Evanzza

Evanzza
Dokter Duda



"Dari mana?"


Langkah kaki Evan tiba-tiba terhenti saat terdengar suara yang sangat ia kenali. Evan tak berani menoleh ke samping dimana sumber suara itu berada, ia terus menunduk agar wajahnya yang lebam tak terlihat.


"Dari mana?" pertanyaan itu terulang untuk kedua kalinya.


"Pergi sama Vion, pah!" saut Evan kemudian.


Rayhan merasa aneh melihat anaknya yang tidak seperti biasanya itu, ia terus menunduk bahkan tidak berani manatap lawan mainnya.


"Kalau ngomong itu lihat orangnya!" ketus Rayhan.


Dengan ragu Evan mendongak menatap sang papa yang sudah berdiri didepannya sambil menatapnya tajam. Rayhan memang orang ramah dan sabar tapi ia juga manusia biasa yang ada kesal tak melulu berbuat baik.


"Kamu mau jadi jagoan?" sentak Rayhan melihat anak semata wayangnya babak belur.


"Bu-bukan begitu pah," bela Evan.


"Lalu apa? Kamu mau bilang kalau jatuh gitu?" tebak Rayhan.


Evan hanya memasang wajah bodohnya dengan tawanya karena ia merasa malu apa yang ia pikirkan sudah terlebih dulu diketahui oleh sang papa.


"Jangan berantem, papa harus berapa kali bilang ini sama kamu?" tanya Rayhan.


"Maaf, tapi Evan gak salah pah! Tadi waktu Evan pulang tiba-tiba ada yang keroyok Evan," jelas Evan.


Ia melihat sang papa dengan telatennya membersihkan dan mengolesi obat pada wajah Evan walaupun beberapa kali terdengar ceramah dari Rayhan tapo ia tetap mengobati anaknya.


"Terus?"


"Ada yang bantuin Evan, kalau gak mungkin Evan udah ada dirumah sakit."


"Siapa?"


"Entahlah, yang jelas dia jago banget berantemnya... Evan aja kenalan tapi dia diem aja mirip seseorang yang Evan suka!" jelas Evan sambil senyum-senyum sendiri.


Rayhan yang kesal anaknya memikirkan orang lain, dengan sengaja ia menekan luka Evan sehingga membuatnya merintih kesakitan.


"Sshhhh! Pelan-pelan pah! Papa ini dokter tapi gak ada lembut-lembutnya sama sekali... heran aku kenapa mama bisa betah sama papa!" gerutu Evan, ia tak tau jika hal itu membuat papanya kesal.


"Apa kamu bilang?"


Tuk!


Tuk!


Rayhan menekan lagi luka yang ada disutu bibir Evan sehingga terdengar teriakan yang sangat mengganggu pendengaran.


"Sakit, Pah!" rengek Evan sambil menjuah dari sang papa.


"Apa? Mau lagi? Oke sini?" Rayhan mendekati anaknya itu tapi siapa yang menyangka jika Evan akan kabur ia berlari dan bersembunyi dibelakang Rayya yang baru saja datang dari dapur membawa secangkir kopi.


"Ee awas nanti tumpah kopinya." Rayya memperingati anak semata wayangnya itu yang berusaha bersembunyi dibelakang punggungnya sedangkan sang suami sudag berdiri didepannya.


"Papa tuh, mah... orang ngobatin gak ada lembut-lembutnya sama sekali, yang ada makin sakit ini!" Evan merengek kepada sang mama sambil menunjukkan lukanya.


"Astaga Evan! Kamu berantem lagi, mama udah bilang berapa kali sama kamu jangan berantem jadi anak baik sehari aja bisa gak sih!" kesal Rayya sambil menjewer telinga Evan.


"Ampun mah ampun, Evan gak berantem ini tadi darurat!" bela Evan sambil memegangi telinganya yang sudah memera akibat jeweran Rayya.


Sedangkan Rayhab sudah duduk kembali disofa sambil menyeruput segelas kopi yang dibuatkan sang istri, kali ini biarkan sang istri yang mengajari anak bandel itu. Ia hanya bersantai sambil menikmati pemandangan anak dan ibu yang sedang beradu argumen itu, ini lah yang Evan takutkan kemarahan Rayhan tidak ada apa-apa dibandingan Rayya. Jika Rayya sudah marah bisa-bisa siang sampai siang lagi masih membahas hal yang sama.


"Darurat apa sampai harus berantem kaya gini?" Rayya tak melepaskan jeweran itu.


"Ampun mah, sakit ini... tadi tuh Evan dihadang gak tau sama siapa, terus mereka ngajak berantem yaudah Evan ladenin kan?" jelas Evan dengan wajah memelas.


"Nah itu akibat kamu selalu banyak masalah, jadi mereka mau balas dendam sama kamu... untung cuma luka kaya gini kalau sampai kamu kenapa-kenapa gimana!" Rayya marah tiada hentinya.


"Maaf, mah!" lirih Evan sambil menunduk sekilas ia menatap sang papa seolah sedang meminta bantuan. Tapi apa Rayhan tak menanggapinya, biarkan saja itu yabg terbaik agar Evan tak terus-terusan membuat masalah.


"Paaahhh, bantuin aelah!" gerutu Evan.


"Ta-tapi pah!" rengek Evan seperti anak kecil.


"Apa! Kamu itu harus berapa kali mama ingetin? Jangan berantem, jangan buat masalah supaya kamu itu gak ada musuh... kalau kamu kenapa-kenapa dijalan gimana?" Evan hanya diam saja mendengar omelan Rayya.


Memang benar yang diucapkan Rayya tapi perasaan ia tak memiliki musuh siapapun kecuali satu orang itu, Kevin. Orang yang selalu memancing emosi Evan, orang yang tidak suka melihat Evan bahagia.


"Si al lan! Orang yang dipanggil bos tadi Kevin!" batin Evan tangannya sudah terkepal kuat bahkan rahangnya sudah mengeras.


Set!


"Diajak ngomong kenapa jadi bengong? Udah masuk kamar sana, awas aja kalau sampai buat ulah lagi... mama pastiin kamu gak akan dapet uang saku selama satu bulan!" tegas Rayya.


"Yah yah mama jangan gitu doang, Evan gak akan berantem lagi tapi uang saku Evan jangan diberhentiin," rengek Evan sambil memasang wajah memelasnya dengan pupy eyes membuat sang mama sedikit tidak tega.


"Hmm, yaudah masuk kamar sana!" Rayya membuang nafasnya kasar untuk meredakan emosinya.


Setelah melihat punggung Evan hilang dibalik pintu kamarnya, Rayya ikut bergabung bersama sang suami yang tengah duduk dimeja.


"Nasehatin anak kamu itu loh mas," kata Rayya dengan wajah yang masih memerah.


"Anak kamu kan," saut Rayhan sambil meletakkan secangkir kopinya diatas nakas.


Rayya yang masih dalam mode pendingan setelah marah-marah seolah tersulut kembali amarahnya mendengar perkataan snag suami.


"Kan kita buatnya bareng jadi anak kamu juga lah mas!" ketus Rayya sambil melipatkan kedua tangannya didepan dada, bahkan ia sudah mengibarkan bendera perperangan pada Rayhan.


"Jangan marah-marah nanti darah tinggi," saut Rayhan dengan senyuman manis.


Tidak bisa dipungkiri pesona Rayhan yang sudah hampir memasuki kepala empat itu semakin menawan bahkan Rayya saja yang tiap hari melihatnya tetap saja terpesona.


Ditambah senyum hangat yang selalu Rayhan tunjukan itu membuat siapa saja menjadi nyaman bila didekatnya.


"Gak masalah darah tinggi, kan ada kamu bisa jadi dokter pribadiku," saut Rayya.


"Kalau aku gak mau?" tanya Rayhan sambil menaikan sebelah alisnya.


"Ya harus mau lah, kan aku istrimu. Masa tega lihat istrinya sakit?" tanya Rayya.


"Kan kamu juga dokter," ucap Rayhan.


"Cih, yaudah lah nanti aku cari dokter yang duda buat rawat aku kalau sakit!" ketus Rayya sambil beranjak dari duduknya.


"Kamu berani?" tanya Rayhan yang tak dihiraukan oleh Rayya.


Srett!


Rayhan menarik pergelangan tangan sang istri, ia yang tidak siap ditarik tiba-tiba seperti itu akhirnya jatuh dipangkuan Rayhan.


Mata mereka saling terkunci dalam diam, hingga Rayhan mencubit gemas hidung mancung Rayya membuatnya tersadar dan mencoba berontak tapi sayangnya tangan Rayhan yang melingkar dipinggangnya terlalu kuat sehingga sangat sulit untuk Rayya keluar.


"Lepasin, aku mau cari dodu aja!" tangan Rayya terus berusaha melepaskan pelukan sang suami.


"Dodu apa lagi?" tanya Rayhan.


"Dokter duda, kan enak tuh dirawat sama du emmpp," Rayhan tidak ingin mendengar perkataan itu dari mulut sang istri sehingga ia harus membungkamnya.


"Emmbb epasin suaswah na pas!" kata Rayya tidak jelas, bahkan ia sudah mendorong tubuh Rayhan agar menjauh.


Setelah puas akhirnya Rayhan melepaskan sang istri, tapi tidak dengan pekukannya karena tangan Rayhan semakin posesif memeluk pinggang sang istri.


"Makanya jangan berani cari dadu atau apalah itu, awas aja atau aku akan menghukum mu!" tegas Rayhan.


"Dodu, sayang!" ralat Rayya sambil tersenyum tipis menatap Rayhab yang kesal.


"Bodo amat! Awas aja kalau sampai berani!" ancam Rayhan sambil mencium pipi Rayya sekilas.


...----------------...