Evanzza

Evanzza
Manja



Evan terlihat lebih bahagia dari sebelum-sebelumnya. Apalagi ketika bersama Azzalea sifat Evan akan berbuah drastis, bahkan terkadang ia terlihat kekanak-kanakan dan manja sekali pada Azzalea. Walaupun sedikit dingin dan kaku, Azzalea bisa membuat Evan nyaman bersamanya.


Seperti saat ini Evan memaksa Azzalea untuk menyuapinya karena tangan Evan sibuk dengan beberapa lembar proposal yang harus ia periksa.


Dengan terpaksa dan sedekit malu-malu Azzalea membuka bungkus roti, lalu dengan perlahan ia menyodorkan pada mulut Evan.


"Hais, kenapa tangan gue gemeteran gini sih!" batin Azzalea.


Hap!


Evan menagkap tangan Azzalea karena tak kunjung mendekat, netra nya terus menatap Azzalea membuat gadis itu semakin gugup.


"Enak," ucap Evan saat roti itu sudah masuk kedalam mulutnya. Azzalea hanya terpaku melihat semua itu hingga tanpa sadar sudut bibirnya terangkat ke atas.


"Enak dong, orang yang nyupin cantik!" puji pada dirinya sendiri untuk menghilangkan rasa canggung.


Evan tertawa gemas melihat tingkat kepercayaan diri sang pacar begitu tinggi, tangannya terulur mengusap pucuk kepala Azzalea.


"Pastilah, cewek siapa dulu?" tanya Evan dengan bangganya.


"Siapa ya? Tiba-tiba gue amnesia tuh," canda Azzalea.


Hal itu membuat Evan langsung merubah mimik wajahnya menjadi cemebrut, dan ia kembali fokus pada kertas-ketas yang ada didepannya.


"Aa lagi, Van!" perintah Azzalea namun Evan hanya diam saja.


"Ayoo buka mulutnya!" Azzalea sudah menyodorkan tangannya didepan mulut Evan tapi ia masih saja diam tak merespon.


"Cih, ngambek nih?" tanya Azzalea, dia menjadi bingung sendiri saat Evan yang biasanya cerewet menajdi pendiam seperti ini.


Azzalea meletakkan roti itu ketempat semula, ia mengamati Evan dalam diam. Entah apa yang harus ia lakukan untuk membujuk Evan agar tidak mendiamkan nya lagi, karena Azzalea tak terbiasa membujuk seseorang yang sedang merajuk.


"Van, udah ih jangan diem gitu! Gak enak tau dicuekin!" gerutu Azzalea sambil sedikit menarik ujung lengan Evan.


Aslinya Evan sudah tidak kuat dengan mode dinginnya itu, apalagi melihat Azzalea yang kebingungan menjadi tak tega.


"Vaaaan!" rengek Azzalea yang belum pernah Evan dengar.


"Hmmm!"


"Jangan cuek, gue gak suka!"


"Iya bawel!" akhirnya runtuh juga pertahan Evan, ia langsung mencubit gemas hidung Azzalea membuat siempunya hidung meringis sakit.


"Gue gak suka dicuekin, Van!"


"Maka nya jangan dingin-dingin dong, kan gue bisa masuk angin kalo tiap hari kedinginan!" serunya sambil terkekeh.


"Apaan sih, gak lucu!"


"Emang gak nglawak kok jadi wajar aja kalau gak lucu," ucap Evan.


Mereka tak menyadari jika sejak tadi ada beberapa pasang mata yang mengawasi mereka.


"Cih, kita dianggap pajangan Vin!" suara itu membuat Evan dan Azzalea menoleh.


Disana ada Vion dan Gavin yang sedang berdiri dibibir pintu tak ketinggalan Rafa yang tengah membawa dua cup ice ditangannya ikut menonton juga.


"Kalian ngapain disitu?" tanya Evan.


"Lagi nonton orang bucin!" celetuk Gavin, sambil memasukkan makanan ringan kedalam mulutnya. Mereka bertiga benar-benar terlihat seperti sedang menonton di bioskop saja.


"Maka nya cari bucinan biar jadi pemain bukan penonton aja!" celetuk Evan sambil terkekeh.


"Mana ada yang mau sama gue? Jelas-jelas gue cuma jadi pelarian aja!" seru Vion yang sudah duduk disebelah Evan.


"Pelarian?" tanya Azzalea.


"Mau balap lari dia, Za!" celetuk Gavin.


"Iya, Za! Lo gak tau, kan? Banyak cewek yang deketin Evan itu lewat gue, kalau gak gitu yang Evan tolak langsung hubungin gue minta info soal Evan!" jelas Vion yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Evan yang ditatap pun hanya nyengir saja.


"Lo kasih?" tanya Azzalea.


"Ya kasih dong tapi gak gratis. Zaa!"


Evan langsung menginjak kaki Vion, dia gak tau saja jika pacarnya itu cemburuan bisa perang dunia kalau Vion sampai salah ngomong.


"Oh gitu, masih suka respon ya?" tanya Azzalea.


"Gak Zaa serius, jangan dengerin mulutnya si Vion itu!" Evan menatap Vion yang sedang terkekeh mengejeknya sambil membujuk Azzalea agar tidak marah.


"Hmmm, awas aja sampai macem-macem!" Azzalea memberikan peringatan pada Evan, dan Evan pun mengangguk latuh.


"Zaa! Temen lo jomblo gak?" tanya Gavin yang membuat semua orang menatap bingung ke arahnya.


"Jomblo, temen gue semua jomblo!"


"Boleh dong kenalin!" buju Gavin sambil mengedipkan sebelah matanya pada Azzalea.


"Gak usah genit sama cewek orang!" protes Evan.


"Dih, posesif banget!" celetuk Vion.


"Yang mana?" tanya Azzalea.


"Yang itu—"


"Ghea!" potong Rafa dengan seenaknya saja.


"Jadi lo suka sama Ghea?" tanya Azzalea memastikan, ia tak ingin sahabatnya itu jatuh ditangan buaya. Sedangkan Gavin pun mengangguk sebagai jawaban.


"Lo serius, Vin? Gue kira lo cuma gabut aja!" celetuk Evan menatap Gavin serius.


"Gabut sama perasaan orang?" tanya Vion.


"Selamat berjuang! Walaupun agak susah," kata Azzalea.


Gavin mencari tau banyak hal soal Ghea, dari mulai makanan sampai tempat nongkrong ia tanyakan. Bahkan apa yang tidak Ghea suka juga Gavin tanyakan pada Azzalea karena ia tak ingin membuat kesan baik dihadapan Ghea.


Bahkan Evan pun sampai cemburu karena Azzalea lebih banyak ngobrol dengan Gavin dari pada dirinya.


Tak terasa waktu istirahat sudah habis, mereka pun berniat untuk kembali ke kelas masing-masing. Banyak siswi yang menyapa mereka, namun ada juga yang merasa kesal dan iri karena hanya Azzalea sendiri perempuan yang berjalan bersama mereka berempat.


Azzalea tak menghiraukan hal itu, ia tetap bersikap biasa saja. Bahkan wajahnya sudah terlihat dingin kembali, Evan yang menyadari itu hanya bisa tersenyum tipis. Ia suka dengan sikap Azzalea yang seperti itu, bisa dipastikan tak ada yang berani menggoda gadis nya.


"Nanti pulang sekolah tungguin gue," kata Evan.


"Nanti gue mau pergi sama Ghea, Nessa juga!"


"Gak, pokoknya nanti pulang sekolah tungguin gue bentar .... Habis itu lo mau kemana gue anterin, paham?" seru Evan.


"Iya-iya!"


"Gue ikut dong, Za! Sekalian PDKT sama Ghea," saut Gavin dari belakang.


"Boleh!"


"Yaudah kita semua ikut aja, siapa tau gue juga bisa deket sama Nessa!" sambung Vion.


"Nessa itu polos jangan di apa-apain!"


"Sutt! Pejuang rindu kaya lo itu diem aja dan nikmatin baik-baik rasa rindu lo yang semakin haru semakin terasa berat!" ledek Vion pada Rafa, sedangkan Rafa hanya menatap malas sahabatnya itu.


Karena memang benar yang diucapkan Vion, perasaannya semakin lama tak karuan. Bahkan ia sempat berfikir negatif soal pasangannya tapi untung saja itu tak berlaku lama karena Rafa yakin dia bisa menjaga hatinya untuk Rafa.


Karena asik mengobol mereka sudah sampai dikelas masing-masing, hanya Evan yang mengantar Azzalea sampai ke depan pintu kelas. Hal itu sudah biasa, apalagi mereka semua tau siapa Evan itu.


"Masuk gih, belajar yang bener! Calon ibu dari anak-anak gue harus pinter!"


"Kan gue udah pinter," ucap Azzalea tak terima.


"Pinter bolos kan? Udah sana masuk, gue mau balik ke kelas dulu!"


"Cih, kalau gue gak bolos lagi gimana?" tanya Azzalea, entahlah rasanya terlalu malas berjauh-jauhan dengan Evan.


"Gue kasih hadiah!" bisik Evan kemudian sedikit mendorong tubuh Azzalea karena terlihat guru sudah berjalan ke arah mereka.


.....................