
Fajar masih bersembunyi dibalik gelapnya malam, namun tak membuat seseorang bermalas-malasan. Jika untuk sebagian orang pasti mereka masih terlelap dalam indahnya mimpi, terlebih hawa dingin yang menusuk kulit begitu kentara pagi ini. Namun lihatlah seorang remaja sudah terbangun dari mimpinya, ia sedikit mengeliat ke kanan dan ke kiri untuk meregangkan otot-ototnya.
Setelah itu ia bergegas untuk menjalankan rutinitas paginya, ada satu hal yang membuatnya begitu bersemangat hari ini.
"Oke mandi yang wangi terus jemput bidadari!" celetuknya sambil membuka pintu kamar mandi.
Sekitar dua puluh menit lamanya ia bersibuk diri didalam kamar mandi, seragam sekolah yang sudah melekat rapi. Tak lupa dasi yang terlihat panjang hingga batas pinggang. Rambut yang ditatap rapi membuat kesan good boy nya.
"Uluh-uluh ganteng banget, pacar siapa ini?" monolognya sendiri sambil terkekeh geli, siapa lagi jika bukan Evan. Ia sudah sangat bersemangat bangun pagi karena ingin menjeput Azzalea.
Tak lupa ia menyemprotkan parfum ke seluruh tubuhnya yang sudah terbalut jas almamaternya itu.
"Uhuuk uhuuk!" bukan Evan yang terbatuk melainkan seorang perempuan cantik yang baru saja membuka pintu kamar Evan.
"Van, kamu pakai parfum satu botol?" tanyanya sambil menutup hidung.
"Eh, mama! Gak lah mah, cuma pakai dikit doang," kata Evan meletakkan kembali botol parfum itu ketempat semula.
"Dikit, sampai setengah gitu dikit?" tanya mama Raya sambil milirik botol parfum yang digunakan Evan, sedangkan Evan hanya tersenyum paksa.
"Terus tumben banget kamu udah rapi gini? Biasanya kalau belum mama siram pakai air segayung belum bangun?" tanya mama Rayya menyelidik.
"Jangan-jangan kamu ngakuin kesalahan, ya?" lanjutnya lagi sambil menatap Evan dari atas hingga bawah.
"Mama, anaknya bangun pagi bukannya seneng malah di curigai sih!"
"Habisnya aneh aja gitu, tiba-tiba berubah tanpa sebab ... atau jangan-jangan kamu udah pacaran ya sama perempuan yang kamu cerita waktu itu?" selidik sang mama.
"Mama sok tau, Evan belum pacaran mah sama dia masih proses!"
"Iyalah, udah ayo ke bawah sarapan!" mama Rayya berjalan terlebih dahulu didepan Evan.
"Mah, jangan bilang sama papa dulu oke?" pinta Evan mengikut langkah kaki sang mama.
"Aman," ucapnya sambil mementuk huruf o dengan jari jempol dan telunjuknya.
"Makasih mah, oh iya papa masih dirumah sakit?" tanya Evan karena tak melihat sang papa di meja makan.
"Ya begitulah papa mu itu, udah sayang banget sama rumah sakit sampai lupa pulang," celetuk sang mama.
"Terus adek Evan kapan jadinya kapan kalau papa sibuk dirumah sakit?" tanya Evan yang sudah duduk rapi menunggu sang mama mengambilkan nasi.
"Cie mama kesepian, ya?" goda Evan lagi.
PLETAK!
"Ahh! Sakit mah," keluh Evan yang mendapatkan jitakan dari sang mama.
"Rasain, udah buruan dimakan nanti telat! Telat jemput gebetannya," kata mama Rayya meletakkan piring berisi nasi dan lauknya didepan Evan.
Hanya sedikit obrolan yang terdengar disela-sela makan mereka, lalu setelah selesai sarapan Evan berpamitan kepada sangg mama. Mama Rayya pun mengantarkan Evan sampai teras rumah, menatap kepergian sang anak sambil melambaikan tangannya. Ia masih tak menyangka jika Evan sudah sebesar ini bahkan sudah menyukai lawan jenisnya. Padahal rasanya baru kemarin ia melihat Evan berlajar berjalan dan kini ia sudah tumbuh remeja.
"Ternyata waktu cepat berlalu, ya?" monolog mama Raya.
Setelah tak terlihat lagi bayangan Evan, mama Rayya segera masuk kedalam rumah untuk istirahat. Karena belum lama ia pulang dari rumah sakit setelah banyak pasien yang harus ia tangani.
Sedangkan Evan sudah membelah jalanan tang masih cukup sepi ini, karena ia berangkat cukup pagi bukan karena tanpa alasan. Evan berencana untuk menjemput pujaan hatinya, Azzalea.
Evan mengehentikan motornya agak jauh dari rumah Azzalea padahal ia hanya kurang beberapa meter saja ia sudah sampai dirumah pujaannya itu. Tapi sayangnya ia kalah cepat dengan seseorang.
"Cih, dasar tepung! Pagi-pagi udah nangkring disana aja," gerutu Evan yang melihat mobil milik Cakra terparkir rapi didepan rumah Azzalea.
Tak selang berapa lama muncul lah Azzalea, yang sudah rapi mengenakan seragam sekolah dibalut hoody army nya.
Evan mencengkram kuat stir motornya saat melihat Azzalea tersenyum manis pada Cakra, darahnya seakan mendidih saat melihat Cakra membuka kan pintu mobil untuk Azzalea. Setelah itu Cakra berlari kecil memutari mobil lalu masuk kedalam kursi kemudi, tak butuh waktu lama mobil itu melaju.
"Kapan sih lo bisa nunjukin senyum kaya gitu ke gue?" batin Evan.
Mobil itu melewati Evan begitu saja tapi siapa yang menyangka jika netra Evan dan Azzalea saling bertemu, Evan pun langsung mengangguk dan mengangkat tangannya untuk menyapa Azzalea.
"Dia ngapain disitu? Perasaan itu bukan rumahnya?" batin Azzalea yang masih menatap Evan dari kaca spion.
"Liat apa, Le?" tanta Cakra.
"Eh, gak liat apa-apa kok! Cuma mau ngaca aja hehe," kata Azzalea sambil memebarkan rambutnya.
"Oh iya tas gue?" tanya Azzalea.
"Aman, tuh!" Cakra menunjuk kursi penumpang yang ada dibelakang mereka, terlihat ada dua tas disana.
"Makasih, lo tuh emang sahabat gue yang paling baik!"
"Sahabat?" ulang Cakra, Azzalea pun mengangguk sambil tersenyum manis.
"Minta lebih dari sahabat boleh gak, sih?" tanya Cakra sambil menatap jalanan.
"Lo ngomong apa, Cak?"
Cakra menoleh kesamping dimana Azzalea duduk, ia tersenyum paksa sambil menggelengkan kepalanya.
"Lupain aja, gak penting!"
Azzalea hanya ber oh ria saja, pada kenyataannya ia sadar betul apa yang diucapkan Cakra. Tapi mau bagaimana lagi, ia tetap menganggap Cakra sebagai sahabatnya tak lebih dari itu.
"Sorry Cak! Gue denger apa yang lo omongin, tapi gue gak bisa!" batin Azzalea.
Karena Azzalea berfikit akan menjadi canggung jika mereka yang sudah dekat seperti saudara ini menjadi sepasang kekasih. Azzalea tak ingin kehilangan sahabat seperti Cakra, apalagi jika dalam suatu hubungan yang dinamakan pacar akan terjadi masalah dan berakhir putus. Maka dari itu Azzalea tak ingin hal itu terjadi, ia tak ingin persahabatannya hancur begitu saja.
"Sampai kapan lo baru bisa nerima perasaan gue, Le?" batin Cakra.
Tak ada pembicaraan lagi diantara mereka sampai diarea sekolah.
"Makasih, Cak!" Azzalea langsung turun saat mobil milik Cakra berhenti diparkiran sekolah. Ia tak ingin berlama-lama dengan Cakra dalam kecanggungan, karena Azzalea tak menyukai itu.
BRAK!
"Le, Azzalea!" panggil Cakra tapi sayang ia kalah cepat dengan Azzalea yang sudab menutup pintu.
"Cih, gue serius sayang sama lo, Le!" Cakra memukul beberapa kali setir mobilnga itu.
...----------------...