Evanzza

Evanzza
Haruskah berakhir?



Malam ini terasa langit begitu gelap dari biasanya, tak ada satu pun bintang yang terlihat berkelip. Suasana juga terlihat sunyi, hanya beberapa suara kendaraan yang terdengar melewati jalan komplek perumahan itu.


Seseorang tengah asyik bergelut dengan pikirannya sendiri, begitu banyak masalah yang datang silih berganti seakan tak ada habisnya. Masalah satu selesai muncul masalah lain seperti itulah yang sedang dirasakan seseorang itu.


Ia tengah duduk menyendiri dibalkon kamarnya, perlahan jemarinya memetik senar gitar yang terdengar begitu melow sepertinya cocok dengan suasana malam ini. Angin berhembus cukup dingin tak membuatnya berpindah posisi, ia semakin kalut dan terjebak dalam angannya sendiri.


Terdengar beberapa kali helaan nafas panjang, ia bingung harus berbuat apa dan bagaimana. Ia tak mungkin melepaskan begitu saja sosok yang selama ini mengisi hatinya itu, ia ingin berjuang lagi tapi hatinya sedikit ragu. Akan kah dia bisa bertahan dengan semua badai yang kemungkinan akan semakin besar dari saat ini? Ingin berhenti tapi tak bisa ia sudah terlanjur jatuh cinta pada sosok gadis yang sikapnya bahkan lebih dingin dari malam ini.


"Haruskah kita berakhir cukup sampai disini?" monolognya sendiri.


Dibelakang sana tepatnya dibibir pintu kamar terlihat seseorang tengah menatap anaknya sendu, ia kembali teringat pada masa putih abu-abu yang membuatnya seperti naik wahana roler coaster.


Bagaimana tidak saat perasaannya dia buat terbang hingga keatas awan oleh seorang gadis namun ia harus merasakan sakit saat dihempaskan begitu saja karena cinta pertamanya tak berpihak pada dirinya.


"Papa harap kamu bisa bahagia dengan cinta pertama mu, jangan seperti papa!" gumamnya sambil menatap balkon.


Ya dia Rayhan yang sedang diambang pintu menatap sang anak Evan yang tengah bersedih. Mungkin jika tadi tidak bertemu dengan Azkia, ia tak akan tau masalah apa yang dihadapi putra nya mengingat Rayhan selalu sibuk dirumah sakit.


"Van!" panggilnya.


Evan tak menyauti bahkan menoleh saja tidak, ia masih asyik melamun demgan bayangan yang ia inginkan.


"Evan!" Rayhan menepuk bahu sang anak, lalu ikut duduk disofa yang ada dibalkon. Walaupun kecil namun cukup untuk dua orang.


"Papa! Sejak kapan papa disini?" tanya Evan.


"Sejak tadi, ada masalah?" tanya Rayhan sambil mengambil alih gitar yang ada didalam pelukan Evan.


"Hmmmm, masalah? Banyak pah," jawab Evan yang langsung menceritakan semuanya pada sang papa sekaligus teman curhatnya. Untung saja Rayhan bisa membawakan dirinya bersama sang anak, karena ia bisa menjadi orang tua sekaligus teman disaat-saat tertentu.


"Aku bingung pah, kenapa tiba-tiba orang tua Azza berubah drastis ... Padahal awalnya baik-baik saja dan setuju kami pacaran, eh beberapa hari kemudian nyuruh kita purus!" curhat Evan.


"Evan salah apa coba? Sebisa mungkin Evan jadi orang baik, jaga perasaan orang lain tapi kenapa jadi kaya gini coba? Evan itu sangat banget sama Azza pah, dia yang bisa buat hati Evan merasakan perasaan aneh tang belum pernah Evan rasain sebelumnya."


"Ada rasa ingin melindungi dan memiliki, bahkan Evan gak rela dia senyum sama orang lain ... Hmmm, kata Gavin Evan udah jatuh cinta pah, tapi kenapa pas Evan rasain semua ini orang tua nya tiba-tiba larang kita," jelas Evan sambil menatap langit gelap, sedangkan Rayhan diam mendengar semua cerita anaknya.


Rayhan bingung harus mulai dari mana ia bercerita tentang masa lalu yang ternyata ada sangkut pautnya dengan Evan saat ini.


"Kenapa gak diajak ke rumah?" tanya Rayhan.


"Belum sempet pah!"


"Azzalea, ya namanya? Menurut kamu dia orangnya gimana?" tanya Rayhan.


"Iya, perempuan yang lebih dingin dari pada kulkas... keras kepala, judes, jago berkelahi! Tapi Evan tau hatinya lebih hangat dari pada api, pokoknya Evan nyaman disamping dia!"


"Bapaknya posesif banget, pah! Belum pulang aja langsung diteleponin berkali-kali, terus nanya dimana sama siapa gitu!" lanjut Evan.


"Gak pernah berbuah dari dulu posesif nya!" batin Rayhan lagi.


"Pah! Pah, kok malah ngalamun sih?" tanya Evan sambil menggoyanhkan lengan Rayhan.


"Eh, gak kok! Azka sama Azkia ya nama orang tuanya?" tanya Rayhan.


"Loh papa tau dari mana? Perasaan Evan belum kasih tau nama orang tua Azza?" tanya Evan sambil mematap sang papa.


Rayhan menghela nafasnya lalu ia menceriatkan kisah yang menyakitkan itu, dari bagaiamana ia bisa mengenal Azkia sampai saat mengutarakan petasaannya bahkan saat dirinya ditolak dan terpuruk semua Rayhan ceritakan pada sang anak.


Sedangkan Evan diam tak menyela sedikit pun, ia tak mengerti semua ini. Bagaimana bisa cinta pertama sang papa ternyata orang tua dari gadis yang saat ini ia sukai.


Evan memijit pangkal hidungnya yang terasa berdenyut, pusing sekali kepalanya. Dalam satu hari ia menerima benerapa kejutan yang tak pernah ia sangka sama sekali.


"Lalu kenapa Evan harus mengakhiri hubungan sama Azza, Pah?" tanya Evan setelah hening beberapa saat.


"Mungkin Azka masih cemburu dan mengira kalau papa akan merebut Azkia darinya," jawab Rayhan sendu.


"Apakah papa ada niatan seperti itu?" tanya Evan.


Rayhan menatap anaknya itu dengan lekat lalu tangannya terulur mengacak-acak rambut Evan.


"Kamu pikir papa setega itu sampai harus merusak kebahagian orang lain?" tanya balik Rayhan.


"Papa dulu pernah bilang sama Azka, kalau dia sampai sakitin Azkia bakalan papa rebut! Tapi nyatanya sampai saat ini papa gak lakuin itu, kan? Papa lihat Azkia bahagia saja sudah tennag ... karena papa tau jika dia bahagia bersama pilihannya!" jelas Rayhan lagi.


Kini giliran Evan yang menepuk bahu sang papa, seolah sedang menyalurkan kekuatan padahal sama-sama sedang rapuh. Tapi Rayhan lebih bijak karena sudah melewati banyak hal, sedangkan Evan baru anak kemarin sore yang baru mengenal cinta. Evan masih egois, karena ia harus memiliki apa yang ia suka dan tak boleh direbut oleh orang lain.


"Evan paham kok!" saut Evan.


"Lagian sekarang kan papa udah ada Evan sama mama jadi papa gak perluh sedih lagi, kalau bisa papa buatin Evan adik ... Biar rame rumah ini, apalagi kalau papa sama mama dirumah sakit Evan kesepian pah!" rengek Evan seolah sedang mencairkan suasana sedih itu.


"Minta sama mama mu!" sinis Rayhan.


"Gimana sih kenapa dioper-oper kaya main bola gini! Mama bilang suruh minta sama papa, ini malah nyuruh Evan minta mama. Terus yang bener yang mana?" geram Evan.


"Ya minta mama mu, mana ada laki-laki hamil," kata Rayhan sedikit kesal bisa-bisanya sang anak meminta adik padanya, kan Rayhan tidak bisa melahirkan.


"Jangan sampai nanti Evan yang kasih kalian cucu!" saut Evan sambil berlari keluar dari kamar, bahkan ia tak menghiaraukan teriakan sang papa memanggil namanya.