
Saat masuk kedalam kelas Azzalea langsung disambut oleh sahabatnya, seorang gadis cantik yang tentu saja menurun sifat ayahnya yang selalu lebih dewasa dari kedua sahabatnya yang lain.
Dia adalah Ghea Fanya Narendra, ia adalah putri dari sahabat Azka tentunya siapa lagi kalau bukan Devan Narendra dan juga sang istri Devira Ramania.
Devan dikarunia seorang putri yang tak kalah cantik dengan sang istri, sehingga bisa dikatakan Ghea dan Azzalea merupakan salah satu perempuan cantik disekolah.
Dan Cakra Aji Wijayakusuma, atau yang kerap disapa Cakra itu adalah anak dari Bobby Wijayakusuma dengan Oriza Sativa. Cakra tak hanya tampan saja ia juga lembut dan baik hati beda sekali dengan sang papa yang suka bercanda, tapi jangan salah sangka Cakra bisa berubah menjadi buas ketika melihat orang-orang disekitarnya terluka. Dan jangan harap dapat lolos dari Cakra, terlebih lagi soal Azzalea. Cakra selalu lemah dan penurut saat didepan Azzalea, semua juga tahu jika Cakra memiliki rasa pada sahabat kecilnya itu.
Azzalea tau perasaan yang dimiliki Cakra untuknya tapi sayangnya Azzalea hanya menganggap Cakra seperti saudaranya saja tidak lebih. Apalagi mereka sudah berteman sejak kecil.
Satu lagi yang paling kecil namum sudah bersekolah, jarak diantara mereka hanya seleisah beberapa bulan saja. Dia adalah Nessa Fadhella Attaya, anak dari Attaya Putra dan juga Nayla. Kenapa paling kecil karena ia memang terlahir paling akhir diantara mereka semua.
Nessa sangat disayangi dan dijaga oleh mereka sejak kecil, karena Nessa orang yang paling lemah lembut dan juga feminim diantara Azzalea dan juga Ghea.
"Azza! Lo sama Cakra mampir kemana sih lama banget dari parkiran sampai sini?" tanya Ghea.
Sedangkan Azzalea hanya mengendihkan bahunya saja menanggapi pertanyaan Ghea. Azzalea langsung duduk dibangkunya, ia duduk bersama Cakra pastinya sedangkan Ghea bersama Nessa dimeja depan Azzalea.
"Hai cubby!" kata Azzalea sambil mencubit pipi Nessa.
"Ale, gue udah besar ya jangan dicubitin terus pipinya... nanti makin ngembang!" rengek Nessa tidak terima.
Lagi-lagi Azzalea tak menaggapi, ia hanya mengacak-acak rambut Nessa dengan gemas.
Sedangkan Cakra hanya tersenyum sambil dengan tatapan yang tak pernah lepas dari Azzalea.
"Mata dijaga, udah mau jatuh tuh!" ledek Ghea sambil terkekeh.
"Apaan sih, mana ada mata bisa jatuh!" kesal Cakra.
"Bisa aja kalau lo liatin Ale sampai segitunya!" tatap Ghea sambil menaik turunkan alisnya.
"Gak jelas!" Cakra mendorong tubuh Ghea hingga mundur kebelakang karena Ghea menghalangi jalannya.
Kemudia mereka mengikuti pelajaran pertama dengan hikmat, begitu juga dengan Azzalea. Azzalea terlalu hikmat dalam mimpinya sehingga ia tidak menyadari jika kelas sudah usai sampai jam keempat yang artinya sekarang sudah waktunya istirahat.
"Hei, tukang tidur bangun!" panggil Cakra sambil menusuk pipi Azzalea dengan bolpoin.
Namun usahanya hanya sia-sia saja karena Azzalea tetap terlelap dalam mimpi indahnya. Semalaman Azzalea tidak tidur, ia tengah asik maraton drama yang baru-baru ini happening, alhasil ia hanya tidur dua jam sebelum berangkat sekolah.
"Gimana, masih gak bangun juga?" tanya Ghea sambil menoleh ke meja belakang dimana ada Azzalea dan Cakra.
"Lo bisa liat sendiri, kan?" ucap Cakra yang masih menatap Azzalea.
"Yaudah tinggalin aja gimana?" tanya Ghea.
"Gak apa-apa ditinggal?" tanya Nessa sambil menatap Ghea dan Cakra bergantian.
"Kalian aja, gue disini jagain dia," kata Cakra.
"BIG NO CAKRA!" tegas Ghea cepat.
"Kenapa?" tanya Nessa dan Cakra bersamaan.
"Lo yang lebih bahaya kalau ditinggal disini sama, Azzalea!" Ghea menyipitkan matanya saat menatap Cakra, pasalnya dia tau bagaimana perasaan sahabatnya itu.
"Cih, pikiran lo jelek amat!" dengus Cakra.
"Gue tau ya kalau lo—" ucapan Ghea terhenti.
"Oke-oke, gue ikut kalian ke kantin!" potong Cakra yang sudah berjalan duluan.
"Dia kenapa marah?" tanya Nessa polos.
"Entah, dia kan emang gitu ... beda banget sama Om Bobo yang humoris!" kata Ghea.
Kupingnya terasa panas saat ia selalu dibandingkan dengan sang ayah, yang selalu humoris dan penuh kehangatan itu. Cakra sebenarnya juga seperti itu hanya saja ia masih menjaga jarak dengan orang sekitarnya atau lebih tepatnya ia menjaga perilakunya untuk seseorang yang ia sukai.
"Kantin!" tegas Ghea dan Nessa kompak.
"Ale, gue ke kantin dulu ya! Gue pasti beliin lo makanan kok, lo tenang aja!" Ghea berbicara dengan Azzalea sebelum ke kantin, meskipun orangnya masih tertidur.
Beberapa saat kemudian kelas sudah sepi tanpa penghuni kecuali Azzalea yang masih tertidur dengan kedua tangan yang ia gunakan sebagai bantalan.
Evan yang sejak tadi sudah berada didepan kelas terlihat kebingungan saat tidak melihat Azzalea. Bahkan ajakan dari Vion pun hanya dianggap angin lalu olehnya.
Akhirnya Evan memutuskan untuk melihat kelas yang bersebelahan dengannya, tapi sebelum itu ia menoleh kesamping kanan dan kiri.
"Kenapa gue jadi kaya maling gini," batin Evan.
Kriieettt!
Evan membuka pintu kelas yang sengaja ditutup itu, matanya menangkap sosok yang ia tunggu sejak tadi.
"Dia tidur?" monolog Evan.
Dengan langkah tanpa suara Evan mendekat pada bangku yang diduduki Azzalea. Ia tersenyum simpul menatap wajah Azzalea yang begitu damai tidak seperti saat mereka bertemu, dingin dan datar.
"Kalau lo kaya gini makin cantik," gumam Evan.
Tangannya tergerak untuk menyingkirkan beberapa anak rambut yang menutupi wajah cantiknya. Hal itu membuat Azzalea sedikit terusik, ia hanya memindahkan posisi lehernya sehingga manghadap tembok kemudian ia kembali tertidur.
"Semalam habis ngapain, sampai senyenyak ini tidur lo!" Evan duduk di bangku Ghea.
Evan masih asyik menatap wajah yang sedang tertidur pulas itu, ia melihat beberapa kali mata gadis itu mengerjab tapi tetap saja terpejam.
"Silau, ya?" tanya Evan.
Lalu Evan menggunakan tangannya sebagai penghalang sinar matahari yang masuk kedalam ruang kelas itu, khusunya dimata Azzalea.
"Udah tidur lagi," kata Evan lembut sambil tersenyum meski ia tahu percuma saja berbicara dengan orang tidur.
Dan benar saja Azzalea kembali kedalam tidut nyenyaknya tanpa terganggu lagi.
"Lo gadis pertama yang gak tertarik sama gue dan nolak gue, sampai gue kira kalau gue udah gak ganteng lagi ... Tapi ternyata gue salah, lo emang beda dari cewek lainnya," kata Evan.
"Dan entah kenapa semakin lo nolak gue, gue semakin penasaran dan inget deket sama lo," ucap Evan lagi sambil menatap wajah Azzalea.
Tangannya sudah terasa pegal sehingga Evan menggunakan tangan satunya untuk menghalangi sinar matahari itu.
"Tapi gue harus penuhin syarat dari papa dulu kalau mau lebih deket lagi sama lo!" curhat Evan.
Evan tidak menyadari jika dibalik jendela kelas ada seseorang yang menatapnya dengan tatapan kebencian dan sebuah senyum devil.
"Sepertinya gue tau kelemahan lo," ucapnya yang kemudian pergi dari sana.
"Tunggu gue jadi ketua osis dulu, ya! Gue janji akan ungkapin perasaan gue," kata Evan lagi.
"Gue seneng sih bisa ngobrol sama lo, ya meskipun lo nya tidur hehe," lanjutnya sambil terkekeh sendiri.
Tett teett teeeeettt
Tak terasa waktu istirahat pun sudah habis sehingga Evan memutuskan untuk segera kembalin ke kelasnya sebelum ada yang tahu.
Evan sempat mengusap pucuk kepala Azzalea sebelum ia ke luar dari kelas itu.
Dan benar saja saat Evan sudah keluar dan berjalan beberapa langkah dari kelas Azzalea, semua siswa langsung berhamburan masuk kedalam kelas. Untung saja kelas Azzalea tidak ada yang introverted sehingga saat istirahat semuanya menghabiskan waktu diluar kelas.
...----------------...