Evanzza

Evanzza
Mandi Kembang



Bel pulang pun sudah berbunyi sejak tadi, Evan pun sudah siap siaga didepan kelas Azzalea tapi sayangnya gadis itu tak kunjung keluar padahal ia sudah mengamati satu persatu orang yang keluar dari dalam kelas.


Hingga matanya tertuju pada sebuah tas yang dibawa Cakra, tas milik Azzalea.


"Azza kemana?" tanya Evan sambil mengikuti langkah kaki Cakra, sedangkan Cakra hanya diam saja ia mengacuhkan Evan.


"Azza kemana, kok cuma tas nya doang?"


"Heh, gue nanya sama lo, ya!" bentak Evan, seketika itu juga Cakra menghentikan langkah kakinya ia menatap Evan malas.


"Gak tau," kata Cakra.


"Gak mungkin kalau lo gak tau, lo kan satu kelas sama dia apalagi lo satu meja ... bohong banget kalau gak tau!"


"Gue beneran gak tau, sejak dari kantin Alea gak balik ke kelas lagi," ucap Cakra sambil mendorong tubuh Evan agar menjauh.


"Siapa Alea?" tanya Evan dengan bodohnya.


"Cih!" Cakra berdecak kesal sambil menatap tajam Evan.


"Alea itu ya Azzalea, bodoh banget sih jadi orang!" ketus Cakra.


"Ohh baru tau kalau panggilannya Alea," gumam Evan, ia tak menyadari jika Cakra sudah berjalan menuju parkiran sambil menenteng tas milik Azzalea.


Dilihatnya sekeliling tak ada motor gadis itu yang berarti Azzalea sudah pulang terlebih dahulu, itulah yang ada di dalam pikiran Cakra saat ini melihat tidak ada mobil milik Ghea juga diarea parkir.


"Pung, Azza beneran udah pulang kan?" Evan masih saja memepertanyakan hal yang sama.


"Pung, siapa pung?" tanya Cakra.


"Lo lah tepung Cakra hahaa!" tawa itu memecahkan kesuraman diantara dua laki-laki itu.


"Wah ini anak belum pernah makan sepatu yak!" kesal Cakra sambil melepaskan sebelah sepatunya dan berniat untuk melemparkannya pada Evan. Tapi sayangnya Evan sudah berlari menuju gerbang sambil melambaikan tangannya pada Cakra seolah mereka adalah teman dekat padahal mereka berdua adalah rival cinta.


"Cih, awas ya lo!" gerutu Cakra, kemudian ia masuk kedalam mobilnya dan melemlarkan tas milik Azzalea pada kursi sebelah kemudi.


"Lo pergi kemana sih, Le ... lo tuh cewek tapi kenapa lo suka bolos gitu, dulu waktu tante Azkia hamil masa ia dia nyidam kabur dari om Azka makanya lo suka kabur gini," monolog Cakra sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


Cakra menatap kembali tas milik Azzalea itu, lalu menggeser benda pipih yang sudah ada dalam genggamannya. Ia mencari kontak yang bernama 'Aleaa' lalu mendial up sehingga memunculkan layar sedang memanggil nomor itu. Hingga beberapa saat kemudian tetap saja memanggil yang berarti ponsel Azzalea sedang tidak aktif. Melihat itu membuat Cakra kesal, ia bahkan sampai melmparkan ponselnya hingga jatuh tergeletak dibawah.


"Lo kemana sih, Le? Nanti kalau tante Azkia nanya gimana, tas nya udah pupang sedangkan lo nya gak tau dimana!" gerutu Cakra samnbil mencengkram stir kemudinya.


Setelah berdiam beberapa saat akhirnya Cakra memutuskan untuk pulang ke rumah dan membawa tas itu bersamanya. Ia tak jadi mengantarkan tas milik Azzalea itu karena tidak mau diberi banyak pertanyaan oleh tante Azkia apalagi jika om Azka sudah berada dirumah. Bisa-bisa ia diberi pertanyaan seoalah ia adalah tersangka yang menculik seorang gadis.


Sedangkan disisih lain Evan sedang berjalan santai di trotoar yang ada di samping sekolah. Ia berniat kembali mendatangi sebuah warung yang berada disamping sekolah, tepatnya warung yang sudah menjaga motornya saat ia terlambat tadi.


"Motornya masih dua, berarti Azza belum pulang dong? Tapi kemana itu anak?" gumam Evan, tak dipungkiri ada rasa senang saat melihat motor Azzalea masih terparkir seperti tadi pagi.


"BUU!" panggil Evan tiba-tiba.


"Eh setan, setan kau setan pergi!" ibu pemilik warung itu kaget sampai latah.


"Ganteng gini dibilamg setan, bu?" tanya Evan yang langsung duduk disebuah bangku panjang yang terbuat dari kayu.


"Maaf lah mas, mas nya juga datang tiba-tiba bikin kaget aja," ucap ibu pemilik warung.


"Maaf deh, oh ya itu yang punya motor belum balik?" tanya Evan.


Ibu pemilik warung itu melihat sebuah motor yang digunakan Azzalea tadi pagi.


"Oh punya mbak cantik itu, belum kelihatan keluar tuh mas," jelasnya.


"Iya cantik banget," kata Evan sambil membayangkan wajah Azzalea.


Evan hanya mengangguk-nganguk saja, sembari menunggu pemilik motor itu Evan memilih memesan minuman untuk menghilangkan hausnya.


Tak selang beberapa lama terlihat seorang gadis dengah berjalan mendekati sebuah warung yang memiliki tenda berwana biru itu. Tak banyak orang yang terlihat disana, hanya beberapa sedang ngopi sambil bercengkrama sedangkan yang lainnya hanya diam berfokus pada benda pipih yang dapat mengalihkan dunia mereka.


"Bu, saya mau ambil motor ... makasih udah mau jagain." suara gadis itu terdengar lembut membuat beberapa orang menoleh kearahnya termasuk Evan.


"Azzalea," gumam Evan lalu keluar dari warung mengikuti langkah kaki Azzalea.


"Iya mbak cantik, sama-sama," teriak pemilik warung yang hanya terlihat kepanya karena ia sedang sibuk membuat gorengan.


Azzalea membalikan tubuhnya dilihatnya Evan tengah menatapnya sambil menaikan sebelah alisnya menunggu jawaban gadis itu.


"Kepo!"


"Jelas lah kepo sama pacar sendiri," kata Evan.


"Sejak kapan gue jadi pacar lo!" kesal Azzalea sambil menatap Evan.


"Sejak tadi, masa lo lupa?" bisik Evan tepat ditelinga Azzalea.


Bruk!


Evan terjatuh diaspal karena dorongan Azzalea, ia tak suka dengan perbuatan Evan. Jujur saja ada perasaan aneh yang ia rasakan saat mereka sedekat ini. Dengan segera Azzalea memakai helmnya wajahnya terasa panas, entahlah mungkin karena cuacanya yang begitu cerah sehingga membuat wajahnya memerah.


"Lo tega banget sih sama pacar sendiri?" tanya Evan yang sudah bangun sambil mengusap seragamnya yang sedikit kotor.


"Sekali lagi lo ngomong kaya gitu, gue buat wajah tampan lo ini jadi jelek!" Azzalea mengacungkan jari telunjuknya tepat didepan wajah Evan.


Entah Evan yang tak tau itu sebuah ancaman atau memang cowok itu begitu bodoh dan percaya diri.


"Jadi lo ngakuin kalau pacar lo ini tampan?" goda Evan dengan senyuman manis yang terlihat jelas dibibir tipisnya.


"Lo, hasst! Susah ya ngomong sama orang batu kek lo itu!" kesal Azzalea.


"Batu-batu gini bikin lo nyaman juga," goda Evan lagi sambil berdiri tepat didepan motor Azzalea.


"Cih, nyaman dari hongkong!"


"Cepet minggir atau gue tabrak lo!" ancam Azzalea, ia mulai geram dengan makhluk satu ini


"Gue anterin!"


"Gak, gue bisa pulang sendiri ... minggir!"


"Yakin?" tanya Evan memastikan, terlihat Azzalea mengangguk dengan pasti. Tapi beberapa menit kemudian ia tak kunjung beranjak dari tempatnya. Beberapa kali Azzalea mencoba menyalakan mesin motornya tapi sayangnya motor itu tetap saja diam.


"Ayolah, jangan mogok sekarang!" gerutu Azzalea.


"Belum diservice ya?" tanya Evan tepat disamping wajah Azzalea.


"Cih, jangan dekat-dekat!" Azzalea mendorong tubuh Evan menjauh lalu merogoh ponselnya yang berada disaku celana oalahraganya itu.


Beberapa kali Azzalea mencoba menghidupkan ponselnya tapi tetap saja sama layarnya masih hitam itu berarti batrai ponselnya habis.


"Arggh! Kenapa gue sial sekali hari ini, ini semua pasti gara-gara lo!" kesal Azzalea sambil menatap tajam Evan.


"Lah, gue kan cuma mau bantu lo!"


Azzalea mengabaikan ucapan Evan, iya berjalan menuju jalan raya yang berada didepan sekolah. Walaupun ramai tapi tidak ada satu kendaraan umum yang melintas, rata-rata kendaraan pribadi yang lewat.


Tin tin


"Yok naik gue anterin!" Evan menaikan sedikit helm full facenya.


"Gak!"


"Yakin? Kalau jam sekolah udah habis jarang lo ada taxi atau angkot yang lewat sini. Kalau lo mau jalan sampai lampu merah nah disana ada bus yang lewat," jelas Evan kemudian memakai helmnya lagi.


Azzalea yang mendengar informasi dari Evan pun langsung mencari tas dan dompetnya tapi sialnya tas itu pasti sudah dibawa sahabatnya pulang, karena itu kebiasaan Azzalea sejak dulu.


"Pinjem ponsel lo!"


"Sorry bukannya gak mau kasih tapi ponsel gue lowbet," elak Evan.


Azzalea pun memijit pelipisnya, pusing itulah yang ia rasakan saat ini.


"Kek nya gue harus mandi kembang ini, biar gak sial mulu," gumam Azzalea.


...----------------...