lupain aja, jangan dipikirin lagi biar gue aja yang mirikin semuanya .... Lo cukup mirikin gue aja!" wajah Evan berubah ceria seberti sebelumnya, bibirnya mengulas senyum manis yang membuat Azzalea salah tingkah.


"Senyum nya biasa aja!"


"Kenapa? Bikin lo jatuh cinta ya?" goda Evan sambil terkekeh.


...----------------...