Evanzza

Evanzza
Menerima Tawaran



"Lo siapa?" tanya Cakra saat ada seorang gadis yang berjalan mendekatinya dengan percaya diri.


"Lo gak perluh tau siapa gue, tapi keinginan kita sama!" jelasnya.


"Maksud lo apa? Keinginan apa?" tanya Cakra bingung sedangkan dia hanya tersenyum tipis seolah mengejek Cakra.


"Gue tau perasaan lo buat Azzalea itu seperti apa dan asal lo tau gue sama kaya lo, gue juga cinta sama Evan tapi dia lebih milih Azzalea dari pada gue!" jelasnya.


Cakra hanya diam saja mendengarkan setiap kata yang keluar dari gadis itu.


"Gue mau kita bekerja sama buat dapetin apa yang kita mau, lo dapet Azzalea sedang gue dapet Evan!" tawar gadis itu.


"Tapi—"


"Gak usah tapi-tapian, gue tau lo sulit kan berdamai dengan perasaan lo? Lo sulit kan iklasin dia sama yang lain?"


"Sama gue juga seperti itu, gue tersiksa sama perasaan gue sindiri, Cak! Apalagi tiap hari harus liat kemesraan mereka didepan mata, hati gue rasanya gak sanggup liat itu semua ... Jadi gimana? Setujukan kita bekerja sama?"


Cakra tak menjawab sepatah kata pun karena memang benar itu yang ia rasakan, hatinya bimbang ia tak tau harus setuju atau tidak. Melihat Cakra yang sedang berpikir, gadis itu terus saja memanas-manasi Cakra agar mau bekerja sama dengannya.


"Masa lo gak mau sih, Cak? Bareng-bareng sama Azzalea kaya dulu?"


"Yang kalau butuh apa-apa pasti larinya ke lo dulu, kan? Tapi sekarang apa lo sudah terlupakan, Cak! Masa lo gak mau kembali seperti dulu, hmmm?"


"Ingat, cinta itu harus diperjuangkan selagi masih bisa!" gadis itu menyelipkam sesuatu disaku seragam Cakra, lalu beberapa kali menepuk bahu Cakra.


"Gue tunggu kabar baiknya!" setelah mengatakan hal itu ia berjalan lebih dulu meningglakan Cakra yang masih diam, ia sedang mempertimbangkan tawaran yang cukup menggiurkan itu.


Jujur saja Cakra belum bisa iklas melihat Azzalea bersama laki-laki lain, walaupun ia sudah berusaha keras tapi hasilnya sama saja. Ia tetap tidak bisa merelakan Azzalea meski berulang kali bibirnya selalu berucap untuk berhenti mencintai Azzalea. Tapi apa hasilnya? Ia semakin mencintai gadis itu, bahkan masehat dari Chaca pun seolah hilang begitu saja dan berganti dengan harapan yang diberikan gadis yang entah siapa namanya itu.


Hati Cakra perlahan goyah, apalagi ketika ia mangambil sebuah kertas yang diselipkan gadis itu tadi.


0856677889xxx


Tertera sebuah nomer ponsel dan bisa dipastikan nomer gadis tadi, Cakra meremas nomer itu lalu membuangnya kesembarangan tempat. Ia tak mau memakai cara kotor untuk mendapatkan kembali Azzalea, namum hatinya bertentangan dengan pikirannya.


Buktinya Cakra kembali mencari kertas yang sempat ia buang tadi.


"Cih, perasaan gue buang disini kemana ilangnya?" gerutu Cakra.


Set!


"Hah, akhirnya ketemu juga!" Cakra menatap lekat kertas itu dengan sebuah senyum yang sulit diartikan.


......................


Bel pulang pun berbunyi, membuat mereka semua bernafas lega dan segera bergegas merapikan semua alat sekolahnya yang berserekan diatas meja.


Didepan pintu sudah terlihat Evan yang menunggu Azzalea selesai berneres, ada tatapan tidak suka dari Cakra.


"Yuk!" ajak Azzalea saat sudah sampai didepan Evan yang tengah fokus pada ponselnya.


Evan pun mengangguk dan memasukkan ponselnya kedalam saku celana. Tangannya bergerak menggandeng jemari Azzalea.


Sesekali terlihat candaan yang terlontar dari bibir Evan membuat Azzalea mencebikkan bibirnya, namun tak selang berapa lama berganti senyuman manis yang terus Azzalea perlihatkan.


Evan sangat pandai membuat suasana menjadi hangat dan hidup, bahkan banyak siswi yang iri. Ingin sekali mereka menggantikan posisi Azzalea saat ini, tapi sayangnya itu tidak akan bisa.


"Mau mampir kemana dulu, gak?" tanya Evan.


"Mampir ke hatimu aja boleh gak?" tanya Azzalea yang membuat langkah kaki Evan berhenti.


"Gue gak izinin lo mampir dihati gue, Za!" tegas Evan.


"Kenapa?" tanya Azzalea menyerkitkan alisnya.


"Karena gue mau lo menetap dihati gue selamanya, jangan cuma mampir gue gak setuju dan gak akan pernah izinin lo pergi!"


"Iya-iya, dasar kipas angin!" saut Azzalea sambil tersenyum manis, tatapannya terlihat hangat.


"Gue gak akan pergi kemana pun, gue selalu disini ... dihati lo! So, kita berjuang bareng ya?"


Evan pun mengangguk sambil mencium punggung tangan Azzalea, senyumannya semakin mengembang saat mendengar perkataan Azzalea.


"Ini beneran es ale-ale kan?" tanya Evan sambil membolak-balikkan tubuh Azzalea.


Sedangkan Azzalea hanya pasrah sambil menganggukkan kepalanya.


"Belajar dari mana cara gembel eh gombal kaya gini?" tanya Evan gemas, bahkan ia sudah mencubit hidung Azzalea.


"Dari ahlinya!"


"Siapa?"


"Lo, lah ... Siapa lagi?" tanya balik Azzalea.


Evan lagi-lagi mengacak-acak pucuk kepala Azzalea hingga berantakan, membuat siempunya kesal.


"Evan, berantakan ini! Gue jadi jelek kan!" protes nya.


"Biarin jelek, biar gak ada yang lirik ... soalnya lo cuma punya gue!" Evan merangkul bahu Azzalea dan membawanya menuju parkiran.


Dunia seakan hanya milik berdua dan yang lainnya ngontrak, itulah yang terlihat saat ini. Dua orang itu tak memperdulikan tatapan kagum dan ilfeel siswa siswi lainnya, yang terpenting mereka tak menggangguk orang lain saja sudah baik.


Disisih lain asa Cakra yang terus menatap kedua pasangan itu dengan tatapan tak bersahabat. Bahkan ia sampai mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya sedikit memutih.


"Puas-puasin aja kalian mesra-mesraan nya karena itu semua gak akan lama!" gumam Cakra.


Hatinya seolah sudah ditutupi dengan rasa benci yanh sangat besar hingga ia tak menyadari jika Azzalea adalah sahabat kecilnya.


Akhirnya, Cakra memutuskan untuk menghubungi gadis yang tadi pagi ia temui. Cakra akan menerima tawaran gadis itu, mungkin ini jahat tapi bagaimana lagi hatinya tak bisa hanya diam saja melihat seseorang yang ia suka bahagia jika tidak beraama dirinya.


Cakra mengetikan sebuah nomer itu pada layar ponselnya, tak butuh waktu lama panggilan itu tersambung.


"Halo?"


"Gue setuju!" Cakra langsung mematikan ponselnya setelah mengatakan itu, ia tak tahu jika diseberang sana ada orang yang tertawa bahagia mendengar persetujuan Cakra.


Ghea yang sejak tadi masih tertinggal dikelas pun merasa ada yang aneh dengan Cakra, ia sejak tadi memperhatikan Cakra dan Azzalea secara bergantian.


"Setuju soal apa?" gumam Ghea, ia penasaran siapa yang Cakra telepone dan tentang apa ia setuju. Saat asik dengan pikirannya Ghea tak menyadari jika dirinya tak hanya sendiri.


"Setuju jadi pacar gue!" saut seseorang yang sudah berdiri disebelah Ghea dengan senyuman manisnya dan beberapa kali terlihat menyugar rambutnya dengan jari tangan, hal itu membuat Ghea terkejut pasalnya ia tak mendengar langkah kaki orang itu.