
Marahari terlihat bersinar terang dari ufuk timur, menyisahkan dahan dan daun yang basah terguyur hujan deras semalam. Udara disekitar terasa lebih dingin dari baisanya membuat siapa saja enggan untuk bersentuhan dengan air. Bahkan mereka memilih memggulung tubuhnya kembali dengan selimut.
Tak terkeculi Evan, yang sejak tadi mematap malas pada handuk yang sudah berada ditangannya. Entahlah sepertinya pagi ini Evan cukup bermusuhan dengan air, karena sudah beberapa kali Evan berjalan menuju kamar mandi namun lagi-lagi ia berhenti dan mundur.
"Gak usah mandi kali, ya? Dingin banget," gumam Evan. Bahkan ia sampai mencium bau badannya sendiri untuk memastikan masih wangi atau tidak.
"Wangi kok, nanti tinggal semprot parfum aja beres!"
"Tapi nanti kalau boncengan sama Azza terus dia nyium bau tak sedap gimana?"
"Mandi lah, masa anak ganteng gak mandi! Malu lah sama ayam yang gak pernah mandi!"
"Tapi dingin, berasa lagi didalam frezer!"
"Mandi gak mandi gak mandi lah!"
Akhirnya setelah perdebatan dengan dirinya sendiri Evan memutuskan untuk mandi, meskipun dingin ia tahan. Karena ia ingin selalu tampil wangi didepan Azzalea. Kata orang perempuan itu suka laki-laki yang wangi, maka nya Evan selalu saja wangi disetiap kondisi.
Tak butuh waktu lama Evan sudah tampil rapi seperti biasanya, dengan seragam yang selalu dimasukan berikat pinggang, bahkan dasi pun sampai menjutai kebawah. Kesan good boy selalu melekat pada dirinya namun terkadang Evan bertingkah diluar nalar, apalagi mulutnya yang licin seperti belut sawah.
Dengan segera ia menyambar tas ranselnya, tak lupa kunci motor dan juga jaketnya. Lalu ia menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa karena sudah terlambat untuk menjemput Azzalea.
"Evan sarapan dulu!"
Langkag kakinya terhenti ketika sang mama memanggilnya untuk sarapan, terpaksa Evan berbalik berjalan menuju ruang makan.
Evan menyambar roti yang sudah diberi selai coklat, lalu mencium pipi wanita paruh baya itu untuk segera berangkat. Tak lupa Evan melakukan hal yang sama pada Rayhan, padahal sudah berapa kali ia menolak untuk dicium Evan.
"Makan yang bener, Evan!" perintah sang mama.
"Evan buru-buru, mah! Udah terlamabt," serunya setelah mencium punggung tangan sang papa.
"Pah jangan lupa, atau mau Evan aja yang kasih papa cucu?" goda Evan lagi sambil mengerlingkan sebelah matanya dan menatap sang mama.
"Evan!" kesal Rayhan yang hampir tersedak makanannya.
"Cucu apa, Van?" tanya Rayya penasaran.
"Itu Evan minta dekbay sama papa, kalau gak dikasih Evan aja yang ngasih ... Jadi kalian nanti punya cucu!" setelah berkata seperti itu Evan langsung berlari menuju garasi, ia tak ingin habis digantung oleh kedua orang tuanya.
"EVAN! SEKOLAH DULU YANG BENER JANGAN MIKIRIN NIKAH!" teriak mama Rayya diambang pintu karena ia sempat mengejar Evan untuk menjewer telinganya.
"Hah, untung cuma punya anak satu! Coba kalau banyak bisa stres aku," gerutu Rayya yang sudah kembali ke dapur.
"Minta adek anakmu itu!" seru Rayhan sambil mengusap mulutnya dengan tissu.
"Lalu?"
"Ya kalau gak dikasih dia yang mau kasih kita cucu," jawab santai Rayhan.
"Uhuuk uhuuk!" Rayya langsung menyambar segelas air putih yang ada didepannya, perkataan Rayhan terlihat biasa namun membuatnya sangat kaget.
"Kamu bercanda? Evan itu masih kelas 2 SMA, gimana mau ngasih cucu? Aku gak mau dia berbuat hal-hal diluar batas!"
"Yaudah berarti kita yang kasih dia adek!" Rayhan menepuk pelan pucuk kepala Rayya sambil tersenyum manis, perkataan itu bisa membuat Rayya terbengong mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Rayhan.
Satu kecupan singkat dipipi Rayya semakin membuat wanita itu terbang melayang, Rayhan benar-benar bisa membuatnya hilang akal. Apalagi sifat hangat dan penyayangnya semakin membuat Rayya jatuh cinta lagi.
"Duh, aku harus apa?" monolog Rayya sambil memegang pipinya yang dicium Rayhan.
"Beneran kasih adek, Evan?"
Saat Rayya tengah bergelut dengan pikirannya, disisih lain sang anak tengah beradu mulut dengan orang tua kekasihnya.
Ya, Evan sedang berdebat dengan Azka yang melarangnya menjemput Azzalea. Ia masih tak mengizinkan Azzalea bersama Evan dengan alasan apapun itu.
"Om, om gak bisa gini dong! Yang lalu biarlah berlalu, kita sambut masa yang akan datang om!"
"Maksud kamu apa?"
"Evan tau kok alasan om larang hubungan Evan sama Azzalea," jawab Evan.
"Bagus kalau kamu tau, sekarang kamu pergi jauh-jauh dan jangan dekat anak saya lagi!"
"Gak bisa! Evan gak akan lakuin permintaan om, karena Evan cinta sama Azza!" tegas Evan.
"Anak kemarin sore tau apa kamu soal cinta? Pasti papa kamu yang ajarin kamu kaya gini!" sarkas Azka.
"Om jangan bawa-bawa papa saya, karena semua ini gak ada sangkut-pautnya. Evan itu beneran sayang sama Azza, apapun akan Evan lakukan asal jangan suruh Evan jauh ataupun putus dari Azzalea!"
"KAMU!" Azka tak bisa berkata-kata lagi mendengar jawaban Evan.
"Jadi Evan mohon, jangan pisahin kita! Papa Evan udah bahagia sama mama, otomatis gak akan pernah ganggu istri om!"
Deg!
Azzalea dan Mama Azkia pun kaget mendengar ucapan Evan, bahkan mereka hanya bisa diam membisu diambang pintu.
"Om itu jangan terlalu posesif, posesif boleh tapi jangan berlebihan om! Karena sesuatu yang berlebihan itu gak baik, om boleh kekang mereka tapi lama kelamaan mereka akan brontak dan ninggalin om! Dan jika saat itu tiba, om lah orang pertama yang salah!"
Azka hanya diam saja mendengar setiap ucapan Evan, bahkan ia tak bisa menjawab semua itu. Evan yang tau Azzalea sudah diambang pintu pun langsung menghampirinya dan menggenggam erat jemari Azzalea. Tepat didepan Azka mereka berdua berhenti, mengulurkan tangan untuk berpamitan.
Azka enggan memerima uluran tangan itu, namun dengan cepat Evan menyambar nya dan mencium takzim begitu juga dengan Azzalea.
"Evan gak ada maskud buat lancang sama om, atau nyuruh Azza buat berani sama om. Evan cuma minta, om setuju sama hubungan kita dan jangan berfikir yang aneh-aneh!"
"Masalah om, tante sama papa itu udah lama ... Mungkin Evan dipertemukan dengan Azzalea karena memang takdirnya seperti ini!" lanjut Evan, sedangkan Azzalea hanya diam saja sambil menunduk. Kedua matanya terada panas, ia tak berani menatap sang papa.
"Kam—"
"Udah, By!" Azkia langsung merangkul lengan Azka agar tak terus-terusan marah, perkataan Evan ada benarnya namun caranya mungkin sedikit salah.
"Udah kalian buruan berangkat, jangan sampai terlambat!" perintah mama Azkia.
"Maaf tante, om... Evan cuma gak ingin pisah sama Azza, sekali lagi maafin perkataan Evan yang terbawa emosi!" Evan menunduk sebentar lalu menarik tangan Azzalea agar mengikutinya, mereka berdua segera berangkat ke sekolah dengan pikiran masing-masing.
"Lihat lah, berani sekali dia membentak ku! Dia pikir dia siapa?" tanya Azka menatap kepergian Evan dan juga Azzalea.
"Calon mantu mu!" saut Azkia.