
Terlihat motor sport warna merah memasuki sebuah perkarangan rumah yang di dominasi warna putih. Lalu ia membuka helm fullfacenya sehingga terlihat wajah cantik namun tetap terlihat cool.
Ia melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah dengan menggendong tas ranselnya, tanpa salam ia langsung pergi menuju dapur. Terlihat wanita cantik sedang berkutat dengan peralatan dapur, entah apa yang ia buat sehingga tidak menyadari jika ada sesorang yang sudah berdiri disampingnya.
"Masak apa, mah?" tanyanya sambil mencium pipi perempuan yang dipanggil mama itu.
PYAR!
Suara benda jatuh yang tak lain adalah sebuah piring yang sedang ia cuci, perempuan itu terlihat sangat terkejut. Bahkan sangat terlihat jelas dari raut wajahnya, ia menatap tajam gadis yang membuatnya terkejut itu.
"Kenapa mah?" tanya seorang anak laki-laki yang berlari menghampiri sang mama.
"Yang kamu lihat apa? Pake nanya lagi!" ketusnya sambil menatap anak laki-laki itu.
"Ahh ampun mah, awwhh!" rengeknya sambil memegangi telinga kirinya yang sedang dijewer oleh sang mama.
"Ampun?" tanya sang mama.
"Rasain, wlee!" ledek anak laki-laki itu.
"Waah awas ya, lo! Gue pites!" geram gadis itu.
"Barani pites adek, kamu?" tanya sang mama geram.
Belum selesai keterkejutannya sudah disuguhi pertengkaran antara kakak dan adek itu.
"Mah, lepasin. Telinga Ale nanti putus loh," rengeknya sambil memegangi telinganya yang sudah memerah.
"Biarin putus sekalian, udah berapa kali mama bilang kalau masuk rumah itu salam dulu. Dan satu hal lagi jangan suka ngagetin," gerutunya.
"Ale kan gak ngagetin mama, orang Ale cuma nanya mama masak apa." gadis itu tak mau disalahkan sama sekali.
"Iya, tapi jangan tiba-tiba muncul gitu aja disebelah mama ... kamu mau mama punya penyakit jantung?" geram sang mama.
Sedangkan sang adik hanya terkekeh melihat kakaknya dimarahi sang mama.
"Ya jangan dong mah," katanya.
"Makanya jangan suka ngagetin orang tua." setelah mengatakan itu sang mama langsung melepas jewerannya.
Sedangkan gadis itu mengurungkan niatnya untuk mengambil air minum, ia lebih memilih langsung masuk kedalam kamarnya yang berada dilantai dua. Karena semua kamar ada dilantai dua kecuali kamar tamu yang berada di lantai bawah.
Sebelum ia benar-benar menaikki anak tangga, ia sempatkan untuk mendekati sang adik yang sedang asik bermain ponsel dimeja makan.
Tuk!
Ia menjitak kepala adik laki-lakinya itu, kemudian lari menuju lantai dua sebelum mendapatkan jeweran dari sang mama.
"Awwhh! Sakit kak," rintih sang adik.
"Azzalea!" teriak sang mama.
Sebagai seorang ibu dari dua anak membuat Azkia semakin cerewet, apalagi kelakuan kedua anaknya itu yang selalu membuatnya pusing tujuh keliling.
"Anak sama papanya sama aja!" gerutu Azkia setelah meliha Azzalea masuk kedalam kamar tanpa memperdulikan teriakannya.
"Kalau beda bukan anaknya dong, mah!" ucapan anak laki-lakinya itu membuat Azkia bungkam.
Ia tidak ingin berdebat dengan anak laki-lakinya itu, karena mulutnya sama dengan Azka yang terkadang menyakitkan karena yang keluar dari mulutnya adalah semua fakta tanpa adanya vilter.
Ya dia adalah Azzalea Lestyana Aldric, putri pertama dari pasangan Azka Aldric bersama Azkia Agatha. Ia terlahir dengan paras menawan, karena tentu saja keturunan dari Azka dan Azkia. Sifatnya sangat mirip dengan sang papa yang terkenal dingin dan wajah datatnya, tapi semua itu akan berubah saat dirumah.
Azzalea terlihat lebih bar-bar dari Azka waktu masih sekolah dulu, namun untuk saat ini Azzalea belum menunjukkannya. Ia gadis dingin yang tidak akan mengusik siapapun tapi jangan salah dia tidak akan tinggal diam dengan orang yang sudah mengusik ketenangannya.
Gadis dingin nan manis itu memiliki seorang adik laki-laki yang bernama Azzam Hafidz Aldric, yang sering dipanggil Azzam. Mereka berdua hanya terpaut tiga tahun sehingga Azzam masih SMP. Mereka berdua sudah seperti tom and jerry bila bersama, namun saat salah satu tidak terlihat pasti langsung dicari.
Azzalea atau kerap disapa Azza atau pun Ale, sangat menyayangi sang adik. Hanya saja keisengannya yang selalu membuat kakak beradik itu musuhan.
Azzalea sudah tidak memperdulikan teriak sang mama dari lantai bawah, ia lebih memilih bersantai dibalkon kamarnya sambil memainkan gitar kesayangannya.
Ada yang mengatakan buah jatuh tidak jauh dari pohonnya mungkin sebagian besar ungkapan itu benar adanya. Seperti Azzalea yang pandai dalam hal alat musik seperti papanya, bahkan suaranya pun tak kalah bagus dengan sang papa.
Saat ada waktu senggang mereka pasti akan menyempatkan untuk berduet. Ya, Azka memang selalu menyempat waktunya untuk keluarga, karena ia tidak ingin anaknya merasakan apa yang pernah ia rasakan. Yaitu sangat kesepian ketika kedua orang tuanya sibuk bekerja.
Sehingga sabtu minggu Azka pasti berada dirumah, sedangkan Azkia ia menjalankan bisnis butiknya. Sesekali ia menengok langsung ke butik yang sudah ia bangun sejak Azzalea kecil, butik itu ia percayakan pada asistennya.
Petikan gitar mulai memenuhi ruangan yang didominasi warna biru laut itu. Suara halus nan merdu terdengar bersamaan dengan petikan gitar.
Genggamlah tanganku, bersamaku
Kau 'kan menentukan arah
Bersama diriku yang 'kan s'lalu
Menjaga dirimu
Di setiap langkah-langkahku
Ku di sini, di sampingmu
Ku 'kan s'lalu ada untukmu
Ku di sini, ku 'kan s'lalu ada untukmu
(Ada Untukmu - Tyok Satrio)
Prok prok prok!
Suara tepuk tangan itu membuat Azzalea berbalik badan, dilihatnya seseorang yang masih menggunakan jas kerjanya berdiri dibelakangnya dengan senyuman yang bisa membuat siapapun terpesona meski sudah memilki dua orang anak.
"PAPA!" Azzalea langsung meletakan gitarnya dan memeluk sang papa dengan sangat erat.
"Anak papa lagi jatuh cinta, ya?" tanya Azka.
"Hah, jatuh cinta apa pah?" tanya Azzalea.
"Lagunya," kata Azka singkat.
"Mana ada jatuh cinta, itu lagu yang beberapa hari ini sering Ale denger dimana-mana, pah!" jujur Azzalea.
"Oh, papa juga pernah denger sih," kata Azka.
"Tuh, kan ... emang itu lagu lagi fly banget." jelas Azzalea.
"Hmmm," saut Azka.
"Papa tumben udah pulang?" tanya Azzalea.
"Kan kita udah jajian mau makan malam diluar," ucap Azka.
"Oh iya, Ale lupa!" sambil menpuk jidatnya sendiri.
"Kalau gitu Ale siap-siap dulu, ya pah!" sebelum Azzalea berjalan masuk kedalam kamar mandi, langkahnya terhenti saat mendengar suara Azka.
"Tadi kamu buat ulah, apa?" tanya Azka.
Sebenarnya pertanyaan itulah yang ingin Azka tanyakan kepada putrinya itu, tapi ternyata teralihkan oleh suara merdu sang anak. Ya Azka sudah berapa kali mengetuk pintu kamar putrinya namun tidak ada suatan dari dalam, sehingga Azka langsung masuk saja dan disuguhkan dengan suara emas Azzalea.
"Hast! Pasti si Azzam ini yang ngadu sama papa," batin Azzalea.
"Ale?" panggil Azka.
"Ah, iya pah?" tanya Azzalea yang pura-pura tidak mendengar pertanyaan Azka.
"Tadi kamu buat ulah apa lagi sama adek?" tanya Azka lembut.
"Ale gak buat ulah pah, serius!" Azzalea mengacungkan dua jarinya membentuk huruf V.
"Yakin?" tanya Azka dengan suara yang terdengar dingin.
Glek!
Azzalea menelan saliva nya sendiri mendengar pertanyaan sang papa. Pasalnya ia tahu jika Azka tidak bisa dibohongi, apalagi sang adik sudah menceritakan langsung.
Azzalea sedikit mendengus setelah itu ia mengatakan yang sebenarnya.
"Ale gak buat ulah pah, cuma tadi jitak kepala Azzam aja. Soalnya gemes banget." jelas Azzalea.
"Lalu?" tanya Azka lagi, seperti masih ada yang kurang dengan cerita Azzalea.
"Tadi mama gak sengaja jatuhin piring gara-gara kaget pas Ale tiba-tiba cium pipinya, padahla mama lagi nyuci piring," ucap Azzalea sambil menunduk.
Azka mendekati putrinya yang masih menunduk itu, ia bangga karena Azzalea mau jujur Dan itu juga yang ia terapkan kepada anak-anaknya.
Bahkan Azka sampai menyuru Azkia untuk selalu bertanya hal apa yang sudah anak-anaknya lakukan diluar rumah. Bukan ingin ikut campur hanya saja Azka membiasakan itu agar anak-anaknya lebih terbuka lagi, dan mereka bisa menceritakan hal apapun kepadanya atau sang istri.
"Lain kali jangan usil, oke?" ucap Azka sambil menepuk bahu Azzalea.
"Iya pah!" Azzalea mengerucutkan bibirnya persis seperti Azkia ketika dinasehati.
"Yaudah sana mandi udah sore." Azzalea mengangguk saja, sedangkan Azka langsung keluar dari kamar putrinya.
Azka juga harus membersihkan dirinya, terlebih lagi ia sudah kesana kemari karena banyak meeting.
...----------------...
Vote gratisnya kaka jgn lupa, Like comenr juga :)