
"Siapa kakak ipar?" suara itu berasal dari pintu masuk yang membuat Evan dan Azzam kaget.
"Tumben papa udah pulang?" tanya Azzam yang melihat Papa Azka masuk dan ikut duduk disofa ruang tamu.
"Papa gak boleh pulang, nih?" tanya Papa Azka.
"Bukan gitu pah, tumben aja kan ini masih siang gitu!" jelas Azzam tak ingin membuat papanya tersinggung.
"Mama mana?" tanya Azka yang tak ingin memperpanjang ke kepoan anaknya itu.
"Didapur, jangan bilang papa pulang gara-gara kangen sama mama?" tebak Azzam dan hanya mendapatkan senyuman dari papanya.
"Evan?"
"Siang om! Akhinya Evan kelihatan juga," jawab Evan sambil terkekeh.
"Maklum lah kak, kalau udah bucin ya gitu ... walaupun jauh pun juga kelihatan kalau itu mama, beda lagi yang ada didepan nya jadi gak kelihatan.. Ya kan, pah?" tanya Azzam.
"Ya gitu!" mata Papa Azka terus terfokus pada dapur.
"Oh iya om ada yang mau Evan kasih tau!" Evan menatap serius orang tua dari kekasihnya ini.
"Ada apa?"
"Sebenarnya Evan sama Zale, eh maksudnya Azzalea ada hubungan spesial om," kata Evan sedikit ragu.
Papa Azka menaikkan sebelah alisnya, sebenarnya ia paham maksud dari Evan. Tapi Papa Azka ingin tahu seberapa berani Evan mengatakan pada nya.
"Matabak ya kak, toping spesial!" celetuk Azzam sambil terkekeh.
"Ini lebih dari martabak, Zam!"
"Hubungan apa?" tanya Papa Azka.
"Se-sebenarnya, Evan mau minta izin—"
"Nikah?" sewot Papa Azka padahal Evan belum selesai bicara.
"Iya! Eh bukan-bukan om!"
"Lalu?" tanya Papa Azka dingin.
"Jawab! Jangan diem aja!" sentak Papa Azka lagi.
"Kita pacaran om!" jawab Evan cepat hal itu membuat Azzam dan Mama Azkia tertawa.
"Sia lan! Kenapa mulut gue gini amat lagi, mana didepan calon mertua. Auto dicoret dari daftar ini!" batin Evan sambil tersenyum canggung apalagi mama nya Azzalea sudah bergabung diruang tamu sambil membawa minuman untuk mereka semua.
"Kamu ngajak saya pacaran?" tanya Papa Azka sambil menaikkan sebelah alisnya ia salah paham dengan perkataan Evan,suasana menjadi sedikit canggung dan mencekam.
"Bu-bukan om!"
"Santai aja, Van! Om Azka gak bakalan gigit kamu kok," kata Mama Azkia.
"Iya soalnya aku kan sukanya gigit kamu!" bisik Papa Azka ditelinga sang istri dan langsung mendapatkan pukulan pada pahanya.
PLAK!
Secepat kilat Azka bisa menguasai dirinya sehingga ia tidak terlihat kesakitan padahal sakit sekali apalagi karena ada sensasi panas dan nyeri bekas tabokan sang istri.
"Ehemm! Terus maksud nya apa?"
"Itu om, Evan sama Azzalea pacaran," kata Evan sambil mirik Azzalea yang baru saja turun dari lantai atas.
Netranya membulat sempurna, ia tak habis pikir kenapa Evan mengatakannya sekarang. Padahal ia masih menunggu moment yang tepat untuk memberitahu sang papa. Apa jadinya jika baru pacaran langsung disuruh putus, padahal ia sudah menunggu kepastian ini.
"Di-dia bohong pah!" saut Azzalea.
Semua orang menoleh kebelakang kecuali Evan karena ia menghadap langsung dengan Azzalea.
"Jadi yang bener yang mana?" tanya mama Azkia.
"Evan tan, kita beneran pacaran!" jelas Evan tanpa keraguan sedikit pun sedangkan dibelakang orang tua itu Azzalea menggeleng dengan kuat.
Badan Azzalea seakan tak memiliko tulang sama sekali, karena terasa lemas tak bertenaga. Ia tahu sang papa tak akan semudah itu mengizinkan nya pacaran apalagi dengan Evan yang terbilang jauh dari kriteria sang papa.
"Aku gak setuju!"
Seketika hening dan membuat atmosfer disekitarnya sedikit menakutkan.
Evan pun sedikit syok dengan jawaban yang diberikan oleh Azka, ia tak menyangka harus ditolak secepat ini padahal ia baru saja merasakan indahnya memiliki kekasih.
"Kenapa om?" dengan menguatkan hati Evan pun memberikan diri bertanya pada Azka.
Begitu juga dengan Azzalea yang audah duduk disamping sang mama, ia juga penasaran kenapa tak izinkan pacaran denyan Evan.
"Saya gak izinin Ale pacaran, biar dia sekolah dulu yang pinter baru setelah itu terserah dia mau pacaran atau nikah!"
"By, bolehin aja lah ... dari pada nanti mereka pacaran sembunyi-sembunyi, kan?" bujuk sang istri.
"Mama kira lagi perang Diponegoro yang harus sembunyi-sembunyi!" saut Azzam sambil terkekeh, namun sedetik kemudian ia bungkam karena mendapatkan tatapan tajam dari sang kakak.
"Omm, Evan janji bakalan jagain Azzalea! Kalau perluh 24 jam nonstop om!"
"Tetap gak setuju, kalian itu baru kelas 2 SMA, udah pacaran aja!" tolak Azka.
"Gak inget dulu juga papa gitu, untung orang tua ku gak segalak kamu jadi langsung direstuin kan?" cibir mama Azkia.
"Maahh!"
"Paaahh! Boleh ya, please!" Azzalea memohon dengan wajah memelasnya membuat Azka tak tega.
Semua orang kini menatap kepala rumah tangga itu dengan tatapan memohon.
"Kenapa mereka kompak sekali?" batin Azka.
"Om! Evan bakal turutin semua perintah om, asalkan om izinin Evan pacaran sama Azzalea! Om gak kasian apa liat anaknya sendiri sedih gitu?" sebenarnya Evan sedikit ragu mengatakan hal ini, tapo mau bagaimana lagi ia lebih tak tega melihat Azzalea sedih apalagi status resmi mereka baru beberapa jam. Evan tak ingin perjuangan dan penantiannya berakhir begitu saja karena orang tua Azzalea tak setuju.
Papa Azka menatap kesungguhan dari ucapan Evan, kemudian ia beralih menatap Azzalea yang seakan sangat berharap bisa bersama Evan. Lalu netranya menangkap sang istri seoalah memberi isyarat jika tak akan mendapat jatah jika tak menyetujuinya, ditambah lagi anak laki-laki nya yang seakan juga mendukung sang kakak.
"Sebenarnya mereka disogok apa sama bocah satu ini, kenapa pada dukung dia?" batin Azka.
"Hah, baiklah! Saya izinin tapi ingat jika kamu sakitin Azzalea sedikit saja, saya gak akan biarkan kamu hidup tenang!" akhirnya kata itulah yang ditunggu mereka semua.
"Serius om?"
"Serius pah?"
Tanya Azzalea dan Evan bersamaan, kemudian mereka saling tatap dan melempar senyuman bahagia.
"Iya!"
Greb!
Semua orang tercengan dengan perbuatan yang tak terduga itu, karena bukan Azzalea yang memeluk Azka melainkan Evan. Dengan erat tangan Evan memeluk leher Papa Azka membuatnya sedikit kesusahan bernafas.
"Hei, kamu ingin membunuh ku ya!" kesal Azka sambil mendorong wajah Evan.
"Ma-maaf om! Evan terlalu bahagia," kata Evan yang sudah melepaskan pelukannya bahkan ia hanya bisa tertunduk malu.
"Ingat saya bolehin kamu pacaran dengan anak saya, tapi jangan sampai diluar batas! Awas saja kalau sampai melanggar, habis kamu!"
"Siap om!"
Tak henti-hentinya senyum manis terukir dibibir tipis Azzalea, begitu juga dengan sang mama. Beliau menepuk bahu Azzalea beberapa kali sambil tersenyum.
"Gak nyangka anak mama udah gede aja," kata mama Azkia sambil mencubit pipi Azzalea.
"Hilih kaya mama gak pernah muda aja!"
"Justru mama pernah muda jadi inget masa-masa itu sama papa kamu!"
"Mah, ayo ke kamar!" ajak Azka kepada istrinya.
"Ngapain pah?" tanya sang istri.
"Buat adek ya, om?" semua orang menatap tak percaya dengan apa yang mereka dengar.
"Mati! Baru aja bisa bernafas lega udah mau dimakan harimau lagi ini. Mulut juga kenapa lemes banget sih, Evan tamat lah dirimu!" batin Evan.
"Eh! Maksud Evan bu-bukan gitu om, Evan cu-cuma bercanda om!" bela Evan karena takut dibatalkan izinnya pacaran dengan Azzalea.
Mama Azkia pun tertawa melihat reaksi Evan dan juga sang suami.
"Kamu in—"
"Udahlah pah, Evan cuma bercanda itu! Papa mau mandi kan? Ayo mama siapin air nya, udah jangan marah-marah mulu nanti gantengnya ilang loh!" bujuk sang istri sambil menarik lengan Azka menuju kamar.
"Maaf ya, Tan! Evan gak sengaja," kata Evan dan diagguki oleh Mama Azkia.
Setelah kedua pasutri itu tak terlihat lagi baru lah mereka bisa bernafas lega, apalagi Evan yang sejak tadi adrenalin sudah naik turun.
"Hahahaa!" tawa Azzam pecah begitu saja, ia baru sadar kenapa calon kakak iparnya itu lucu sekali bisa membuat sang papa naik darah.
"Azzam! Puas kamu, hmm?"
"Puas, Kak Evan lucu banget! Mulutnya lemes banget kek cewek, kakak aja kalah," kata Azzam masih tertawa.
Sedangkan Evan hanya bisa memasang wajah masamnya, ia tak menyangka pengalaman pertama memiliki pacar akan semenegangkan ini. Mungkin lebih tegang dari pada saat bermain dirumah hantu.
"Udah ah capek ketawa, main ps yuk kak!" ajak Azzam yang langsung menarik tangan Evan menuju TV besar diruang keluarga. Evan pun hanya bisa pasrah saja, ia sedang tak berselera menolak apapun.