
Disisih lain Evan sedang sibuk dengan anggota osisnya, apalagi turnamen bola basket mulai diadakan hari ini sehingga ia dan anggota osis lainnya harus siap siaga agar semua acara berjalan lancar dan memastikan jika ada yang perluh dibenahi. Kali ini SMA mereka menjadi tuan rumahnya, hal itulah yang membuat mereka sangat sibuk. Apalagi rencana kejutan untuk salah seorang guru akan diadakan hari senin depan.
"Gimana udah semua?"
"Udah, beres!"
"Baiklah, kalian langsung saja ke lapangan basket! perintah Evan.
"Kok cuma kita, lah lo sendiri mau kemana?" tanya Tio.
"Gue ada urusan bentaran, nanti gue nyusul kalian!" jawab Evan.
"Gue ikuta ya! Lo pasti mau ketemu si es kan?" tanya Vion sambil terkekeh.
"Tau aja lo! Yaudah kalian semua kelapangan dulu! Kalau ada apa-apa segera hubungin gue!"
"ASSSIIAAAPP!" kompak mereka bercampur dengan tawa renyah.
Evan dan Vion pun kembali ke kelas mereka, saat melewati kelas pujaan hatinya Evan sengaja memperlambat langkah kakinya untuk melihat Azzalea karena itu lah tujuan utamanya. Tapi sayangnya gadis yang ia cari tak ada dibangku yang biasa ditempati, bahkan Evan sampai menyembulkan kepalanya di pintu kelas.
"Evan kamu ngapain? Kalau mau masuk, masuk aja jangan didepan pintu!" ucap guru pengajar yang ada didalam kelas.
Entah apes atau bagaimana, karena semua kelas saat ini jam kosong. Hanya beberapa kelas saja yang memang ada gurunya termasuk kelas Azzalea ini.
Evan tak mengindahkan pertanyaan sang guru, kedua netranya terus menyusuri semua penjuru kelas mencari sosok seorang gadis.
"Evaaann! Ibu bicara sama kamu, kamu cari siapa sebenarnya?" tegur sang guru lagi.
"Eh anu itu buu—"
"Azzalea buu, dia kan pacarnya!" teriak Daffa dari pojok belakang.
"Oh! Azza kan gak masuk, kamu tidak tahu?"
"Hah, masa Azza gak masuk, bu? Dia kemana, bu?" tanya Evan penasaran dan khawatir.
"Loh katanya kamu pacar nya masa gak tau dia kemana? Mana gak ada surat izin atau apa pun!"
Evan menggelengkan kepalanya lemah, ia benar-benar tidak tahu keberadaan Azzalea. Pasalnya sejak kemarin malam ia tak melihat ponselnya lagi karena sibuk dengan kegiatab osis.
"Lain kali kasih tau pacar kamu itu, jangan suka bolos kalau tidak mau tinggal kelas!"
"Iya bu!"
"Apalagi pacarnya ketua osis, masa suka bolos!" cibir sang guru.
"Buat apa pacaran kalau seperti ini hasilnya, prestasi juga gak ada, nilai menurun! Berani bolos, apalagi sudah kelas dua. Mau jadi apa nanti!" lanjut sang guru lagi didepan semua siswa, membuat Evan bungkam apalagi dirinya seorang anggota osis dan menjabat sebagai ketua.
Evan hanya diam, pikirannya hanya terfokus pada Azzalea. Tadi pagi ia juga tak menjemput gadis itu. Tidak biasanya ia tak ada kabar seperti ini, apalagi sampai tidak masuk sekolah tanpa keterangan yang jelas.
"Sudah sana bukannya kamu lagi jadi panitia acara hari ini, ketua osis itu kasih contoh yang baik buat siswa lainnya!"
"Baik bu, saya permisi!" Evan sedikit menunduk sebagai rasa hormat lalu ia berlalu kembali ke lapangan. Setelah kepergian Evan, beberapa siswa bisik-bisik membicarakan Evan dan Azzalea.
Evan langsung merogoh ponselnya yang sejak kemarin tak ia sentuh sama sekali, karena harus mengecek ulang beberapa proker. Vion sejak tadi hanya diam sambil mengikuti Evan.
"Sia lan!! Pakai acara habis batrai segala!" gerutu Evan frustasi.
"Ponsel lo!" kata Evan sambil mengulurkan tangannya, tanpa banyak bicara Vion langsung memberikan ponselnya.
Untung saja Evan hapal dengan nomer ponsel Azzalea, tangannya sibuk mengertikan beberapa angka lalu beberapa saat terdengar suara operaror.
"Maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi..."
"Kenapa pakai gak aktif segala sih! Lo kemana sih, Za!" terlihat jelas raut khawatir dari wajah tampan Evan.
"Kenapa? Gak bisa dihubungi?" tanya Vion, Evan pun mengangguk lemah. Ia tidak tahu harus melakukan apa, apalagi Evan tak memiliki kontak orang tua Azzalea.
"Gue harus gimana, Vi? Dia hilang gak ada kabar, gak biasanya dia bolos ... paling juga telat masuk!"
"Kali aja dia ada urusan keluarga, positif thingking lah!" Vion menepuk bahu Evan beberapa kali.
"Tapi kan, Vi! Seengaknya kabarin gue gitu, biar gue tau dia dimana sapa siapa? Kenapa gak masuk, apalagi gak ada surat izin!"
"Kalau kaya gini gue kan jadi kepikiran, apalagi lo denger sendiri kan apa kata Bu Dewi tadi, dia mojokin Azza didepan semua temannya, Vi! Gue gak suka tapi gue harus gimana coba? Kalau gue jawab, nanti Azza disalahin lagi!"
"Disalahin gimana?" tanya Vion.
"Ya, disalahin gara-gara pacaran sama dia gue jadi berani sama guru gitu, nanti nama dia jadi lebih buruk gue gak mau kaya gitu!"
"Lo berpikiran terlalu jauh, Van! Jangan berfikiran negatif nanti jadi kenyataan loh!" tegur Vion.
Evan benar-benar tidak bisa berfikir jernih, apalagi Azzalea tidak bisa dihubungi sama sekali. Walaupun Azzalea gadis cuek dan dingin, ia tidak biasanya bertingkah seperti ini. Dia selalu mengabari Evan meski Evan tak sempat membalas pesannya asalkan ia sudah bilang pasti aman, begitu juga dengan Evan.
"Lo kemana sih, Zaa! Kalau ada apa-apa kasih tau gue, jangan ngilang!" gumam Evan.
Sama hal nya dengan Evan, gadis itu merasa sakit dan sesak didalam dadanya. Baru kali ini ia merasakan seperti ini, ternyata begitu sakit melihat orang yang disayang begitu dekat dengan perempuan lain.
"Gue harap semua itu hanya salah paham! Gue gak bisa bayangin jika semua itu nyata hiks!"
Tanpa Azzalea sadari, ada seseorang yang sejak tadi sudah berada dirooftop. Dia bersandar pada dinding rooftop sambil memakan permen lolipop, seragamnnya terlihat berantakan. Bahkan kancing bajunya tak ada yang dikancingkan sehingga memperlihatkan kaos hitam yang dipakai sebagai dalaman seragamnya.
Sebenarnya ia tak berniat ikut campur urusan orang lain, apalagi yang berhubungan dengan perempuan. Tapi entah kenapa ia merasa kasian dan prihatin sehingga mendekati Azzalea.
Dia berdiri tepat didepan Azzalea yang masih menunduk.
"Pacarnya ketua osis ya!" suaranya terdengar begitu dingin menusuk telinga.
Azzalea mendongak terlihat permen lolipop masih utuh menutupi wajah seseorang itu.
"Jangan nangis, makan permen!" lanjutnya lagi.
Azzalea menerima uluran permen lolipop itu, lalu cowok itu ikut duduk disebelah Azzalea. Ia hanya diam tak menanyakan apa yang terjadi pada Azzalea, karena ia tahu gadis itu butuh waktu sendiri.
"Makan permennya!" perintahnya lagi, ia menyandarkan punggungnya pada dinding.
Azzalea menurut saja, apalagi permen lolipop ini adalah kesukaannya.
"Makasih!"
...----------------...