Evanzza

Evanzza
Cinta sepihak



Evan menatap kagum pada lukisan yang ada didepannya saat ini, bahkan ia tidak menyangka jika lukisan itu hanya lah sebuah benda mati. Karena lukisan itu terlihat seperti nyata, setiap inti detail dan goresan terlihat hidup sama seperti aslinya. Bahkan Vion pun sampai tidak berkedip dengan mulut yang sedikit mengaga, siapa yang menyangka jika Chaca perempuan yang menyukai Evan sejak pertemuan pertama itu bisa melukis sebagus ini.


Dalam bingkai cukup besar itu terpampang lukisan wajah Evan tengah tersenyum manis, membuat siapa saja yang menatap lukisan itu pun ikut tersenyum. Evan dan Vion salin menatap seolah tak percaya dengan apa yang mereka lihat, karena tidak biasanya Chaca memberikan hadiah seperti itu.


Evan menatap dalam lukisan yang masih didalam genggaman Azzalea, sepertinya ia pernah tersenyum seperti itu dengan wajah sedikit lelah namun tetap mempesona. Pikirannya melayang jauh hingga beberapa bulan lalu, tepatnya saat ia dan anggota osis lainnya berkunjung disalah satu sekolah untuk mengikuti suatu acara.


Seorang gadis dengan beraninya memanggil Evan, gadis itu tau nama Evan dari temannya. Langkah kaki Evan terhenti dan berbalik menatap seseorang yang memanggilnya. Tak lupa senyum ramah Evan tunjukkan pada seorang gadis itu.Cukup lama mereka hanya diam, hingga gadis itu memberanikan diri mengungkapkan isi hatinya. Evan sempat terkejud dan merasa kagum dengan gadis cantik itu tapi sayangnya hati Evan sudah memiliki pilihannya sendiri.


Evan sudah menolak gadis itu dan memberitahu jika ia sudah memiliki kekasih tapi sayangnya gadis itu tidak percaya. Gadis itu menganggap perkataan Evan hanyanya gurauan saja, agar dirinya tak mendekati Evan lagi.


"Gue gak percaya dengan alasan klasik seperti itu, apalagi gue udah nanya sama teman gue kalau lo masih jomblo! So, gue suka sama lo dan gue gak akan menyerah gitu aja buat dapatin lo!" ucap gadis yang tak lain adalah Chaca masih terngiang-ngiang ditelinga Evan.


Hingga Evan tak menyadari jika Azzalea sudah beberapa kali memanggil namanya.


"Lukisan siapa ini?"


"Van?"


"Evan!"


"Evan!"


"Suutt!" Vion menyenggol lengan Evan sehingga ia sadar dari lamunannya.


"Ah apa, lo bilang apa barusan?" tanya Evan.


"Cih, mikirin siapa?" tanya Azzalea sorot matanya terlihat tidak bersahabat.


"Hah? Emang gue mikirin siapa?" tanya balik Evan sedikit gugup.


"Bukan mikirin cewek lain kan?" tanya Azzalea dengan tatapan sinis.


Deg!


"Tau dari mana dia?" batin Evan.


"Gak!"


"Kok sewot gitu kalau gak mikirin cewek lain?" tanya Azzalea, pasalnya Evan sedikit meninggikan suaranya.


"Astaga, siapa yang sewot? Ini biasa aja loh, terus gue gak mikirin siapa-siapa, Zaa!" jelas Evan dengan suara halus agar Azzalea tak marah.


"Bener?"


"Bener sayang, udah masuk sana! Gue sama Vion juga mau ke kelas," kata Evan lembut.


Azzalea pun menurut saja namun hatinya masih merasa ada sesuatu yang mengganjal, ia memberikan lukisan itu pada Evan lalu berpamitan kepada Evan karena guru sudah terlihat berjalan ke kelasnya.


Evan dan Vion pun juga sama kembali ke dalam kelasnya sendiri hingga jam istirahat berbunyi.


Sikap Cakra sangat berbeda jauh dengan sebelumnya, seakan ia membentengi dirinya dan menjaga jarak dengan Azzalea. Gadis itu yang sudah terbiasa dengan Cakra pun sedikit merasa kehilangan tapi mau bagaimana lagi karena perasaan tak bisa dipaksakan.


Biarkan Cakra berdamai dulu dengan perasaannya dan mengiklaskan rasanya terlebih dahulu, meskipun sulit apalagi jika setiap hari Cakra harus bertemu dengan Azzalea.


"Gue lama-lama gila, Al! Hati gue gak rela tapi gue bisa apa? Rebut lo dari Evan? Gue bisa saja lakuin itu tapi gak mungkin karena gue gak bisa lihat lo sedih, Al! Bilang sama gue Al gue harus gimana?" batin Cakra sambil menatap punggung Azzalea yang sudah berjalan didepannya bersama Ghea dan Nessa.


"Cinta tak harus memiliki, bosku!" Dafa menepuk bahu Cakra yang sejak tadi memandangi Azzalea.


"Kalau jodoh gak akan kemana kok, paling ke temen!" Dafa terkekeh saat mengatakan hal itu.


"Sia lan! Gue sumpahin lo rasain apa yang gue rasain sekarang, Daf!"


"Amit-amit, jangan sampai!"


Dafa langsung berlari meninggalkan Cakra yang masih menggerutu, sedangkan Cakra terlihat sangat kesal apalagi ia melihat pemandangan yang membuat hatinya sakit.


Bagaimana tidak saat ini ia melihat Azzalea duduk bersama Evan, sambil bencengkrama seolah tak ada kesempatan lagi untuk mendaptakn Azzalea.


"Huh!" dengus Cakra.


Ia memilih berbelok ke arah lapangan basket dan tak jadi ke kantin, karena ia tak sanggup melihat kemesraan sahabat sekaligus orang yang dicintainya itu.


"Sahabat jadi cinta?"


"Itu cuma lagu, nyatanya cinta sepihak doang!" monolog Cakra sambil menyusuri lorong sekolah.


"Cak!" panggil seseorang yang membuat Cakra berhenti dan mencari sumber suara.


...............


Bagaimana lagi kelanjutannya? Masalah apalagi yang harus mereka hadapi?


...


Maaf ya author lg gak semangat nih makanya up agak lama! :(