Evanzza

Evanzza
Gue siapa?



Terlihat seseorang tengah bersadar pada pagar pembatas balkon kamarnya, ia menatap lurus kedepan. Hawa dingin datang menyapa kulit putihnya, tapi tak membuatnya beranjak sedikit pun.


Pikirannya sedang berkenalan entah kemana yang jelas saat ini ia sedang memikirkan banyak hal. Jemarinya mencengkram kuat pagar pembatas balkon itu, sesekali ia terlihat memukulnya.


"Mereka punya hubungan apa sih?" monolognya.


"Kenapa harus peluk-peluk segala sih! Terus kenapa lo gak menghindar gitu?" gumamnya.


"Gue gak rela lo diperlakuin kaya gitu sama cowok lain, tapi gue bisa apa? Lo bahkan gak mau gue ajak kenalan," monolognya sambil mengingat kejadian disekolah tadi.


Ada rasa tak biasa yang berhasil masuk kedalam hatinya, bahkan perasaan itu mampu membuat sesak ataupun bahagia dalam waktu bersamaan. Rasa itu tidak ia temukan pada gadis yang selama ini selalu mendekatinya.


Rasa yang tak biasa dan baru pertama kali ia rasakan. Benci, kesal, marah, senang dan penasaran semua itu menjadi satu. Tapi saat ini ia tidak bisa berbuat apapun, terlebih lagi soal tantangan yang diberikan sang papa semakin membuatnya pusing.


Ia yang terbiasa tanpa tekanan dan tuntutan menjadi bimbang, apakah ia bisa menjadi ketua osis seperti yang papa nya inginkan. Bahkan pengalaman dalam organisasi saja ia tak punya, bagaiamana ia akan menjadi ketua osis kalau seperti itu.


Tapi disisih lain ia memiliki tekad yang kuat untuk menjadi ketua osis dan mendapatkan hati sang bidadari hatinya itu.


Dia masih saja termenung dengan tatapan kosong, sejak pulang sekolah tadi ia selalu marah-marah tidak jelas. Membuat beberapa art yang ada dirumah itu merasa heran dengan anak majikannya. Karena tidak biasanya ia seperti itu.


"Van!" panggil seseorang yang sejak tadi mengetuk pintu kamar tapi tidak ada sautan, alhasil ia masuk begitu saja dan menemukan sahabatnya tengah melamun.


"EVAN!" panggilnya lagi sambil menepuk bahu pemilik kamar, Evan.


"Hmm."


"Ini sesuatu yang lo minta," ucapnya menyerahkan sebuah kertas pada Evan.


Evan hanya melirik sekilas ia lupa sesuatu apa yang ia minta pada sahabatnya itu, Vion.


"Oh udah gak penting lagi? Gue buang aja kalau gitu, gak penting juga kan data cewek itu," ucap Vion.


Hampir saja kertas itu masuk kedalam tong sampah sebelum Evan merebutnya, karena ia baru ingat tugas apa yang ia berikan pada Vion.


Dengan seksama Evan menbaca data diri seseorang yang sudah mengusik ketenangan hatinya.


"Azzalea Lestyana," gumam Evan.


"Nama yang cantik seperti orangnya," lanjutnya sambil tersenyum.


Vion yang melihat itu bergidik ngeri, hanya selembar kertas saja sudah bisa membuat Evan tersenyum.


"Jangan terlalu bahagia dulu, dianya aja dingin banget sama lo!" celetuk Vion.


Hal itu membuat Evan kembali ingat saat Azzalea digendong oleh Marchel dan dipeluk oleh Cakra. Hatinya terasa tersayat saat mengingat itu.


Evan merebahakn tubuhnya diatas kasur sambil melihat langit-langit kamarnya, sedangakn Vion duduk tak jauh dari kasur Evan.


"Lo kenapa?" tanya Vion.


"Gue tadi lihat kejadian yang bikin hati gue sakit, Vi." jelas Evan.


"Liat apa emangnya?" tanya Vion.


"Gue lihat doi digendong Marchel terus dipeluk sama Cakra!" jawab Evan jujur.


"UHUKK UHUUK!"


Vion yang mendengar itu sampai tersedak salivanya sendiri, pikirannya jadi traveling kemana-mana mengingat perkataan Evan.


"Dipeluk Cakra, digendong Marchel gimana caranya bisa barengan gitu?" tanyanya.


PLAK!


Evan melemparkan batalnya tepat diwajah Vion.


"Ya gak barengan juga, gantian gitu ... Azzalea habis ditolongin Marchel kaya nya terus Cakra sama gue datang, eh si Cakra main peluk Azzalea gitu aja!" geram Evan yang terlihat jelas dari cara dia menceritakan kejadian tadi.


"Hmm," sautnya lesu.


"Hahahaaa! Harusnya lo juga ikut peluk dia atau gak sekalian aja lo gendong biar bisa dua-duanya," canda Vion.


"Gue siapa?" tanya Evan pada Vion yang terus saja terkekeh.


"Evan kan, kenapa pakai nanya dih!"


"Maksudnya gue siapanya dia? Boro-boro mau peluk, kenalan aja gue dianggurin." kesal Evan yang membuat Vion semakin terbahak-bahak.


"Maka nya gerak cepat! Sat set gitu loh, maszeh!" kata Vion sambil terkekeh.


"Hah, taulah pusing gue ... Lagian gue masih punya masalah yang harus cepat gue tanganin!" kata Evan serius.


"Apa tuh?"


"Lo harus bantuin gue gimana pun caranya supaya gue bisa jadi ketua osis!" perintah Evan.


"Lo serius ini?" tanya Vion memastikan.


Evan pun mengangguk serius, ia harus bisa mendapat gelar itu agar direstui sang papa menjalin hububgan dengan pujaan hatinya.


"Gue kok gak yakin ya, soalnya lo tuh beda banget sama Om Rayhan... wajah sih mirip banget tapi kelakuan lo gak nunjukin kalau lo anak sang ketua osis yang dikagumi banyak orang itu, katanya sih!"


"Lo lebih terkesan bad gitu harusnya kan modelan good boy gitu kalau Om Rayhan," lanjut Vion.


"Terus kenapa? Masalah!" sewot Evan.


Ya Evan memang berbeda dari papanya yang terkenal sebagai pria idaman semua wanita. Dengan sikap hangat dan humorisnya membuat siapapun cepat akrab, ia juga terkenal cerdas dan sering mengikuti berbagai lomba. Bahkan ia juga salah satu most wanted saat sekolah maupun kuliah. Bahkan tidak ada catatan jelek tentangnya, hanya saja ia tak seberuntung apa yang mereka lihat. Karena Rayhan tak berhasil mendapat hati cinta pertamanya itu dan dengan terpaksa memerima perjodohannya dengan Rayya. Meski begitu ia sangat menyayangi istrinya itu.


"Jangan-jangan sikap lo ini nurun dari tante Rayya? Secara dia itu terlihat sedikit bar-bar gitu," ucap Vion.


Evan melipatkan kedua tangannya didepan dada sambil memikirkan perkataan Vion yang ada benarnya juga, mungkin sifat bar-barnya ini menurun dari sang mama.


"Udah gak usah dibahas, yang jelas gue harus daftar osis dan harus jadi ketuanya!" kata Evan.


"....."


"Sogok aja wakil kepala sekolah, pasti langsung jadi ketua osis!" saran Vion.


"Hah, yang ada gue digantung sama papa ... lo kaya gak tau aja orang tua kita kan alumni sekolah itu, bisa-bisa nanti gue dilaporin sama papa." sewot Evan.


"Makin susah gue dapetin dia," lanjutnya.


"Tenang semua butuh perjuangan, gak ada yang instan ... Mie instan yang katanya instan aja perluh dibuat dulu baru bisa dimakan, apalagi ini?" perkataan Vion itu sangat benar dan membuat Evan semakin semangat untuk mendaftar sebagai calon ketua osis.


"Tumben lo bijak!" ledek Evan.


"Siapa dulu dong anaknya Jovi," kata Vion bangga.


"Jovi siapa?" tanya Evan bingung pasalnya itu bulan nama orang tua Vion.


"Jovi, Jojo dan Vivi," ucap Vion sambil terkekeh mengingat nama kedua orang tuanya yang disingkat seperti itu.


"Wah anak durhaka, gue aduin biar dicoret dari kartu keluarga!" Evan tak habis pikir dengan pola pikir sahabatnya itu yang sampai menyingkat nama kedua orang tuanya.


"Aduin aja orang mereka sudah tau, wleee!" Vion segera lari sambil menutup pintu kamar Evan dengan cepat, rasa puas sekali sejak tadi sudah membuly sahabatnya itu.


"DASAR KACA SPION!" teriak evan namun setelah itu ia tertawa sendiri.


...----------------...


Gue harap lo bisa lihat kehadiran gue disish lo, ~ Evan~