
Evan pun tersenyum sendiri mengingat kembali saat Azzalea memejamkan matanya, ia tahu apa yang dipikirkan gadis itu. Tapi Evan tak akan melakukannya sekarang, perjuangannya masih panjang ia tak ingin terlalu terburu-buru.
Bibir tipisnya terus terangkat keatas apalagi saat ia mengingat wajah Azzalea yang memerah karena salah tingkah.
"Lo selalu buat gue jatuh cinta lagi dan lagi, Zaa!" monolog Evan sambil memacu kendaraannya lebih cepat lagi. Ia tak pulang melainkan pergi ke sebuah cafe yang sudah dijanjikan. Evan sedang berdiskusi dengan beberapa anggota inti osis.
Setelah sampai Evan langsung masuk dan mencari keberadaan teman-teman lainnya. Ia masih menggunakan seragamnya dengan balutan jaket, netranya menelisik hingga menemukan seseorang yang tengah melambaikan tangan padanya.
Evan berjalan mendekati mereka, lalu duduk begitu saja disamping Vion.
"Lama banget sih!" sambut Vion.
"Biasa antarin ibu negara dulu!" canda Evan sambil terkekeh. Evan lupa disana tak hanya mereka saja melainkan ada beberapa orang lainnya. Apalagi ada satu gadis yang terus saja menatapnya.
Entahlah senyum Evan begitu menarik perhatian gadis itu, bahkan alasan utama gadis itu ikut osis adalah Evan.
"Ibu negara? Emangnya tante Rayya kemana, kenapa harus dianterin?" tanya Vion penasaran.
"Bukan ibu negara itu, beda lagi!"
"Jadi mamanya siapa yang lo anterin?" tanya Vion kaget.
"Astaga Azalea, Vi! Bukan mama, kalau mama kan masih sibuk di rumah sakit!" ketus Evan.
"Oohh!"
"Ini udah lengkap semua?" tanya Evan sambil mengamati satu per satu anggotanya.
Mereka mengangguk bersamaan, apalagi gadis yang sekarang duduk didepan Evan.
"Kenapa?" tanya Evan yang sadar jika dirinya sejak tadi diperhatikan gadis itu.
Leon yang duduk disebelah gadis itu pun langsung menyenggol lengannya.
"Eh apa, Le?" tanya gadis itu.
"Kak Evan lagi nanya sama lo itu!" saut Leon, dengan cepat gadis itu menatap Evan yang duduk dihadapannya.
"Kenapa, kak?" tanya gadis itu.
"Gak! Yaudah ayo mulai saja rapatnya nanti keburu sore!" ajak Evan sambil mengeluarkan buku kecil yang selalu ia bawa saat rapat.
"Emang kita ada acara apa lagi?" tanya anggota osis lainnya.
"Begini beberapa hari lalu waktu gue diruang guru, gue sempet dengar kalau Pak Slamet mau pensiun!"
"Apa serius? Ini bukan hoak kan?" tanya Vion sambil manatap tajam Evan.
"Bukan, gue denger sendiri dengan mata kepala gue!" jawab Evan.
"Kalau denger itu pakai telinga kan kak, bukan mata kepala?" tanya gadis itu yang langsung ditertawakan oleh yang lainnya.
"Salah dikit aja!" Evan tersenyum hangat sambil menyangga dagunya dan menatap gadis itu.
"Eh, iyalah kakak benar!" saut gadis itu dengan wajah memerah.
"Gue always benar, Liv!"
"Jadi kita mau adain perpisahan gitu?" tanya Leon.
Evan pun mengangguk dan menjelaskan bagaimana rencananya. Ia ingin memberikan kenangan yang tak bisa dilupakan oleh Pak Slamet, apalagi beliau adalah guru yang sudah lama mengajar disekolahnya.
Evan juga memberikan kesempatan pada anggota lain untuk memberikan saran dan masukan atas rencana mereka. Setelah semua keputusan didapat, sang sekertaris akan mengumumkannya pada grub osis.
"Oke rapat hari ini cukup sampai disini, jika masih ada saran lain kalian boleh konsultasikan sama gue atau Vion ini!"
"Siap!"
Beberapa anggota yang lainnya sudah pulang tinggalah Olivia, Leon dan Vion yang masih duduk santai dan saling bencengkrama.
"Gue ketoilet dulu ya!" pamit Leon yang diangguki mereka bertiga.
"Lo gak makan, Van?" tanya Vion karena ia ingin memesan sesautu untuk dimakan.
"Nasgor aja, pesenin ya!" kata Evan sambil melirik Vion, tangannya sedang sibuk mengetik sesuatu pada layar ponselnya.
"Oke! Kalau lo, Liv?"
"Samain aja, kak!"
Vion pun mengangguk sambil mengacungkan jempol jarinya kemudian ia segera bergegas menuju kasir untuk memesan menu tambahan lainnya. Sehingga tinggal Olivia dan Evan saja yang berada dimeja itu.
Suara musik yang menggema diseluruh ruangan Cafe membuat suasana begitu mendukung untuk berduaan. Olivia sejak tadi menatap Evan yang beberapa kali tersenyum pada layar ponselnya.
"Ada yang lucu kak?" tanya Olivia karena penasaran.
"Ini wajah gue masa disamaain sama kucing!" jawab Evan sambil menujukkan kayar ponselnya yang ada foto Evan bersebelahan dengan kucing. Terlihat mirip jika terkihat sekilas, Olivia melihat nama pengerim yang tak lain dari Azzalea.
"Gak mirip kok kak!" kata Olivia sambil menatap wajah tampan Evan, bahkan ia tanpa sadar menyunggingkan senyumnya.
"Bener kan gak mirip, masa ganteng gini disamaain sama kucing!" seru Evan sambil terkekeh, apalagi itu pesan dari kekasihnya.
"Tapi kalau dilihat sekilas kok mirip ya?" tanya Evan lagi yang membuat Olivia tertawa terbahak-bahak.
"Iya-iya mirip!"
"Lo gimana sih, Liv! Gak punya pendirian banget tadi katanya gak mirip sekarang bilang mirip!" gerutu Evan.
Tanpa Evan sadari ada seseorang tang sedang menatapnya tajam, bahkan ia terlihat sedang menahan amarahnya. Apalagi Evan dan Olivia terlihat begitu dekat sampai orang menyalah artikannya, padahal mereka hanya membahas pesan tang dikirim Azzalea.
"Oh jadi kelakuan mu seperti ini? Mirip banget sama bapakmu dulu!" gumamnya sambil melangkah meninggalkan Cafe.
"Eh maaf maaf!" seru Vion yang tak sengaja menabrak orang itu. Namun dia hanya diam dan langsung pergi begitu saja meninggalkan Vion.
"Aneh banget sih itu orang!"
Vion kembali ke mejanya sambil membawa nampan yang berisi nasi goreng bersamaan dengan Leon yang kembali daei toilet.
"Ada apa ini seru banget?" tanya Vion.
"Ini, Vi ... masa Ale samain gue sama kucing, gak mirip kan Vi?" tanya Evan sambil menunjukkan ganbar itu pada Vion.
"Hahaa! Gue gak nyangka mata Azzalea setajam itu, dia bener banget kalau lo mirip sama kucing ini!" seru Vion sambil terkekeh bahkan ia sampai mengeluarkan air mata.
"Wah sia lan lo, kelihatan bahagia banget lo ledekin gue!" sebal Evan.
Kemudian mereka menghabiskan makanannya sambil sesekali tersengar ledekan dari Vion, sedangkan Olivia terus saja membela Evan. Terlihat jelas sekali jika Olivia memiliki rasa pada Evan, tapi sayangnya ia tak berani mengungkapkan nya.
"Melihat tawa lo secara dekat kaya gini udah buat gue bahagia, kak! Apalagi kalau gue bisa memiliki lo pasti bahagia banget dunia gue!" batin Olivia sambil mencuri pandang pada Evan.
Leon yang duduk disebelah Olivia pun mengikuti manik mata gadis itu, ia sadar cara padang Olivia pada Evan sangat berbeda.
"Hmmm, mencium bau-bau terong nih!" gumam Leon sambil menyuapkan nasi gorengnya.
"Janur kuning belum melengkung, boleh kan ditikung?" batin Olivia sambil tersenyum samar.
...----------------...
"Bolehkah aku mengharapkan mu? Untuk menjadi seseorang yang mengisi relung hatu ini? Walaupun aku tahu jika dirimu milik orang lain!"
...----------------...