Evanzza

Evanzza
Muka Kusut



Pagi ini wajah Evan terlihat sangat kusut, ia masih memikirkan perkataan sang papa kemarin. Dia harus bisa menjadi ketua osis terlebih dahulu sebelum berpacaran, syarat yang jarang sekali diberikan oleh orang tua pada umumnya.


Biasanya mereka tidak mengizinkan anaknya pacaran karena takut akan mempengaruhi nilai akademi mereka, tapi Rayhan berbeda. Rayhan berpikiran lebih luas lagi, ia mengizinkan anaknya pacaran karena percuma saja bila dilarang pasti akan tetap pacaran. Rayhan tidak ingin anaknya pacaran secara sembunyi-sembunyi, ia berharap anaknya bisa terbuka kepadanya apapun itu. Sehingga untuk menghindari hal itu, ia memperbolehkan Evan pacaran dengan catatan harus menjadi ketua osis.


Rayhan percaya jika Evan menjadi ketua osis, ia bisa belajar bertanggung jawab pada anggota dan organisasi. Dan soal pelajaran akademi Rayhan tau anaknya tidak akan mengecewakannya.


"Kenapa, masih pagi muka kusut gitu?" tanya Vion yang baru saja datang.


Evan masih duduk diatas motornya dengan pandangan kosong, ia bahkan tidak menyadari kehadiran teman-temannya.


"Bengong aja ini anak, kesambet baru tau rasa!" celetuk Elena, ia sudah datang bersama Andini dan menghampiri Evan.


"Van!" Vion menepuk dan merangkul bahu Evan, membuatnya terhenyak kaget.


"Loh, kalian sejak kapak disini?" tanya Evan sambil menatap sahabatnya itu.


"Dari kemaren," sinis Andini.


"Heleh," saut Evan.


"Masih muda udah banyak pikiran, lo!" ledek Vion sambil terkekeh.


"Kok lo tau?" tanya Evan.


"Heh, bener kah? Padahal gue cuma asal ngomong aja." Vion tak percaya jika yang ia bilang itu faktanya.


"Emang lo mikirin apa?" tanya Elena.


Belum sempat Evan menjawab pertanyaan Elena, ia sudah dibuat terpesona dengan kedatanyan sang bidadari.


Evan mendadak malu sendiri mengingat kejadian kemaren saat dirinya memeluk sang papa yang dia kira adalah Azzalea. Bahkan Evan tidak mendengarkan pertanyaan Elena maupun Vion, karena ia sedang terpesona oleh kecantikan Azzalea.


Bagaimana tidak Azzalea tengah berada disebelahnya sedang memarkirkan motor sportnya. Dan kini lihatlah saat Azzalea membuka helm fullfacenya seakan waktu berjalan lebih lambat dari sebelumnya. Gerakan Azzalea terlihat begitu berdamage membuat siswa-siswi yang ada disekitar parkiran sekolah menatapnya.


Apalagi rambut panjangnya tergerai indah saat helm itu terlepas dari kepalanya. Azzalea sedikit menggoyangkannya kepalanya, agar rambutnya tidak kusut.


"Cantik banget, sumpah!"


"Anak kelas berapa?"


"Pengen gue ajak healing, tuh cewek!"


"Damagenya keren bingit!"


"Pengen gue jadiin calon istri, terus ajak turing bareng,"


Begitulah cuitan yang mampu membuat telinga Evan panas, saat dirinya belum bisa mengetahui nama gadis itu sudah banyak orang yang mendambakannya.


Azzalea hanya biasa saja ia tak ingin menanggapi orang-orang yang tidak ada hubungan dengan dirinya. Azzalea lebih memilih menutup kepalanya menggunakan hoody warna putih yang sedang ia pakai.


"Bid.. eh maksudnya cewek kita belum kenalan loh, lo yakin gak mau kenalan sama gue?" tanya Evan.


Azzalea tak mendengarkan perkataan Evan, ia memilih pergi begitu saja bersama Cakra.


"Cuekin aja terus!" geram Evan sambil menendang ban motornya.


"Hahahaaa!" tawa Vion pecah begitu saja melihat sahabatnya yang sudah berkali-kali tidak dihargai oleh gadis itu.


Evan memelototkan matanya membuat Vion diam, tapi setelah Evan berbalik badan ia tertawa lagi.


"Ada saatnya yang dikagumi banyak cewek, tak terlihat dimata cewek itu!" gumam Vion sambil terkekeh.


Sedangkan Elena ia terlihat sangat kesal karena Evan lebih memilih menyapa perempuan itu dari pada dirinya.


"Apa sih bagusnya itu cewek, kenapa semuanya tertarik sama dia! Cantikan juga gue kemana-mana, sedangkan dia? Wajah datar gitu apa yang disukai coba?" batin Elena sambil menatap kesal punggung Azzalea.


Evan yang berjalan dibelakang Azzalea pun menjadi geram, pasalnya ia melihat kedekatan Azzalea dengan Cakra. Bahkan orang lain pun bisa salah paham jika melihat kedekatan mereka berdua.


"Kayanya mereka beneran pacaran deh, Van!" ucap Vion yang tiba-tiba ada disebelahnya.


"Mana mungkin?" tanya Evan balik.


"Kenapa gak mungkin, lo liat aja tuh.. mana ada temen sampai ngelus kepala gitu?" tanya Vion.


"Udah kusut makin kusut aja tuh muka," ejek Vion sambil menahan tawanya.


Evan yang melihat itu mejadi panas, seoalah ada api yang mengelilinginya. Dengan langkah cepat Evan menerobos kedekatan mereka berdua. Ya, Evan berjalan ditengah-tengah mereka sehingga tangan Cakra bisa menyingkir dari kepala Azzalea.


"Kalau mau mesra-mesraan jangan ditengah jalan, ganggu orang lewat aja!" ketus Evan.


Setelah mengatakan itu, Evan berjalan cepat tanpa menoleh kebelakang. Sebenarnya ia menyesal telah melakukan hal itu, ia tidak mau jika Azzalea semakin jauh gara-gara sikapnya. Tapi Bagaimana lagi, Evan terlalu gengsi untuk berbalik dan meminta maaf.


"Tuh orang kenapa, sih?" tanya Cakra.


"Entah," saut Azzalea.


Sedangkan Vion hanya bisa terbengong melihat tindakan sahabatnya itu.


"Evan bener-bener udah jatuh cinta ini," gumam Vion kemudian menyusul Evan yang sudah berada didepan kelas.


"Dari mana sih, lama banget!" kesal Evan saat melihat Vion menghampirinya.


"Hah, bukannya lo yang ninggalin gue tadi?" tanya Vion dengan wajah kagetnya.


"Apa iya?" tanya Evan, namun matanya tidak melihat orang yang sedang ia ajak bicara melainkan pada orang yang baru datang itu.


Vion yang paham pun langsung menoleh, dan benar saja Azzalea bersama Cakra sudah berada didepan kelasnya yang bersebelahan dengan kelas Evan.


"Perlu gue jadi makcomblang gak?" tanya Vion sambil menaik turunkan alisnya.


"Mak apa makcomblang buat siapa?" tanya Evan.


"Buat lo lah, masa iya makcomblang buat diri gue sendiri?" tanya Vion.


"Emangnya gue suka sama siapa?" tanya Evan polos, sedangkan Vion hanya memutar kedua bola matanya dengan malas. Setelah itu ia masuk kedalam kelas mengabaikan pertanyaan Evan.


"Aneh banget tuh anak," gumam Evan, ia juga ikut masuk kedalam kelasnya mengikuti Vion.


Evan bingung ketika melihat bangkunya yang sudah dipenuhi beberapa hadiah bahkan ada bunga mawar dimejanya. Bahkan Evan sempat tidak menyadari jika bangku yang penuh hadia itu adalah bangkunya.


"Ini punya siapa?" tanya Evan bingung.


Vion langsung mengambil salah satu kado yang ada diatas meja Evan, ia membacanya.


"To Evan, dari Jihan kelas XIPA 3," ucap Vion.


"Jihan siapa?" tanya Evan dengan wajah bingungnya.


"Ya mana gue tempe, kan lo yang dikasih bukan gue," ucap Vion sambil terus melihat beberapa hadia itu yang ternyata untuk Evan semua.


"Cih, buat gue satu aja gak ada... ini semua buat lo!" kesal Vion langsung menghempaskan tubuhnya dibangku sebelah Evan.


"Gue gak kenal mereka semua," gumam Evan sambil memasukkan hadiah itu ke laci meja.


Tok tok!


Suara ketukan meja yang membuat Evan mendongak dan dilihatnya sebuah kotak yang Evan tau itu adalah kotak bekal.


"Buat, lo." katanya


"Buat gue?" ulang Evan.


"Iya, gue khusus masakin ini buat lo... jangan lupa dimakan, ya!" pesannya kemudian kembali ketempat duduk.


"Makasih, Len." Evan menerima pemberian Elena karena tidak enak jika menolaknya.


"Lo mau, Vi?" tanya Evan.


"Gak, itu kan khusus buatan gebetan lo!" ledek Vion sambil terkekeh.


"Gebetan dari Hongkong!" kesal Evan langsung memasukkan bekal makanan itu kedalam laci meja.


...----------------...