
Pagi ini semua siswa sudah bersiap untuk melaksanakan senam bersama dihalaman sekolah yang diadakan rutin disetiap hari jum'at pagi. Semua siswa sudah berbaris rapi, tak terkecuali Azzalea. Tapi sayangnya gadis itu terlihat tak bersemangat sama sekali.
Bagaimana tidak pagi-pagi ia harus dihadapkan dengan dua orang yang semakin hari semakin berani. Ya Azzalea tadi pagi saat Azzalea mau berangkat sekolah ia sudah dikejutkan dengan kehadiran Evan dan Cakra, mereka berdua tengah beradu tatapan tajam saat Azzalea membuka pintu.
Tak hanya itu, mereka juga berebut untuk berangkat bersama Azzalea. Bahkan Evan dan Cakra sempat akan beradu fisik direpan rumah Azzalea.
"Ale berangkat bareng gue!" tegas Cakra.
"Gue, kan gue datang duluan!"
"Mau duluan mau gak, dia itu biasa berangkat sekolah bareng gue!"
"Ya gak bisa gitu, yang siapa datang duluan boleh berangkat bareng Ale," kata Evan tak mau mengalah.
"Lo ya! Dikasih tau susah banget, Ale gak akan mau berangkat sama lo... lo siapa?"
Deg!
Kata-kata Cakra membuat Evan sedikit oleng karena memang dia bukan siapa-siapa nya Azzalea. Dia hanya seseorang yang berusaha hadir dikehidupan Azzalea, tapi apa salahnya dia berharap toh Azzalea sendiri juga belum memiliki gandengan. Jadi sah sah saja kan jika dia mendekati Azzalea.
"Lah, lo sendiri siapa?" tanya balik Evan.
"Gue sahabatnya!"
"Sama kan!"
Azzalea yang sudah pusing pun akhitnya akat bicara, dia tak ingin ada keributan didepan rumahnya. Apalagi ketika dua orang tuanya masih berada dirumah sakit, apa kata tentangga nanti jika mereka melihat ada dua laki-laki yang sedang bertengkar didepan rumah Azzalea.
"CUKUP! GUE PERGI SEKOLAH SENDRI!" teriak Azzalea.
"Tapi, es! Gue kan udah jauh-jauh datang kesini buat jemput lo, masa lo gak hargai gue sih?" tanya Evan sedih, Azzalea sedikit tidak enak hati apalagi Evan sudah menolong adiknya kemarin.
Tunggu dulu, Azzalea ingat semalam ada pesan masuk dari nomer baru yang bisa dipastikan itu Evan. Karena hanya dia yang berani memanggil Azzalea dengan sebutan Es Ale-ale. Tapi dari mana Evan memiliki nomer ponsel Azzalea itulah yang menjadi pertanyaannya sekarang.
"Lo bareng gue, Al! gue gak izinin lo berangkat sekolah sama dia, kalau ada apa-apa dijalan gimana? Gue gak mau sahabat gue terluka sedikit pun!" jelas Cakra.
"Cih, jadi orang jangan munafik lah.. suka bilang suka kaya gue ini terang-terangan, ye kan! Gak usah sok-sokan ngomong demi sahabat kalau sebenar cinta!" cibir Evan.
"Si al an! Awas aja lo!" batin Cakra.
"Kalian berdua kalau mau ribut, ribut aja sampai besok! Gue mau berangkat sekolah dulu, bye!"
Setelah mengatakan itu Azzalea segera melajukan motor sportnya meningglakan pekarangan rumah menyisahkan dua orang yang sedang menatapnya bingung.
"Aleeee, ale-ale tungguin gue!" teriak Evan, buru-buru ia memuju motornya yang terparkir tidak jauh darinya, kemudian Evan mengikuti motor sport Azzalwa dengan kecepatan diatas rata-rata agar tidak ketinggalan.
"Aleaa! Kenapa lo ninggalin gue sih!" gerutu Cakra yang juga segera menyusul Azzalea dan Evan.
Pak satpam yang sejak tadi menonton pertunjukan itu pun hanya bisa menggeleng dan tersenyum.
"Anak muda sekarang cintanya menggebu-gebu, mirip sama zaman ku dulu!"
Evan sengaja berbaris disamping Azzalea, ia melihat gadis itu hanya diam saja seolah sedang memikirkan sesuatu. Apalagi sudah beberapa kali ia memanggilnya tapi tetap saja tidak ada sautan.
"Ale!"
"Hey, Ale!"
"Cih, dasar es ale-ale!"
Puk!
Evan sengaja menggenggam jemari Azzalea yang sedang pemanasan itu, pikirannya sedang melayang jauh entah kemana, yang jelas raganya disini tapi hatinya tidak.
"Apa sih?" gerutu Azzalea.
"Gue disebelah lo, jadi gak usah jauh-jauh mikirin gue... cukup lihat gue yang nyata aja," kata Evan sambil terkekeh.
Azzalea membelalakan netranya, ia tak habis pikir dari mana Evan tahu jika dirinya sedang memikirkan Evan.
"Sok tau!"
"Gue emang tau apa yang ada didalam pikiran lo itu," kata Evan sambil terkekeh, Azzalea hanya memutar kedua bola matanya dengan malas apalagi ia merasa sejak tadi ada yang mengawasinya tapi entahlah siapa Azzalea tak tahu.
Akhirnya Azzalea menoleh kebelakang dan dilihatnya seorang gadis yang beberapa hari lalu membuat masalah dengannya. Azzalea menaikan sebelah alisnya, ia bingung kenapa gadis itu menatap dirinya terus dan bisa dipastikan ada kebencian dari tatapannya itu.
"Kenapa?" tanya Evan dan Cakra bersamaan, karena mereka berdua berbaris disebelah kanan kiri Azzalea. Sedangkan Dafa, Ghea dan Nessa berada didepan mereka.
"Gak kok!" jawab Azzalea lalu berfokus pada beberapa siswa yang memberi contoh didepan.
Vion yang sejak tadi disebelah Evan pun angkat bicara.
"Lo udah tau belum siapa orang yang gebukin lo beberapa waktu lalu?" bisik Vion.
Evan pun menggenggeleng pasalnya ia lupa dengan masalah satu itu apalagi akhir-akhir ini ia mulai dekat dengan Azzalea.
Evan pun menggeleng sambil menatap Vion, "Lo udah ketemu orangnya?" tanya Evan.
"Gue masih belum yakin, tapi ada orang yang gue curigai," bisik Vion sambil melihat sekeliling.
"Siapa?" tanya Evan.
"Ada nanti lo juga tau," kata Vion sambil tersenyum penuh arti.
"Cih, aneh lo!"
Setelah hampir tiga puluh menit, kegiatan olahraga bersama itu akhirnya selesai juga. Mereka langsung bergegas menuju kamar mandi untuk berganti seragam, tapi ada juga yang masih setia dilapamgan karena jadwal oalahraga mereka.
"Van!" panggil Elena sambil sedikit berlarian.
"Apa, Len?" tanya Evan cuek karena ia harus bersikap begitu pada orang seperti Elena ini.
"Kantin, yuk! Gue traktir deh, mumpung belum masuk juga," ajak Elena.
"Sorry deh, Len... lain kali aja!"
"Tapi, Van! Gue cuma mau kita seperti dulu lagi, gak kaya gini!" protes Elena.
"Kalau gak mau yaudah, kan jatuhnya maksa!" celetuk Vion yang berdiri tak jauh dari Evan sambil bersandar pada dinding.
"Van, lo boleh gak bales perasaan gue, tapi jangan kaya gini, Van! Jangan cuekin gue kaya gini, gue gak suka!" protes Elena sambil menatap penuh harap pada Evan.
"Maaf Len, gue cuma posisiin diri gue sendiri supaya gak sakitin siapa pun... gue gak mau dicap sebagai cowok tukang php!" jelas Evan sambil menghempaskan tangan Elena.
Setelah itu Evan melangkah menjauhi Elena yang masih berdiri dengan perasaan yang campur aduk.
"Ini semua pasti gara-gara peremouan itu kan, Van! Iya kan, lo jadi berubah sama gue pasti gara-gara dia, padahal dulu lo selalu baik sama gue... lo gak pernah cuekin gue kaya gini!" gumam Elena sambil terus menatap punggung Evan.
"Gue akan balas semua perbuatan lo ini, Van! Tapi gue terlalu sayang sama lo, gue gak bisa sakitin lo.. jadi gue akan sakitin dia orang yang lo sayang! Biar lo rasain gimana rasanya dibenci sama orang yang lo cinta!"
...----------------...
Untuk Bab sebelum ini bisa dibaca ulang ya kakak" karena kemarin sedang eror jadi sudah author revisi, ya! Terimakasih :)