Evanzza

Evanzza
Hati yang Gundah



Azzalea sedang menatap luar jendela dengan sendu, pikirannya benar-benar kalut. Ia hanya takut bila rasa suka nya tak terbalaskan, pasti akan sakit mengingat itu adalah cinta pertama untuknya. Rintik hujan seoalah semakin menambah rasa sedih yang ada didalam hati Azzalea, udara dingin yang menyapa permukaan kulitnya tak mampu membuat membuatnya beranjak. Ia terus saja melamum sampai tak menyadari jika sang papa sudah berada didalam kamarnya, sejak pulang sekolah tadi Azzalea tak keluar kamar dan itu tak seperti biasnya.


"Ale?" panggil sang papa.


Papa Azka bingung menatap putrinya termenung dideapn jendela, tangannya terulur untuk mengusap kepala Azzalea.


"Kenapa, hmm?" tanya sang papa.


"Ale, kenapa?" ulang Papa Azka sambil menatap kedua manik mata putrinya yang perlahan mulai berair.


"Papa!" Azzalea langsung memeluk erat pinggang sang papa, ia membenamkan wajahnya pada perut sispex sang papa.


"Kenapa, hmm?"


"Jangan nangis cerita sama papa, siapa yang udah berani buat putri kesayangan papa sedih?"


Papa Azka mengusap kepala Azzalea dengan penuh sayang, sesekali menepuk bahu Azzalea seolah sedang menyalurkan kekuatan.


"Kenapa sayang?" tanya Papa Azka lagi, suaranya semakin lembut agar sang anak mau bercerita.


Namun, Azzalea tetap menangis tersedu-sedu membuat Papa Azka kebingungan. Ia tak tahu apa yang diinginkan sang anak, karena tidak mau berbicara dan terus saja menangis.


"Perempuan memang susah dimengerti," gumam Papa Azka.


Puk!


Azzalea memukul pelan perut sang papa lalu mendongak, memperlihatkan wajah yang sudah memerah karena menangis.


"Cerita sama papa, ada apa sampai nangis kaya bayi gini?" ledek Azka sambil mengusap sisa-sisa air mata yang ada di pipi Azzalea.


"Entah pah, Ale juga gak tau ... Tiba-tiba pengen nangis aja," ucapnya sambil memeluk sang papa lagi.


"Pasti ada sebabnya kan sayang, apalagi baru kali ini kamu mengurung diri di kamar!" Papa Azka merubah posisi, kali ini ia sudah duduk di samping Azzalea.


Azzalea tersenyum paksa menatap sang papa, ia tak ingin Papa Azka khawatir padanya. Lalu Azzalea menggeleng dengan yakin.


"Ale baik-baik aja, Pah! Cuma agak capek aja jadi bawaannya pengen nangis mulu!" jelas Azzalea.


"Yang bener? Atau disekolah ada yang jahatin kamu?" tanya Papa Azka sekali lagi.


"Mana ada yang berani sama Ale, Pah! Kalau pun ada udah Ale sikat duluan," ucap Azzalea sambil terkekeh. Ia sangat bersyukur memiliki seoang papa sepeti Azka, yang selalu perhatian dan perduli padanya.


"Hilih, anak siapa sih ini sombong banget," celetuk Papa Azka sambil mencubit pipi Azzalea dengan gemas.


"Anak Papa Azka dong, emang anal siapa lagi yang cantik plus imut kaya gini!" Azzalea memasang senyum termanisnya membuat dengan mata yang mengedip beberapa kali.


"Jangan goda papa, papa hanya milik mama mu!" Azka terkekeh sendiri mengatakan hal itu.


"Hilih bucin nya gak ketulungan," kata Azzalea sambil mencebikkan bibirnya.


"Biarin, bucin juga sama mama mu doang, kan?" Papa Azka mengacak-acak rambut Azzalea dengan gemas.


"Ale kapan dibucinin, pengen deh punya pacar yang kaya papa gini," ucap Azzalea sendu.


"Nanti sayang, jika waktu nya tiba kamu juga bisa dapetin orang seperti papa mu ini!" Azka memeluk putrinya itu.


"Tapi orang kaya papa ini udah punah, jarang banget!"


"Kamu samaan papa sama manusia purba?" kesal Azka.


"Hehe bukan gitu papa, maksud Ale itu ... Orang yang sifatnya seperti papa ini udah jarang ditemuin, kalau pun ada mana mau sama Ale," jelas Azzalea.


"Pasti mau! Siapa sih yang gak suka sama anak papa, apalagi wajahnya mirip sama papa gini! Pasti jadi most wanted sekolah, kan!" dengan bangga nya Papa Azka mengatakan hal itu, sedangkan Azzalea hanya memutar kedua bola matanya dengan malas.


"Pasti banyak cowok yang deketin kamu, kan? Bilang sama papa siapa aja, biar papa seleksi," kata Azka sambil terkekeh.


"Papa ih kaya mau cari pegawai aja pake seleksi segala!" gerutu Azzalea.


"Terserah papa aja lah, udah sana aku mau mandi!" Azzalea mengusir sang papa agar segera keluar dari kamarnya.


"Gimana udah gak sedih lagi kan?" tanya Papa Azka sambil menaik turunkan alisnya.


"Iya, soal nya jadi kesel sama papa! Huh, udah sana ih Ale mau mandi!" Azzalea mendorong tubuh sang papa aga segera keluar dari kamarnya.


"Oke-oke! Asal besok ikut papa, ya!"


"Kemana?"


"Reuni!"


"Reuni sama mantan?" tanya asal Azzalea.


"Suutt! Jangan keras-keras kalau mama mu denger bisa salah paham, nanti kalau mama ngambek bahaya," kata papa Azka sambil celingukan melihat kiri kanan, karena takut jika sang istri mendengar ucapan Azzalea.


"Biarin, biar papa disuruh tidur diluar!" Azzalea terkekeh sendiri melihat sang papa sedikit panik jika sudah menyangkut sang istri.


"Oh, kalau gitu papa gak akam izinin kamu pacaran atau cari bucinan!" tegas Papa Azka.


"Ih papa mah ngancem mulu," gerutu Azzalea dengan wajah kesalnya.


"Bucinan aja juga gak punya!" lanjutnya lagi.


"Lalu si Evan sama Cakra di kemanain?"


"Buang ke laut!"


"Yakin tega nanti nangis lagi," goda sang papa.


"Ah tauk lah!"


"Pokoknya besok kamu ikut papa reuni sama sahabat papa, gak ada penolakan apapun!" jelas Papa Azka.


"Yah, Ale pengen rebahan aja mumpung hari minggu besok!"


"Gak ada penolakan, karena besok ada teman-teman kamu juga ... Gak kangen sama Cakra?" goda sang papa lagi, entah lah Azka sangat suka menggoda anak gadisnya itu.


"Cakra udah pulang?" tanya Azzalea.


"Kalau penasaran besok ikut aja!"


Setelah mengatakan itu Papa Azka tak terlihat lagi karena sudah menuruni anak tangga. Dan benar saja sudah hanpir satu minggu Azzalea tak bertemu dengan sahabat kecilnya itu, Cakra. Karena Cakra pergi keluar kota untuk menjenguk oma nya.


"Kangen sama Cakra? Gak juga sih!" gumam Azzalea.


"Gue lebih kangen sama orang yang udah buat gue merasa ragu, bodoh ya gue!" Azzalea menatap pantulan dirinya sendiri di cermin dengan wajah yang sedikit sembab.


"Harusnya gue lepasin dia dan gak berharap lagi, tapi kenapa sulit! Semakin gue berusaha lepasin dia semakin gue sayang sama dia," monolog Azzalea.


"Lo sebenarnya serius suka sama gue apa cuma buat mainan aja sih, Van?"


"Asal lo tau gue terlanjur nyaman sama lo!"


Hah!


Azzalea menarik nafasnya panjang lalu menghembuskan perlahan, hatinya sedang tidak baik-baik saja. Pikirannya ragu ingin menyerah tapi hatinya menolak semua itu, untuk saat ini ia tak tau harus berbuat apa. Biarkan semua mengalir seperti air dan menjalaninya, meski sulit tapi tetap harus dilewati.


Setelah beberapa saat Azzalea memutuskan untuk berendam air hangat, setidaknya itu bisa menjernihkan pikirannya saat ini.


"Gue berharap semua ini cepat berlalu," gumam Azzalea sambil menyandarkan dirinya pada kepala bathup.


...----------------...