Evanzza

Evanzza
Mencoba menerima?



"Mana kuncinya?" Evan mengatungkan tangannya didepan wajah Azzalea.


"Buat apa?"


"Ya buat nyalain motor lah, kalau buat buka hati lo kan bukan pakai kunci itu," jawab Evan sambil menaik turunkan alisnya.


"Dasar buaya!"


"Mana buaya nya?" tanya Evan sambil menoleh kesamping.


"Diri sendiri gak nyadar kalau buaya," cicit Azzalea yang sudah duduk dimotornya.


"Lo salah kalau bilang gue buaya, gue itu pakaya... bukan buaya! Paham?" goda Evan.


"Terserah gue gak perduli," kata Azzalea yang sudah duduk dimotornya.


"Loh, kan lo disuruh papa eh maksud gue om Azka buat nganterin gue ambil motor kan, terus kenapa lo didepan?"


"Terus lo yang didepan gitu?" tanya Azzalea.


"Iya dong, seorang imam itu pasti didepan sedangkan lo dibelakang sebagai makmumnya... kan gak ada sejarahnya imam dibelakang!"


"Cih! Ceramah mulu!" gerutu Azzalea tapi tetap saja ia turun dari atas motornya dan membiarkan Evan yang mengemudikan motornya. Jika bukan permintaan sang papa Azzalea tak ingin mengantarkan Evan untuk mengambil motornya.


"Lah malah bengong, naik!" perintah Evan.


"Helm nya?"


"Lo pakai aja, keselamatan lo lebih penting!"


Azzalea tak menanggapi ocehan Evan, ia lebih memilih naik dan duduk manis jok belakang. Evan pun tersenyum miring sambil melirik Azzalea dari kaca spion.


Ngueeng!


Evan yang menancap gas secara tiba-tiba membuat Azzalea reflek langsung memeluk pinggang Evan, ia pun masih sayang nyawanya.


PLAK!


"Lo modus, ya!" Azzalea memukul punggung Evan, terasa panas bekas pukulan itu.


"Sshhh! Jangan kasar-kasar sama calon suami," celetuk Evan yang membuat Azzalea lagi-lagi memukul punggungnya.


"Kok kdrt sih?"


"Mana ada kdrt, lo bukan suami gue juga!" ketus Azzalea.


"Calon, ingat calonmu!"


Azzalea diam, ia malas menanhgapi Evan yang terus saja menggodanya. Meski begitu selalu ada perasaan yang aneh apalagi saat melihat Evan tersenyum kepadanya, hatinya serasa bergetar tapi Azzalea masih tak paham getaran apa itu. Hingga Azzalea teringat ucapan Azzam jika dirinya bisa terkana virus c, virus apa itu? Apakah jenis penyakit baru, kenapa Azzalea tidak pernah tau. Dia berniat untuk memberi tahu sahabatnya karena takut jika virus c itu berbahaya.


Azzalea yang terlalu asik dengan pikirannya hingga tak menyadari jika sudah sampai didepan sekolah Azzam. Evan pun menepikan motor sport itu didepan sebuah toko sederhana yang terlihat cukup lengkap isinya.


"Ehem! Turun dulu," kata Evan, Azzalea pun menurut saja tanpa menjawab.


Lalu Evan mengampiri toko itu terlihat seorang bapak-bapak keluar dari dalam toko sambil tersenyum ramah. Azzalea tak tau apa yang sedang mereka bicarakan karena ia hanya berdiri didekat motornya sendiri. Tak selang berapa lama Evan pun menuntun motornya hingga didepan Azzalea.


"Yuk!" ajak Evan.


"Kemana?"


"Gue anterin lo pulang," jawab Evan santai, tak lupa ia memakai helm full facenya.


"Gak usah, gue bisa pulang sendiri!" tolak Azzalea.


Kali ini Evan yang diam saja, percuma membantah pun karena ia akan tetap mengantar Azzalea pulang kerumah. Tak baik bila membiarkan perempuan cantik pulang sendiri tanpa kawalan, siapa tau ada yang berniat tebar pesona saat dijalan. Dan Evan tak menginginkan hal itu terjadi, ia tak akan membiarkan siapapun menggoda bidadari nya itu.


"Apa gue harus mencoba menerima dia?" gumam Azzalea, ia bergulat dengan pikirannya dan hati yang bertolak belakang.


"Gak, orang pemaksa dan keras kepala gitu... bikin emosi terus yang ada!" lanjutnya lagi.


Tin tin tin.


Evan mensejajarkan motornya dengan motor milik Azzalea hingga mereka berjalan beriringan untung saja jalanan itu sedang sepi jika tidak pasti mereka bisa kena semprot pengendara lain.


"Jangan bengong es ale-ale, bahaya!" teriak Evan.


Azzalea pun hanya mengangguk saja lalu menatap kedepan ia tak mau terlalu lama melihat Evan karena bisa membuatnya gagal fokus.


Dua motor itu sudah sampai didepan gerbang yang tengah terturup rapat, kemudian salah seorang satpam keluar untuk membuka kan gerbang.


"Balik sana!"


"Gak, gue mau lihat lo masuk dulu baru balik," kata Evan.


Azzalea tak bisa berkata-kata lagi dengan makhluk satu ini.


"Terserah!" seraya masuk kedalam setalah gerbang dibuka, dengan cepat Azzalea langsung masuk kedalam rumahnya.


"Gak mau mampir dulu, mas?" tanya pak satpam.


"Lain kali aja pak, udah sore!" saut Evan yang netranya tak lepas dari Azzalea. Setelah Azzalea benar-benar masuk kedalam rumah Evan segera menjalankan motornya, ia juga harus cepat pulang.


"Mari pak!" kata Evan sebelum benar-benar pergi dari depan gerbang rumah Azzalea.


"Iya mas!" saut pak satpam.


Tanpa Evan sadari gadis itu tengah mengintip dibalik tirai ruang tamu, entahlah kenapa ia melakukan itu hanya saja hatinya tergerak untuk melihat Evan. Setiap gerak gerik Evan bersama pak satpam selalu tak lepas dari netra hazel itu. Hatinya terasa hangat bahkan lagi-lagi ia menyunggingkan sebuah senyuman.


Tak beda jauh dari Azzalea, Evan pun sama. Dua manusia itu sedang merasakan getaran-getaran asmara namun sayangnya mereka belum benar-benar paham akan perasaan itu. Sedangkan Evan, ia hanya mengerti jika ia menyukai Azzalea dan berniat untuk menjadikan Azzalea sebagai pasangannya.


Cinta monyet yang tumbuh diawal masa putih abu-abu, yang ada hanya rasa egois untuk memliki. Mereka belum paham bagaimana cara menghargai dan menempatkan diri mereka dengan rasa itu. Karena mereka hanya mengharapkan cinta yang manis padahal jauh dari semua itu banyak pengorbanan dan rintangan yang harus mereka lalui.


Perjuangan yang sebenarnya belum mereka rasakan, saat ini hanya masa penjajakan hati. Apakah benar itu rasa suka yang tumbuh karena cinta dan kasih sayang atau kah hanya rasa penasaran dan kagum saja. Entahlah, mungkin hanya sang waktu yang bisa membuktikan semua itu. Jika rasa itu terus ada dan semakin bertambah mungkin bisa dikatakan cinta tapi sebaliknya jika saat sudah memiliki namun rasa itu hilang begitu saja kemungkinan itu hanya rasa kagum saja.


Evan yang sudah sampai rumah langsung disambut Vion, ya sahabatnya itu sangat khawatir dengan keadaan Evan. Tadi pagi Evan hanya mengabarinya sekilas tanpa tahu betul bagaimana kronologinya, sehingga Vion memutuskan untuk datang kerumah Evan. Tapi sang pemilik rumah masih belum pulang hanya ada papa Rayhan saja sedangkan mama Rayya masih berada dirumah sakit tapi tidak menangani Azzam.


"Lo dari mana aja?" tanya Vion saat Evan baru masuk kedalam rumah.


"Eh ayam!" kaget Evan, karena pikirannya masih penuh dengan Azzalea.


"Cih! Kaya nya benturan di kepala cukup keras sampai ngatain sahabat lo ayam!" kesal Vion.


"Benturan apa?" tanya Evan tak paham.


"Katanya lo kecelakaan?" tanya balik Evan.


"Bukan gue, tapi Azzam!"


"Siapa Azzam, wah gue ketinggalan banyak... sekarang jelasin semuanya!" pinta Vion, dan akhirnya Evan menjelaskan semunya dari awal sampai ia mengantar Azzalea pulang ke rumah.


"Wah wah! Sekali dayung dua pulau terlampau nih?" ledek Vion.


Karena benar saja, dua hal dilalui Evan secara bersamaan. Pertama lebih dekat dengan Azzalea dan kedua dekat dengan keluarganya.


"Iya dong siapa dulu, Evan gitu," kata Evan sambil menyugar rambutnya dengan bangga.


"Lagak lo, Van!"


...----------------...