
Tak terasa dua minggu sudah mereka melaksanakan ulangan semester dan selama itu juga Evan jarang bertemu dengan Azzalea. Bahkan pesan yang dikirim Azzalea pun jarang sekali dibalas oleh Evan. Bukan karena tak mau membalas hanya saja Evan sangat sibuk. Bayangkan saja seminggu belakangan ia harus menyisihkan waktunya anatra belajar dan juga rapat osis karena setelah ulangan semester akan diadakan acara clas meeting.
Benerapa hari belakangan ini Evan sampai pulang malam dan setelah itu ia tidur tanpa melihat ponselnya terlebih dahulu, begitu juga dengan anggota osis yang lainnya.
Disisih lain Azzalea uring-uringan tidak jelas, ia merasa tak diangap oleh Evan padahal mereka belum memiliki hubungan yang pasti karena itu Azzalea semakin meragukan Evan.
Azzalea tengah berjalan menysuri lorong sekolah ia bersama kedua sahabatnya Ghea dan Nessa menuju lapangan basket untuk menonton pertandingan yang diikuti oleh kelas mereka Mipa 2. Selama itu juga wajah Azzalea terlihat ditekuk, bahkan Ghea sampai kesal sendiri melihat wajah Azzalea.
"Lo kenapa sih, Al? Muka lo sepet banget sumpah, gue jadi emosi sendiri liatnya!" Ghea akhirnya membuka suara setelah keheningan yang tercipta begitu lama.
"Paling gara-gara oppa, kan?" tanya Nessa sambil membuka lolipop kesukaan Azzalea.
"Udah lama juga Nessa gak lihat wajah oppa itu," lanjutnya.
"Oppa?" tanya Ghea yang tidak tahu siapa yang dimaksud oleh Nessa.
Nessa menghentikan langkahnya lalu menatap Ghea yang saat ini berada disebelah Azzalea.
"Iya oppa, Oppa Evan!" jelas Nessa.
Gadis itu memanggil Evan dengan sebuatan oppa, hanya karena melihat foto Evan dengan jari yang membentuk love diponsel Azzalea. Sehingga sejak saat itu ia memanggil Evan dengan sebuatan itu.
"Bener Al, gara-gara dia?" tanya Gjea memastikan, Azzalea pun mengangguk sebagai jawaban.
"Mungkin dia lagi sibuk, apalagi kan dia anak osis dan hari ini ada pertandingan basket juga kan," kata Ghea menenangkan.
"Gue tau, Ghe! Tapi apa susahnya sih kasih tau atau gak kasih kabar gitu, lah ini boro-boro kasih kabar! Chat gue aja dari kemaren belum dibalas!" gerutu Azzalea sambil mengerucutkan bibirnya.
"Mungkin dia sibuk, Al! Sabar aja sih," kata Ghea.
"Hari gini, Ghea! Gak ada orang yang betah jauh-jauhan sama ponselnya, sesibuk apapun pasti pada buka ponsel, kan?" tanya Azzalea tak mau memdengar nasehat Ghea.
"Iya, Nessa aja kadang dikamar mandi juga bawa ponsel," celetuk Nessa dengan wajah tanpa dosa.
"Hah! Gak sekalian aja ajak berenang tuh ponselnya?" saut Ghea kesal.
"Pernah kok, utung masih bisa dibenerin!" Nessa pun terkekeh sendiri sedangkan Ghea sudah tidak bisa berkata-kata lagi.
"Atau jangan-jangan dia sibuk sama cewek lain?" tanya Azzalea.
"Lo mah over thingking mulu sama orang Al, gak baik!"
"Habis gimana dong, Ghe ... Udah hampir seminggu lebih dia berubah, kalau gak ada orang lain terus apa coba?"
"Kan dia osis, Azzalea! Mungkin aja lagi sibuk banget!" Ghea menjadi ikut emosi mendengar perkataan Azzalea, bukan karena membela Evan tapi entah kenapa sahabatnya satu ini menjadi sedikit menyebalkan dan terlalu posesif padahal belum ada ikatan apapun.
"Dan satu hal yang lo harus ingat, lo sama dia belum ada kepastian Al! Lo masih digantungin sama dia jadi jangan terlalu berharap deh, nanti sakit sendiri," kata Ghea panjang lebar.
"Tapi dia bilang gue harus nunggu bentar lagi gitu, Ghe!"
"Terserah lah, Al! Gue pusing!"
"Eh itu bukannya Evan, ya?" tanya Nessa yang sejak tadi lebih memilih mengamati sekitar.
Sontak saja netra Azzalea langsung mengikuti arahan Nessa, begitu juga dengan Ghea yang penasaran. Terlihat Evan tengah berdiri dipingir lapangan basket, sesekali ia menyugar poninya kebelakang karena sudah terlalu panjang hingga menetupi matanya. Banyak teriakan yang memanggil nama Evan padahal dia tidak ikut bertanding.
Hanya menyugar rambut yang sedikit basah karena keringat bisa begitu menggoda kaum hawa. Yang paling membuat Azzalea kesal adalah Evan memberikan senyuman pada setia orang yang meneriaki nama nya.
"Cih, biasa aja gitu gak usah tebar pesona!" gerutu Azzalea.
"Kan emang Evan ganteng, Al! Diam aja udah bikin meleleh apalagi bergerak bisa bikin semua cewek menyerah!" Azzalea dan Ghea pun langsung menoleh kearah bocil satu ini, entah kenapa kata-kata Nessa begitu ambigu didengar mereka.
"Lo ngomong apa sih, bocil!" Ghea mencubit pipi Nessa hingga meninggalkan bekas kemerahan.
"Hih, kebiasaan banget sih Ghea! Ini tuh pipi inget ya pipi bukan kue cubit," kesal Nessa.
"Abisnya ucul banget sih, ya kan Al?"
"Iya sangking ucul nya pengen gue karungin terus dibuang!" saut Azzalea masih dengan mode kesal.
"Tauk lah! Nessa mau lihat Dafa sama Cakra main basket aja dari pada disini bisa-bisa pipi Nessa memar kalian cubitin!" Nessa melangkag terlebih dahulu dengan wajah cemberut lalu mencari tempat ternyaman untuk menonton pertandingan.
Azzalea dan Ghea pun hanya bisa saling pandang, lalu tanpa kata mereka mengikuti Nessa yang sudah lebih dulu mendapatkan tempat.
Evan yang melihat kedatangan Azzalea pun menjadi tambah semangat tanpa sadar bibirnya sudah melengkung keatas, tangannya melambai pada Azzalea. Azzalea pun membalas senyuman Evan, namun ketika tangannya hampir terangkat keatas ia mendengar teriakan yang membuat Azzalea menghentikan gerakannya.
"EVAN SEMANGAT!" teriak seseorang tak jauh dibelakang Azzalea.
Azzalea pun menoleh dan dilihatnya ada Elena tengah tersenyum manis sambil melambaikan tangannya. Elena tahu jika Azzalea sedang menatapnya dengan sinis.
"Hah!"
"Sabar Al, mungkin dia cuma ke PD an aja, kan Evan nyapa lo bukan dia," kata Ghea sambil mengusap punggung Azzalea.
"Belum jadi pacarnya udah tekanan batin mulu," gerutu Azzalea yang membuat Ghea dan Nessa terkekeh.
"Yang sabar biar disayang Evan!" ledek Nessa sambil mengeluarkan tiga lolipop dari saku seragamnya lalu memberikan pada Azzalea dan Nessa.
"Gue juga sabar menunggu kok, Nes!"
"Kenapa nyariin sabar? Dia kan tetangga sebelah rumah gue?" tanya Ghea sambil terkekeh.
"Tauklah!"
Kemudian mereka fokus melihat pertandingan yang berlangsung, sesekali mereka meneriki nama-nama temen sekelas mereka agar semangat.
Evan pun terlihat kesal saat Azzalea meneriaki nama Cakra dengan begitu keras dan senyum manisnya yang jarang diperlihatkan didepan orang lain.
Sedangkan Cakra terlihat lebih semangat lagi saat mendengarkan teriakan semangat dari Azzalea.
"Lo sengaja ya ale-ale?" batin Evan.
"Emang lo aja yang bisa buat panas, gue juga bisa!" batin Azzalea sambil menatap Evan.
Sedangkan dibelakang sana ada Elena yang tersenyum penuh kemenangan, hubungannya dengan Evan perlahan membaik walaupun belum seperti dulu. Namun hal itu tidak membuat Elena patah semangat, ia yakin bisa mendapatkan Evan dan membuat Azzalea pergi jauh.
"Tunggu aja, Evan akan jadi milik gue!"