
Dirumah sakit Azkia sedang membantu sang mama untuk berkemas, hari ini beliau sudah diizinkan pulang mengingat kondisi yang semakin membaik. Tak lupa sang dokter memberikan resep obat yang harus diminum Mama Lala.
"Kak Rayhan, eh dokter!" panggil Azkia saat dokter itu keluar dari ruang rawat sang mama.
Dokter yang dipanggil Azkia pun menoleh dan tersenyum seperti biasa.
"Panggil kakak aja gak masalah, Ki!"
"Oke, kita bisa bicara sebentar kak?"
"Boleh," kata Rayhan sambil menoleh ke kanan dan kiri seperti mencari seseorang. Azkia pun paham siapa yang Rayhan cari.
"Azka dikantor, kak!" saut Azkia.
Rayhan hanya mengangguk sambil menggiring Azkia ke ruangannya. Azkia pun menurut karena ia ingin berbicara hal yang cukup privasi sehingga lebih nyaman jika dibicarakan diruangan Rayhan.
Mereka berdua hanya diam dengan pikiran masing-masing, sesekali Rayhan terlihat berbincang dengan dokter lainnya. Hingga tak terasa mereka sampai dirungan Rayhan.
Aroma parfum Rayhan langsung menyapa indra penciuman Azkia saat pintu ruangan itu terbuka. Netranya menyapu ruangan yang didominasi warna putih itu.
"Masuk, Ki!"
"Eh, iya kak!"
Azkia langsung duduk disofa yang ada diruangan Rayhan, rungan itu cukup luas mengingat posisi Rayhan dirumah sakit ini cukup penting.
"Soal kondisi mama kamu baik-baik aja, hanya perluh perhatikan makanannya aja karena ada yang gak boleh beliau makan!" jelas Rayhan.
"Iya kak, tapi aku kesini bukan bahas soal mama!"
"Lalu?" tanya Rayhan memposisikan duduknya menatap Azkia yang ada di depannya.
"Soal anak kita!"
"Anak kita?" ulang Rayhan bingung pasalnya Rayhan tak mungkin memiliki anak dengan Azkia karena istrinya Rayya bukan Azkia.
"Maksud aku itu anak ku sama anak kakak gitu hehe!"
"Loh kamu kenal sama, Evan?" tanya Rayhan bingung.
Azkia pun mengangguk, "Bukan kenal lagi kak, kenal banget malah!"
"Kok bisan?"
"Evan belum cerita ya sama kakak kalau dia udah punya pacar?"
"Cerita kok, soalnya aku sendiri yang buat syarat kalau harus jadi ketua osis dulu baru boleh pacaran!"
"Kakak tau pacar Evan siapa?"
"Tapi tunggu dulu, dari mana kamu tau pacar Evan? Terus kamu kenal Evan dimana?" tanya Rayhan penasaran.
"Evan pacarnya Azzalea, kak! Dia anak aku," jawab Azkia.
"Apa? Kok bisa?" tanya Rayhan kaget.
"Entahlah kak, dunia yang kelihatannya luas ini ternyata bisa mempertemukan kita yang sudah lama tak berkabar dan bertemu," kata Azkia.
"Jadi perempuan yang selama ini Evan perjuangkan itu anak kamu?" tanya Rayhan memastikan.
"Iya, dan sayangnya perjuangan Evan baru dimulai, kak!"
"Maksudnya?"
"Suami aku tau Evan anak kamu, lalu dengan egoisnya dia melarang hubungan Ale dan Evan ... Bahkan menyuruh Ale buat putusin Evan," kata Azkia, Rayhan dengan seksama mendengarkannya.
"Kenapa? Apa alasannya Azka seperti itu? Bukan kah mereka berdua saling suka?" banyak pertanyaan yang terlontar begitu saja dari mulut Rayhan.
Azkia hanya diam sambil menatap Rayhan, lalu menghela nafasnya berat.
"Karena Evan anak mu, kak! Azka tidak setuju dengan alasan dia anak dari orang yang dulu menjadi rival cintanya," kata Azkia.
"Padahal waktu Evan minta izin buat pacaran sama Ale, Azka kasih izin eh pas kemaren dia tau Evan anak kamu langsung berubah pikiran, kak!" lanjut Azkia.
Rayhan langsung diam tak bisa berkata-kata lagi, ia mencerna setiap perkataan Azkia. Bukan kah masalah itu sudah lama, belasan tahun lalu kejadian itu toh sekarang mereka sudah hidup dengan pasangan masing-masing. Rayhan pun sudah iklas jika cinta pertamanya itu bahagia bersama yang lainnya, Rayhan sudah bisa menerima semua itu. Ia lebih memilih fokus pada pekerjaan dan keluarga kecilnya saat ini.
"Anakmu mau putus sama Evan?" tanya Rayhan setelah bergelut dengan pikiran masa lalunya.
"Ale itu mirip papa nya, kalau punya keinginan gak bisa dilarang kak! Ya jadi saat ini Ale marahan sama Azka," jelas Azkia.
"Kamu sudah coba bicara sama Azka soal masalah ini? Kalau mereka berdua memang saling suka aku akan dukung selagi tidak memperngaruhi sekolah," kata Rayhan.
"Sudah kak, tapi Azka ya tetap pada pendiriannya! Maka nya aku datang kesini buat minta tolong sama kakak buat bicara sama Azka, kasian anak-anak kak!"
"Aku usahakan!"
Kemudian setelah pembicaraan itu Azkia pamit untuk pulang karena sang papa sudah menghubunginya dan menunggu diparkiran rumah sakit.
"Aku pulang dulu kak!" pamit Azkia, Rayhan pun hanya mengangguk saja karena tiba-tiba saja kepalanya jadi pusing.
Rayhan menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa, pikirannya masih terngiang dengan perkataan Azkia tadi. Ia juga tidak menyangka jika anaknya akan berpacaran dengan anak Azkia, gadis yang dulu pernah menjadi cinta pertamanya namun harus merelakannya karena lebih memilih Azka dari apda dirinya.
Kini terulang kembali pada anaknya, Rayhan tak ingin anaknya merasakan rasa sakit saat melihat orang yang dicintainya bersama orang lain. Apalagi jika mereka saling suka hanya masalah pada Azka yang belum bisa menerima kehadian Evan yang ternyata anak musuhnya dulu.
"Hah, kenapa jadi seperti ini?" gumam Rayhan.
Rayhan memutuskan setelah pulang nanti akan membicarakan semua ini pada Evan, mungkin saja Evan belum tau akar permasalahannya. Dan Rayhan berencana akan memceritakan semua tentang masa lalunya pada Evan yang bersangkutan dengan kisah cintanya saat ini.