Evanzza

Evanzza
Aneh



Tidur Azzalea mulai terusik saat teman-temannya masuk kedalam kelas termasuk Ghea, Nessa dan Cakra.


Perlahan mata Azzalea terbuka, ia mengerjabkan bebetapa kali hingga pandangan matanya terasa jelas. Wajah pertama yang ia lihat adalah wajah tampan Cakra, Azzalea tersenyum tipis bahkan sangat tipis sampai tidak ada yang tau.


"Akhirnya putri tidur kita bangun!" ledek Ghea yang duduk menyamping agar bisa melihat Azzalea.


"Semalam begadang lagi, ya?" tanya Nessa.


"Jangan bilang lo semalam gak tidur gara-gara maraton K-drama?" tanya Ghea.


Azzalea hanya mengangguk mengiyakannya.


"Wah parah lo!" ucap Ghea yang sengaja menggantung.


Azzalea menaikan sebelah alisnya, belum sempat ia mengatakan sesuatu sudah didahului oleh Nessa.


"Parah kenapa?" tanya Nessa polos.


"Parah banget kan gak ngajak kita, kan kita bisa nobar bareng dirumah Alea," ucap Ghea semangat, gadis itu memang selalu terlihat bersemangat dan jarang sekali terlihat bersedih.


"Yee, yang ada kita gak jadi nobar tapi di marahin berjamaah sama Om Azka." sewot Nessa yang tidak menyetujui ucapan Ghea.


"Lo lupa kita dihukum apa sama Om Azka waktu kita bilang belajar kelompok gak taunya cuma main game?" lanjut Nessa mengingatkan, sedangkan Cakra hanya diam sambil menyimak obrolan mereka.


"Hehee, serem kalau inget itu, sampai uang jajan gue dipotong sama papa.. katanya biar jera!" kata Ghea sambil bergidik ngeri.


Ya mereka bertiga pernah izin menginap karena ada tugas kelompok yang harus diselesaikan. Dengan senang hati Azka mengizikannya, terlepas dari mereka adalah anak dari sahabat Azka.


Tapi apa yang dilihat Azka, tiga gadis remaja itu asyik bermain games online yang sedang viral dikalangan anak muda. Hal itu membuat Azka marah karena mereka sudah berani berbohong dan bermain games padahal besoknya mereka masuk sekolah.


"Salah kita juga sih," kata Nessa kemudian kedua gadis itu mengangguk.


Tak Tak Tak!


Suara sepatu terdengar jelas digendang telinga mereka, membuat kelas yang tadinya riuh seperti pasar kini menjadi senyap. Mereka semua menoleh kearah pintu masuk dimana suara itu berada.


Terlihat wanita cantik dengan senyum yang mengembang diwajanyanya.


"Selamat siang anak-anak!" sapanya sambil berjalan menuju meja guru.


"Siang!" sapa mereka semua serentak.


"Bu Bertha makin cantik aja." celetuk seorang siswa yang terkenal usil itu.


"Jangan modus sama ibu, karena itu tidak akan mempan, Ngga!"


"Huuuuuuu!" seisi kelas menyoraki Angga yang gagal modus dengan Bu Bertha.


Bu Bertha adalah guru biologi yang masih terlihat cantik dan awat muda meskipun sudah memiliki dua orang anak.


"Makasih," kata Azzalea pada Cakra yang duduk disebelahnya.


Cakra menjadi bingung karena mendepat ucapan terimakasih padahal ia tidak melakukan apapun.


"Buat?" tanya Cakra.


"Buat tadi," kata Azzalea.


"Apa?" tanya Cakra spontan.


"Lo yang nutupin cahaya biar tidur gue nyenyak kan?"


Cakra menaikkan sebelah alisnya, "Gue kan baru balik dari kantin, emang siapa tadi yang ada kelas selain dia?" batin Cakra.


"Malah bengong," ucap Azzalea sambil menyenggol lengan Cakra.


"Ah, oh!" kata itu yang bisa keluar dari mulut Cakra.


Azzalea terlihat menguap beberapa kali dan itu tak lepas dari penggelihatan Bu Bertha.


"Azzalea?" panggil Bu Bertha.


"Cuci muka sana!" kata Bu Bertha yang tahu jika anak didiknya itu irit bicara.


Dengan senang hati Azzalea langsung keluar menuju toilet tanpa sepatah kata pun. Bu Bertha hanya bisa menggeleng mrlihat itu.


......................


Azzalea tak kembali ke kelasnya, ia lebih memilih menikmati semangkok mie ayam dikantin. Karena perutnya sudah sangat lapar, Azzalea makan dengan lahab hingga ia mengabaikan beberapa orang yang melihatnya.


"Boleh duduk?" tanya orang itu.


Azzalea menghentikan makannya, ia menatap orang yang sudah duduk didepannya. Tak dipungkiri wajahnya terlihat begitu menawan bak artis, tapi bukan Azzalea kalau menanggapinya.


Pria itu tersenyum manis pada Azzalea, ditangannya juga sudah membawa semangkuk mie ayam sama persis seperti Azzalea.


Azzalea tak mau ambil pusing, ia lebih memilih melanjutkan makannya hingga mie ayam itu habis tak tersisa.


Pria itu masih setia menatap Azzalea sampai ia tidak sadar jika saos yang ia masukkan kedalam mangkok sudah terlalu banyak.


Azzalea menatap orang itu dan botol saos yang ia pegang secara bergantian, pria itu tidak sadar apa maksud tatapan Azzalea karena senyum orang itu semakin mengembang saat Azzalea menatapnya.


"Aneh!" gumam Azzalea yang masih bisa didengar oleh pria didepannya itu.


"Siapa yang aneh?" tanyanya.


Azzalea tak menjawab ia memilih pergi dari meja itu meninggalkan pria yang entah siapa Azzalea tidak mengenalnya.


Pria itu menatap punggung Azzalea yang semakin lama semakin menjauh.


"Tantangan baru, gue pastiin lo akan jatuh cinta sama gue dan jauhin Evan!" ucapnya dengan senyuman yang berbeda, senyumnya kali ini menyimpan banyak niat tersembunyi.


Pria itu berdecak kesal saat ia melihat mie ayamnya sudah tertutup sepenuhnya dengan warna merah dari soas. Dengan kesal pria itu menyingkirkan mangkok mie ayam dari hadapnnya, selera makannya sudah hilang begitu saja.


"MARCHEL!" suara serah dan besar terdengar jelas ditelinga pria itu, dan ia tahu betup suara siapa itu.


"Kamu ngapain disini?" tanyanya dengan nada kasar.


"Makan pak!" jawabnya tanpa dosa.


"KAMU TAU KAN INI MASIH JAM PELAJAR, KEMBALI KE KELAS KAMU!" kata Pak Slamet.


Dengan memamerkan deretan gigi putihnya kepada Pak Slamet, Marchel langsung melesat begitu saja dari hadapan beliau.


Sedangkan Pak Slamet hanya memijit pelipisnya yang terasa pusing, beliau heran kenapa selalu saja ada anak yang sulit diatur seperti itu. Untungnya mereka laki-laki jika perempuan mungkin Pak Slamet sudah tidak bisa sabar lagi.


Sedangkan Azzalea ia memilih pergi ke UKS untuk melanjutkan tidurnya, untung saja UKS sedang sepi dan tidak ada yang bertugas sehingga Azzalea bisa leluasa tidur didalam ruang UKS.


Lain halnya dengan ketiga sahabat Azzalea yang terlihat kebingungan karena mereka tidak melihat Azzalea kembali ke kelas. Bahkan sudah 1 jam pelajaran berlalu dan sudah entah berapa kali Bu Betha menanyakan keberadaan Azzalea yang tidak kunjung kembali.


"Itu anak kemana sih?" tanya Ghea menatap Cakra.


Cakra hanya mengendihkan bahunya, karena jelas saja Cakra tidak tahu keberadaan Azzalea.


"Telepone coba," bisik Nessa, mereka sedang mengerjakan tugas yang diberikan Bu Bertha.


Cakra pun segera mengambil ponselnya yang berada disaku celana, ia mencari kontak yang bertuliskan 'Lemut'itu adalah julukan yang diberikan Cakra untuk Azzalea.


Drrtt drttt


Geteran ponsel itu terasa sangat dekat membuat mereka bertiga saling bertatapan, lalu menatap bangku yang ditempati Azzalea.


Dan benar saja ponsel bergetar itu milik Azzalea yang ditinggalkan di laci meja, Cakra mengakhiri panggilan itu karena percuma saja ponsenya ada orangnya entah kemana.


...----------------...


Maaf! Aku tidak menyerah dengan sikap dinginmu, karena aku akan menyerah saat aku benar-benar lelah untuk berjuang.


~ Evan Anggara , E H~