Evanzza

Evanzza
Bilang, ada apa?



Evan yang sejak kemarin tidak mendapatkan kabar dari Azzalea menjadi khawatir, bahkan ia sampai tidak tidur hanya karena menunggu pesan dari gadisnya itu. Tapi sampai pagi ini Evan masih tidak bisa menghubungi Azzalea, sehingga ia memutuskan untuk pergi ke rumahnya.


Dinginnya air seakan menghilangkan semua kantuk yang menyerangnya, terlihat jelas lipatan dibawah kelopak matanya. Wajahnya terlihat lelah dan capek tapi tak mengurangi niatnya untuk menjemput Azzalea.


Setelah rapi dengan setelan seragam pramuka lengkap, Evan berjalan menuruni anak tangga. Dimeja makan sudah ada Rayhan yang sudah rapi juga karena ada jadwal piket pagi dirumah sakit, sedangkan Rayya tengah sibuk membuat sarapan.


"Tumben pagi-pagi sudah siap?" tanya sang papa.


"Hmmm!" Evan menenggak segelas susu coklat yang sudah dibuatkan sang mama, lalu setelah tandas ia menyalami Rayhan dan juga Rayya.


"Loh, mama udah masak nasgor kesukaan kamu. Gak mau makan dulu?" tanya Mama Rayya.


"Gak mah, Evan buru-buru!" mencium pipi sang mama.


"Kamu gak tidur selamam?" tanya sang mama, membuat Rayhan menoleh ke arah mereka berdua.


"Ada masalah?" lanjutnya lagi saat sang anak hanya diam saja.


"Nanti Evan cerita, sekarang Evan berangkat dulu!" sang mama hanya bisa mengangguk pasrah sambil menatap punggung Evan yang sudah menjauh.


"Tunben banget Evan sampai kaya gitu!" gumam Mama Rayya.


"Mungkin dia sibuk urusin kegiatan sampai gak tidur gitu, dia kan ketua osis," kata Rayhan menghibur.


"Mungkin!"


Terlepas dari kedua orang tua itu, Evan sudah menembus jalanan yang belum terlalu ramai. Ia tidak menuju sekolah melainkan ke rumah Azzalea. Pikirannya kacau, sehingga ia belum tenang jika belum melihat Azzalea.


Tak butuh waktu lama, motor sport itu sudah sampai dikediaman Azzalea. Evan langsung mematikan mesin motornya dan melepaskan helm full face nya.


"Dingin banget disini!" gumam Evan menatap sekitar sambil membenarkan letak jaketnya.


Tok tok tok!


Evan mengetuk pintu rumah bercat putih itu benerapa kali, hingga pintu itu terbuka. Terlihat Mama Azkia dibalik pintu itu sedang tersenyum manis menyapa Evan.


"Oh, Evan ... Tumben masih pagi udah sampai sini?" tanya Mama Azkia sambil mempersilahkan Evan masuk ke dalam rumah.


"Azzalea baik-baik aja kan, Tan?" tanya Evan tanpa basa basi membuat langkah Mama Azkia terhenti dan menatap Evan penuh tanda tanya.


"Soalnya dari kemaren Ale gak bisa dihubungi, Tan! Perasaan Evan jadi gak karuan, Evan takut terjadi sesuatu sama Ale!" jelas Evan yang paham akan tatapan Mama Azkia.


"Apalagi Om Azka kemaren kelihatan marah banget sama Evan, Evan jadi merasa bersalah sama Ale," kata Evan sambil mengedarkan padangannya mencari keberadaan Azzalea.


"Ini anak peka banget, mirip bapaknya! Sayang karena ke egoisan satu orang membuat kalian seperti ini!" batin Azkia.


"Tan? Tante kok malah bengong, Azzalea baik-baik aja kan?" tanya Evan yang sejak tadi tak mendapatkan jawaban.


"Eh iya, Ale baik kok! Kamu tunggu sini dulu, tante panggilin Ale," jawab Mama Azkia dan diangguki oleh Evan.


Terlihat dari tangga seseorang tengah menatap tajam Evan, membuat tengkuk Evan terasa dingin. Evan pun menoleh dan ternyata ada Azka disana sedang menatapnya tajam. Evan tersenyum sambil sedikit menundukkan kepalanya.


"Kamu ngapain disini?" tanya Azka dingin.


"Mau jemput Ale, Om!"


"Mulai hari ini jauhin anak saya, saya gak suka lihat kamu deket-deket sama anak saya!"


"Tapi kenapa om, salah Evan apa?" tanya nya bingung.


"Maaf Om, Evan gak mau!" seru Evan dengan tatapan kesal pada Azka.


Tak tak tak!


Suara langkah kaki itu membuat mereka berdua mengalihkan tatapan sengitnya. Azzalea turun dengan seragam lengkap dibalut dengan jaket maroonnya. Ia melangkah mendekati Evan tanpa memperdulikan sang papa, tatapannya lebih dingin dari biasanya. Namun sayangnya tertutup oleh kaca mata hitam yang bertengger indah dihidung mancungnya, Azzalea memang sengaja agar mata sembabnya tak terlihat.


"Ayo berangkat!" ajak Azzalea tanpa menghentikan langkahnya.


Evan yang melihat Azzalea sedikit terpaku, hingga ajakan sang gadis yang membuatnya tersadar.


"Kami berangkat dulu, Om!" pamit Evan segera menysul Azzalea.


"Ale! Azzalea!" teriak Azka karena merasa diacuhkan.


"Cih! Ini semua gara-gara Evan, kalau bukan karena dia Ale gak akan seperti ini!" gerutu Azka.


"Bukannya ini semua karena dirimu sendiri yang mengusik kebahagiaan mereka!" sindir Azkia yang berdiri tak jauh darinya.


"Belain aja terus mereka!" kesal Azka.


Azkia tak menanggapinya lebih memilih pergi ke dapur untuk melanjutkan rutinitasnya yang terhenti. Sedangkan Azka terus saja menggerutu tidak jelas.


Diluar rumah, Evan menatap dalam kekasihnya itu. Ada banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan. Namun ia urungkan karena sadar jika mood Azzalea sedang buruk, sehingga Evan lebih memilih diam dengan seribu pertanyaannya.


Azzalea terlihat lebih pendiam dari biasanya, karena ia akan protes jika Evan membawa motor tapi kali ini hanya diam sambil duduk manis dijok belakang. Bahkan Azzalea memeluk erat pinggang Evan, lalu ia menyandarkan kepalanya pada bahu Evan.


"Azzalea?" panggil Evan yang merasa aneh dengan tingkah Azzalea.


"Kenapa? Hmm?" Evan mengusap punggubg tangan Azzalea yang melingkar erat dipinggangnya.


"Biar seperti ini dulu!" pinta Azzalea.


Terasa tubuh itu sedikit bergetar yang menandakan Azzalea sedang menangis, membuat Evan bingung dan panik.


"Kenapa hmm? Cerita sama gue, siapa yang buat lo sedih kaya gini?"


Evan mengurangi kecepatan motornya karena tangan satunya sibuk memegangi tangan Azzalea, tapi sayangnya gadis itu tetap saja diam membisu. Dan semaiin terisak dalam tangisnya.


Entahlah rasanya sangat susah untuk memberi tahu Evan segalanya yang menyesakkan hatinya itu. Bahkan untuk berkata pun Azzalea tak mampu, gadis itu semakin mengeratkan pelukannya sambil sesegukan.


Dengan sabar Evan memberikan kekuatan sambil fokus pada jalanan yang mereka leeati. Hingga tak terasa mereka sampai dilingkungan sekolah, dengan Azzalea masih pada posisi semula.


Perlahan Evan mematikan mesin motor, lalu menyuruh Azzalea untuk turun. Evan dengan penuh perhatian melepaskan helm Azzalea sambil sedikit merapikan anak rambutnya yang sedikit berantakan.


Ia tak berniat melepaskan kaca mata yang bertengger dihidung mancung Azzalea karena dia sendiri juga memakainya. Lalu Evan meraih tangan Azzalea, menggandengnya dengan erat dan membawanya ke suatu tempat.


Evan tak memperdulikan tatapan dan cuitan siswa lain, apalagi kaca mata hitam itu membuat mereka berdua semakin memukau. Yang terpenting saat ini adalah kenyamana Azzalea sehingga Evan membawa gadis itu ke tempat sepi, dimana lagi jika bukan ruang osis.


Cklek!


Tak ada orang didalam ruangan itu membuat Evan bernafas lega, lalu ia menutup kembali pintu itu setelah Azzalea ikut masuk.


"Ada apa? Cerita sama gue?" tangannya bergerak memegang kedua lengan Azzalea, dan menatapnya penuh tanya.


"Jangan buat gue bingung seperti ini, Ale! Gue gak suka lihat lo nagis kaya gini, jadi bilang sama gue ada apa?"