Evanzza

Evanzza
Bisa Jelasin



Evan berjalan sendiri menyusuri koridor setelah mengantar Azzalea sampe dikelasnya. Bahunya terasa lebih ringan seolah beban berat itu sudah berkurang, apalagi Evan sudah mengeluarkan semua unek-enek yang ada didalam hatinya. Bahkan tanpa Evan sadari senyum manis terus saja terlihat disudut bibirnya. Membuat siapa saja meleyot melihat senyuman itu, tapi mereka hanya bisa diam sambil sesekali mencuri pandang. Mereka sadar diri karena Evan sudah memiliki pujaan hati, namun tak ada salahnya kan mengagumi seseorang walaupun hanya bisa memandang tak bisa memiliki.


Bahkan Elena saja beberapa hari ini tak mengusik hidup Evan lagi, seolah lenyap ditelan kegelapan. Entahlah ia sudah menyerah atau sedang menyusun siasat untuk merebut Evan kembali dari Azzalea tidak ada yang tahu isi hatinya. Yang pasti hidup Evan terasa tenang dan bahagia tanpa pengganggu.


Evan sudah sampai digerbang sekolah menghampiri Vion dan yang lainnya, siapa sangka ketenangan yang sejak tadi ia banggakan tiba-tiba lenyap begitu saja.


Wajah Evan yang cerah bagaikan hangatnya mentari pagi, berbuah masam seperti mangga muda. Ia tak tahu harus berbuat apa disaat fans fanatiknya itu datang mengahampiri nya sambil membawa sesuatu yang cukup besar dan dibungkus kertas berwarna coklat.


"Van!" panggilanya dengan penuh semangat.


Evan hanya diam saja, bahkan ia seperti tak mendengar panggilan itu. Netranya menatap tempat lain, ia benar-benar ingin pergi dari hadapan gadis itu.


"Vaaaaann!" rengeknya sambil mencekal lengan Evan.


Vion yang ada disitu hanya bisa terkekeh geli saja, memang sudah hampir satu tahun ini gadis itu selalu menyempatkan diri menyapa Evan. Padahal sekolah mereka berbeda, tapi tak jadi kendala untuk menemui Evan. Mereka bertemu saat Evan berkunjung kesekolahnya untuk mengikuti lomba basket tahun lalu. Evan yang memang ramah dan frendly ke siapa pun membuat gadis itu salah paham.


"Evaan ih, gak usah pura-pura gudeh deh!" kesalnya karena Evan benar-benar acuh tak acuh padanya.


"Gudek itu makanan kali, Cha!" saut Vion sambil terkekeh.


"Serah gue dong, nyamber aja kek truk!" sautnya yang tak lain adalah Chaca.


"Truk itu sejenis penyakit, kan? Kenapa dibawa-bawa?" canda Vion yang membuat yang lainnya terkekeh geli.


"Itu setruk, V i o n! Udah ah gue kesini bukan mau adu gabut sama lo, gue kesini khusu buat Evan!" jelasnya dengan ceria.


"Evannya lagi cosplay jadi patung, Cha! Maka nya kalau ada perlu sama gue aja," kata Vion, ia paham betul arti tatapan Evan yang seolah memohon agar membantunya jauh dari Chaca.


"Cih, gak asyik!" gerutu Chaca sambil melirik Evan yang sedang memarahi siswa lain yang tak lengkap.


"Yaudah, gue nitip ini sama lo tapi harus sampai ke Evan loh! Awas kalau gak gue teror lo," ucap Chaca dengan penuh intimidasi pada Vion.


"Lo kok gak percayaan sama gue sih, Cha! Pasti sampai lah," jawab Vion sambil menerima pemberian Chaca.


"Awas pokoknya kalau gak lo kasih, gue santet lo!" Chaca mewanti-wanti Vion agar benar-benar memberikan bungkusan coklat itu.


"Iya-iya, crewet banget kaya ayam mau bertelur aja!" ketus Vion.


"BTW ini apa?" tanya Vion kembali saat Chaca akan beranjak dari hadapnnya.


Chaca berbalik badan dan menatap Vion, "Jadi orang jangan kepo nanti gak bisa tidur loh!"


"Cih!" Vion hanya berdecak dan memutar kedua bola matanya malas.


"EVAN, GUE BALIK DULU! BYE-BYE!" yeriak Chaca dengan melambaikan tangannya penuh semangat pada Evan.


"Di say good bye sama ayang lo itu, kak!" celetuk salah satu siswa yang sedang dihukum Evan.


"Berisik lo! Ulangi push up nya 50 kali!" perintah Evan kesal.


"Loh tadi kan udah, kak! Masa push up lagi, lama-lama berotot tangan gue!" gerutunya.


"Bagus dong, cepat ulangi!"


Mood Evan yang tiba-tiba buruk membuat mereka semua kena imbasnya, apalagi Chaca tanpa malu nya memberikan cium jauh pada Evan.


"Mimpi apa gue semalam ketemu sama orang aneh kaya gitu!" batin Evan.


"Dari mana?" tanya Cakra membuat Chaca kaget karena ia fokus menatap belakang.


"Eh, Cakra! Baru sampai? Yaudah buruan masuk gih, nanti terlambat .... Gue duluan ya, bye!" Chaca segera pergi dari hadapan Cakra, karena gadis itu malas untuk menjelaskan maksud kedatangannya.


Sedangkan Cakra hanya menatap kepergian gadis itu dengan tatapan bingung dan juga penasaran. Gadis ceria dan terlihat kuat itu ternyata sama seperti dirinya yang tak bisa mendapatkan orang yang disuka, namun bedanya Chaca tak menyerah begitu saja.


Bel masuk pun berbunyi mereka yang sudah selesai dengan hukumannya pun diperbolehkan kembali ke kelasnya masing-masing. Termasuk Evan dan juga Vion yang berjalan beriringan menuju kelasnya.


"Van bawa sendiri lah, hadiah lo kenapa gue yang bawa!" protes Vion sambil membawa titipan Chaca.


"Buat lo aja, Vi! Gue males nerima barang dari tih cewek aneh, nanti bisa-bisa dia besar kepala terus baper lagi. Gue malas ribet, Vi!"


"Lah gimana dong terlanjur gue terima ini, ambil aja lah sekali-kali!" paksa Vion karena tangannya sudah pegal sejak tadi.


Evan berbalik badan dan menatap Vion dengan jengah, dia hanya ingin tenang sebentar saja kenapa tidak bisa. Selalu saja ada yang mengganggunya.


"Gak mau! Buang aja sana," kata Evan.


"Apa nya yang dibuang?" tanya Azzalea yang berdiri tepat dibelakang Evan.


"Ini loh, Za! Evan dapet hadiah dari ce—"


Evan langsung menutup mulut Vion agar tak bersuara, hubungan dengan gadisnya sedang baik sehingga tak ingin ada kesalah pahaman lagi.


"Dari ce? Siapa?" tanya Azzalea sambil melilatkan kedua tangannya didepan dada.


"Biasa, ada orang iseng kasih hadia! Iya kan Vi?" Evan mencubit pinggang Vion agar mengatakan sesuai permintaannya.


"Awh! Iya, iya dari orang iseng!"


Azzalea menatap dua laki-laki itu secara bergantian, ia tak langsung percaya dengan perkataan itu. Curiga? Pasti, siapa yang tak curiga jika menemukan gelagat aneh pada pasangannya. Apalagi terlihat seperti menyembunyikan sesuatu darinya.


Azzalea melangkah dan langsung mengambil benda yang ada ditangan Vion, tanpa berkata apapun ia langsung merobek kertas pembungkusnya.


Srett!


Kedua bola mata Azzalea membulat sempurna, lalu dengan cepat ia merobek semua pembukus benda itu.


Azzalea menatap benda itu dalam diam, menelisik setiap goresan yang ada. Entahlah benda itu sangat menarik perhatian Azzalea.


Deg!


Jantung Evan berdetak lebih cepat dari biasanya, keringat dingin mulai menyerangnya. Evan takut Azzalea salah paham, apalagi Chaca selalu mengiriminya benda yang aneh-aneh. Seperti foto dirinya sendiri, ada juga foto yang diedit dengan foto Evan dan dibingkai indah seperi saat ini.


"Gue, gue bisa jelasin Zaa!" Evan langsung menarik jemari Azzalea tapi sayangnya ditepis oleh gadis itu.


"Ini semua gak seperti yang lo pikirin," kata Evan lagi.


"Jelasin apa? Ini bagus kok!" hal itu membuat Evan heran dan ikut melihat apa yang dilihat Azzalea.


..........................................................................™™™


Bagaimana ini, kenapa Azzalea tidak marah? Sebenarnya apa yang ia lihat?


Dan tantangan apa lagi yang harus Evan lalui dari papa Azka?