
Azzalea berjalan gontai menuju kantin, pikirannya sedang tidak fokus pada kenyataan. Ya kenyataan dimana saat Evan berkata bahwa Azzalea hanya teman saja, padahal Azzalea sudah menatuh hati pada Evan. Meski pun tak berucap tapi tak bisa dipungkiri semua tingkah dan perhatian yang selama ini Evan berikan mampu membuat hati seorang Azzalea tergugah. Ia sudah merasakan getaran-getaran cinta yang tumbuh dalam lubuk hatinya, tapi sayangnya ia merasa kecewa saat Evan mengatakan ia hanya temannya saja saat didepan Marchel.
"Harus nya gue gak terlalu berharap! lagian udah hampir naik kelas tapi masih aja gak ada kemajuan!" gerutu Azzalea.
"Masa iya gue ke ghosting? Apa kata-kata Cakra waktu itu bener ya? Evan cuma main-main doang sama gue gak lebih?" gumam Azzalea.
Gadis itu tak menghiraukan siswa lainnya yang sedanf menatapnya aneh karena berbicara sendiri, ia terus melangkag sampai dipintu masuk kantin.
"Kok lo ninggalin gue sih, es ale-ale?" tanya seseorang yang terlihat ngos-ngosan, ada bulir keringat yang terlihat dijidatnya. Bisa dipastikan ia berlari untuk mengejar Azzalea.
"Biarin!" ketus Azzalea.
"Kok biarin sih, lo tega banget ninggalin gue padahal kita kan dihukum beruda? Harusnya istirahat berdua juga dong!" celetuk Evan sambil menaik turunkan alisnya.
"Ralat, kita bertiga tuh!" ingat Azzalea karena memang mereka dihukum bertiga.
Hubungan Azzalea dengan Evan pun memang semakin dekat apalagi Evan sering bermain dirumah Azzalea karena permintaan Azzam. Hanya sekedar belajar main basket atau alat musik, Azzam selalu meminta Evan yang mengajarinya. Papa Azka pun tak melarang selagi semuanya untuk kebaikan sang anak.
"Lo marah?" tanya Evan tang sudah beridiri didepan Azzalea.
"Gak! Buat apa gue marah?" tanya balik Azzalea.
"Entah, tapi gue ngrasa lo beda aja... kaya lagi kesel sama gue?" tebak Evan.
"Ini orang apa dukun sih," batin Azzalea.
"Gue bukan dukun atau cenayang seperti yang lo pikirin, gue cuma seseorang yang sedikit peka dengan sekitar," celetuk Evan.
"Nah kan dia tahu apa yang gue pikirin," batin Azzalea.
"Jangan marah, gue gak suka kalau lo marah sama gue... rasa nya tuh sakit tapi gak berdarah!" jelas Evan dengan wajah memelas mematap Azzalea.
"Halah, awas minggir gue haus!" Azzalea menggeser tubuh Evan agar menyingkir dari hadapannya.
Evan tak menyerah begitu saja, ia mengekori kemana pun Azzalea melangkah, sudah mirip seperti anak ayam yang takut kehingan induknya.
"Sana lah jangan ngikutin gue mulu!" kesal Azzalea.
"Kenapa? Gue kan mau nya deket sama lo biar adem," kata Evan yabg sudah duduk dihadapan Azzalea.
"Mau adem deket frezer sana!"
"Frezernya kan kamu!" goda Evan yang membuat Azzalea sedikit tersenyum.
"Udah lah sana, kita kan cuma TEMEN! Jadi gak perlu terlalu dekat juga, lagian bentar lagi Ghea sama Nessa juga kesini," ucap Azzalea dan sempat menekan pada kata Teman.
"Kok gitu sih, Ale? Lo lagi ada tamu ya? Kok marah-marah mulu?" tanya Evan blak-blakan.
"Gak! Udah sana pergi! Gue lagi males lihat wajah lo!" Azzalea mengusir Evan agar pindah tenpat duduk.
"Awwhh sshh!" rintih Evan karena bahu yang sakit tak sengaja tersentuh Azzalea.
"Eh kenapa? Mana yanf sakit?" Panik Azzalea.
Evan pun tak menjawab ia terseyum menatap Azzalea yang terlihat panik, itu artinya Azzalea perduli dengannya.
"*Gue tau perasaan lo, Ale... tapi sabar dulu ya! Tantangan gue belum terwujud, tapi tenang aja bentar lagi dengan semua usaha gue selama ini. Gue yakin bentar lagi gue bisa gantiin posisi Gavin, jadi lo sabar dulu ya, es ale-ale kesayangannya Evan!" batin Eva*n sambil menatap wajah cantik Azzalea yang tengah panik perihal sakit yang dirasakan Evan.
"Sabar ya, tunggu gue!" gumam Evan melow.
"Hah apa?" tanya Azzalea sambil menatap Evan, karena Azzalea tak begitu mendengar apanyang dikatakan Evan.
Plak!
"Apa sih, gak jelas banget!" Azzalea menabok punggung Evan.
"Serius sakit, nih lihat wajah gue habis berantem tadi kan!" Evan menunjukan luka yang ada diwajahnya.
"Salah sendiri sok jadi jagon, padahal kalau lo gak datang pun gue bisa tuh urusin si Marchel... bahkan tanpa luka!" jelas Azzalea yang sudah duduk kembali dibangkunya.
"Gue mana tega lihat cewek gue di gituin sama cowok lain!" gumam Evan.
"Hah apa?" tanya Azzalea.
"Suapin makan! Gue laper," kata Evan mengelak.
"Tangannya ada tuh," kata Azzalea.
"Sakit, ayang!" goda Evan membuat Azzalea membelalakkan kedua bola matanya.
Plak!
"Sakit! Astaga hobi banget sih mukul, nanti gue cacat gimana gak bisa jadi ayah dari anak-anak mu!" celetuk Evan tanpa beban.
BRAK!
"Hayoo loh gombal mulu!" Ghea datang dengan menggebrak meja yang membuat Azzalea dan Evan terkejut. Dibelakang Ghea ada Nessa dan juga Dafa yang juga ikut bergabung dengan mereka, tak ketinggalan Vion yang baru saja datang.
"Gak gombal, Ghe! Jujur ini!" jelas Evan.
"Halah, omong doang lo mah tapi kenyataannya nol.. masa pedekate udah hapis setahun? Lo kredit motor atau giamana sih?" tanya Ghea sedikit menyindir Evan.
"Nanti, Ghe! Nanti kalau udah saatnya langsung gue lamar kok," kata Evan.
"Cowok itu yang dipegang omongannya, Van! Jadi jangan terlalu banyak omong kalau gak ada buktinya, jatuhnya kan cuma PHP!" Dafa pun akhirnya ikut ambil suara karena ia juga tak ingin sahabatnya hanya menjadi mainan saja.
"Gue tau, Daf! Tapi gue masih ada... ah udah lah lupain, pokoknya tunggu waktu yang tepat!" jelas Evan, jujur saja ia sedikit merasa bersalah dengan Azzalea tapi mau bagaimana lagi urusannya dengan sang papa belum selesai jika ia berani berbohong entah apa yang akan papa Rayhan lakukan padanya. Mungkin saja Evan akan dipindahkan sekolah, yang jelas ia tak ingin hal itu terjadi. Sehingga bersabar sedikit lagi saja dari pada gagal semua usahanya selama ini.
"Tenang aja kalau Evan udah jadi kempp emp!" mulut Vipn pun langsung dibekap oleh Evan, ia tak ingin orang lain mengetahui syaratnya itu. Bairkan dia saja yang tahu dan menjalaninya karena Evan tak ingin membuat Azzalea merasa bersalah.
"Apa sih, kalian ini?" tanya Nessa.
"Udah kalian pesen makan gih, sekalian ayang gue tuh belum makan! Nanti gue yang bayar," kata Evan.
"Bener nih?" tanya Dafa antusias.
"Kapan gue pernah bohong?" tanya balik Evan.
"Dafa mah kalau soal gratisan cepet banget ya, maseeh!" ledek Ghea.
"Halah! Kaya lo gak aja, Ghe... padahal kan kita sama!"
Mereka pun tertawa mendengar kejujuran Dafa, setelah itu mereka menikmati makanan yang Dafa dan Ghea pesan. Awalnya Azzalea tak mau makan karena hanya haus saja tapi dengan ancaman Evan yang akan menyuapinya dengan terpaksa Azzalea memakan makanannya.
Sedangkan Evan sedang menatap tajam sahabatnya Vion, ia tak mengizinkan Vion menceritakan kesepakatannya bersama sang papa kepada mereka semua.
"Biar gue aja yang berjuang, gue gak ingin dia merasa terbebani dan menjauh... jadi sabar sedikit lagi, ya!" batin Evan sambil menatap Azzalea yang duduk disebelahnya.
...----------------...