
Sudah menjadi rutinitasnya setiap pagi sebelum sarapan, yaitu membangunkan kedua anaknya yang salah satunya sangat sulit dibangunkan. Dengan pakaian kantor yang sudah rapi, ia masuk kedalam kamar dengan nuansa biru langit.
Matanya langsung menangkap seorang gadis yang masih terlelap dengan terbalut selimut tebalnya. Bahkan suara panggilan beberapa kali dari sang papa tidak membuatnya terusik sama sekali, malah membuatnya semakin lelap.
"Al, Alee bangun yuk udah pagi!" katanya lembut.
"Ale, bangun!"
"Aleeee!"
Ia langsung menarik selimut gadis itu hingga jatuh ke lantai, dengan suara lebih keras ia mencoba membangunkan anak gadisnya itu.
"AZZALEA, BANGUN SEKARANG!"
Azzalea lagi-lagi hanya menggeliat lalu kembali tertidur mengabaikan suara sang papa yang sudah menggelegar seperti petir. Ini lah alasan kenapa Azka melarang keras Azzalea bergadang, tapi kenyataannya ia selalu bergadang hingga subuh hanya untuk menonton drama yang kebanyakan dihuni oleh laki-laki cantik.
"ALE BANGUN!" perintahnya sambil membuka tirai kamar itu.
Cahaya matahari mulai masuk dan mengusik gadis itu, hingga beberapa kali ia mengerjabkan matanya karena silau. Samar-samar ia mengangkat tangannya untuk menutupi cahaya itu.
"Lima menit lagi, pah!" katanya.
"Gak ada lima menit lagi, mandi sekarang juga... masa kamu kalah sama adik kamu yang udah rapi itu!" kata Azka, ya Azka selalu ditugaskan sang istri untuk membangunkan kedua anaknya.
"Mulai deh, bandingin aja terus!" gerutu Azzalea sambil turun dari ranjangnya dan segera menuju kamar mandi.
"Papa gak bandingin, Ale. Papa cuma mau kamu itu jadi contoh yang baik buat Azzam." jelas Azka.
"Hmm," saut Azzalea sebelum pintu kamar mandi tertutup.
Azka menggelengkan kepalanya beberapa kali, anak gadisnya ini sangat mirip dengannya. Tapi dulu ia tidak sesusah itu jika dibangunkan, mungkin Azzalea mirip dengan sang istri.
Sekitar dua puluh menit Azzalea sudah turun, Azka hanya bisa menghembuskan nafadnya kasar saat melihat penampilan sang anak.
"Kakak mau sekolah atau mau tawuran?" tanya Azzam sambil menelisik penampilan Azzalea dari atas hingga bawah.
"Sekolah lah, pake nanya segala!" ketus Azzalea.
"Seragamnya dimasukin!" perintah Azka.
"Kamu itu perempuan yang rapi dikit gitu loh, masa anak perempuan papa kaya preman gini penampilannya?" lanjut Azka.
"Cantik, kan?" tanya Azzalea.
"Cantik, anak papa kok!" saut Azka dengan bangganya, sedangkan Azzam hanya memutar kedua bola matanya dengan malas.
"Tuh kan!" saut Azzalea tak kalah bangga.
"Anak mama kan pasti cantik sama ganteng," saut Azkia sambil menyiapkan sarapan diatas meja.
"Huh, mulai," gumam Azzam dingin.
Kemudian mereka sarapan dengan tenang, hanya ada suara sendok dan garpu yang terdengar.
Azzalea yang sudah selesai langsung saja berpamitan kepada kedua orang tuanya dan juga adek kecilnya itu. Tak lupa Azzalea mencium punggung tangan mereka dan juga pipi Azzam.
Tapi tak berselang lama terdengar teriakan yang cukup keras membuat Azka sampai tersedak.
"PAPA!"
Azka yang sudah mendingan langsung berlari keruang tamu dimana suara itu berasal, tak ketinggalan Azkia dan juga Azzam.
"Ada apa?" tanya Azka.
"Kenapa sayang?" tanya Azkia.
"Mulai deh," cibir Azzam.
"Oh kirain ada apa, kunci motor kamu hari ini papa sita." jelas Azka.
"Kenapa disita, pah? Terus Ale berangkatnya gimana, mana udah jam segini lagi," gerutu Azzalea.
"Permisi, Om Tante!" suara itu membuat mereka semua menoleh.
Terlihat seorang laki-laki yang tak asing lagi bagi mereka semua, Cakra. Sedang berdiri diambang pintu sambil memasukkan sebelah tangannya kedalam saku celana. Seragamnya tak terlihat karena memakai sweter warna hitam senada dengan yang dipakai Azzalea saat ini.
"Tuh yang mau jemput udah sampai," kata Azka.
"Masuk dulu, Cak!" Azkia memepersilahkan Cakra masuk dan duduk terlebih dahulu.
"Ale mau naik motor sendiri!" bantah Azzalea.
"Hari ini papa gak izinin kamu naik motor sendiri, apalagi lututmu masih sakit nanti kalau udah sembuh papa balikin kunci motor kamu!" jelas Azka.
"Tapi pah, Ale baik-baik aja... ini cuma kegores aja!" kata Azzalea tidak terima.
"Berangkat sama Cakra atau sama papa?" tanya Azka.
"Paaahhh!" rengek Azzalea tapi sayangnya tidak mempan sama sekali untuk Azka.
"Papa gak menerima penolakan!" tegas Azka yang membuat Azzalea kesal dan mengerucutkan bibirnya.
Azzalea lalu menyeret Cakra keluar dengan menghentakkan kakinya. Ia sangat kesal dengan papanya yang terlalu overprotective kepadanya. Hanya karena luka kecil saja ia tidak diizinkan naik motor sportnya, padahal luka itu sudah tidak terasa sakit lagi.
"Loh, kok lo bawa mobil?" tanya Azzalea.
Cakra membukakan pintu penumpang disebelah kemudi untuk Azzalea, ia mempersilahan Azzalea masuk tanpa mau menjawab pertanyaan gadis itu. Setelah itu ia sedikit berlari mengitari mobil untuk duduk dikursi kemudi.
Cakra langsung menancap gas dengan kecepatan diatas rata-rata, mobil itu melaju menembus jalanan yang sudat padat dengan kendaraan lainnya. Sesekali ia terlihat kesal karena mobil yang ia kendarai tidak bisa menyalip kendaraan didepannya dengan leluasa, beda cerita jika ia menggunakan motor sportnya. Itulah mengapa Azzalea lebih suka mengendarai motor dari pada mobil.
Terdengar helaan nafas dari samping kemudi, wajah gadis itu terlihat masam. Membuat Cakra sedikit terkekeh melihat sahabatnya itu.
"Asem banget mbak mukanya," canda Cakra.
"Diem!" ketus Azzalea, matanya terus menatap kaca samping kirinya.
Cakra mengambil sebuah lolipop dari saku celananya, lalu ia sodorkan tepat didepan wajah Azzalea.
"Lo kira gue bocah?" geram Azzalea.
Tapi tetap saja lolipop itu ia ambil dan memakannya. Hal itu membuat Cakra terkekeh sendiri melihat tingkah Azzalea yang berbeda dengan ucapannya.
Setelah beberapa saat akhirnya mereka berdua sampai disekolah, hampir saja mereka menjadi salah satu siswa yang dihukum. Karena mereka datang tepat saat gerbang akan ditutup.
Masih banyak siswa yang berada di parkiran sekolah, sehingga kedatangan Cakra dan Azzalea menarik perhatian mereka, termasuk Evan. Ya, Evan memang sengaja masih bersantai diparkiran bukan karena tanpa alasan melainkan ada alasan tertentu yang tak lain adalah gadis bidadarinya yang belum juga datang.
Tapi betapa terkejutnya Evan saat mengetahui gadis yang ia tunggu sejak tadi keluar dari mobil laki-laki lain.
Azzalea keluar dari dalam mobil setelah dibukakan pintu oleh Cakra. Hal itu tentu saja sangat menarik perhatian orang-orang. Apalagi warna sweter yang mereka kenakan berwarna senada, sehingga mereka dapat menyimpulkan jika Cakra dan Azzalea memiliki hubungan spesial.
"Wah mereka pacaran, ya?"
"Eh apa nih, kok couple gitu... kan kan gue jadi pengen!"
"Kebucinan apa ini, masse!!"
Cuitan itu pun tak dihiraukan oleh Azzalea maupun Cakra, buktinya mereka tetap berjalan dengan santai menuju ruang kelasnya.
Evan mengepalkan tangannya melihat kemesraan mereka berdua, sedangkan yang ditatap pun biasa saja karena sejak dulu Azzalea sudah diperlakukan seperti itu oleh Cakra. Tak hanya Azzalea, karena Ghea dan Nessa pun sama. Hanya saja jika dengan Azzalea sedikit berbeda.
Elena yang melihat itu pun hanya tersenyum meremehkan, lalu ia menyusul Evan yang sudah berjalan menuju ruang kelasnya.
...----------------...